
Keempat remaja berjalan menuju ruang UGD sebuah rumah sakit yang cukup besar.
“Dug…Dug….Dug…”
Suara langkah sepatu yang beradu dengan aspal di pelataran parkir rumah sakit yang terburu-buru agar secepatnya Affandra mendapatkan penanganan dokter jaga.
“Siang Zus….Teman saya kena luka bakar,”lapor Ryan sambil menarik kursi untuk melakukan pendaftaran.
Alisha memapah Affandra duduk di kursi sebelah Ryan, sementara Maya sibuk mengeluarkan KTP Affandra dan menyerahkan pada seorang petugas administrasi.
“Silakan timbang dan ukur tensi dulu,”perintah seorang perawat berpakain putih dengan topi putuh.
Affandra naik ke atas timbangan, tinggi badannya pun diukur.
“Silakan tunggu di sini. Cukup satu orang yang mengantarkan pasien,”kata perawat tadi.
Alisha mengantarkan Affandra masuk ke deretan tempat tidur yang berjajar di Unit Gawat Darurat yang lumayan penuh siang itu. Ada berbagai kasus yang ditangani dokter, terdiri dari berbagai kalangan usia.
Ada segaris luka melepuh di sepanjang lengan Affandra, yang membuktikan kalau cowok itu sangat peduli dengan semua persoalan hidup Alisha,bahkan rela berkorban untuknya.
Alisha menitikkan air mata haru ketika perawat mengobati luka-luka Affandra. Cowok itu hanya meringis menahan sakit.
“Tololnya gue selama ini mutusin cowok yang tulus demi dapat perhatian Ryan yang ternyata sepupu gue sendiri,”gumam Alisha sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.
“Gak parah kok. Jangan kena air dulu. Nunggu lukanya mengering,”pesan dokter jaga sambil tersenyum.
Dokter itu nampak masih sangat muda,seorang wanita berkulit putih dengan mata kecil dan berkacamata, jaket putihnya nampak menyembunyikan perutnya yang sedang membuncit.
“Ibu muda,”pikir Alisha sambil mengucapkan terima kasih pada dokter itu.
“Ini ada obat penahan sakit dan vitamin. Bisa adik ambil di bagian pharmacy. Ada pertanyaan lagi?”tanya dokter itu lagi.
“Kalau kena panas matahari gak apa-apa kan,Dok?”tanya Affandra sambil mengambil posisi duduk di sebelah Alisha.
“Asal bukan panas terik atau debu, dan jangan tergores benda tajam.”
“Gak perlu istirahat di rumah,Dok?”tanya Alisha yang berjaga-jaga untuk memintakan surat ijin bilamana diperlukan.
“Gak apa-apa kok. Untuk olahraga yang berjemur di panas matahari jangan dulu,”saran dokter itu sambil menyerahkan resep.
“Terima kasih,Dok.”
Di ruang tunggu UGD…
“Kasian banget gak sih kalau cara balikannya si Affandra harus berdarah-darah gitu?”tanya Maya sambil terpekur menatap lantai.
“Bukan berdarah-darah,May. Tapi sampai melepuh-lepuh,”cetus Ryan sambil menaikkan alisnya.
Gadis itu menahan tawa dan mata bulatnya menatap wajah Ryan yang tampak bersandar pada dinding tembok.
“Ya ikut senanglah kita. Akhirnya Alisha baikan sama Affandra yang bisa bombing dia jadi cewek lebih baik lagi,”harap Ryan sambil menatap Maya.
__ADS_1
“Tuh…Anaknya dah keluar dari UGD,”seru Maya sambil beranjak bangun dari kursi tunggu.
“Yuk kita ke sana,May.”
Ryan menarik tangan Maya mengikuti Affandra dan Alisha yang berjalan ke bagian pharmacy.
Suasana cukup ramai di bagian pharmacy yang membuat keempatnya menunggu.
“Better gue yang nunggu aja di sana. Kalian ke restoran aja. Takut lukanya kesenggol-senggol pasien lain,”kata Ryan mengambil alih posisi tunggu di pharmacy.
“Ini kartu debitnya Ryan,”kata Affandra sambil menyerahkan kartu debit untuk pembayaran obat.
“Oh gausah. Biar gue yang bayar.”
“Ih…Jangan! Biar gue aja yang bayar. Kan gue yang bikin Affandra luka!”seru Alisha.
“Eh…Kalian ngapain rebutan bayar? Malu sama orang-orang di sini. Yang benar bayarnya di pintu pertama kalian masuk,”protes Maya sambil tertawa.
“Okay. Biar gue yang bayar. Gue tunggu di depan receptionist bareng Affandra,”kata Alisha sambil menggandeng tangan Affandra.
Ryan meremas jari jemari lentik milik Maya,”Hari-hari berlalu begitu cepat. Tahun depan kita udah berpisah,May.”
“Masih lama,Ryan. Kita belum kenaikan kelas juga.”
