
Tangan kekar milik Ryan meraih susu rasa semangka berbentuk pouch yang dibawanya dari rumah.
“Slurp…”
Dalam tempo lima detik habislah sudah susu warna merah yang biasa ia minum saat bulan purnama.Menjelang pertandingan basket antar sekolah, Ryan butuh energi super ekstra agar dapat mengalahkan tim lawan yang konon tahun lalu menjadi juara pertama Porseni tingkat propinsi. Cowok ganteng itu dengan hati-hati memasukkan bungkus bekas minuman susu ke dalam tas agar tidak menimbulkan kecurigaan dari siswa lain. Setelah mengganti seragam putih abu-abunya dengan pakaian olahraga,Ryan meletakkan tasnya di dalam loker yang letaknya di luar kelas. Dengan membawa bola basket di tangan, cowok itu melintasi koridor.
“Blugh..”
Ryan menabrak Alisha yang sedang berlari kejar-kejaran dengan dua sahabatnya yang badung.
“Aduh…”Alisha si gadis songong jatuh berlutut dan tertimpa dua temannya.
“Bantuin gue dong,”rengeknya manja sambil nyengir.
Ujung matanya menatap cowok ganteng di hadapannya dengan tatapan sinis, kedua tangannya diangkat ke atas untuk menjangkau kedua temannya yang telah berdiri tegak.
Niken dan Sandra pun menarik tangan gadis itu bersamaan.
“Lu punya mata gak sih!”omelnya pada Ryan yang sedang memungut bolanya yang bergulir sejauh satu meter dari tempatnya berdiri.
Cowok ganteng itu berdiri dengan bola basket di atas perutnya yang six pack, matanya menatap tajam pada Alisha yang tak berhenti mengoceh. Tubuhnya yang jangkung dibalut kaos olahraga warna putih dengan garis lengan putih dan celana basket warna hitam. Wajahnya berpeluh yang menambah macho penampilannya bagaikan bulir-bulir mutiara menghiasi pahatan wajahnya yang sempurna.
“Maafin gue. Kan kalian yang nabrak,”kata Ryan sambil berlalu.
Alisha menghentakkan kakinya di atas ubin sekolah yang berwarna kelabu, mulutnya manyun. Niken menghiburnya sementara itu Sandra berteriak.
“Hai kalian! Lihatlah ini ada kunci loker punya siapa?”
Alisha buru-buru merebut kunci itu, melihatnya sambil tertawa.
“Yuk kita coba ke loker si Ryan. Siapa tau ada foto si pincang di dalam tasnya.”
“Jangan,Lis! Lebih baik kita kembalikan.”
“Lu takut?”
“Bu..bukan. Takut ada yang ilang lalu kita dikira pencurinya.”
Alisha tertawa terbahak-bahak sambil menarik lengan Sandra.
“Udahlah lu gausah ikutan! Bye…”ejek Alisha diikuti Sandra di belakangnya.
Niken tak mau ikutan karena papanya melarang keras untuk membuka milik orang lain sembarangan.
Jari jemari lentik milik miss popular dengan sigap membuka loker milik Ryan. Sandra berdiri menghadap jalan, sudut matanya menyapu seluruh ruangan untuk berjaga-jaga jangan sampai seseorang memergoki mereka sedang menggerayangi tas milik cowok idola seluruh sekolah.
__ADS_1
“Aih…Liat San. Hahahahahaha. Bodi dan tampang boleh macho tapi kelakuan macem balita.”
“Ada apa memangnya,Lis?”
Alisha menunjukkan susu RDT kemasan pouch rasa semangka di tangannya.
Di saat kedua cewek iseng itu asyik membahas barang bawaan milik Ryan, seorang satpam sekolah berpatroli.
“Sedang apa kalian?”tegurnya dengan nada tinggi.
“Ah…Eh…Kita menemukan kunci yang terjatuh,Pak. Kami tidak tahu ini milik siapa,”papar Alisha sambil menunjukkan kunci loker di telapak tangan kanannya.
Satpam mengambilnya,lalu ia duduk di kursi paling ujung yang menghadap taman dan terus berjaga hingga seluruh kegiatan sekolah usai.
“Pufft…”Alisha membuang napas pertanda hatinya lega.
“Untung lu kunci tepat waktu,Lis. Gak kebayang kita bakal masuk ruang BP lagi.”
“Iya nih..Gara-gara satpam sialan.”
Di ruang rapat…
Pada jam yang sama sepulang sekolah, Maya dan Affandra sedang disibukkan dengan rapat OSIS yang hampir bubar.
“Siap,Ndra. Sudah aku ketik. Nama filenya: Laporan Rapat IV.”
“Bagus. Aku tutup rapatnya dulu ya.Nanti aku cek lagi.”
