Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 88: Nikah Dadakan


__ADS_3

Om Robert telah memerintahkan anak buahnya untuk mencari seorang wedding organizer untuk merencanakan pesta pernikahan yang akan digelar tiga bulan lagi di sebuah hotel bintang lima. Awalnya gadis itu menolak dan menginginkan pesta kecil-kecilan saja, namun orang tua Ryan ingin mengundang rekan bisnis dan seluruh karyawannya yang jumlahnya ribuan. Akhirnya sang mama dan Maya menyetujuinya.


Di suatu hari Sabtu yang cerah, awan putih bergulung-gulung dan sinar mentari menerangi bumi dengan hangat, cuaca tak terlalu panas. Maya telah siap didandani seorang MUA (Make Up Artist) yang diundang di sebuah kamar suite sebuah hotel bintang lima yang terletak di segitiga emas. Sengaja Om Robert menyewa sebuah kamar suite untuk pelaksanaan akad nikah dengan memanggil petugas KUA.


“Make up-nya natural aja ya Kak,”pinta gadis itu pada wanita berusia 30 tahun yang mendadaninya siang itu.”


“Iya,Neng. Tenang aja, yang pasti cantik natural ala Korea,”sahutnya sambil tertawa.


Sang mama merebahkan diri di atas tempat tidur sambil menunggu giliran. Di sudut kamar, telah siap dua setel kebaya rancangan desainer ternama dalam posisi tergantung dengan indahnya. Sebuah kebaya warna salem untuk sang mama dengan payet-payet anggun dan sebuah kebaya warna putih dengan kristal-kristal elok yang nampak mewah.


Waktu terus bergulir, jam dinding menunjukkan pukul 1 siang, MUA telah menyelesaikan riasan wajah, dan kini tinggal menyasak rambut untuk dibuat sanggul atau istilah salonnya adalah hair-do. Sambil terus didandani,gadis itu menyantap makan siangnya yang diantar ke kamar secara room service.


“Mari,Kak. Disantap dulu makan siangnya. Biar gak telat makan,”ajak gadis itu dengan ramah.


“Iya. Terima kasih ya! Setelah ini beres pasti dimakan kok.”


Gadis itu menatap wajahnya di cermin,”Kok aku jadi beda banget ya,Ma?”


Mama terkekeh,”Ya begitulah namanya make up pengantin, jadi manglingi atau istilahnya berubah dahsyat.”


“Iya bagus kalau berubah,Neng. Namanya jadi ratu sehari. Nanti pakai kebayanya kakak bantu, mendekati ijab kabul aja.”


Kini giliran mama yang didandani. Maya menunggu mama sambil mempersiapkan diri dengan berselancar melalui internet untuk melihat proses ijab kabul di depan KUA.


Tepat pukul 3 sore, Om Robert datang bersama Ryan dan petugas KUA. Cowok itu nampak sangat tampan dalam balutan setelah jas berwarna hitam lengkap dengan dasi. Jantung gadis itu berdebar sangat keras, grogi akan menjalani prosesi yang sungguh tak pernah terbayang di dalam benaknya. Petugas KUA memimpin bacaan syahadat ijab kabul. Maya duduk di sebelah kiri Ryan, keduanya menjadi pengantin belia secara diam-diam.


“Akhirnya kalian sah!”seru Om Robert sambil tertawa bahagia ketika petugas KUA dan MUA sudah meninggalkan tempat.

__ADS_1


Dua remaja itu bertatapan dengan wajah bengong, keduanya belum siap menjadi keluarga baru dan masih mementingkan studi, namun karena keadaan memaksa dan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya dinikahkan diam-diam.


Maya mengharapkan pernikahannya langgeng meskipun kelak mereka akan berpisah jauh, demikian pula Ryan.


“Sekarang kalian boleh berganti pakaian. Kita makan bareng di restoran bawah yuk!”ajak Om Robert sambil membawa sebuah tas ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Maya menghapus semua riasan wajahnya dan melepas semua pernah-pernik yang menghias rambutnya.


“Om..Maya ijin untuk mandi lagi ya! Rasanya berat banget ini kepala banyak hair spray,”pamitnya sambil tersenyum, memamerkan lesung pipit yang menghiasi kedua belah pipinya yang putih dan ranum.


Om Robert dan Ryan terkekeh, sementara mama hanya tersenyum sambil merebahkan punggungnya di sofa. Wanita itu masih nampak lemah, kesehatannya belum pulih secara sempurna, namun hatinya sangat bahagia dapat menyaksikan pernikahan putrinya.


