Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 64: Kedatangan Eyang Uti


__ADS_3

Ryan melonjak kegirangan manakala sang papa mengabarkan kedatangan eyang uti nanti sore.


“Yang bener,Pa? Ryan masih punya eyang uti?”


Sang papa hanya membenarkan informasinya melalui telepon. Selama ini cowok itu hanya tahu bahwa oma opanya tinggal di Rumania dan telah lama tiada. Demikian pula oma opa dari pihak sang mama di Sidney. Ryan merasa hanya tinggal berdua dengan papa,itupun dalam rumah yang berbeda.


Saking gembiranya,bocah itu berselancar ke dalam google untuk melihat bagaimana penampakan seorang “eyang uti”


“Berkondekah? Berkebayakah? Bawelkah?”batin Ryan sambil terus mencari.


Bola matanya menari-nari di depan layar monitor laptopnya sejak pagi. Kebetulan hari itu Sabtu, sekolah libur. Agendanya hanya mengajak makan malam Maya,itupun kalau gadis itu mengiyakan. Yang ia tahu selama ini sosok oma opanya yang berpenampilan modern, dengan rambut tertata rapi, menyukai musik dan suka dance. Itulah kenangan masa kecilnya selama tinggal di Sidney hingga Tuhan memanggil mereka satu persatu, dan Ryan kembali ke tanah air untuk melanjutkan sekolahnya.


“Opa oma dari papa? Belum pernah ketemu sejak lahir.Konon telah tiada sejak papa belum menikah,”Ryan kebingungan dan memukul-mukul kepalanya sendiri.


“Tapi papa bilang garis keturunan papa hidup abadi. Artinya sang opa masih ada di suatu tempat,”pikir Ryan sambil menerawang jauh.


Pintu diketuk, dan seorang art muda berseragam biru tua dengan celemek putih masuk.


“Jadi dicarikan pakaiannya,Den?”sapanya sambil membuka sebuah lemari besar yang sangat tinggi.


Ruangan wardrobe dimana Ryan berada, berada di dalam kamarnya juga, di sana terdiri dari meja rias besar lengkap dengan kursi kecil tanpa lengan dan tanpa sandaran. Ada sebuah lemari pakaian sangat besar setinggi hampir tiga meter dan nyaris menyentuk langit-langit kamar. Warnanya coklat kayu dengan ornament cermin di sana sini, dan yang pasti untuk mencari pakaian di lemari bagian atas tentunya membutuhkan tangga. Itulah sebabnya Ryan membutuhkan bantuan art.


“Carikan aku setumpuk kaos dan celana panjang casual. Taruh di bagian bawah. Jangan yang bau debu.”


Art itu pun dengan sigap membuka tangga lipat yang telah dibawanya dan naik ke atas, membuka pintu demi pintu dan membawanya ke lemari bagian bawah.


“Sudah selesai,Den. Saya permisi dulu.”


Art itu membuka pintu dan membawa keluar tangga lipat yang tadi dibawanya masuk. Ryan pun bergegas mencoba beberapa pakaian yang telah lama ia lupakan.


“Mmhh masih sangat wangi,”gumamnya sambil mencium tumpukan pakaian itu.


“Kira-kira eyang uti lebih suka aku pakai baju seperti apa ya?”


Ryan memutar tubuhnya di depan cermin panjang dalam kamar,layaknya seorang peragawan yang berlenggak-lenggok.


“Driing….”


Ryan meraih ponselnya, sang papa mengabarkan supir telah menjemput eyang uti dari bandara.

__ADS_1


“Memang beliau datang sendirian aja,Pa?”


“Iya…Eyang uti masih kuat dan gesit kok. Mungkin menginap di rumahmu barang dua harian. Selanjutnya dia akan menginap di anaknya yang lain.”


“Kenapa selama ini eyang uti gak pernah datang,Pa?”


“Ada sesuatu yang akan dia ceritakan sama kamu,Nak. Sebuah wangsit. Papa juga gak tau soal ini.”


“Wangsit? Apa lagi nih?”gumam Ryan yang kembali menyalakan laptopnya.


Ryan tertidur akibat kelamaan main laptop di atas tempat tidur hingga tanpa sadar hari telah beranjak malam. Dan ia lupa mengajak Maya untuk makan bersama seperti biasanya.


Hingga pintu kamarnya diketuk dari luar,”Den….Den…Buka pintunya. Eyang uti sudah datang.”


