Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 82: Mama Sakit


__ADS_3

Di halaman sekolah…


Semua siswa sudah turun dari bis dan siap menunggu jemputan. Ryan bergegas mendekati Maya dan mengantarnya pulang.


“Baru ditinggal satu jam lebih,udah jatuh aja dari kursi,”ledek Ryan sambil tertawa.


“Beneran..Aku tuh mimpi mau dipenggal kepalanya terus darahnya diminum kaum volturi.”


“Tuh…Supir papa sudah datang. Kita lanjutkan di dalam mobil.”


Seorang laki-laki berusia sekitar 38 tahun mengenakan seragam serba hitam dan kacamata hitam, rambutnya disisir rapi ke belakang,membukakan pintu untuk anak majikannya. Sebuah Alphard warna hitam milik papa disediakan untuk menjemput putra kesayangannya.


“Kita kemana dulu,Den?”tanya supir tadi sambil melirik ke belakang melalui kaca spion tengah.


“Anterin Maya dulu,Pak. Jalan dekat sekolah.”


“Siap,Den.”


Maya sibuk berselancar di internet,mencari-cari nama bangunan tua yang muncul dalam mimpinya.


“Bangunan tua berdiri di atas batu, ada danau warna coklat di depannya. Lalu ada lorong gelap yang menanjak ke lantai atas. Ada peti mati,tiang gantungan, dan…”


“Maksud kamu Kastil Bran?”


Ryan sangat hapal dengan ciri-ciri kastil tua itu, karena sang papa dan opanya sering menyebutnya ketika ia kecil dulu. Konon leluhurnya berasal dari sana.


“Maksudmu ini?”tanya Maya menyodorkan sebuah gambar dari internet.


“Benar.”


“Tapi…Gimana caramu bisa hapal tempat itu?”tanya Maya keheranan,mulutnya menganga, alisnya dinaikkan.


“Yang lebih aneh. Kenapa kamu mimpi tempat itu?”


Maya mengangkat bahunya,”Yang aku dengar dalam mimpi itu. Mereka sengaja cari darah perawan untuk diminum.”


Ryan terkekeh, membuat supir di depannya ikut menengok ke belakang.


“Udah,May. Jangan diinget-inget. Anggap aja bunga tidur.”


Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Maya,cowok itu ikut turun mengantarkan sang kekasih.


“Tumben mama gak nungguin depan pintu. Laundry tutup?”gumam Maya keheranan.


“Tok…Tok…Tok….”


Mama membukakan pintu dengan wajah pucat, tubuhnya nampak kuyu tak bersemangat.

__ADS_1


“Mama sakit?”tanya Maya sambil meletakkan tas ranselnya di atas kursi tamu.


“Tante sudah ke dokter?”tanya Ryan yang duduk di sebelah Maya.


Mama menggelengkan kepala, jari jemarinya yang kurus tampak saling memeluk.


“Mama lemas sudah tiga hari. Pendarahan banyak,”keluh mama sambil menegakkan tubuhnya pada sandaran kursi.


“Kasihan mama. Persis saat Maya pergi ke puncak,beliau jatuh sakit,”batin Maya.


“Yaudah,Tan. Ryan pulang dulu. Nanti sore kami anterin tante ke dokter. Harus mau ya,Tan!”


Ryan melambaikan tangan dan menutup kembali pagar rumah Maya. Burung nuri Pelangi nampak terdiam di dalam sangkar, seakan turut merasakan kesedihan tuannya.


Mama masuk kembali ke dalam kamar yang terletak di lantai satu. Maya duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus punggung sang mama.


“Mama kenapa belum ke dokter? Apa gak punya asuransi kesehatan?”


“Ada,May. Tapi mama takut kalau divonis sakit serius. Kasian kamu,kuliah juga belum. Mana papa udah meninggal duluan,”keluh mama lagi sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.


“Udahlah,Ma. Jangan berpikiran macam-macam. Lihatlah,Ma. Kaki Maya seakan kembali normal,”seru Maya sambil tertawa.


Gadis itu berputar-putar di depan sang mama. Mama tersenyum tipis, hatinya turut bahagia namun tak menanyakan penyebab kesembuhan Maya karena dirinya sedang dilanda masalah berat yang belum diketahui apa solusinya.


“Mama sudah makan? Maya buatkan makanan ya!”


“Udah,May. Kamu kan tau, nenek kamu, dan dua tante kamu, semua mati karena kanker.”


Mama mengangguk lemah, lalu diciumnya kening Maya,”Kamu sekarang mandi dulu ya! Mama bersiap dulu,ganti pakaian, dandan sedikit biar gak pucat.”


“Siap,Ma! Senyum dong!”


