
Malam itu begitu indah, langit malam tampak bersinar, bintang-bintang bertaburan,bulan hadir menggantikan mentari yang kembali ke peraduannya. Dua sejoli itu duduk di teras memandang bulan yang bersinar penuh. Maya mengangkat dagunya, memandang indahnya bulan yang bersinar penuh. Siluet wajah gadis itu nampak sangat menakjubkan, hidung yang mancung, bulumata yang lentik dan bola mata yang bulat sempurna. Ryan diam-diam mencuri pandang sambil tersenyum ke arahnya.
“May…Kamu cantik.”
Gadis itu menoleh dan tersenyum memandang Ryan dengan sorot matanya yang penuh kasih dan wajahnya yang tampan paripurna. Cowok ganteng itu meraih tangan Maya dan menggenggamnya, ada pijaran-pijaran kutub positif dan negatif yang menyatukan hati keduanya.
“Kamu juga ganteng banget malam ini,”puji Maya.
Ryan terkekeh, memperlihatkan barisan giginya yang putih dan terawat rapi, matanya menyipit. Maya makin gemas dibuatnya, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Ryan sambil memandang ke langit.
“Kamu bobo sini aja malam ini,May. Ada kamar di sebelah,”kata Ryan sambil mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut.
“Tapi aku gak bawa pakaian sama sekali.”
“Gak apa-apa. Pakai dulu pakaian aku. Besok kita beli.”
“Gak ah. Gak enak.”
“Jadi mau pulang malam ini juga?”
“Iya…”
Mas Andi yang merasa kehadirannya tidak lagi dibutuhkan,memindahkan seluruh pakaiannya ke dalam koper miliknya. Tubuhnya masih dibalut seragam putih-putih, ia biasa mandi saat menjelang tidur agar tubuhnya tidak lagi berkeringat. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar dan meletakkan kopernya di depan pintu dalam keadaan telah digembok. Dengan menengok ke kanan dan ke kiri,perawat itu mencari keberadaan tuannya. Mas Andi berjalan kea rah luar dan mendapati tuannya sedang berada di teras bersama sang kekasih. Perawat itu ragu untuk menemui Ryan karena merasa tak enak hati akan mengganggu acara tuannya. Namun ia harus berangkat pagi-pagi buta agar tidak terjebak kemacetan. Ryan menyadari seseorang sedang berdiri di belakang pintu. Kemudia ia melangkah masuk ke dalam dan menemui Mas Andi.
“Ada apa malam-malam begini,Mas?”tanyanya.
Ryan mempersilakan Mas Andi duduk di kursi tamu. Maya yang terganggu dengan nyamuk-nyamuk di teras yang semakin banyak, akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di samping mereka.
“Boleh aku gabung dengan kalian kan?”tanya gadis itu takut keberadaannya dianggap mengganggu.
“Oh. Boleh saja,”sahut Mas Andi sambil tersenyum ramah.
“Maksud saya, besok mau pamitan pulang kampung pagi-pagi.”
“Lho…Kok mendadak,Mas. Biarpun saya sudah lancar berjalan. Mas gak perlu terburu-buru mengundurkan diri,”kata Ryan.
“Tapi saya ada keperluan lain di kampung,Tuan.”
“Kalau begitu. Saya telpon papa dulu.”
Ryan pamit keluar rumah, dan menelpon sang papa dari teras rumah agar sinyal lebih lancar.
Tak lama kemudian, Ryan masuk kembali ke ruang tamu dan duduk di samping Maya.
“Kata papa, sisa gaji akan ditransfer. Silakan cek mutasi rekening. Apakah sudah masuk?”
“Saya belum punya M-Banking,Tuan.”
“Oh…Kata papa, beliau kirim bukti transfer melalui whatssup. Coba cek.”
Mas Andi merogoh ponsel dari saku celananya dan membuka ponselnya.
“Benar. Sudah masuk,Tuan. Terima kasih. Apakah mau cek pakaian saya di dalam koper?”
__ADS_1
“Gak perlu,Mas. Saya percaya kejujuran,Mas.”
“Sekali lagi terima kasih. Mohon maaf bilamana saya punya kesalahan selama ini terhadap Tuan Ryan dan Non Maya.”
“Sudah kumaafkan,Mas. Kesalahanmu banyak banget,”seloroh Ryan sambil terbahak.
Maya dan Mas Andi pun ikut tertawa.
Perawat itu kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.
Kini tinggal sepasang kekasih yang berada di ruang tamu. Malam semakin dingin, suasana hening, yang terdengar hanya suara jengkerik yang bersembunyi di antara rerumputan.
“Hoaam….”
Ryan menutup mulutnya dengan tangan, sorot matanya mulai meredup bagaikan lampu 5 watt. Pak Kardi pun telah terlelap dalam tidurnya di kamar belakang.
“Udahlah,May. Aku udah gak kuat. Mau tidur dulu,”kata Ryan dengan suara lemah.
“Yaudah aku balik dulu. Mau bangunin Pak Kardi.”
“Jangan! Kalau dia ngantuk bisa nabrak lho,”cegah Ryan yang kini membaringkan tubuhnya di atas kursi.
“Yaudah kamu aja yang anterin aku.”
