Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 70: Ruwatan


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Ryan memasuki sebuah rumah megah dan luas berpagar tinggi.


Seorang satpam berseragam polisi menyambut mereka di pintu masuk.


“Selamat pagi,Pak. Tuan rumah ada?”tanya Ryan sambil menurunkan kaca jendela mobilnya.


“Silakan masuk dulu,Den. Tuan rumah sedang olahraga di halaman belakang,”sahut satpam sambil mempersilakan mereka masuk.


“Kita udah sampai,Yang."


Eyang turun dari mobil diikuti Ki Danu. Dua orang art menyambut mereka dan membawakan koper menuju ruang tamu yang terletak di lantai tiga. Ryan menunggu di ruang tamu yang pagi itu nampak lengang. Hanya ada seekor kucing Persia kesayangan anak pemilik rumah, dengan bulunya yang lebar berwarna putih nampak berlari ke sana kemari dengan lincah. Bulunya yang empuk bagaikan beludru beberapa kali sengaja lewat melalui sela-sela kaki milik Ryan,seakan ingin dibelai.


“Pus….Pus….”


Kucing itu mendekat dengan mengibaskan ekornya,anak matanya nampak mengecil di siang hari.


Derap langkah kaki beradu dengan lantai marmer memecahkan kesunyian, seorang gadis cantik berlari mendekati kucing putih kesayangannya yang kini bersembunyi di kolong meja tamu.


“Jenny….Come here…”


Seraut wajah cantik Alisha beradu pandang dengan Ryan, seketika sorot matanya berubah dan senyumnya pun pupus dari wajahnya.


“Ngapain lo di sini?”


“Idih…Judes amat. Gue nganterin eyang uti.”


“Mana eyang uti?”tanya Alisha celingukan.


“Memang dari tadi lo ngapain aja? Yau dah naik ke ataslah,”sahut Ryan pura-pura cuek dan menatap layar ponsel untuk bermain game.


“Mana ketemu. Kamar gue di lantai dua. Kamar tamu di lantai tiga,”jawab Alisha dengan ketus sambil berjongkok mencari kucing kesayangannya.


“Idih…Mau ngintip gue ya lo?”ledek Ryan sambil tertawa.


Alisha mengangkat dagunya dan menatap dengan sorot mata tajam,”Enak aja! Kegantengan amat lo!”


“Memang gue ganteng. Kan lo juga pernah naksir gue. Hayoo ngaku aja.”

__ADS_1


Alisha memutar tubuhnya setelah mendapatkan Jenny,kucing kesayangannya. Gadis itu tak mempedulikan perkataan Ryan .


“Eh…Inget ya, besok lo bakal diruwat.”


“Udah tau!”sahut Alisha sambil memiringkan wajahnya tanpa memandang Ryan.


Gadis itu membawa kucing kesayangannya ke kebun di belakang rumah tanpa mempedulikan Ryan sepupunya yang sendirian di ruang tamu. Papa dan mamanya sedang bermain golf di belakang rumah yang sangat luas. Ryan sangat jenuh menunggu, kemudian ia diam-diam berjalan ke arah padang golf milik keluarga Alisha.


“Yippey….Akhirnya bisa main mobil golf di rumah Tante Anneth,”seru Ryan sambil tertawa.


“Rumah tante gede juga. Saingan sama rumah papa,”batin Ryan sambil berkeliling di padang golf.


“Woii ngapain lo?”bentak Alisha yang sedang bermain bersama Jenny.


“Jemput nyokap bokap lo.”


Ryan turun dari mobil golf dan berjalan ke arah tante dan om yang sedang memasukkan bola ke pin.


“Pagi,Tan…Apa kabar,Om?”


“Hai…Pagi….Kapan kamu datang?”sapa tante yang menghentikan permainannya.


Tante Anneth tertawa dan mengerling ke arah suaminya,”Jangan-jangan Ryan abis nganterin eyang uti?”


“Nah…Betul banget!”


“Perkiraan tante aja. Eyang uti kan janji mau adain ruwatan bukan?”


“Iya besok pagi katanya,Tan. Oh ya…kata eyang jangan lupa beli bunga tujuh warna buat besok.”


“Buruan,Ma. Suruh art kita pergi ke pasar,”perintah papanya Alisha.


“Aduh,Mas. Belinya besok dong. Keburu layu kalau beli sekarang.”


“Gimana baiknya aja,Ma. Omong-omong eyang uti dimana?”


“Mungkin di kamar tamu Om,”sahut Ryan sambil berjalan beriringan.

