Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 24 : Garasi Darurat


__ADS_3

“Tok…tok…tok…srek…srek….srek…”


Terdengar suara berisik pagi hari dari tembok sebelah,padahal hari ini adalah hari Minggu.


Wati yang semalaman begadang karena anaknya yang masih balita mengalami demam sehabis vaksin,menutupi telinganya dengan bantal.


Dirabanya kening Soleh,bocah kecil berusia 3 tahun itu baru terlelap ketika hari menjelang subuh. Semalaman ia menangis terus karena badannya panas dan susah menyusu. Balita itu juga diare sampai anusnya lecet sehingga tangisnya makin hebat. Wati begadang semalam suntuk dan tidak membangunkan suaminya karena kasihan.


“Srek…srek…srek…”


Suara kayu diserut kembali terdengar meskipun hari masih pagi.


“Mas….Mas….Coba kamu liatin di sebelah ada apa sih?”teriak Wati kepada suaminya,Mas Budi yang sedang berada di dapur menyeduh air kopi.


“Bentar..Sudah jam delapan pagi. Kalau mau bangun, siapin sarapan sekalian!”teriak Mas Budi tak kalah lantang.


Wati menggeliat di atas tempat tidurnya,matanya masih benar-benar lengket karena kelelahan bekerja sekaligus mengasuh anak ketika pulang kerja.


“Dikit lagilah,Mas. Nanti pasti bangun.”


Mas Budi keluar rumah dan menutup kembali pintu kontrakannya. Hari ini kerjanya libur,peternakan hanya dijaga karyawan yang tinggal di dalam. Laki-laki itu dengan santai mengenakan kaos oblong dan sarung yang sudah tampak kumal namun demikian nyaman membalut tubuhnya seharian penuh di kala libur kerja. Di kanan kiri kontrakannya berupa rumah sepetak yang pemiliknya sama.


Laki-laki itu mengamati rumah-rumah di sekitarnya, dan mencari sumber suara yang terdengar sangat berisik mengganggu tidur istrinya.


“Oalah…Ternyata sumber suaranya datang dari ujung kontrakan yang berupa tanah kosong,”gerutu Mas Budi sambil bersungut-sungut mendekatinya.


“Oh…Mas Beno. Selamat pagi. Apa kabar?”


“Baik,Mas. Mas Budi apa kabarnya?”tanya Beno kembali sambil mengelap keringat dengan ujung lengan kaosnya.


“Kabar baik,Mas. Kok hari libur begini masih sibuk juga. Mau bikin apa kira-kira?”


“Gak bikin apa-apa lho,Mas. Sekedar membantu boss yang mau titip mpbilnya di sini.”


“Oalah…Kok tumben mobil dikandangin jauh-jauh. Orang kaya memang aneh-aneh ya?”


“Iya saya juga bingung. Apa nantinya mobil mau dikasih buat saya gitu,Mas?”


“Oalah…Mimpi itu,Mas. Ya gak mungkinlah. Yaudah saya balik ke rumah dulu.”


“Iya…Maaf ya sudah bikin suara berisik.”


“Iya gak apa-apa.”

__ADS_1


Mas Budi kembali ke rumahnya, ia menguncinya kembali dari dalam dan membersihkan lantai rumah selagi istri dan anaknya tidur.


“Driit…driit…”


Terdengar suara kaki meja dan kursi yang dipindahkan ketika Mas Budi mengepel lantai. Istrinya keluar kamar dengan tubuh masih dibalut daster dan rambut kusut, “Ada apa,Mas?”


“Bersih-bersih,Yang. Bantuin kamu kan hari Minggu.”


Wati menghempaskan tubuhnya di atas kursi sofa yang sudah tampak usang dan robek di sana sini.


“Maksudku yang berisik di sebelah,Mas.”


“Oh…itu Mas Beno lagi bikin garasi buat mobil majikannya.”


“Hah? Buat apa bikin garasi mobil di kampung?”


“Yasudahlah. Namanya orang kaya suka-suka merekalah.”


Wati beranjak ke kamar mandi,”Mas…Titip anak kita. Mau mandi sebentar.”


Mas Budi mengangkat ember pelnya dan bergegas masuk kamar menjaga Soleh,anak mereka yang baru berusia 3 tahun dan sering dititipkan Bu Yuni,pemilik kontrakan ketika mereka bekerja. Bu Yuni,wanita paruh baya yang sudah menjanda dan tidak memiliki anak, sangat senang dititipi Soleh sehingga ia rela melakukan tugas mengasuh tanpa dibayar.