Ryan menggosok-gosok matanya, ia kurang berkonsentrasi untuk mendengarkan akibat terlalu mengantuk. Kondisinya setengah sadar dan menanyakan kembali pada gadis itu,”Apa tadi kamu bilang?”
“Kamu aja yang anterin aku !”seru Maya yang nampaknya masih segar bugar, belum mengantuk sama sekali.
Sontak Ryan terbangun dan kaget,”Gak salah?Aku ngantuk begini kau suruh mengemudi malam-malam. Udahlah tidur di kamar sebelah atau mana saja di rumah ini.”
“Aku gak enak,Ryan.”
“Gak udah pedulikan omongan orang,May. Toh kita tidak satu kamar.”
“Kalau begitu. Aku naik taksi aja.”
“Aduh…. Dasar perempuan. Kalau punya mau.”
Ryan langsung berjalan ke belakang, menuju sebuah kamar yang ditempati supir pribadinya. Maya mengunci pintu rumah dan bergegas menyusul Ryan ke belakang. Suara sandal yang diseret terdengar jelas malam itu.
Ryan telah berada di depan kamar Pak Kardi. Laki-laki itu tidur dengan mendengkur. Suara dengkurnya terdengar sangat keras hingga balik pintu.
Di kamarnya, Pak Kardi pulas tertidur dalam keadaan terlentang, dadanya naik turun, mulutnya celangap. Ryan mengetuk pintu berkali-kali dari arah luar.
“Tok…Tok…Tok….”
Sang sopir belum terbangun juga. Suara ketukan terdengar hingga ke kamar art, Maemunah yang terganggu segera keluar kamar dan menghampiri tuannya.
“Memang kebo si Kardi kalau tidur,”umpatnya di depan sang majikan.
Ryan dan Maya hanya tertawa geli melihat Memunah uring-uringan.
“Woiii! Bangun! Tuh dipanggil Tuan Ryan,”teriak Maemunah sambil menggedor pintu kamar dengan keras.
__ADS_1
Pak Kardi akhirnya tersadar juga, matanya pelan-pelan terbuka. Ia bergegas menyalakan lampu kamarnya.
“Ceklek..”
“Nah…Itu bangun juga,”ucap Ryan sambil tersenyum lega.
Kemarahan Memunah mencair,ia pun pamit kembali meneruskan tidurnya.
Pak Kardi menyipitkan matanya sambil membuka pintu, dilihatnya anak majikannya dengan sang kekasih di depan pintu.
“Pak..Tolong anterin Maya pulang ke kos.”
“Kenapa gak menginap sekalian,Non? Udah malam begini,”sahut Pak Kardi sambil menaikkan kain sarungnya hingga ke bagian dada.
“Tau tuh…Ngebet balik malam ini.”
“Yaudah. Bapak bikin kopi dulu biar gak ngantuk. Non siap-siap aja.”
“Makasih Pak,”seru Maya sambil menggandeng tangan Ryan ke ruang tengah.
“Teganya kau,May. Mestinya besok kita bisa jogging bareng di taman,”keluh Ryan sambil duduk bersila di atas sofa.
“Aku kan banyak tugas praktikum,Ryan. Namanya mahasiswi kedokteran,”sahut Maya sambil mengikat rambutnya dengan karet rambut yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
“Sekali-sekali bolehlah kau menginap nemenin aku di sini,”ucap Ryan lagi.
“Kapan-kapan ya…Tapi gak janji.”
“Teganya kau!”seru Ryan sambil tertawa.
“Aku mau bikin susu coklat hangat. Kamu ada ?”
“Ada dong. Bikin aja sendiri tuh.”
Gadis itu membuat dua cangkir susu coklat hangat, dan diberikannya secangkir untuk cowok itu. Mereka menikmatinya di atas meja ruang tengah yang menghadap sebuah televisi besar.
Pak Kardi menyembulkan kepalanya ke ruang tengah,”Sudah siap,Non?”
“Bentar,Pak. Minum susu dulu.”
Sang supir pun pergi ke garasi dan memanaskan mesin.
“Brum…Brum….Brum….”
Pak Kardi merasa dengan para art yang sudah terlelap dalam tidurnya, sehingga ia membuka dan menutup kembali garasi itu sendirian. Kini mobil telah terparkir dengan manis di depan rumah.
Maya memeluk Ryan dan berpamitan, meskipun masih menyimpan rasa rindu yang mendalam, mereka harus berpisah. Ryan memandang wajah Maya dengan penuh kasih, gadis itu membalasnya dengan mencium punggung tangan sang kekasih.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang ke arah utara. Maya duduk di belakang, sang supir di depan mengemudi dengan hati-hati. Malam tampak sangat gelap ketika mereka melewati perkampungan yang nyaris tanpa lampu jalanan. Tiba-tiba dari arah berlawanan, terdapat sebuah mobil lain yang bergerak dengan sangat cepat, gerakannya oleng seakan pengemudinya sedang mabuk dan nyaris menghantam mobil yang dikemudikan Pak Kardi. Supir itu menghindar dengan membanting kemudi ke arah kiri dan ….
“Braak….”
Mobil menabrak sebuah pohon besar.
__ADS_1