Sore harinya…


Ryan telah siap menjemput dengan mobilnya, cowok itu tampak sangat tampan dalam balutan kemeja lengan panjang kotak-kotak merah dan hitam yang dipadukan dengan celana jeans warna hitam serta sneakers warna hitam. Maya menyambutnya dengan tersenyum, gadis itu tampak cantik dengan setelan lengan pendek dan kulot pendek warna merah marun. Rambutnya yang hitam dan tebal diikat menjadi satu dengan gaya ekor kuda.


“Yuk..Masuk dulu. Mama udah siap kok.”


Tak lama kemudian sang mama muncul dengan wajah sedikit lebih cerah, tubuhnya yang kurus dibalut rok warna salem dan tas senada, kakinya mengenakan flat shoes warna hitam.


“Kita ke rumah sakit mana,Tan?”


“Yang paling dekata aja,Nak.”


“Oh ya..Tante sudah booking via telpon?”


Mama menggelengkan kepala,”Nanti kita daftar onsite aja.”

__ADS_1


“Ke dokter kandungan,Ma?” tanya Maya sambil mengunci pintu rumah dan memasukkan kuncinya ke dalam tasnya.


Tangannya menggandeng tubuh mama yang lemah dan menuntunnya masuk ke mobil. Maya dan Ryan duduk di depan, sementara sang mama duduk di bagian belakang.


Antrian panjang di dokter spesialis obstetri dan gynecology yang paling terkenal di rumah sakit itu, membuat wajah mama yang tegang menjadi semakin kaku. Ryan dan Maya bergantian menghiburnya dengan menunjukkan beberapa video music dan film komedi namun wajah mama hanya bisa tersenyum kecil lalu kembali terdiam dan menatap meja perawat yang ada di depannya.


“Mama lapar?Kita bisa tunggu di restoran depan sana,”bujuk Maya sambil memegang pundak sang mama.


Mama menggelengkan kepala dengan lemah.


Waktu terus bergulir,kini tibalah giliran mama diperiksa. Ryan menunggu di depan ruang periksa, hanya Maya yang masuk menemani mamanya.


Di dalam ruang periksa,mama menjalani pemeriksaan dengan USG transvaginal dan biopsy endometrium, kemudian dokter memberikan surat pengantar untuk tes darah.


“Karena hasil tes darahnya baru keluar besok siang. Hasil biopsi tadi juga dikirim ke lab untuk diperiksa. Silakan ibu datang lagi besok.”


“Dugaan dokter apa?”


“Saya belum berani memberikan diagnosis sebelum ada hasil pemeriksaan lengkap. Biasanya kalau pendarahan lama , artinya ada kelainan dalam rahim atau gangguan hormon saja. Ibu tak perlu cemas berlebihan,”kata dokter sambil memberikan map berisi medical record pasien.


Ketiganya berjalan ke laboratorium…


Mama diambil darahnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.


“Sudahlah,Tan. Berpikir yang baik-baik saja. Makan yang banyak. Jangan mikir laundry dulu,”saran Ryan sambil menuntun Tante Wulan menuju parkiran mobil.


Maya menggandeng mama dari sisi kiri karena Ryan menggandengnya dari sisi kanan.


Sepanjang perjalanan mama hanya terdiam, tak banyak bicara.


Di rumah Maya..


Ryan berpamitan dan berpesan agar gadis itu menjaga mama sebaik-baiknya.


“Nanti kita belajar bersama pakai zoom aja,May.”


“Oke. Hati-hati di jalan ya!”


Kini mama duduk di ruang tengah dengan mata menerawang langit-langit.


“May..Andai terjadi sesuatu dengan mama. Berjanjilah kau harus lulus sebagai dokter. Pakai aja deposito mama yang ada. Mama juga ada asuransi jiwa buat kamu. Andai tak cukup lagi,bisa kau jual rumah ini dan beli yang lebih kecil,”papar mama panjang lebar.


“Ma…Jangan berpikiran buruk. Maya takut jadi yatim piatu,”tangis gadis itu pun meledak.


“Mama suruh aja si Wati datang tiap hari buat jagain mama sementara Maya ke sekolah,”kata gadis itu masih dalam isak tangisnya.


“Iya..Kamu tenang aja. Belajar yang giat karena sebentar lagi akan Ujian Nasional dan masuk perguruan tinggi,”kata mama memberi semangat.

__ADS_1


“Mama tenang aja. Maya pasti berjuang untuk mewujudkan cita-cita Maya dan mama papa.”


Keduanya pun berpelukan, baju Maya basah oleh tetesan air mata sang mama yang sangat terharu dengan pernyataan putrinya.


__ADS_2