“Demikianlah rapat OSIS untuk hari ini. Terima kasih atas kehadiran teman-teman semua,”papar Affandra sambil merapikan beberapa dokumen yang berserakan di atas meja.
Maya tampak serius menatap layar monitor, bola matanya yang bulat nyaris tak berkedip meneliti setiap kata yang ia ketik dengan hati-hati,jari jemarinya yang lentik menari-nari di atas keyboard.
“May..Aku kok lama-lama kasian sama kamu. Sejak sering jalan sama Ryan. Ada aja masalah yang menimpa kamu,”kata Affandra memecah kesunyian.
Di dalam ruang rapat hanya tinggal mereka berdua, suasana kembali senyap, lamat-lamat terdengar suara bola basket dipantulkan dari kejauhan.
“Maksudmu sejak Ryan mendekati aku?”tanya Maya mengalihkan pandangannya ke arah Affandra.
“Iya..Sepertinya ada orang lain yang kurang suka dengan hubungan kalian.”
Maya hanya tertegun, jari jemarinya kembali menekan huruf dan angka yang berderet di atas keyboard dengan lancar. Gadis itu selalu serius mengerjakan semua tugasnya sehingga mulutnya akan terkunci selama otak dan jari jemarinya bekerja.
“Coba kau liat ini,Ndra.”
Affandra menundukkan kepalanya untuk meneliti hasil ketikan Maya di layar monitor, tangan kanannya memegang dagu sambil berpikir,jarinya bergerak menunjuk bagian-bagian yang sekiranya perlu dikoreksi. Maya melemparkan pandangan ke lapangan basket, tampak anak-anak basket mulai bubar.
__ADS_1
“Kamu pulang dengan dia lagi?”
“Iya.Dia yang minta. Soalnya kemarin aku hampir diserempet mobil Alisha kata Ryan.”
“Kamu sendiri gak liat kalau diserempet?”
Maya menggelengkan kepalanya dengan wajah polos.
“Yang bener? Dia berubah jahat banget? Atau karena saking cintanya dengan Ryan ya?”batin Affandra dalam hati.
Sang ketua OSIS itu benar-benar tak paham dengan apa yang dikatakan Maya barusan,namun hati kecilnya masih ragu kalau itu benar Alisha yang melakukannya. Kedua alisnya dinaikkan dan dadanya turun naik membayangkan ngerinya peristiwa berikutnya andaikan Maya terus bersama Ryan.
“Kamu kenapa,Ndra?”tanya Maya yang keheranan.
Affandra berdiri mematung dengan wajah pucat membayangkan sesuatu yang buruk bakal terjadi lagi dengan rekannya.
“Oh gak ada apa-apa May,”sahut Affandra berpura-pura.
Sang ketua OSIS itu tidak ingin menambah kegundahan hati Maya,sang sekretaris OSIS.
“Yang penting kamu harus lebih hati-hati jaga diri May,”imbuh Affandra dengan lembut.
“Justru Ryan bilang,bersamanya aku bakal aman.”
“Iya,May. Tapi ada saatnya kan kamu harus melakukannya sendiri tanpa dia.”
“Iya juga sih,”sahut Maya sambil terdiam,matanya yang bulat menatap lurus ke depan dengan pandangan yang berubah sendu.
“Aku gak bisa membantumu banyak,May. Karena aku juga bingung harus mulai darimana. Tapi firasatku mengatakan kejadian buruk bakal terjadi lagi.”
Maya mengangkat dagunya dan memandang rekan OSIS-nya dengan seksama sambil menelan ludah.
“Terima kasih atas simpatimu,Ndra.”
Affandra menganggukkan kepala dan tersenyum. Cowok maskulin itu memang sangat baik dan penuh perhatian,namun sayangnya Maya tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman.
“Jangan lupa berdoa karena Tuhan akan selalu menjaga umatnya yang tak berdosa.”
“Iya,Ndra. Oh ya aku sudah bereskan file-nya. Aku udah save juga. Sekarang aku pamit pulang dulu.”
“Oh..Silakan. Hati-hati di jalan,May!”
Si gadis kepang dua pun mengambil tasnya dan melambaikan tangan sambil berjalan keluar ruangan. Affandra mematikan komputer dan mematikan ruangan rapat. Cowok baik hati itu berjalan ke parkiran motor dengan perasaan yang berbeda, seakan ada seseorang yang mengikutinya dan ia menoleh ke belakang, sudut matanya disebarkan ke seluruh koridor sekolah yang mulai sepi. Penjaga sekolah yang biasanya selalu mengepel lantai sebelum pulang pun sudah tak ada di tempat.
“Hanya perasaanku atau memang ada sesuatu di sekolah ini?”batinnya dengan tatapan mata penuh selidik.
__ADS_1