
Ryan buru-buru keluar kamar, dilihatnya sepasang sandal milik Ahmad masih rapi di atas keset yang terletak depan kamar pemuda itu.
“Tok…Tok…Tok….”
Ahmad masih berteriak-teriak ketakutan di dalam kamar.
Ryan mengulangi ketukannya di pintu, bahkan makin keras.
“Tok…Tok…Tok…..”
Tak lama kemudian muncullah Ahmad dalam keadaan wajah penuh keringat dingin, napasnya memburu,dan tubuhnya gemetaran.
“Bukannya pakai AC? Masih kepanasan aja,”tegur Ryan.
Pemuda itu menunjuk ke arah lemari pakaian yang tingginya menjulang hingga ke langit-langit, dengan tangan yang gemetaran karena takut. Lemari itu terdiri dari banyak ruangan penyimpan, bagian luarnya berwarna coklat gelap sehingga menimbulkan kesan angker.
“Apa yang kau takutkan,Mad?”
“Va…Vampire…”serunya sambil menunjuk ke arah lemari pakaian bagian tengah.
Ryan memperhatikan pemuda itu yang tampak berdiri dengan gemetaran, sorot matanya terpaku menatap ke arah lemari, sedangkan jari telunjuknya digigitnya.
“Sepertinya Ahmad tidak bohong. Gerak-geriknya seperti benar-benar sedang ketakutan,”batin Ryan sambil berjalan ke arah lemari.
Sesaat cowok itu memperhatikan sekeliling lemari yang berdiri dengan angkernya di hadapannya, tak ada yang aneh dengan lemari itu. Jari-jemari milik Ryan yang kokoh berusaha membuka gagang pintu lemari di bagian tengah. Dilihatnya deretan pakaian Ahmad yang digantung rapi dengan bantuan hanger.
__ADS_1
“Gak ada apa-apa di sini. Mungkin kamu lupa berdoa sebelum tidur,”kata Ryan.
Cowok itu hendak menutup kembali pintu lemari itu, namun niat itu diurungkannya ketika sebuah benda kecil jatuh di depan kakinya.
“Pluk…”
Seekor kelelawar berukuran cukup besar tiba-tiba jatuh di lantai, persis di depan kakinya.
“Cuma kelelawar. Tapi darimana ia bisa masuk kamarmu,Mad?”
Ahmad mendekat dan berusaha mengambil kelelawar itu dengan tangannya, dan mendekatkannya ke wajah Ryan untuk diamati.
Ahmad kaget dan nyari melempar kelelawar itu, ketika dilihatnya kepala binatang itu mirip sosok manusia laki-laki. Ryan yang turut mengamatinya pun kaget dan mundur selangkah. Wajah kelelawar itu mengingatkannya pada salah seorang volturi yang selalu mencari masalah dengan semua garis keturunannya.
“Apakah saya buang saja ke sampah,Tuan?”
“Itu masih hidup. Biarkan saya yang melepaskannya melalui jendela,”pinta Ryan sambil memungut kelelawar besar itu dari tangan Ahmad.
Dalam hati Ryan bergidik melihat sesosok makhluk di hadapannya yang berbulu, dan berwajah seram, kelelawar yang berwajah mirip manusia. Dibukanya jendela kamar Ahmad, lalu melempar kelelawar itu jauh-jauh. Bukannya terjatuh, kelelawar itu malah merentangkan sayapnya lebar-lebar dan terbang tinggi. Ahmad dan Ryan menyaksikannya dari kejauhan. Namun dalam hati Ryan yakin, kelelawar itu sesungguhnya adalah sosok Aro yang menyamar. Dia pula yang mencuri susu warna merah miliknya. Ryan yakin kaum volturi telah menemukan tempat tinggalnya yang baru dan entah apa lagi dendam mereka kepadanya. Seingat papa, leluhurnya tidak lagi memiliki urusan dengan kaum volturi.
Ahmad merapikan kamar tidurnya, dilipatnya selimut dan bergegas mengambil handuk dari dalam lemari. Ryan masih berdiri di dekat jendela kamar yang ditempati Ahmad sambil memandang ke arah luar jendela. Matanya yang super tajam dapat mengamati keberadaan kelelawar itu yang kini berubah menjadi sosok mirip manusia yang sedang melayang-layang di angkasa, jubahnya yang panjang nampak seperti sayap kelelawar yang terentang lebar ketika berada di udara, matanya yang merah menyala bagaikan sinar lampu, dan gigi taringnya menyeringai tajam. Ryan berlalu dari tempat itu, ia yakin Aro tak akan membunuhnya meskipun ia sangat membenci Ryan dan semua leluhurnya yang dianggapnya kaum pembelot.
