Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 91: Pengumuman Kelulusan


__ADS_3

Mbak Wati sedang sibuk mengepel lantai. Sementara sarapan telah ia siapkan di atas meja, sepiring nasi goreng komplet dengan sebutir telur mata sapi dan segelas jus jeruk segar. Sambil menyendok nasi goreng,diperhatikannya art yang sedang mendorong tongkat pel di atas lantai keramik berukuran 40x40 itu, rambutnya nampak diangkat ke atas menyerupai konde dan tubuhnya yang berisi dibalut setelan batik two pieces lengan pendek.


“Mbak Wati udah sarapan?”


“Nanti aja,Non. Kalau kerjaan udah beres.”


“Mbak…Boleh Maya nanya? Apakah semalam mbak naik ke balkon atas depan jendela kamar Maya?”


Mbak Wati meletakkan tongkat pelnya berdiri, bersandar pada dinding, wajahnya keheranan.


“Mbak juga takut keluar rumah kalau malam,Non. Apalagi berdiri di balkon kan gelap.”


“Aduh…Jadi siapa dong yang buka tutup korden semalam?”tanya gadis itu sambil meletakkan sendok dan garpu untuk mengambil air minum dari dispenser.


“Udahlah,Non. Lupain aja. Nanti kita juga yang bakal ketakutan.”


“Iya,Mbak. Maaf. Nanti malam tidur di kamar Maya ya! Daag…Maya ke sekolah dulu!”


Ryan telah siap menjemputnya di depan pagar, gadis itu berlari sambil menggendong tas ranselnya. Cowok ganteng itu meletakkan lengannya di atas kemudi, wajahnya dipalingkan ke arah Maya yang sedang bersiap masuk ke dalam mobil, memasang seat belt dan meletakkan tas ransel di pangkuannya.


“Udah siap tempur nih?”


“Harus siap. Kamu juga harus siap karena setelah ini kita bebas,”sahut Maya sambil membuka sebuah buku kumpulan soal bahasa Indonesia yang merupakan mata pelajaran pertama yang diujikan.


Ryan melirik dengan ujung matanya, bibirnya menyungging senyuman, menambah elok wajah tampannya , membuat siapa saja tak jemu untuk memandangnya.

__ADS_1


Lalu lintas pagi itu belum dipadati kendaraan, mobil yang dikemudikan cowok itu berjalan dengan lancar hingga tiba di sekolah dalam hitungan menit karena rumah Maya terhitung dekat dengan sekolah.


“Udah sampai nih. Tutup dulu bukunya,May..”


Ryan berseru sambil mematikan mesin mobilnya, diangkatnya tas ransel yang terletak di jok belakang, ditentengnya dengan tangan kanannya sambil menebarkan senyum manis untuk penjaga sekolah yang kebetulan sedang lewat .


“Ryan… Tau gak sih ada hal aneh semalam,”kata Maya sambil menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas.


Ryan melongok ke dalam mobil, “Masa?”


Cowok itu mengunci mobilnya dan berjalan di samping gadis itu, suasana sekolah masih agak sepi, hanya beberapa siswa yang duduk-duduk di halaman samping sambil membaca buku.


Hari itu siswa kelas 10 dan 11 diliburkan, hanya siswa kelas 12 yang masuk dan mengikuti ujian akgir sekolah.


“Sejak kapan itu? Apa sejak mama meninggal?”


Maya menggelengkan kepalanya, matanya menatap lurus ke depan.


“Sepertinya sejak aku sering minum susu warna merah pemberian kamu.”


“Artinya itu ada hubungan lagi dengan kaum vampire,May.”


“Hush..Jangan keras-keras!”seru Maya yang merasakan tengkuknya dingin seperti ada yang meniupnya.


“Mereka datang kemari,May. Hati-hati!”seru Ryan sambil menarik tangan Maya.

__ADS_1


Cowok itu buru-buru membaca ayat kursi, untunglah mereka segera menyingkir. Kedua remaja itu bisa mengikuti ujian akhir sekolah di hari pertama dengan lancar.


Hari berganti hari, tanpa terasa, ujian akhir sekolah pun berakhir, semua siswa bisa bernapas lega. Sebagian dari mereka mulai mendaftarkan diri di universitas swasta di dalam negeri dan sebagian kecil mendaftarkan diri di kampus luar negeri tanpa prosedur yang rumit.Maya mulai mempersiapkan diri untuk mencari tempat kontrakan di Jogja dengan berselancar di internet. Akhirnya tanpa mengalami banyak kendala, gadis itu menemukan sebuah rumah mungil dengan tiga kamar tidur di dekat kampus. Rencananya dua kamar lainnya akan ia pergunakan sebagai tempat kursus bahasa Inggris untuk siswa TK hingga SMA yang membutuhkan pelajaran tambahan.


