
Alarm di atas nakas samping tempat tidur berbunyi, Alisha tersentak kaget, bergegas diambilnya handuk menuju kamar mandi.
“Non…Sarapannya belum dimakan,”teriak seorang art ketika dilihatnya anak majikannya mengambil kunci mobil dan langsung keluar rumah tanpa sempat mampir ke meja makan.
“Makan di sekolah aja,Bi! Bilangin kalau mama telpon.”
Gadis itu menuju garasi dan memanaskan mobil lalu tancap gas menembus sederetan kendaraan yang memiliki kepentingan sama yaitu ke sekolah di pagi hari. Tiap kali berangkat sekolah melewati pukul 06.30 pastilah jalanan mulai macet karena ditambah dengan jadwal keberangkatan karyawan yang ingin sampai kantor lebih pagi.
“Shit!”
Alisha mengerem mobilnya secara mendadak ketika mobil di depannya mengerem mendadak, gadis ini merasa dirinya bakal telat masuk kelas. Gara-gara semalam dugem untuk merayakan kebahagiaannya dalam rangka menghilangkan jejak kejahatannya. Gadis songong itu membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya sambil berteriak meski tak seorang pun mempedulikannya.
“Woii…Bapak-bapak…Ibu-ibu….Maju dong! Saya mau masuk sekolah!”
Seorang pengendara motor berboncengan antara bapak mengenakan helm dan berseragam Pemda dan di belakangnya sang istri mengenakan seragam korpri menegurnya.
“Mbak jangan teriak-teriak gitulah! Kita semua juga macet. Ini negara hukum. Sabar aja!”tegur si bapak sambil berlalu.
Alisha melirik dengan sorot mata sinis kemudian memalingkan muka dan terus menekan klakson mobil. Rupanya gadis itu mulai naik darah. Dibukanya pintu mobil dan dia berjalan dua langkah sambil memaki-maki pengemudi mobil yang ada di depannya. Seorang ibu berperawakan tinggi besar mengenakan daster motif bunga membuka kaca jendela mobilnya dan menatap Alisha dengan wajah kurang suka, matanya melotot, kantung matanya yang besar dan keriputnya yang telah memenuhi muka, membuat ekspresi kemarahannya makin menyeramkan.
“Kamu anak tau adat gak sih?Main klakson aja! Kalau gak mau telat datanglah lebih pagi paham!”bentak si ibu itu dengan wajah super angker.
Nyali gadis itu menciut dan ia kembali masuk ke mobilnya, kendaraan bergerak melambat.
Keringat dingin mulai membanjiri wajah Alisha yang ketakutan karena wali kelas pasti akan menghukumnya kalau terlambat datang.
__ADS_1
Sampai perempatan jalan akhirnya jalanan kembali lancar, Alisha mempercepat laju kendaraannya.
“Lima menit lagi sampai. Syukur alhamdullilah,”gumamnya sambil mengelap peluh dengan tisu yang tergantung di bagian atas mobil.
Sampai di sekolah, semua murid telah masuk dan gerbang hampir ditutup.
“Tot…Tot..…” bunyi klakson Alisha sengaja dibunyikan agar satpam sekolah masih memperbolehkannya masuk gerbang yang dua menit lagi akan ditutup. Satpam berbaik hati mengijinkan gadis itu masuk. Alisha buru-buru memarkirkan mobilnya dan berlari ke kelas. Sayangnya para siswa telah berbaris di depan kelas masing-masing dan kelasnya ada di ujung sehingga harus berjalan cukup jauh.
Sampai di depan kelas pintu telah ditutup dan gadis itu mengintip dari jendela,Pak Tarno sang wali kelas sedang mengabsen muridnya satu persatu.
“Tok….Tok…Tok…”
Pak Tarno membukakan pintu dan memperhatikan Alisha dari kepala hingga ujung kaki, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Alisha nampak ingin menerobos masuk kelas namun tangan Pak Tarno menahan bahunya.
“Ini jam berapa? Ikat pinggangmu mana?”tanyanya dengan suara meninggi.
“Aturan sekolah berlaku umum. Cepat kamu ke kantor TU (Tata Usaha) dan minta surat keterangan datang terlambat! Tidak boleh mengikuti pelajaran di jam pertama!”
“Saya harus dijemur,Pak?Gak ada dispensasi lain? Saya suka mimisan lho,Pak.”
Alisha meminta belas kasihan namun Pak Tarno tidak menggubrisnya dan pergi meninggalkan kelas digantikan dengan guru untuk jam pelajaran pertama, yaitu mata pelajaran Fisika.
