Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 55 : Persembunyian Don


__ADS_3

Episode 55 : Persembunyian Don


Kapal ferry ekspres yang ditumpangi Don berlabuh di Pelabuhan Bakauheni.Lampung Selatan. Tubuh tambun milik Don mulai berkeringat, dilepaskannya jaket hitamnya dan digendongnya di punggungnya yang tebal oleh lemak. Laki-laki itu melepas topi hitamnya dan menyeka keringat yang mulai bertetesan dari keningnya,dengan punggung tangannya.


“Kruuk….Kruuk….”


Perutnya mulai bersuara,menandakan sudah waktunya untuk makan siang. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.


“Pukul 14.45. Pantas aja gue kelaparan. Dari pagi belum makan apapun,”batin Don sambil menyeret kopernya ke sebuah warung makan terdekat.


Ujung matanya dilemparkan ke sekeliling dan menangkap sebuah warung makan yang cukup ramai pengunjung.


“Kalau ramai pertanda warung itu enak,”pikirnya sambil bersiap-siap untuk masuk.


Seorang berpakaian mirip dengannya nampak mengamati dengan seksama penampilan Don dari ujung kepala hingga ujung kaki. Niatnya makan di sana diurungkan karena dirinya masih dalam pengejaran polisi, dan ia tak mau masuk dalam perangkap mereka.


“Jangan-jangan dia seorang polisi?”


Sejuta pertanyaan berkecamuk dalam hati. Meskipun ia telah mengabari Karti bahwa hari ini ia akan datang, sungguh tak mungkin harus makan di rumah Karti karena perutnya sudah tidak bisa kompromi. Don terpaksa menutupi tubuhnya kembali dengan jaket untuk melindungi pandangan orang-orang terhadap tato yang ada di tangan kanan dan kirinya. Sebuah tato besar bergambar ular naga di tangan kanan, dan tato seekor macan loreng di tangan kirinya. Ia tak ingin mengundang perhatian masyarakat sekitar, karena asumsi mereka tato identic dengan penjahat atau buron.


Di dekat Menara siger, berdiri sebuah warung makan seafood yang agak sepi, kemungkinan besar karena harganya mahal. Don bersiap untuk makan di sana meskipun dirinya kurang suka.


“Yang penting aman dari perhatian orang-orang,”pikirnya sambil mendorong koper hitamnya lebih cepat.


Don baru saja meletakkan pantatnya di kursi kayu panjang di warung itu ketika sebuah suara telpon mengagetkannya.


“Halo…Udah sampai mana,Mas?”terdengar suara manja milik Karti yang nomornya telah ia simpan.


“Lagi makan,Ti. Sebentar saya naik angkot ke sana.”


“Jauh lho,Mas. Ini Lampung Barat. Hampir dua jam,”sahut Karti dengan suara lembut.


“Yasudah gak apa-apa. Yang penting bisa ketemu kamu,”sahut Don mulai merayu Karti dengan kata-kata manisnya.


Sepanjang perjalanan Don berusaha membuat pesan singkat untuk meyakinkan Karti bahwa ia berniat menikahi janda itu dan menjadi petani di kampung calon istrinya. Wanita berusia dua puluh delapan tahun dan dikaruniai dua anak kecil itu masih lugu dan mempercayai semua ucapan Don.


Laki-laki itu memakan habis tak tersisa semua makanannya, dua piring nasi putih, satu porsi tumis kangkong dan dua ekor ikan nila bakar. Minumannya es teh tawar yang bisa ia tambah sesukanya tanpa dipungut bayaran.


“Heks…”

__ADS_1


Don mengeluarkan suara sendawa yang sangat keras dan menjijikkan sehingga pemilik warung menjadi terkesiap dan menutup mulutnya dengan tangan.


“Berapa ini semua,Mbak?”


“Lima puluh delapan ribu rupiah. Tambahannya dua bakwan dan dua kerupuk ya? Jadi Enam puluh lima ribu rupiah,”kata pemilik warung, seorang wanita setengah baya berpakaian daster batik.


“Ambil aja kembaliannya,”kata Don sambil menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah.


“Untuk ke daerah hutan pinus Sukapura , mesti naik apa,Mbak?”


“Taksi online kadang ada. Tapi angkot bisa juga, beberapa kali naik,Mas.”


“Terima kasih Mbak,”ucap Don sambil menyeret kopernya keluar dari warung makan.


Don berjalan hingga ke tepi jalan, dilihatnta banyak sekali angkot yang berwarna-warni tanpa nomor jurusan. Ia harus melihat bagian punggung mobil angkot untuk melihat jurusan mana saja.


Ada warna angkot ungu, hijau, oranye.


“Duh…Ah pusing gue. Mana lajunya cepet banget.Ntar malah salah jurusan,”gumam Don.


Laki-laki itu berbalik arah ke dalam dan memanggil taksi online yang mangkal di sana.


