
Di sebuah kamar milik Alisha…
Malam ini setelah selesai belajar dan memasukkan semua buku pelajaran untuk keesokan harinya, Alisha bersantai dan mulai memainkan ponselnya. Tubuhnya yang semampai dibalut pakaian tidur two pieces model baby doll dengan motif kartun, disandarkannya pada bagian kepala tempat tidur. Dibukanya instagram untuk melihat postingan-postingan terbaru. Serta merta matanya tertuju pada sebuah postingan yang viral mengenai penjahat yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalin dengan gambar tertutup. Gadis itu tak mengenalinya. Yang mengetahui seluruh kejadian sebenarnya hanya pihak kepolisian.
Di rumah milik keluarga Robert Sanders….
Ryan sengaja menginap di rumah sang papa, ia telah membawa semua bukunya agar esok pagi bisa sekolah dari rumah ini.
“Tumben anak papa bermanja-manja. Pengen tidur sekamar pula,”kata sang papa sambil menarik selimutnya.
Ryan memeluk guling dan menghadap wajah papa yang tampaknya masih segar belum mengantuk sama sekali. Cowok itu melirik jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat tiga menit.
“Pa…Ceritain dong mengapa akhirnya golongan vampire berasimilasi dengan manusia,”pinta Ryan dengan wajah penuh harap.
Papa memicingkan matanya, lalu membalikkan badan menghadap Ryan,”Jadi jaman dulu vampire pemakan darah manusia itu benar-benar ada.Mereka terdiri dari kaum bangsawan dan rakyat biasa. Bisa dilacak keberadaannya hingga tahun 1845 M.”
“Lalu asal usul vampire vegetarian itu darimana,Pa?”
“Karena golongan vampire jaman dulu menjalankan pernikahan sedarah, banyak anak yang lahir cacat atau kelainan jiwa. Jadi lama-lama punah.Vampire identik dengan penjahat karena jaman dulu ia tak punya roh, takut sinar matahari dan minum darah manusia.”
“Serem banget,Pak.”
“Iya. Dan generasi ketiga vampire murni benar-benar musnah. Sisanya menikah dengan golongan manusia, hanya minum darah hewan sewaktu-waktu,”papar papa dengan wajah serius.
“Lalu keturunan ketujuh dan seterusnya gimana,Pa?”
“Kemungkinan besar lebih mewarisi DNA manusia.”
“Belum pastikah?”
“Kan belum ada anak dari kamu,”sahut sang papa sambil terkekeh.
Ryan ikut tertawa dan membayangkan kelak ia akan menikah dengan Maya, seperti halnya sang papa yang menikah dengan manusia.
“Sampai sekarang ada buktinya kalau vampire itu pernah hidup.Kastil Bran di Bukarest,ibukota Rumania.”
__ADS_1
“Kapan kita ke sana,Pa?”
“Kamu pengen?” tanya papa sambil menambah bantal kepala agar lebih tinggi.
Ryan mengangguk, bola matanya berbinar-binar.
“Udah..Sekarang tidur dulu. Jangan sampai telat masuk sekolah,”kata papa sambil memeluk tubuh Ryan, suatu hal yang telah lama tak ia lakukan sejak Ryan menginjak remaja dan hidup terpisah di rumah sendiri.
Malam makin sunyi, yang terdengar hanya suara jangkrik dari kejauhan.
Pagi yang sejuk, mentari belum juga muncul dari peraduannya, papa sedang memasang dasinya dan bersiap mengajaknya sarapan. Ryan berlari-lari kecil sambil memasukkan roti sandwich ke dalam tupperware.
“Ayo kita sarapan dulu…Kok malah dibawa rotinya?”tanya papa sambil bersiap memotong roti.
“Ryan udah minum susu dan makan telur rebus,”sahutnya sambil menenteng kunci mobil di tangan kanannya.
“Jam enam juga belum genap. Ngapain sih buru-buru?”
“Mau jemput Maya dulu,Pa.”
“Daag papa…”kata Ryan sambil melambaikan tangannya.
Jalanan masih sangat lengang, lampu jalan masih menyala, hanya satu dua orang yang pedagang pasar yang sudah sibuk memuat dagangannya dan menaruh di belakang sepeda motornya. Ryan memegang sandwich dengan tangan kirinya, jalanan yang masih sepi membuatnya mengendarai mobil dengan santai. Tak lama kemudian, mobil mewahnya telah berhenti tepat di depan pagar rumah Maya,gadis pujaannya.
“Tingtong…Tingtong…”
Bel rumah milik si gadis kepang dua berbunyi, Tante Wulan membukakan pintu.
“Eh…Nak Ryan, kok pagi bener?”
“Iya,Tan. Jalanan belum macet. Maya udah siap,Tan?”
“Masih sarapan. Ayo masuk dulu,”sapa Tante Wulan dengan ramah sambil membetulkan ikatan rambutnya yang jatuh menutupi matanya.
Ryan duduk di ruang tamu mungil dengan sebuah vas bunga porselen yang berisi lima kuntum bunga mawar merah segar. Harumnya menyeruak ke seisi ruangan.
__ADS_1
Tak lama kemudianMaya muncul dengan mulut yang masih penuh makanan. Ia tak enak hati ditunggu Ryan lama-lama.
“Tunggu ya…Mau sikat gigi sebentar,”pamit gadis itu sambil membalikkan badan.
Ryan tertawa dalam hati, wajah Maya sangat lucu saat mulutnya penuh dengan makanan, gadis itu memang baik hati dan sangat lugu.
Maya bersiap ke sekolah dengan menggendong tas ransel dan dua tumpukan map warna biru. Mereka melambaikan tangan ke arah mama sebelum memasuki mobil milik Ryan. Wajah Tante Wulan menyungging senyuman, ia bahagia Maya dapat kembali akur dengan Ryan, setidaknya cowok itu dapat menjaganya selama di luar rumah.
“Itu map OSIS,May?”tanya Ryan ketika mereka berada di dalam mobil
“Map buat persiapan LKIR bareng Yusuf, siswa kelas sebelah,”sahutnya sambil memindahkan map dan tas ranselnya ke jok belakang.
“Topiknya apa,May?”
“Reduplikasi DNA pada binatang kelelawar.”
“Alasan ambil penelitian kelelawar apa?”
“Yusuf yang tertarik dengan alasan spesies Cynopterus brachyotis (Chiroptera Pteropodidae) udah hampir punah.”
“Gak ambil penelitian tentang vampire aja,May?”ledek Ryan sambil tertawa.
Wajahnya tampak sangat tampan di bawah sinar mentari yang mulai menyusup melalui kaca mobil bagian depan.
“Susah cari sampel vampire,”sahut Maya terkekeh.
“Aku yang jadi sampel,”seru Ryan dengan suara keras.
“Gak ah. Nanti malah jadi gosip seisi sekolah.”
“Tapi bener,May. Semalam papa cerita panjang lebar soal vampire asli yang sudah punah sejak generasi ketiga.”
“Punah karena apa?”
Sinar mentari makin hangat menembus dari jendela kaca mobil, sehangat cinta antara dua insan yang saling dukung dalam hal positif.
__ADS_1