“Sebenarnya aku bisa langsung pindah ke Amerika buat pre univ. Gak perlu nunggu ujian akhir kelas 12. Itu kata papa,”kata Ryan sambil melirik ke arah Maya.
Gadis itu merasakan ada sesuatu yang bakal hilang dari hatinya, buru-buru ditepisnya perasaan itu.
“Cita-cita aku jadi pebasket dunia,May. Aku cuma mau pengen bikin papa bahagia dengan kuliah bisnis dan nerusin bisnis dia.”
“Terus?”
“Karena kita kan kenal belum lama. Jadi keputusan aku nerusin kelas 12 di sini. Biar bisa lamaan jalan sama kamu.”
“Wow… Kamu korbanin waktu buat aku? Di sana masih banyak cewek cantik dan kaya raya,Ryan. Banyak bule juga.”
“Yang aku cari bukan dari penampilan fisik,May. Tapi hati yang tulus. Seseorang yang bisa nerima aku apa adanya. Seseorang yang bisa bikin aku berubah menjadi lebih baik. Cuma kamu yang bisa bikin aku begitu,”papar Ryan panjang lebar.
“Itu karena kamu lagi jatuh cinta aja,Ryan.”
“Gak kok. Waktu yang akan membuktikan.”
“Oh…Terima kasih kalau kamu sungguh-sungguh cinta aku,”bisik Maya takut suaranya terdengar orang-orang di sekitarnya.
Nomor pengambilan obat terus bergulir. Hampir satu jam dua remaja itu menunggu di ruang pharmacy. Maya sampai terkantuk-kantuk dibuatnya. Sementara Ryan sibuk memainkan game dari ponselnya.
“Kira-kira dimana ya Alisha dan Affandra?”tanya Ryan celingukan.
Maya sontak terbangun dari rasa kantuknya, sudut matanya dialihkan mengikuti gerakan bola mata milik Ryan.
“Tuh…Mereka ada di sana.”
__ADS_1
“Iya..Biarin mereka lebih pewe di sana,”sahut Ryan sambil menyandarkan punggung di kursi dan menyelonjorkan kakinya yang jenjang.
Cowok itu tampak kelelahan menunggu, kepalanya disandarkan di atas punggung kursi dan memejamkan matanya untuk beberapa detik.
“Affandra!”
Terdengar suara panggilan perawat yang berjaga di bagian pharmacy.
Maya melirik ke nomor tunggu.
“Astaga! Ternyata sudah dipanggil dari tadi. Aku lupa melihat nomor antrian,”pekik Maya dalam hati.
Akhirnya gadis itu yang mengambil semua obat yang diresepkan dokter jaga.
“Bangun Ryan!”
Mata Ryan tampak menyipit karena silau,”Udah belum obatnya,May?”
“Ini…”seru Maya sambil memperlihatkan sebuah kantung plastik kecil dengan tulisan nama rumah sakit.
“Oh..Obatnya udah jadi. Kok aku gak denger dipanggil?”
“Kamunya molor!”ledek Maya sambil tertawa.
“Yaudah kita bisa pulang sekarang,”seru Ryan melonjak kegirangan.
Dua remaja itu menyerahkan kantung plastik berisi obat dari dokter pada Affandra.
“Kita pamit duluan ya!”kata Ryan pada Alisha dan Affandra.
“Jaga cowok lu baik-baik,”imbuh Ryan lagi.
Maya hanya tertawa dan melambaikan tangan ke arah mereka.
“Uh bahagianya. Akhirnya bisa balikan dengan Alisha,”seru Affandra sambil menggandeng gadis idamannya menuju mobil yang terparkir di depan UGD.
Ryan merangkul Maya menuju parkiran mobil. Suasana sore ini nampak lebih indah daripada sore sebelumnya, awan-awan putih berarak-arak, udara bertiup sepoi-sepoi yang menggoyangkan dedaunn untuk ikut menari bergembira.
Maya merasakan tangan kokoh milik Ryan bergelayut di bahunya membuatnya nyaman. Gadis itu teringat masa-masa indah bersama almarhum papa yang selalu merangkulnya dengan cara yang sama.
“Wahai papa…Papa sekarang ada dimana? Maya kangen,”bisik hati Maya.
Gadis itu rindu papa dan ingin menenggelamkan kepada dalam pelukan di dada papa yang hangat.
“Papa pasti bahagia kalau akhirnya Maya bisa menemukan seorang laki-laki yang bisa melindungi seperti halnya papa terhadap Maya,”gumam gadis itu sambil memasuki mobil.
“Tapi siapkah mama menerima sosok Ryan yang sesungguhnya?”tanya Maya sambil memasang seat belt.
“Tahun depan aku akan melamar kamu. Sebelum aku ke Amerika,”kata Ryan sambil menjalankan mobilnya.
“Apa aku gak salah dengar?”tanya Maya.
__ADS_1
Ryan menggelengkan kepala dan memberikan senyuman termanisnya.