
Sesampainya dalam vila…
Ryan dan Maya keheranan ketika dilihatnya Pak Fatih dan semua temannya duduk di atas tikar secara berkeliling, dengan seorang kiai yang sedang membaca doa-doa.
Doni menengok ke arah sepasang kekasih itu dengan wajah gembira,”Nah…Itu mereka datang sendiri!”
Martin, Tino, Dinar, dan Ika pun turut bergembira. Mereka meluapkan kegembiraan dengan memeluk Ryan dan Maya bergantian.
“Darimana aja kalian? Semalaman gak pulang,”celetuk Ika dengan kening berkerut.
“Hah? Semalaman?”tanya Maya sambil memandang ke arah Ryan.
“Perasaan kita ke bukit hanya satu jam,”timpal Ryan dengan wajah bengong.
“Benar kan kataku kalau mereka diculik dedemit,”kata Dinar sambil memperhatikan Ryan dan Maya dari ujung kepala ke ujung kaki.
“Kalian ini darimana saja? Semua yang ada di sini panik. Lalu memanggil kiai,”papar Pak Fatih.
“Kami hanya jalan-jalan ke bukit sebentar. Lalu balik ke sini,Pak. Jujur,”kata Maya dengan sorot mata teduh.
Tampaknya gadis itu memang tidak berbohong, dan sang kiai pun memahaminya. Sambil memegang jenggotnya, sang kiai berpikir.
“Sepertinya kalian habis bertemu makhluk kasat mata yang bukan manusia.”
Ryan menggaruk-garuk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Cowok itu ingin menjelaskan semua peristiwa yang dialaminya, tapi taku identitas pribadinya terbongkar sebagai keturunan vampire, atau bahkan mereka tak akan percaya dan malah menertawakannya.
“Anu…Tadi kami ketemu kelinci yang sangat lucu lalu bermain sampai ke atas bukit.”
“Terus kalian tidur di mana semalaman? Jangan macem-macem ya!”ancam Pak Fatih.
“Kami gak tidur dimana pun,Pak. Cuma jalan ke bukit, main di sana satu jam lalu balik lagi,”sahut Maya.
Pak kiai memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, rambutnya masih nampak rapi dan pakaiannya pun sama sekali tidak kusut.
__ADS_1
“Anak-anak itu tidak tidur. Mereka dibawa ke alam lain yang waktunya berbeda dengan kita,”kata sang kiai.
Ika dan Dinar langsung bersidekap dan merasakan tengkuknya merinding. Tino merasakan kakinya mulai gemetar. Doni menggigit bibir bawahnya, sedangkan Martin hanya bisa melongo.
“Kalau begitu saya permisi pulang dulu. Ingat kalian jangan lupa berdoa sesuai agam dan kepercayaan kalian masing-masing,”pesan sang kiai sambil keluar dari rumah.
“Maaf,Kiai. Terimalah tanda terima kasih dari kami,”kata Ryan sambil menyelipkan sebuah amplop ke tangan kiai.
“Ah..Tidak usah. Saya menolong dengan ikhlas kok.”
“Gak apa-apa. Anggap saja sumbangan untuk masjid.”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih. Kalian jaga diri baik-baik.”
Maya duduk di tepi tempat tidur, Ika berdiri di depannya, sedangkan Dinar duduk di kursi.
“Kalian merasa vila ini aman-aman saja?”
Ika dan Dinar mengangguk, wajah mereka tetap gembira tanpa beban.
“Jadi semalam kalian jalan-jalan di bukit semalaman tanpa tidur?”tanya Ika.
“Kami cuma satu jam di sana. Hari masih terang kok,”sahut Maya sungguh-sungguh.
“Kata eyangku, kalau manusia dibawa ke alam lain, waktunya bisa terasa sangat cepat,padahal kita di bumi udah beberapa hari,”papar Dinar panjang lebar.
“Oh ya?”sahut Maya dan Ika berbarengan.
“Sejak kamu pacaran sama Ryan, aku amati sering tertimpa musibah dan kejadian aneh. Sadar gak,May?”tanya Ika dengan wajah serius. Gadis itu kini duduk di samping Maya dan memegang tangannya.
“Tapi kamu jangan takut. Kuasa Allah jauh lebih besar. Mintalah perlindungan dari Dia,”kata Ika yang berusaha membesarkan hati Maya.
“Jadi logikanya, ada orang-orang tertentu yang kurang suka hubungan mereka?”tanya Dinar pada Ika.
