Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 66: Menemani Eyang Uti


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah,mentari bersinar hangat, mengusir dinginnya embun tadi pagi yang jatuh di atas dedaunan. Ryan telah siap dengan mobilnya untuk mengantarkan eyang uti ke rumah Tante Anneth. Cowok itu sebenarnya sedikit salah tingkah harus bertamu ke rumah Alisha yang pernah bermasalah dengannya, terlebih kedua orangtua mereka dipanggil ke rumah BP.


“Udah siap,Yang?”


“Sebentar…”


Teriakan eyang uti masih terdengar nyaring di telinga,wanita tua itu masih gesit dan cekatan,masih bisa merawat diri dan tampil cantik. Ryan bangga dibuatnya, dan menyesali keadaan yang baru mempertemukan mereka di saat usianya menginjak 17 tahun.


“Prok…Prok….Prok…”


Suara sepatu vantofel beradu dengan lantai marmer menimbulkan suara nyaring yang terdengar di telinga Ryan. Cowok itu mengamati ke dalam ruangan, melihat sesekali sosok siapa saja yang lalu lalang di ruangan bawah. Rasanya sudah tidak sabar menunggu eyang utinya berdandan, memoles wajahnya dengan make-up tipis-tipis agar tidak terlihat pucat, lalu menyasak rambutnya agar terlihat tebal dan menggulungnya ke atas.


“Nah….Ayo kita berangkat!”seru eyang uti mengagetkan Ryan yang sedang mendengarkan lagu dari ponselnya.


Kedua telinganya ditutup dengan earphone warna hitam, sementara itu kepalanya bergoyang mengikuti irama lagu, sambil sesekali dua kakinya dihentak-hentakkan di atas lantai marmer rumahnya.


“Eyang uti….Tasnya ketinggalan lho!”


Seorang art muda berjalan dengan langkah lebar yang nampak sangat tergopoh-gopoh,membawakan sebuah tas tenteng dengan motif LV,warna coklat muda.


“Oalah…Kesuwun,Nduk!”ucapnya sambil menerima tas itu.


Art pun tersenyum sambil menutup pintu kembali.


Ryan berusaha membuat eyang utinya senang dengan menuruti semua keinginannya. Cowok itu hanya terdiam dan pasrah ketika eyang utinya hendak membawanya ke rumah Alisha dan menceritakan semuanya nanti kepada mereka yang tentu saja akan mengagetkan.


“Tok…Tok….Tok….”


Suara pintu yang diketuk nenek terdengar menggema dari dalam rumah. Hari Minggu pagi, semua art di rumah Alisha telah selesai membersihkan seisi ruangan megah dan sangat luas milik keluarga pengusaha sekaligus dewan rakyat yang cukup ternama itu.


Seorang art berseragam kotak-kotak merah muda membukakan pintu dengan wajah ramah,”Pagi…Mau bertemu siapa?”


Eyang uti membetulkan letak kacamatanya,”Saya bundanya si Anneth.Majikan kamu.”


Art itu buru-buru mempersilakan mereka masuk dan menunggu di ruang tamu yang sejuk dan tertata rapi.


Ruang tamu yang cukup luas di lantai satu itu sangat sunyi, ada sebuah meja console warna putih, lukisan nusantara yang besar dengan bingkai keemasan dan sebuah kursi tamu dengan ukiran jati berwarna putih. Ryan menatap sebuah patung kayu kecil yang ada di atas meja console, seraut wajah mirip cleopatra, matanya nyaris hidup, sepertinya patung itu bernyawa, sangat berbeda dari deretan patung di sebelahnya.


“Yang…Lihat patung kayu itu,”bisik Ryan pada sang eyang.


Eyang uti melirik dengan sudut matanya yang mulai bergaris, tatapannya kini terpaku di sana, kakinya melangkah mendekati meja console dan meraih patung itu. Sejenak mulutnya komat-kamit dan matanya terpejam, kemudian ia meletakkan lagi patung itu.


“Dia patung Akasha,”sahut eyang uti lirih ketika beliau sudah berada kembali di samping Ryan.

__ADS_1


“Bu…Mohon maaf, Ibu Anneth sedang main golf dengan suami di belakang rumah. Dua puluh menit lagi sampai kemari,”paparnya sambil meletakkan dua gelas minuman hangat di atas meja.


“Terima kasih Mbak,”kata Ryan.


“Si Alisha suruh turunlah. Eyang uti datang jangan di kamar melulu,”pinta eyang.


“Baiklah. Sebentar saya panggilkan,”sahut art sambil beranjak menuju pintu lift.


Tak berapa lama, Alisha datang di hadapan eyang uti, wajahnya masih sembab dengan rambut kurang rapi, tubuhnya yang tinggi semampai masih dibalut setelah piyama dengan motif kartun.


“Oh…eyang. Maafin Alisha baru bangun tidur,”sambutnya sambil mengecup punggung tangan milik eyang uti.


Gadis itu mengambil posisi duduk tepat di samping eyangnya sehingga Ryan kurang bisa mengamati gerak gerik Alisha. Kemudian Alisha menongolkan sedikit kepalanya untuk melihat Ryan.


“Heh..Ngapain lu ikutan eyang gue? Jadi jongos lu?”seru Alisha yang selalu judes di hadapan Ryan.


