
Ryan bergegas menarik tangan Maya agar segera sampai ke vila.
“Jangan sampai kita sampai vila keesokan harinya,May. Mereka pasti mengira kita diculik setan lagi.”
“Kita di sana sudah berapa jam?Apakah perbedaan waktu dihitung dari menit atau jam?”
“Aku belum tau,May. Sepertinya belum ada satu jam.”
Sesampainya di vila, suasana masih gelap, udara dingin menyergap menembus pori-pori kulit, hanya terdengar suara jangkrik yang bernyanyi di rerumputan.
“Krek…”
Suara pintu dibuka Ryan, ruangan depan masih gelap,nampaknya hari masih malam dan semua masih terbuai dalam tidur panjangnya. Dua remaja itu berjalan berjingkat-jingkat agar tak menimbulkan suara. Mendekati kamar pertama yang dihuni anak-anak perempuan, Maya nyaris berteriak ketika dilihatnya Pak Fatih terduduk di ruang tengah dalam kegelapan.
“Eh bapak…Maaf kami baru pulang dari bukit,”kata Maya sambil menganggukkan kepala memberi hormat.
“Malam,Pak. Belum tidur?”tanya Ryan sambil tersenyum.
Pak Fatih tak langsung menjawab. Beliau menyalakan lampu ruang tengah, lalu mempersilakan mereka duduk di depannya.
“Kalian ini sebenarnya ada apa? Tiap malam pergi ke bukit,”tanya Pak Fatih sambil menghela napas panjang.
Guru olahraga itu duduk dengan wajah serius dan rambut sedikit acak-acakan, tubuh atletisnya dibalus kaos putih lengan panjang dan sarung kotak-kotak.
“Kami tak melakukan apa-apa kok,Pak.”
Maya mengiyakan dengan menganggukkan kepala.
“Kalian ini hampir kelas 12. Harus berjuang keras untuk berebut kursi di perguruan tinggi. Jangan bertindak aneh-aneh yang merusak nama baik kalian dan sekolah kita,”nasehat sang guru panjang lebar.
“Maaf,Pak. Maksudnya apa?”tanya Maya dengan polosnya.
“Kami tak melakukan apa-apa,Pak.Percayalah,”sahur Ryan yang tampaknya lebih peka dengan pertanyaan yang dilontarkan sang guru olahraga itu.
“Saya hanya mengejar Ryan yang tiba-tiba keluar vila sendirian,Pak.”
“Benar begitu? Dua malam ini kalian sengaja pergi ke bukit berdua,”cetus Pak Fatih.
“Iyalah,Pak. Kami gak pernah kepikiran untuk macam-macam kok,”sahut Ryan lagi sambil menegakkan posisi duduknya.
__ADS_1
“Benar,Pak. Kami masih sadar diri sebagai pelajar yang harus menjaga nama baik sekolah juga,”timpal Maya dengan sorot mata yang tulus.
“Lalu…Untuk apa ke bukit harus malam-malam?”tanya Pak Fatih yang menatap keduanya dalam-dalam.
“Sebenarnya masih ada urusan yang belum saya selesaikan di sana,”sahut Ryan.
“Hah? Urusan dengan siapa? Kenapa harus dilakukan malam hari?”
Ryan hampir saja keceplosan bicara, jantungnya berdebar makin keras, antara cemas dan bingung menjadi satu. Ia berpikir keras untuk memberikan alasan yang masuk akal sehingga sang guru tidak menaruh kecurigaan kepadanya.
“Sebenarnya…Kami sedang merencakan penelitian mengenai burung hantu,Pak. Saya menemani Maya yang katanya mau melanjutkan penelitian ilmiah kelak di perguruan tinggi,”papar Ryan panjang lebar.
“Begitukah? Apakah tak bisa dilakukan di rumah?”tanya sang guru.
“Karena di rumah kami jarang ditemui burung hantu. Di bukit ada beberapa burung hantu. Jadi kami ke sana dua mala mini. Maafkan kami,Pak.”
“Apakah benar,May?”tanya Pak Fatih yang meminta jawaban dari gadis itu.
“Benar,Pak. Sebelumnya saya pernah cerita ke Ryan dan dia mengusulkan observasi dilakukan sembari kami menginap di vila Puncak.”
“Baiklah kalau begitu. Untuk sementara saya percaya omongan kalian. Tidurlah! Besok kita akan kembali ke rumah,”kata Pak Fatih sambil meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.
Sepeninggal Pak Fatih yang naik ke lantai dua untuk tidur, dua remaja itu saling berpandangan. Maya menghela napas panjang sementara Ryan nampak berpikir serius.