Dua minggu kemudian, Beno pulang ke kontrakan dengan membawa sebuah mobil mewah berwarna putih. Seisi kampung memandangnya dengan kagum, mereka mengira laki-laki itu telah berhasil memperoleh pekerjaan sangat bagus dan sebentar lagi pasti akan meninggalkan kontrakan itu. Ketiga anak Mas Beno pun hanya bisa memandangnya dari jauh dan tak pernah sekalipun mereka diperbolehkan menggunakannya, hanya sesekali laki-laki itu memanaskan mesin mobil dan menutup garasi itu kembali.


Hari demi hari, minggu berganti minggu, hingga para warga merasakan keganjilan dengan hadirnya mobil mewah di tengah kampung. Namun tak seorang pun berani mengusiknya dengan melontarkan berbagai pertanyaan. Hingga suatu hari, Ryan kembali membawa Maya makan di restoran yang menjual bakso di pertokoan dimana Wati bekerja di sana.


“Sepertinya kau tak pernah bosan makan di sini,”celetuk Maya sambil membuka botol air mineral yang disajikan terlebih dahulu oleh pelayan.


“Iya….Abis rasanya enak banget dan yang terpenting bisa liatin kamu lama-lama.”


Gadis itu tertawa dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, pipinya memerah karena malu. Ryan makin senang menggodanya karena wajah Maya makin imut dan menggemaskan. Dua orang siswa lain sekolah di meja sebelah saling menyikut dan berbisik lalu tersenyum-senyum melirik ke arah mereka.


“Udah berapa lama sih kita jalan?”tanya si ganteng sambil menatap gadis itu dengan sorot matanya yang bersinar indah di antara hidungnya yang mancung sempurna.


“Besok tepat satu minggu.”


Entah mengapa Maya tak sanggup menatap lama-lama wajah itu,semacam ada energi listrik yang membuat jantungnya berdebar lebih keras dari biasanya.


“Kita ini cuma temen atau…” cowok itu sengaja memancing dengan pertanyaan untuk mengetahui isi hati Maya.


Gadis itu mengangkat dagunya dan tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih serta dihiasi oleh kedua lesung pipinya yang membuat wajahnya makin menggemaskan.


“Kok cuma senyum?”

__ADS_1


“Maunya apa? Kita kan cuma teman.”


“Aku mau yang lebih,”seru Ryan sambil tertawa,membuat dua cowok di meja sebelah kembali menatap mereka dan tersenyum-senyum.


“Aku takut,”sahut Maya.


“Takut apa?”


“Takut kenapa-kenapa,”sahut gadis itu sekenanya menjawab yang disambut tawa keduanya.


“Oh ya..Kasusmu itu belum ada kabar juga dari pihak kepolisian.”


“Iya. Padahal udah termasuk ranah pidana. Aku hampir mati dibuatnya.”


Ryan mendapat insting kalau kasus itu bakal lama dan terus menggantung karena ada pihak yang sengaja menghilangkan jejak.


“Hai..Kok malah melamun?”tanya Maya sambil menggerakkan tangannya di depan muka Ryan yang tiba-tiba terdiam tanpa berkedip.


“Gak ngelamun kok cuma ngebayangin.Yuk kita pulang dulu.”


“Jreeng…Jreng…Jreng….”tiba-tiba terdengar petikan seorang pengamen yang masuk ke restoran itu dan menyanyikan sebuah lagu dangdut yang sedang viral ketika Ryan sedang membayar di kasir.


“Hush…Hush…”seorang pelayan memberinya uang receh dan mengusirnya.


Maya memperhatikan pengamen itu berpindah ke toko sebelah, sementara Ryan berusaha menarik tangan gadis itu agar cepat sampai rumah.


“Eits tunggu…Ada Mbak Wati. Aku mau ketemu dulu,”pamit gadis itu pada Ryan ketika dilihatnya Wati sedang keluar dari ruko majikannya.


“Hai,Non. Ayo mampir.”


“Hai,Mbak. Apa kabar? Bapak gimana kabarnya?”


“Semua sehat-sehat aja. Ini pacar non?”


“Iya saya pacarnya,”sahut Ryan dengan tertawa yang membuat Maya malu dan mukanya langsung merah padam.


“Kapan-kapan main ke kontrakan di Bogor,Non.”


“Mbak nginep di rumah majikan?”


“Iya. Saya cuma diijinkan pulang satu kali sebulan.”


“Bisa masuk mobil jalannya,Mbak?”tanya Ryan tiba-tiba.

__ADS_1


“Oh bisa. Belum lama juga tetangga baru masukin mobil mewah ke sana.”


“Mobil mewah di kampung?”batin cowok itu merasa sangat aneh.


__ADS_2