
Sore itu, cuaca kembali cerah, Pak Rakhmat mengantarkan keduanya ke bandara. Mobil dijalankan dengan kecepatan sedang. Jalanan sedikit padat ketika mobil keluar tol, karena masih banyak mobil dan motor yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor.
“Sudah sampai Den,”seru sang supir mengagetkan keduanya yang asyik memainkan ponsel.
Keduanya pun turun, sementara Pak Rakhmat dengan sigap menurunkan dua koper dari bagasi belakang.
“Terima kasih,Pak. Hati-hati di jalan,”ucap Maya sambil menyeret kopernya.
“Iya,Non. Sama-sama.”
“Makasih,Pak. Ini buat makan di jalan,”kata Ryan sambil menyodorkan gulungan uang kertas warna merah pada supir itu.
“Oh gausah,Den.”
“Gak apa-apa. Terima aja,”ujar cowok ganteng itu setengah memaksa.
“Yaudah deh. Hati-hati di jalan,Den.”
Memasuki boarding setelah menunggu sekian lama di ruang tunggu, mereka memasuki pesawat dengan menyeret koper kecilnya yang tidak dititipkan ke dalam bagasi. Dua pramugari cantik menyambutnya di depan pintu, lalu keduanya duduk sesuai nomor. Maya mendapakan tempat duduk di tengah menghadap jendela, sementara itu Ryan duduk di sebelah kanannya, sedangkan paling ujung tepat di bawah kabin penyimpanan tas, duduklah seorang bapak bertubuh gemuk, berusia sekitar 50 tahun. Pramugari senior memberikan ucapan selamat datang, dilanjutkan dengan dua pramugari dan seorang pramugara yang mmemperagakan prosedur penggunaan alat-alat keamanan.
Bapak tua yang duduk di sebelah kanan Ryan terkantuk-kantuk saat pesawat sudah lepas landas. Kepalanya terkulai ke kanan dan ke kiri, sementara pramugari mulai mendorong troli dan mengedarkan makanan dan minuman.
“Pak..Permisi, ini makanannya,”ujar seorang pramugari berambut pendek sambil menyentuh bahu bapak tadi.
Sang bapak membuka matanya dan kaget, ia langsung membuka mejanya dan menerima makanan dan minuman yang diberikan pramugari itu. Ryan dan Maya pun menerima jatah yang sama dan meletakkan di meja masing-masing. Dua puluh menit setelah itu, tiba-tiba troli yang didorong untuk mengambil bekas tempat makanan dan minuman bergerak dan menimbulkan suara. Maya yang sedang asyik menonton sebuah drama memasang telinganya dan menjulurkan lehernya ke atas untuk melihat apa yang terjadi.
“Tenang,May. Goyangan seperti itu sudah biasa di pesawat,”hibur Ryan sambil tersenyum.
Tiba-tiba pesawat seakan bergoyang ke kanan dan ke kiri, gadis itu ketakutan dan mencengkeram erat lengan Ryan hingga cowok tampan itu meringis kesakitan.
“Jangan kenceng-kenceng! Itu kuku bikin lecet tanganku,”seru Ryan meringis kesakita.
Maya pun melepaskan cengkeramannya dan berganti mencengkeram lengan kursi dengan erat.
__ADS_1
Berikutnya tempat makan dan minuman itu keluar dari troli dan menimbulkan suara berdenting, disusul dengan kabin tempat penyimpanan tas yang terbuka. Satu persatu isi di dalamnya berjatuhan diiringin suara jerit tangis penumpang.
Maya mulai menangis, ia membenamkan kepalanya di dada Ryan, dan menutupi kepalanya dengan tas..
“Kalau kita mati hari ini gimana?”tanya gadis itu dengan bola mata berair.
Kaos warna putihnya nampak basah oleh air mata. Ryan menatapnya dengan sendu, namun ia optimis mereka semua pasti akan selamat.
Ryan mengusap puncak kepala Maya dan berusaha menenangkan gadis itu.
Suasana semakin gaduh, ketika tas dan koper berhamburan keluar dan jatuh di kepala para penumpang.
"Bruk..."
Sebuah tas ukuran sedang jatuh di atas kepala seorang remaja perempuan yang duduk di samping neneknya.
Sontak anak perempuan itu menangis meraung-raung. Suasana hiruk pikuk, ada yang menangis, berteriak maupun berdoa.
