Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 38: Pencarian Si Putih


__ADS_3

Kedua remaja itu berjalan ke rumah petak yang ada dihuni Mas Beno. Mereka ingin mengetahui lebih banyak mengenai mobil mewah titipan meskipun mereka ragu rencana itu akan berhasil. Pasti perencanaan mereka membuang bukti kejahatan telah direncanakan secara matang dan menyuap beberapa orang untuk tutup mulut.


“Tok…Tok…Tok…”


Pintu diketuk tiga kali baru pemilik rumah membukakan pintu. Seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan mengintip dari balik pintu sebelum akhirnya membukanya lebar-lebar.


“Maaf, cari siapa?”tanyanya dengan sorot mata penuh selidik.


Mas Budi muncul dari belakang kedua remaja itu, raut wajah sang ibu langsung berubah ramah dan mempersilakan mereka masuk.


Perempuan bertubuh agak gemuk itu mengenakan daster yang agak lusuh dengan wajah tanpa polesan dan rambut yang digulung membentuk konde cepol. Bola matanya yang besar dihiasi kantung mata hitam yang menandakan kurang tidur. Maklumlah ketiga anaknya masih kecil-kecil. Mereka duduk di sebuah kursi rotan yang beberapa bagiannya telah jebol, menghadap sebuah televisi tabung ukuran 32 inch. Di sudut ruangan terdapat sebuah stand fan yang tak berhenti berputar. Dua anaknya nampak berlarian di ruang makan, sementara si bungsu nampaknya masih bayi tertidur dalam ayunan yang terbuat dari kain selendang .


“Jadi maksud kedatangan mereka itu bertemu dengan suami ibu,”kata Mas Budi membuka percakapan.


“Pak…Bapak…Sebentar ya saya liat di belakang,”pamit perempuan itu yang setengah berlari menuju bagian dalam rumahnya.


Tak lama kemudian ia muncul lagi.” Bapak keluar rumah. Biasanya memancing lewat pintu belakang.”


“Kalau begitu kami pamit pulang dulu Bu,”pamit Mas Budi mewakili kedua remaja itu.


“Ih Mas Budi,kenapa gak kita tungguin aja di rumah itu?”protes Ryan ketika mereka telah berada di depan rumah Mas Beno.


“Atuh kelamaan,Den. Mending kita susulin palingan juga ke sungai di belakang rumah.”


“Ayok…Ayok…Asyik,”seru si ganteng yang melonjak kegirangan.


Mereka bertiga melewati jalan setapak dengan hamparan rumput hijau yang luas, dan ayam yang bebas berkeliaran mencari makan di alam bebas. Sekawanan kambing tampak asyik merumput di bawah pohon rindang.


“Sungainya masih jauh,Mas?”


“Ya lumayan. Bentar lagi kita sampai kok. Kalau dulu semua warga mandi, cuci,masak,buang hajat ke sana.Tapi sekarang kan banyak yang bikin kamar mandi sendiri,Den.”


Maya menutup mulut dengan kedua tangannya,tiba-tiba perutnya terasa mual membayangkan air sungai dengan kotoran manusia yang terapung dan hanyut terbawa arus.


“Hoeks…”

__ADS_1


Tiba-tiba langkahnya terhenti, gadis itu mengeluarkan cairan dari mulutnya yang terasa asam di atas tanah kosong ditumbuhi ilalang. Cowok keren itu menengok ke belakang dan turu menghentikan langkahnya.


“Kamu sakit,May?”


“Enggak. Cuma mual membayangkan kotornya air sungai.”


“Enggaklah,May. Itu kan dulu.Berpikir positif aja deh.”


“Tuh…Kita sebentar lagi sampai sungai,”teriak Mas Budi yang mempercepat langkahnya.


Si ganteng menarik tangan Maya agar mempercepat langkahnya. Tampak di kejauhan seorang laki-laki bertopi sedang duduk dan memegang tali pancing.


Mas Budi mendekati laki-laki itu dan menyapanya. Seorang laki-laki berkulit gelap dengan wajah yang dipenuhi oleh kumis dan jambang lebat,usianya sekitar 37 tahun dengan rambut agak keriting.


“Halo Mas Beno! Kenalin ini anak-anak dari kota,Ryan dan Maya. Yang laki itu anak majikan saya.”


“Oh…Salam kenal ya! Saya Mas Beno,tetangga Mas Budi di rumah petak.”