“Tidurlah,May. Aku harap besok malam dan seterusnya kita makin dilancarkan dalam segala hal.”
Ryan beranjak bangun dari kursi dan mematikan lampu ruang tengah, yang ada dalam pikiran cowok itu adalah bagaimana besok ia dapat mencegah makhluk-makhluk volturi agar tak megikutinya ketika kembali ke kota.
Keesokan harinya…
Tiga bis kembali bersiap membawa para siswa kembali ke sekolah, selanjutnya dari sana para orang tua dapat menjemput anaknya untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Hai! Melamun terus kau,”tegur Dinar pada Maya ketika gadis itu sudah duduk di dalam bis.
Sengana Maya duduk di samping Dinar, sedangkan Ryan duduk sebangku dengan Doni, sohib akrabnya.
“Ah gak…”
“Pasti ada sesuatu yang kau pikirkan,May.”
__ADS_1
“Menurutmu..Hidup yang sempurna itu ada gak?”bisik Maya pada Dinar yang sedang duduk sambil memeluk tas ranselnya.
“Maksudmu?”
“Aku pikir Ryan itu sosok cowok paling sempurna. Ganteng,kaya, jago basket pula. Tapi sepertinya dia punya sisi gelap yang bikin dia punya banyak masalah,”papar Maya dengan suara lirih.
“Maksud kamu?”
Maya hanya mengkat bahunya,”Kamu pengen tau apa yang jadi lamunan aku. Itulah jawabannya.”
“Sialan kau!”seru Dinar sambil terkekeh.
Maya menyadari setelah meminum susu warna merah pemberian Ryan, tekanan darahnya yang sering drop kini menjadi normal, juga posisi kakinya saat berjalan, kian seimbang dengan alasan yang sama sekali belum ia ketahui.
“Dan…kaum volturi yang menyerangnya? Ah…sudahlah benar-benar mereka membuatku gila. Di balik cinta yang sepertinya sempurna, ada sejuta penderitaan yang mengintai,”batinnya sambil merebahkan diri di sandaran kursi bis.
Perjalanan pulang dengan bis yang memakan waktu lebih dari satu jam,membuat semua penumpang terkantuk-kantuk. Matanya yang terasa berat membuat Maya terpejam untuk beberapa menit. Dalam tidurnya ia dibawa ke sebuah tempat berupa gedung tua yang berdiri di atas batu-batuan. Di depannya terdapat sebuah danau yang airnya kecoklatan. Mereka yang membawanya menaiki sebuah lorong gelap dari lantai satu ke lantai tiga, dan meletakkan tubuhnya yang lemas tak berdaya di tengah ruangan. Suasana kembali hening,tanpa suara, terdengar langkah-langkah kaki mereka meninggalkan dirinya seorang diri. Waktu terus bergulir dan ruangan terbuka itu bertambah panas, Maya membuka matanya yang terasa sangat silau dengan sinar mentari yang sangat terik masuk melalui segala celah yang ada di sekitarnya.
“Uh..ah…”
Kedua tangan dan kakinya terikat,mulutnya pun dalam keadaan diplester oleh sebuah plakban berukuran besar.
Sudut matanya ditebarkan ke seluruh ruangan, ada sebuah peti mati yang berada dalam kondisi berdiri,persis yang biasa ia lihat dalam film mumi. Di sebelahnya terdapat tiang pancung dengan tali kokoh pengikat leher, dan di sebelahnya lagi semacam tempat tidur dengan banyak paku. Maya menangis namun suaranya tertahan, air matanya meleleh jatuh ke lantai tempatnya tergolek. Jantungnya berdebar lebih keras ketika samar-samar didengarnya suara orang bercakap-cakap di luar.
“Baguslah kalau gadis itu masih perawan. Ayo kita penggal saja kepalanya!”
“Kau yakin darah gadis itu yang kita cari?”
“Kalau bukan dia, siapa lagi? Niscaya volturi bakal jadi kekuatan yang tak tertandingi selamanya.”
Terdengar suara tertawa penuh kemenangan yang menggema di seluruh ruangan.
“Ayo siapkan cawab besar untuk menampung darahnya!”
Maya berusaha melepaskan diri, namun tubuhnya serasa terikat erat tak bisa berkutik sedikitpun.
“Bruuk….”
Tubuh Maya terjatuh dari kursi yang ia duduki di dalam bis.
__ADS_1
“May…Kamu gak apa-apa kan?”tanya Dinar sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Maya membuka matanya,kini ia dikelilingi banyak temannya termasuk Ryan yang memandangnya dengan wajah keheranan.