Dalam masa liburan sambil menunggu hasil pengumuman ujian kelulusan, Maya kembalu membuka laundry yang sempat tutup selama 3 minggu. Beruntungnya para pelanggan masih datang kembali dan memberikan orderan. Banyak di antara mereka yang turut prihatin dengan nasib yang dialami gadis itu. Di usia yang masih muda harus berjuang seorang diri tanpa bekal warisan yang banyak, sementara biaya kuliahnya masih panjang. Dengan segenap kemampuannya,Maya berusaha untuk memperoleh pendapatan lain, yaitu mengadakan kursus online bahasa Inggris sambil menunggu usaha laundry yang telah dirintis sang mama. Dari kursus online itulah, gadis belia itu dapat mendulang rupiah demi rupiah yang dapat ia tabung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kelak. Waktu liburan yang berjalan hingga lima bulan sebelum ia menginjakkan kakinya di kampusnya yang baru, merupakan waktu berharga untuk mengumpulkan anak-anak yang kelak akan menjadi siswa kursusnya.


“Selamat ya May! Kau berhasil mengumpulkan 100 siswa dalam hitungan 5 bulan,”ucap Ryan sambil memberikan hand bouquet berisi rangkaian bunga yang sangat besar dan indah.


“Bagus banget bunganya,Ryan. Terima kasih,”kata gadis itu dengan bola mata indahnya yang berbinar-binar, bibirnya yang tipis menyungging senyuman dengan sepasang lesung pipit yang menambah cantik wajahnya yang imut.


“Smart English Learning Centre” merupakan nama bimbel online khusus bahasa Inggris yang didirikan gadis itu. Ia tak mengenakan biaya tinggi bagi mereka yang sungguh-sungguh mau belajar bahasa, namun justru dengan biaya sangat ringan, usahanya dapat menggaet banyak siswa untuk bergabung menjadi member yang membuat gadis itu cukup untuk membiayai hidupnya sendiri kelak di Jogja.


Di antara seratus siswa, terdapat seorang pemuda yang belajar bahas Inggris padanya, mahasiswa fakultas hukum semester 2 yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai guide untuk para turis asing yang banyak berkunjung ke Jogja. Ardi, nama cowok itu nampaknya tertarik mengenal sang tutor lebih jauh sehingga ia mengikuti semua media sosial yang dimiliki Maya, dari facebook hingga Instagram. Dalam hitungan bulan, keduanya menjadi akrab, bahkan di saat menjelang tidur,Ardi masih sering memanfaatkannya untuk berlatih percakapan bahasa Inggris dengan sang tutor yang cantik jelita. Keakraban di antara keduanya dianggap Maya hanya sebatas hubungan antara guru dengan siswanya, namun nampaknya Ardi sangat menikmati setiap komunikasi dengan gadis itu. Ryan pun tak menaruh kecurigaan sedikitpun dengan hubungan mereka. Cowok itu justru mendukung usaha Maya untuk memperoleh siswa lebih banyak lagi. Ia menganggap itulah cara paling aman bagi Maya untuk memperolah uang tanpa menganggu kuliahnya kelak.


Masa tunggu pun usai, hari ini semua siswa kelas 12 kembali masuk dengan didampingi para wali atau orang tua untuk menerima laporan hasil akhir. Maya hanya bisa menghadirkan Mbak Wati sebagai walinya karena semua saudara papa dan mamanya tinggal jauh di luar kota bahkan luar pulau. Maya berhasil memperoleh peringkat satu di kelas 12 seperti tahun-tahun sebelumnya. Pihak sekolah memberinya penghargaan berupa sebuah trophy setinggi 60 centimeter, yang akan menambah koleksi trophynya yang ia kumpulkan sejak bangku TK.


Malam itu, Maya tertidur dengan lelap sehingga lupa mengajak Mbak Wati tidur di kamarnya. Sang art juga nampaknya sangat kelelahan seharian bekerja di dapur dan tempat laundry. Ketika hari menjelang subuh, kembali gangguan itu datang.


“Kreek…Kreek…Kreek…”


Bunyi-bunyian seperti bunyi cakaran di kaca jendela kamarnya. Maya membuka matanya karena kandung kemihnya terasa penuh dan ingin buang air kecil di toilet. Kini gadis itu memberanikan diri, dibacanya ayat kursi seperti pernah Ryan lakukan di sekolah tadi. Dibukanya korden kamarnya dan kepalanya melongok keluar jendela.


“Gak ada apa-apa,”gumamnya.


Kemudian ia menutup kembali jendela dan korden. Sepasang mata menatapnya dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2