“Enak aja. Ini eyang gue juga.”


“Hah? Yang bener,Yang. Itu cucu mungut darimana dah?”rengen Alisha manja sambil menempelkan wajahnya di bahu eyang uti.


Eyang uti tertawa melihat tingkah para cucunya, kemudian beliau menarik napas panjang.


“Jadi kedatangan eyang uti kemari itu mau menjelaskan suatu wangsit dari Annisa,kembaran dari Anneth mamamu.”


“Tunggu sampai mama papamu kemari. Kau mandi dululah sana! Baunya bikin eyang sesak napas,”ledek eyang uti.


Alisha pun langsung manyun dan berlari naik ke lantai dua melalui pintu lift.


Suara pintu dibuka dari arah dalam,”Kreek….”


Seorang wanita berusia 40 an tahun dalam balutan seragam golf serba panjang berwarna putih melepaskan topi putihnya dan memeluk eyang uti lalu mengambil posisi duduk di sampingnya.


“Bunda kenapa datang gak telpon dulu?”


“Sekali-sekali bikin kejutan.”


“Bunda…Udah lama di sini?”tanya papa Alisha yang tampak segar dan mukanya memerah kepanasan.


Tante Anneth dan Om Martin nampak mengamati Ryan sebelum kembali memandang wajah sang bunda. Eyang uti nampaknya bisa menangkap apa yang mereka maksudkan.


“Itu Alisha Bun,”kata Tante Anneth ketika melihat putrinya masuk dari ruang dalam.


Kini ruang tamu penuh manusia yang siap mendengarkan berita dari eyang uti.

__ADS_1


Eyang uti meneguk minumannya sebelum membuka percakapan.


“Jadi empat puluh lima tahun yang lalu. Eyang uti membuat sebuah kesalahan sangat besar. Bersekutu dengan iblis. Waktu itu eyang datang ke rumah Mbah Restu yang kini sudah wafat. Itu eyang lakukan dengan terpaksa,”papar eyang uti sambil menahan tangisnya.


Eyang uti nampak tak sanggup meneruskan kata-katanya, tenggorokannya tercekat, Tante Anneth berusaha menenangkan eyang dengan mengelus punggungnya.


“Eyang sudah lama merindukan anak. Di tahun kelima eyang sangat bahagia mendapat putri kembar. Anneth dan Annisa, adikmu. Namun sayang dia hampir mati, divonis kanker darah.”


“Lalu kenapa Anneth tak pernah diberitahu sebelumnya?”


“Dukun itu yang melarangnya. Annisa diadopsi salah seorang saudara jauh yang tinggal di luar negeri, sementara Anneth tetap tinggal bersama ayah dan bunda. Setelah itu eyang trauma dan tak mau melahirkan anak lagi.”


“Lalu hubungan dengan Ryan apa,Bun?”tanya Alisha.


“Dia anak dari Annisa yang mati saat melahirkan. Dia yang minta eyang menceritakan kabar ini setelah Ryan berusia 17 tahun.”


“Jadi sebenarnya kamu sepupu dong?”kata Alisha yang kini tampak malu-malu.


Alisha pernah mencintai Ryan yang ternyata masih sepupunya. Dan kecurigaan Om Robert benar, mengapa wajah Anneth sangat mirip mendiang istrinya,Annisa. Hal yang sangat tak diduga dan baru terkuak belasan tahun kemudian.


“Tujuan eyang kemari. Mau meminta restu kalian. Eyang mau meruwat putri kalian satu-satunya.”


“Hah? Meruwat?”tanya Tante Anneth sambil menaikkan alisnya, saling berpandangan dengan Om Martin yang kurang paham masalah gaib.


Eyang uti menganggukkan kepalanya lalu mengambil patung Akasha dari atas meja console dan meletakkan di atas meja tamu.


“Karena nenek pernah berhubungan dengan dunia gaib. Cakra keempar nenek menjadi sangat peka. Beberapa bulan belakangan eyang sering dihantui mimpi buruk mengenai Alisha. Dia bukan diri dia lagi, tapi dimanfaatkan oleh roh yang berdiam dalam patung ini,”papar eyang uti panjang lebar.


“Masa sih,Bun? Itu kami beli waktu Alisha masih berusia lima tahun di Mesir,”bela Om Martin dengan mulut membentuk garis ke bawah.


Nampaknya Om Martin kurang mempercayai dunia mistis namun eyang bersikukuh itulah penyebabnya.


“Usia eyang sudah tidak lagi muda. Eyang mau bikin pertobatan biar suatu saat meninggal dunia. Dosa eyang sudah dapat eyang perbaiki,”imbuh eyang dengan mata berkacat-kaca.


“Udahlah,Bun. Jangan ngomong yang tidak-tidak,”kata Tante Anneth sambil memeluk sang bunda.


“Diruwat itu diapain,Yang?”tanya Alisha sambil mendekatkan posisi duduknya dengan eyang.


“Apa gak bisa cukup didoain biasa aja,Bun?”tanya Om Martin.


Eyang uti menggelengkan kepala,”Harus diruwat..Didoakan oleh orang pintar. Undang banyak tetangga seperti selamatan.”


“Alisha bakal diruwat? Apakah semua kejahatannya bakal musnah seketika?”gumam Ryan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2