Alisha bersungut-sungut menggendong tasnya dan menuju ruang TU. Tak lama kemudian ia berdiri di halaman tengah sekolah yang berupa lapangan basket untuk menjalani hukumannya dijemur selama 45 menit.
Sepuluh menit kemudia yang tampak keluar kelas hanya siswa yang aktif dalam kegiatan OSIS. Mereka terpaksa meninggalkan pelajaran demi tugas dan para guru memberikan dispensasi untuk mereka. Affandra dan Maya berjalan beriringan, melewati lapangan basket. Cowok berkulit gelap namun manis dan bertubuh atletis itu melemparkan pandangannya pada gadis yang pernah menjadi mantan kekasihnya.
__ADS_1
“Makanya lain kali jangan telat,Lis! Semalaman begadang?”tanya Affandra yang berhenti sesaat dan bertanya dari jarak dekat.
“Ah kepo lu,”sahut Alisha sambil melengos.
Affandra hanya tertawa dan berlalu. Maya memperhatikan gadis itu dari jauh sambil membawa map berisi dokumen rapat. Gadis kepang dua adalah sekretaris OSIS yang wajib menuliskan semua makalah rapat dan merangkum semua hasilnya.
Istirahat pertama tiba, Maya menyalin semua catatan Fisika yang tertinggal di jam pelajaran pertama dari buku milik Ryan yang disodorkan padanya. Cowok ganteng itu duduk di sebelah Maya dalam meja yang sama.
“Jelas gak tulisan aku?”
“Lumayan,”sahut Maya sambil tersenyum, dalam hatinya gadis ini bahagia ada sedikit kemajuan dari Ryan mau mencatat apa yang guru tulis di papan tulis.
Motivasi Ryan sebenarnya karena ia ingin lebih dekat dengan si cantik berkepang dua. Karena gadis pujaannya anak yang rajin maka cowok itu harus mengimbanginya untuk mendapatkan simpati. Alisha yang duduk di belakang mereka menjadi geram, dadanya turun naik dan wajahnya memanas.
“Ayolah,Lis. Kita ke kantin aja,”ajak Niken yang telah bersiap-siap mengambil dompetnya dari dalam tas.
Sandra ikut memperhatikan kemesraan Ryan dengan Maya dengan wajah sinis.
Gadis songong memperhatikan wajah Ryan dari samping, sosok yang merupakan idamannya banget namun sayangnya ia tak pernah memberinya kesempatan walau sedetikpun. Padahal menurutnya, ia adalah gadis paling cantik dan paling popular di sekolah ini. Tubuhnya sempurna, tinggi dan putih, raut wajahnya juga cantik dengan rambut blonde keemasan. Dengan mengenakan seragam putih abu-abu pastilah Alisha keluar sebagai siswi dengan postur tubuh dan gaya berjalan terbaik di sekolah ini. Namun kecantikan secara lahiriah miliknya bukan merupakan daya pikat di mata cowok paling keren di sekolah, siswa baru yang kini menjadi idola. Itulah sebabnya gadis itu merasa diremehkan dan sakit hati yang berimbas pada Maya.
“Udahlah,Lis. Selera dia memang yang begituan.Muka kampungan!”seru Sandra sambil tertawa diikuti tawa ketiganya.
Alisha pun iseng sengaja melemparkan bekas botol air mineral ke punggung Maya dan berharap cowok itu tak melihatnya. Namun sesuatu yang Ajaib terjadi, Ryan dengan sigap dapat menangkap botol plastik itu tepat sebelum mendarat di punggung Maya. Gerakan tangan yang dilakukan si ganteng sangat cepat melebihi kecepatan cahaya sehingga membuat mata ketiga cewek itu terbelalak. Ketiga cewek badung itu saling berbisik dan keluar kelas menuju kantin. Sepertinya rencana mereka gagal kali ini.
Si cantik berkepang dua nyaris tak mengetahui dirinya akan menjadi sasaran lemparan, namun ia keheranan ketika dilihatnya Ryan memegang sebuah botol kosong tiba-tiba.
__ADS_1
“Kapan kamu minumnya?Kok udah abis aja?”tanya Maya dengan ekspresi lugu seperti biasanya.
Di mata Ryan,Maya adalah gadis cantik yang imut dan lucu, sangat mirip dengan anak kecil, kepolosan hatinya dan kejujurannya merupakan hal istimewa di matanya.