“Ahmad…Aku keluar kamar dulu. Kalau kamu pergi kerja, bawa aja smart card yang satu lagi. Aku taruh di atas meja makan,”teriak Ryan dari balik pintu kamar mandi dengan suara keras.
“Baik,Tuan. Aku sudah mengingatnya sejak kemarin,”sahutnya mengingatkan Ryan.
__ADS_1
Cowok itu menggelengkan kepala berkali-kali menyadari dirinya kini semakin pikun karena terlalu banyak berpikir. Ia baru sadar bahwa ia telah mengingatkan pesan itu sejak kedatangan Ahmad yang pertama kalinya di apartemen itu. Ryan bersyukur ternyata Ahmad adalah pemuda yang jujur dan piawai untuk mengingat segala hal baru.
Ryan terpekur menatap lantai kamarnya, ia mengingat-ingat semua pesan papa sebelum ia pergi meninggalkan tanah air.
“Jaga pergaulanmu di sana. Jangan sampai gagal kuliahmu,Nak. Kalau kau ingin tau silsilah keluarga kita, buka saja flash disk pemberian papa.”
Ryan buru-buru mencari flash disk itu di dalam kopernya, ia sama sekali belum pernah membuka apa isi di dalam flash disk itu. Buru-buru dinyalakannya laptop, jantungnya berdebar lebih keras ingin segera menelusuri semua yang berkaitan dengan keluarga Sanders. Sambil menunggu laptop booting, Ryan membuka korden kamarnya agar sinar matahari masuk dan ia dapat mematikan semua lampu di dalam kamarnya. Sinar mentari telah membuat langit cakrawala menjadi terang, dari kejauhan mobil-mobil mulai bergerak merayap, semua manusia di bumi akan memulai aktivitasnya. Cowok itu kembali di depan laptop dan memasukkan flash disk ke dalam sebuah lubang kecil yang terletak di bagian kanan badan laptop. Layar monitor mulai menampilkan deretan kalimat disertai tanda panah dan foto-foto jaman dulu yang masih hitam putih. Ada sederetan wajah-wajah tampan rupawan yang memiliki kemiripan paras dengannya. Gerakan mouse-nya terhenti pada nama yang terletak paling atas, Ryan membacanya dengan berhati-hati.
Transilvania City, 1867….
Cerita ini kugoreskan melalui tinta biru di atas secarik kertas, agar kelak suatu saat salah seorang buyutku mengetahui bahwa aku pernah ada di jaman ini. Di tahun ini, usiaku memasuki 25 tahun, aku telah mengenal cinta pada kekasihku Beatrixe. Kami sama-sama tinggal di kota ini, yang saat ini menjadi bagian dari Kerajaan Rumania. Beatrixe adalah bangsa vampire murni seperti diriku. Hingga suatu saat, seorang vampire lain yang lebih berkuasa merebutnya dariku. Aro menikahi Beatrixe kekasihku sehingga aku lebih memilih menikahi manusia setelah patah hati dengan kekasihku. Wanita dari golongan manusia ternyata lebih setia, untuk itu aku memberikan perintah agar semua anak keturunanku menikahi golongan manusia.
With love,
Benjamin Sanders.
Ryan berusaha memahami setiap kalimat yang dibacanya di layar monitor, jadi leluhurnya bernama Benjamin Sanders. Tapi seharusnya ia juga masih hidup seperti halnya Aro, golongan vampire hanya bisa mati bila dibunuh sesame vampire.
“Tapi bukankah Aro yang bersalah kepada Benjamin? Tapi kenapa malahan Aro yang dendam?”pikir Ryan sambil menggelengkan kepala.
Cowok itu menekan tombol “pause” dan kini telah berubah lagi menjadi tombol “play”
Dalam cerita berikutnya, Ryan mendapatkan informasi bahwa pernikahan vampire dengan sesame vampire melahirkan keturunan yang cacat bahkan banyak kematian akibat pernikahan sedarah, demikian pula dengan keturunan Aro dengan Beatrixe. Sebaliknya Benjamin yang menikahi wanita dari golongan manusia malah semakin diberkati dengan anak keturunan yang cakap dan sehat. Aro dan semua kaum volturi dibuatnya semakin iri hati, itulah sebabnya ia semakin dendam dengan pernikahan golongan vampire dengan manusia.
“Aduh…Ada-ada saja kaum volturi. Kenapa bukan mereka saja yang ikut menikahi manusia?”gumam Ryan sambil mematikan laptopnya.
__ADS_1