__ADS_1


Eyang uti telah berdiri di pintu masuk yang menghubungkan ruang tengah dengan taman, rambutnya disasak tinggi, tubuhnya yang kurus dibalut setelan celana panjang warna kelabu, kacamata hitamnya yang tebal tampak bertengger di atas hidungnya yang mancung.


“Pagi,Bun..Sudah sarapan belum?”tanya Anneth sambil mengulurkan tangan menyapa sang bunda.


“Sudah…Tadi di pesawat. Perkenalkan ini Kiai Danu yang besok mau ngeruwat Alisha.”


“Saya Pak Martin. Ini istri saya Anneth. Ayok..Mari kita duduk dulu di dalam.”


“Jadi ini persiapan untuk ruwatan besok Tuan,”kata Kiai Danu sambil menyodorkan secarik kertas berukuran folio dan meletakkannya di atas meja.


Pak Martin meraihnya dan membacanya dengan seksama, tangannya yang kekar memberikan kertas itu pada sang istri agar memerintahkan art untuk mempersiapkannya esok pagi.


“Ini apa bakalan ada semua di pasar,Bun?”tanya Anneth kepada eyang uti.


“Kalau pasar tradisional biasanya ada. Nanti misal gak ada beli saja online terus kirim instant.”


“Pastikan Alisha sedang bersih. Bukan dalam kondisi datang bulan. Kalian harus tau itu.”


“Pasti,Bun.”


Hari Minggu yang ditunggu-tunggu pun tiba…


Di rumah Alisha diadakan ruwatan pada sore hari yang dihadiri keluarga dekat dan sanak saudara dalam lingkungan tertutup. Alisha tampak mengenakan kemben dan siap diguyur dengan air tunjung yang di atasnya telah ditaburi kembang tujuh rupa. Tante Anneth dan eyang uti mengenakan kebaya sehingga kecantikan ala Jawanya makin menonjol. Om Martin pun tampak gagah dalam busana Jawa lengkap dengan blangkon. Ryan dan sang papa nampak hadir di antara para tamu.


“Kita duduk agak depan aja,Pa. Tidak keliatan di sini.”ajak Ryan ketika mereka datang terlambat.


“Terserah kamulah. Papa hanya mengikuti,”sahut papa sambil menerobos deretan tamu yang sudah memadati kursi-kursi di bawah naungan tenda hajatan transparan.


Tampak gadis itu basah kuyup dan rambutnya siap digunting sebagai simbol membuang kesialan atau sukerto.


“Itu namanya anak ontang-anting,Ryan. Sama seperti dirimu, anak tunggal. Anak yang dalam tradisi Jawa harus diruwat sehingga hidupnya senantiasa diberkati dan dijauhkan dari segala marabahaya.


“Ryan juga akan diruwat nantinya,Pa?”


“Bilamana dibutuhkan saja,Nak. Keluarga kita sejak lama sudah modern, tidak berpikiran sempit dan dikungkung oleh tradisi,”papar sang papa panjang lebar.


Mentari pun beranjak pergi ke ufuk barat, hari mulai gelap, sang dalang pun menjalankan aksinya. Pagelaran wayang kulit pun tiba, Alisha telah mengganti pakaiannya dengan kebaya kutu baru warna marun yang tampak serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Kini auranya pun memancar keluar, aura negatif telah dibuang dengan ruwatan.Tema wayangnya pun berkisah tentang Batara Kala, yaitu kisah tentang roh jahat menyerupai raksasa yang sebenarnya merupakan putra seorang dewa yaitu Dewa Syiwa.Pada awalnya Syiwa tak mengakui sang putra hingga Batara Kala nekad memotong gigi taringnya sendiri. Batara Kala mendapatkan anugerah untuk memakan semua yang lahir pada hari tumpek wayang, termasuk adiknya sendiri Dewa Kumara ketika besar nanti sehingga Dewa Syiwa menganugerahi Dewa Kumara menjadi anak-anak selamanya. Batara Kala mengetahui kelicikan ayahandanya dan berniat mengejar sang adik, kemudian Dewa Syiwa memberikan teka-teki yang tak mampu dijawab Batara Kala. Kemudian di tengah jalan Batara Kala bertemu Sang Amangku Dalang yang sedang menggekar wayang “sapu leger” dan memakan sesajennya. Sang dalang meminta sesajen itu dimuntahkan namun Batara Kala tak mau memuntahkannya sehingga sejak saat itu ia berjanji tak akan memakan orang yang lahir pada hari tumpek wayang.

__ADS_1


“Itulah kisah ruwatan yang bisa menyelamatkan anak ontang-anting seperti Alisha,”papar sang papa dengan panjang lebar.


Ryan mengangguk-angguk dan berharap Akasha benar-benar pergi dari kehidupan Alisha.


__ADS_2