Bibir Mas Beno menyungging senyum. Tubuhnya yang gempal dibalut kaos oblong warna hitam dan celana pendek biru tua,lengap dengan sandal jepitnya yang berwarna hijau serta topi merah. Lengkap sudahlah segala atribut warna-warni yang menempel pada laki-laki itu.


“Ada perlu apa kalian ke desa ini?”tanya Mas Beno dengan ramah.


Laki-laki itu masih memegang tali pancingnya, sementara itu di sisi kirinya terdapat sebuah ember plastik berwarna biru dengan ukuran kecil yang berisi dua ikan kecil. Rupanya ia telah berjam-jam duduk di sana.


Ryan memberanikan diri untuk bertanya, ia mengambil tempat duduk di atas batu yang tak jauh dari Mas Beno duduk.Gadis itu pun mengikutinya dan mengambil posisi duduk tak jauh dari mereka. Cowok ganteng paripurna itu pun menceritakan semua kejadian yang dialami Maya dengan terperinci. Mas Beno mendengarkan dengan serius kemudia menaikkan alisnya dan membelalakkan mata.


“Kalau begitu kasusnya serahkan saja ke polisi,Den.”


“Sudah,Mas. Justru kedatangan kami kemari untuk membantu polisi dalam mengumpulkan bukti-bukti.Antara lain dengan mencari bukti yang seperti sudah dihilangkan.”


“Maksudnya apa,Den?”


“Menurut Maya dia melihat pelaku memakai mobil hitam yang besar dan mobil putih dengan plat B 7889 NYZ.”


“Lalu mau kalian apa?”

__ADS_1


“Kalau boleh kami minta ditunjukkan mobil dalam garasi itu Mas,”pinta Ryan dengan penuh harap.


Raut wajah Mas Beno berubah, sorot matanya menunjukkan kalau ia kurang suka, bibirnya pun terkunci,matanya dibuang ke arah sungai.


Ketiga orang itu saling berpandangan, kemudian Mas Budi angkat bicara.


“Jadi gimana,Mas. Diijinkan apa gak? Ngomong aja. Kami siap kok denger berita terburuk sekalipun,”papar Mas Budi sambil berjongkok dekat dengan tempat Mas Beno duduk terdiam.


“Bukan saya gak mau nunjukin. Maaf, tapi memang begitu pesan dari majikan saya. Kalau mau melihat lebih baik minta surat pengantar dari kepolisian”ungkap laki--laki itu sambil terus menatap lurus ke arah sungai.


“Ah..Tolong…Tolong ada buaya,”teriak Maya tiba-tiba.


Gadis itu menhentak-hentakkan kakinya ke tanah dan berlari untuk berlindung di belakangg Ryan.


Semuanya memandang binatang yang dituding sebagai buaya dan tertawa.


Seekor anakan biawak dengan tubuh mirip buaya, hitam putih, dengan leher yang bergerak naik turun dan lidah menjulur-julur tampak bergerak-gerak.


“Itu bukan buaya,Neng! Tapi biawak air. Gak bahaya kok,”hibur Mas Budi sambil berusaha mengusirnya dengan tangan kosong.


Ryan berusaha menenangkan gadis itu yang ketakutan,wajahnya pucat dan menyembunyikan tubuhnya di belakang cowok itu.


“Mas Beno,saya pamit dulu.”


“Mas Budi…Kami pamit pulang dulu. Kasian Maya udah ketakutan. Terima kasih atas waktunya.”


Si ganteng menarik tangan Maya dan berlalu dari sungai yang nampaknya tak membuatnya nyaman.


“Maafin aku,Ryan. Aku bener-bener takut tadi,”kata gadis itu dengan wajah memelas,alisnya naik dan tatapan matanya berubah sendu.


“Iya gak apa-apa sayang,”sahut Ryan sambil mengelus kepala gadis itu dan menggandengnya menuju mobil.


“Terus kita harus bagaimana?”


“Nanti kita serahin semua urusan ke polisi. Pasti mereka mau nunjukin kok,”hibur Ryan berusaha menenangkan gadis itu.

__ADS_1


Cowok itu berpikir keras bagaimana cara mengetahui isi garasi rahasia itu dengan caranya sendiri atau menemui Alisha secara langsung dan menanyakannya baik-baik mengenai hal ini. Ryan menghadapi dilema namun ia tak mau membuka jati dirinya terang-terangan meskipun dengan caranya sendiri semua masalah akan cepat terselesaikan.


__ADS_2