Tiga puluh menit berlalu, gadis itu kembali lagi dengan wajah polos tanpa riasan, rambutnya masih setengah basah. Kecantikannya nampak natural, tubuhnya semampai dalam balutan gaun warna biru tua dengan ikat pinggang putih yang serasi dengan sepatunya.


“Ayo…Kita ke bawah,”kata Maya membuka percakapan.


Suasana restoran di lantai bawah lumayan ramai sore itu. Om Robert telah memesan sebuah meja, seorang pelayan mempersilakan mereka duduk. Empat buah buku menu dibagikan pada mereka satu persatu.


“Silakan kalian tulis pesanan. Sesuka kalian, gausah sungkan-sungkan,”kata Om Robert sambil membuka ponsel untuk menghubungi seorang rekan bisnisnya.


Kemudia laki-laki paruh baya itu ijin untuk meninggalkan ruangan, untuk menelpon koleganya untuk suatu urusan.


“Papa pesan apa?”tanya Ryan sambil memegang pensil dan secarik kertas.


“Kamu pesanin apa aja yang papa biasa suka.”


Ryan menatap dengan bengong wajah sang papa.

__ADS_1


“Papa kok aneh,May. Pesanin apa yang dia suka. Semua juga ia suka.”


“Yaudah kamu pesan aja menu paling enak di restoran ini,”sahut Maya sambil tertawa geli.


Pelayan mengantarkan satu-persatu menu pesanan mereka hingga lengkap sudahlah semua makanan dan minuman di atas meja. Sebuah lilin diletakkan di tengahnya, sore pun berganti malam, pengunjung mulai berdatangan memenuhi ruangan itu, sementara musik. mengalun merdu membuat suasana makan malam makin romantic. Om Rpbert kembali ke mejanya, dan duduk di sebelah Ryan. Mereka makan bersama dan sangat menikmati hidangan malam mereka.


“Pa…Boleh tambah lagi gak?”tanya Ryan sambil mengelus perutnya.


“Boleh…Kita tambah dessert, ice cream dan pudding.”


“Ayo,Tan. Makan yang banyak biar cepat sembuh,”hibur Ryan ketika dilihatnya Tante Wulan tampak termangu di mejanya.


“Iya..Mama jangan banyak pikiran,”timpal Maya sambil meneguk minuman dari gelasnya.


“Mama cuma bingung nanti akan sendirian di rumah.”


“Kan ada Mbak Wati yang selalu jagain mama,”sahut Maya sambil mengelus punggung sang mama.


“Iya…Ibu Wulan gembira saja, yakin dan percaya Allah pasti akan menjaga umatnya,”kata Om Robert sambil menyendok ice cream dalam cangkir kecil.


Maya dapat memahami perasaan sang mama, hati kecilnya pasti sangat bahagia,putri tunggalnya sudah mendapatkan kursi di perguruan tinggi sesuai cita-citanya, dan telah mendapatkan suami yang kelak akan menjaganya. Hidupnya yang selama ini membosankan tanpa hadirnya seorang papa, kini tergantikan oleh kehadiran Om Robert selaku papa mertua yang baik hati. Namun di dasar hatinya ada segumpal tanda tanya cukup besar, akankah sang mama bertahan mendampinginya hingga lulus kuliah kelak? Akankan beliau dapat bertahan untuk dapat menimang cucu kelak di saat Maya sudah dilantik menjadi seorang dokter, dan sejuta pertanyaan yang bergelayut dalam hati dan pikirannya.


Om Robert dan Ryan berpamitan setelah mereka mengambil tas berisi pakaian berupa jas dan kemejanya. Maya dan sang mama menginap semalam di ruangan suite itu. Gadis itu menatap langit-langit kamar yang temaram, sementara sang mama telah terlelap dalam tidurnya. Ia mulai berpikir untuk bekerja sambil kuliah, agar tidak selamanya menjadi beban orang tua.


“Mengajar online bahasa Inggris,”serunya dalam hati.


Maya yakin dengan kemampuannya dan percaya pekerjaannya kelak tak akan mengganggu kuliahnya. Ia bisa membayar sendiri uang sewa kosnya dan bahkan biaya hidup sehari-hari selama menjadi anak kos. Ia bertekad tak akan membebani sang mama maupun Om Robert selaku mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2