Bapak tua yang duduk di samping kanan Ryan nampak berpegangan erat pada lengan kursi.
Tiba-tiba ia berteriak ketika sebuah koper ukuran anak-anak jatuh tepat di atas bahunya.
Pramugari laki-laki segera mendekat dan memeriksa lukanya,memberikan obat merah dan plester.
"Untung hanya luka ringan,"ujar Bapak Tua sambil meringis menahan sakit.
Pesawat membelok tajam sehingga pesawat miring ke kanan , tubuh tambun si bapak tua menghimpit Ryan. Cowok ganteng itu berpegangan erat pada kursi di depannya agar tubuhnya tidak menindih Maya yang duduk di sisi kirinya. Piring dan gelas pun berhamburan keluar dari troli, jatuh ke kolong para penumpang. Seorang ibu bertubuh gemuk yang baru keluar dari toilet tampak berjalan sempoyongan ke kanan dan ke kiri untuk meraih tempat duduknya. Seorang pramugara menghampirinya dan berusaha membantunya.
" Lewat sini Bu," ujarnya sambil memegang tangan ibu tua.
Seorang balita menangis di pelukan sang ibu. Dua remaja perempuan saling berpelukan dan berteriak-teriak sementara seorang nenek nampak ketakutan dan menutupi matanya dengan sapu tangan ukuran besar.
“Tenang..Kalau darurat kita pakai prosedur keamanan yang tadi di bawah kursi ada pelampung.”
__ADS_1
“Tapi aku takut.”
“Tenang. Kita masih menyimpan kekuatan vampire,”bisik Ryan penuh percaya diri.
Tubuh gadis itu mulai menggigil , hidungnya memerah dan matanya sembab. Maya sangat ketakuan, ia berpikir hari itu akan menyusul papa dan mamanya ke Surga.
Seorang pramugari cantik dengan rambut disasak dan disanggul berusaha menggunakan telpon yang ada di belakang pintu flight cabine.
“Halo…Darurat,Capt. Goncangan hebat di kabin.”
“Radar weather merah, cuaca buruk, hujan angin. Kita akan mendarat darurat di sungai. Koordinasikan penumpang agar tenang,”papar sang pilot dari flight cabine yang tidak boleh dimasuki siapapun selama penerbangan.
Pramugari senior memberikan instruksi agar semua penumpang mengambil alat-alat pelindung untuk keamanan. Semua penumpang tegang dan hanya bisa berdoa, sebagian penumpang lainnya berteriak dan menangis. Semua penumpang sibuk mengenakan pelambung dan meniupnya, ada beberala yang kewalahan karena tidak paham cara mengenakannya, dan menanyakan pada penumpang di sebelahnya. Mereka saling membantu. Semua awak kabin diperintahkan untuk bertiarap, pesawat pun menukik tajam, bergetar ketika ekornya memasuki air. Ryan berkesiap, jantungnya berdetak lebih keras. Baru kali ini ia mengalami kejadian turbulence hebat selama dalam penerbangan. Ada seorang penumpang laki-laki dengan kepala botak yang memegang dada kirinya.
"Bantu dia! Nampaknya serangan jantung, ada yang berprofesi dokter gak ? Tolong bantu penumpang yang ini, "seru seorang pramugara sambil menjulurkan lehernya.
Penumpang yang sedang panik pun saling berpandangan.
" Saya dokter, tapi dokter gigi," sahut seoranh gadis manis yang masih muda sambil menunjukkan jarinya ke atas.
" Boleh bantu kalau bisa,"ujar sang pramugara sambil berjalan ke arah gadis itu.
Gadis manis itu memberikan pertolongan pertama untuk pasien yang terkena serangan jantung.
Sementara di kursi penumpang yang lain, hiruk pikuk akibat ketakutan di saat darurat memekakkan telinga. Maya merasakan
detak jantungnya seakan berhenti sesaat, ia memejamkan mata dan pasrah.
“Ya Allah, ampuni semua dosaku. Terimalah diriku di Surga agar bertemu dengan mama dan papa hari ini,”batinnya sambil meneteskan air mata.
“Bleg..Bleg..Bleg…”
Akhirnya pesawat berhasil mendarat di air, satu-persatu penumpang keluar dengan mengenakan pelambung yang diikat di bagian dada.
__ADS_1
Ryan menggandeng Maya keluar dari jendela pesawat dan melupakan koper-koper mereka.