__ADS_1
“Bisa jadi. Kemungkinan manusia atau bisa juga makhluk astral,”seloroh Ika sambil tertawa.
“Ah..Serius kau? Jangan becanda ah!”seru Ika ikutan tertawa.
Maya hanya bisa menelan salivanya, ia tak ingin jati diri Ryan terbongkar karena urusannya bisa bertambah runyam.
Malam harinya,Maya sholat tahajud, yang diikuti oleh dua teman perempuannya. Ia berharap malam itu tak ada lagi gangguan-gangguan aneh dan mereka dapat tidur nyenyak hingga pagi. Dalam hatinya gadis itu memohon ampun pada Allah karena dengan terpaksa telah meminum susu merah yang biasa diminum Ryan. Rasanya manis-manis asin dan sedikit amis, namun efeknya sangat luar biasa, membuat tubuhnya kuat dan lebih bersemangat. Maya meraba kakinya, tadi ia berjalan lebih baik dari biasanya.
“Apakah kalau aku rutin meminumnya,aku bisa sembuh dari pincang?”pikir Maya yang berpura-pura telah tidur sambil memiringkan tubuh menghadap jendela yang tertutup.
“Tapi kalau aku rutin minum. Bagaimana kalau ketauan mama dan ikutan mencicipi rasanya?”sejuta pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap dua temannya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Maya memasang telinganya baik-baik, sepertinya malam itu tenang dan aman.
“Syukurlah. Terima kasih ya Allah,”gumamnya sambil menutup mata.
Paginya, semua teman dalam satu vila bergembira ria karena akan mengadakan pesta barbeque bersama penghuni vila lainnya nanti malam, artinya mereka akan berkumpul dalam jumlah lebih banyak sambil menyalakan api unggun. Pagi itu anak-anak perempuan menyewa angkot untuk berbelanja ke pasar terdekat, sedangkan anak laki-laki membuat tenda dan menyiapkan alat pemanggang dan mengisinya dengan arang. Sebagian anak perempuan yang tidak ikut ke pasar,sibuk berselancar di internet cara membuat barbeque dengan rasa paling enak.
Malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Para guru pendamping duduk melingkar bersama para murid dengan sebuah api unggun yang menyala sangat besar di tengah-tengah. Malam yang dingin dan gelap, kini berubah menjadi hangat dan terang, terlebih lagi malam ini bulan purnama memancarkan sinarnya yang sangat terang. Suasana malam hari semakin elok untuk dinikmati. Tenda besar telah disiapkan untuk berjaga-jaga seandainya hujan turun dengan tiba-tiba. Anak-anak perempuan pun berbagi tugas. Mereka memasukkan daging di atas pemanggang, sebagian ditusuk bersama tahu dan tempe menjadi semacam sate. Ada pula sosis dan bakso serta nugget yang dipanggang. Pokoknya banyak macam yang mereka jadikan barbeque malam itu. Setelah matang, mereka meletakkannya di atas piring berukuran besar untuk dinikmati bersama-sama dalam piring kertas yang telah disiapkan.
“Sungguh nikmat makan bersama di bawah sinar bulan purnama,”gumam Maya sambil melirik Ryan.
Cowok itu nampak sedang memandang bulan purnama, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.
Ryan mengamati tenda itu tiba-tiba bergoyang, tak ada teman atau guru yang memperhatikannya. Semua larut dalam kegembiraan, makan dan saling bercengkerama. Beberapa anak laki-laki yang membawa gitar telah menyiapkannya di samping tempat duduknya.
Ryan memasang telinganya lebar-lebar, indra keenamnya dapat menangkap bahwa ada makhluk lain yang turut hadir dalam pesta barbeque malam ini.
“Sreek…Sreek….”
Pendengarannya yang sangat tajam bagaikan telinga tikus ataupun anjing itu membuatnya menoleh dan mencari asal suara. Maya merasakan Ryan telah mendapat firasat aneh lagi. Gadis itu ingin bertanya, namun niat itu kembali diurungkannya. Ia tak ingin membuat pesta barbeque yang indah berubah menjadi malam penuh horror.
“Wush…”
__ADS_1
Dua bayangan hitam mirip tubuh Aro berlari-larian di belakang pepohonan.
“Mungkinkah Aro datang lagi?”pikir Ryan sambil berpura-pura bersikap tenang dan menikmati makanannya.