“Mana ajalah,Bang. Tujuan hutan pinus Sukapura.”


“Wah… Bisa dua jam,Bang. Jatuhnya bisa lima ratus ribu kalau pakai taksi.”


“Udahlah gak apa-apa,”sahut Don yang berlagak seperti orang kaya karena kondisinya kepepet mencari keselamatan secepatnya.


Sepanjang perjalanan, supir taksi tak banyak bicara. Supir berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu berpenampilan klimis dengan rambut rapi yang ditutupi peci hitam. Sesekali ia hanya melirik melalui kaca spion tengahnya untuk melihat mobil-mobil di sekitarnya.


“Atau jangan-jangan melihat gue?”gumam Don yang berprasangka negatif.”


Laki-laki bertubuh tambun itu kembali mengenakan jaket, dan kacamata hitamnya yang dirasakannya lebih aman. Don terkantuk-kantuk di jalanan karena jalan yang dilalui tidak semuanya beraspal, masih banyak jalanan berbatu. Laju mobil yang tidak sepenuhnya di jalanan rata membuatnya semacam ayunan yang membuainya untuk tertidur. Sayup-sayup ia mendengar supir taksi berbicara melalui ponselnya dengan seseorang. Namun Don sangat kelelahan dan tak sanggup lagi membuka matanya, kesadarannya hilang dan ia tertidur lelap selama hampir dua jam perjalanan.


Don terbangun lagi dan pelan-pelan ia membuka matanya, sang supir masih berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Di kanan kirinya banyak terdapat hutan, hanya satu dua rumah yang berdiri dengan jarak berjauhan.


“Kita sudah sampai mana,Bang?”


“Dua puluh menit lagi sampai,”sahutnya datar.

__ADS_1


“Berhenti saja di rumah kepala desa,”kata Don yang takut supir itu mengetahui tempat persembunyiannya.


“Siap,Bang.”


Don menarik napas lega karena supir itu tidak bertingkah aneh-aneh. Ia juga tak banyak bicara, selain hal-hal yang sangat perlu.


Taksi berhenti di depan jalan masuk yang berbatu-batu, rumah kepala desa ada di bagian depan yang tampak paling megah dibandingkan rumah-rumah lainnya. Rumah dengan lebar lima belas meter dengan dinding warna putih dan kusen hijau, dengan pagar bambu yang lumayan tinggi, tampak asri dengan beberapa bunga kertas warna-warna di halaman rumahnya.


“Sudah sampai,Bang.”


Don merogoh saku celananya, dikeluarkannya sebuah dompet kulit warna coklat yang beberapa bagiannya sudah terkelupas. Supir itu mengamatinya dari spion tanpa sepengetahuan Don. Dompetnya penuh dengan uang kertas lembaran, ia telah mempersiapkannya sebelumnya karena yakin mesin atm pasti agak susah ditemukan.


“Ini,Bang.”


“Hati-hati di jalan,Bang.”


Don menurunkan kopernya dan sedikit mengangkatnya ketika melalui jalanan yang berair.


“Mungkin semalam hujan deras,”pikirnya.


Don tak ingin roda kopernya penuh lumpur, ia berjalan tergesa-gesa melewati perkampungan yang masih sepi.


“Permisi…”teriak Don ketika berada di depan rumah Karti.


Rumah milik janda itu berada di belakang rumah kepala desa, mungkin hanya selisih sepuluh meter. Sebuah rumah sederhana dengan dinding kayu dan sebagian sudah tembok yang dicat putih, lantainya ubin ukuran dua puluh kali dua puluh centimeter berwarna gelap, dan kusennya berwarna coklat gelap.


“Lumayanlah masih lantai ubin, bukan tanah,”gumam Don sambil menunggu seseorang keluar dari rumah itu.


“Eh..Mas Don. Ayo masuk,”sapanya ramah sambil menggendong putri bungsunya yang berusia dua tahun.


Anak sulungnya seorang lelaki yang berusia delapan tahun dan duduk di kelas dua SD tampak sedang bermain mobil-mobilan di lantai.


Don menatapnya bocah kecil yang sedang asyik bermain di lantai, dan bocah itu membalas tatapannya sambil berteriak,”Mak….Bapak baru ya?”


Karti tampak tersenyum malu-malu, kulitnya yang sawo matang dibalut daster batik dengan tiga kancing di depannya, tampak lumayan manis sebagai standar kecantikan di des aitu.


Don bersyukur menapat sebuah kamar di belakang, dekat kamar mandi, bekas peninggalan orang tua Karti yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Laki-laki itu memasukkan semua pakaiannya dalam sebuah lemari kayu yang mulai bau debu karena sudah lama tak terpakai.


Don mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi sambil berpikir rencana selanjutnya, mengambil hati dua buah hati Karti dan menjadi bapak mereka untuk sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2