Suara teriakan art tak didengarnya, namun pintu kamar tak dikunci dan mereka dapat membukanya dari luar. Seorang wanita berusia sekitar 68 tahun dengan rambut disasak tinggi, perawakannya sedang dan masih tampak tegap, dibalut dalam setelan warna coklat muda dengan ikat pinggang hitam. Penampilannya tampak sangat perlente, jauh dari bayangan Ryan yang dilihatnya dalam internet.


“Tutup lagi aja Mbak,”pintu wanita tua itu pada art yang mengantarnya ke kamar sang cucu.


“Oalah,Le. Udah gede aja. Ganteng banget persis bapakmu,”serunya dalam bahasa Indonesia yang sangat medok.


Dielusnya kepala Ryan, matanya tak berhenti memandang sang cucu yang nyaris 17 tahun baru ia temui, bibirnya yang tipis mengembangkan senyuman.


“Siapa ibu?”serunya kaget sambil terduduk tepat di hadapan ibu tua tadi.


Wanita tua yang duduk di tepi ranjangnya itu berdiri dan memperkenalkan diri,”Saya eyang uti. Nama eyang Kartini Harjowinangun. Baru datang dari Malang.”


“Oh maaf eyang uti. Mengapa selama ini belum pernah mengunjungi Ryan?”


“Kita makan malam dulu yuk! Eyang bawakan ayam goreng. Ada dua porsi besar dan utuh.”


Eyang uti tersenyum dan membuka pintu kamar. Ryan menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengganti pakaiannya.


Cowok keren itu mengamati wajahnya di cermin,rambutnya tampak basah. Ia baru sadar ini malam minggu dan bergegas menelpon Maya sebelum makan malam.


“Halo…”sahut suara dari seberang sana.


“Halo,May. Eyang uti datang malam ini. Kita terpaksa gak bisa jalan di luaran.”


“Iya..Gak apa-apa Ryan. Temani aja eyang uti dulu.”

__ADS_1


Ryan pun menarik napas lega, gadis pujaanya tak banyak menuntut dan ia pun tidak marah.


Meja makan besar itu hanya diduduki Ryan dan sang eyang uti yang kini duduk dengan dua ekor ayam goreng beserta lauk-pauk lainnya buatan art di rumah itu. Dua art berdiri di belakang kursi mereka, siap melayani hingga hidangan penutup.


“Ayo makan yang banyak. Nanti eyang cerita di kamar tamu.”


Ryan hanya mengangguk meskipun keheranan sang papa tidak ikut makan malam bersama mereka.


“Kamu mikirin papa kamu kan?”tebak eyang uti.


Cowok itu kembali terheran-heran, eyang uti layaknya seorang peramal saja bisa menebak isi hatinya.


“Gak perlu heran. Nanti eyang ceritakan semua setelah kita selesai makan malam.”


Ryan hanya bisa mengangguk dan menghabiskan semua hidangan yang tersedia tanpa ada yang tersisa.


Eyang uti kini menggandengnya menuju kamar tamu yang ada di ujung, sebuah kamar sangat besar yang telah lama tak berpenghuni. Art membersihkan ruangan itu secara mendadak dan semuanya kembali baru dan bersih.


“Duduk sini,Le.”


Ryan pun mengikuti eyang uti duduk di sebuah sofa besar yang menghadap televisi yang kini dinyalakan tanpa suara. Diliriknya jam dinding yang kini menunjukkan angka 9 malam, namun eyang uti belum mengabarkan hal yang penting selain bercerita suasana kota Malang.


“Boleh Ryan nanya?”


Eyang uti mengangkat wajahnya dan garis-garis garis pada wajahnya kian terlihat nyata di bawah terpaan lampu yang sangat terang.


“Boleh saja,”sahutnya sambil menyimak.


“Orang tua mama bukannya di Sidney. Yang meninggal beberapa tahun lampau?”


“Untuk itulah eyang kemari,Le. Wangsit dari mamamu, katakan kebenarannya setelah kau menginjak 17 tahun tepat.”


Ryan sontak kaget dan baru sadar esok adalah hari ulang tahunnya yang ke-17, tapi mendadak cowok itu hilang harapan. Papa tak menaruh perhatian sedikitpun kepadanya, dan Maya,gadis itupun bersikap tak peduli.


“Masih empat jam lagi. Terus kita harus ngapain eyang?”


“Nonton televisi dulu,”sahut eyang sambil terkekeh.


Wanita tua itu meraih remote tv dan membesarkan volume suaranya. Ryan merasa malas dan rebahan di pangkuan eyang uti untuk merasakan kemanjaan. Eyang mengelus-elus puncak kepalanya hingga membuat Ryan terlelap kembali dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2