Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 37: Berkunjung


__ADS_3

Tangan kekar milik Ryan sibuk membersihkan sneakers putihnya yang masuk ke kubangan berair.


“Yah kamu…Udah tau musim hujan malah pakai sepatu putih,”gerutu Maya sambil menyodorkan tisu basah kepada cogan yang duduk di sebuah bangku panjang di sebuah pos hansip.


“Pas kita berangkat masih terang benderang,May. Gak sangka bakalan hujan deres,”sahut Ryan sambil bersidekap untuk menghangatkan badan.


Mereka sedang berteduh sehabis makan di sebuah warung dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Mas Budi di Bogor. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan mereka tidak membawa payung sehingga terpaksa berteduh lebih dulu di pos hansip.


Mobil diparkir agak jauh dan sebagian jalanan tergenang setinggi mata kaki.


“Kita mesti nunggu berapa jam?”tanya gadis itu sambil menatap Ryan yang duduk terdiam memandang hujan.


“Sabarlah,May. Anginnya juga kencang,mana ada petir juga.”


Maya ikutan duduk terdiam dan menyaksikan atraksi hujan yang tak juga reda.


Udara sekitarnya semakin dingin karena hujan terus menerus. Gadis itu menggigil kedinginan dan menyilangkan kedua lengannya menyilang di atas bahu agar terasa lebih hangat.


Ryan menggeser posisi duduknya agar lebih dekat Maya dan merangkul gadis itu untuk menghangatkan badan. Gadis itu menepiskan tangan Ryan dengan lembut karena ia tak ingin timbul pikiran macam-macam dalam otak cowok itu.


“Kenapa May?”


“Aku gak mau kita melangkah terlalu jauh.”


Ryan tertawa terkekeh hingga mengeluarkan air mata. Matanya menyipit dan tubuhnya pun ikut berguncang saking gelinya ia tertawa.


“Pikiranmu yang terlalu jauh memprediksi,May.”


Maya merasa dilecehkan dengan jawaban seperti itu dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia mengeluarkan potongan gantungan kunci berbentuk bendera Rumania ke tangan Ryan.


“Ini tertinggal di rumahku tempo hari.”


“Oh..Ini gantungan kunci yang kami beli di Rumania. Kakek buyut kami memang dari sana,May.”


“Ooh…”

__ADS_1


Hanya sebaris kata yang keluar dari mulut gadis itu dan ia tak ingin mengetahuinya lebih jauh.


Pantat gadis itu terasa panas duduk berjam-jam di atas bangku kayu yang sangat keras. Hujan masih turun meskipun tak seberapa deras, tapi angin masih bertiup kencang hingga membuat dedaunan melambai ke sana kemari. Sebuah pohon pisang di seberang jalan tumbang terkena angin kencang yang bertiup berjam-jam. Maya berdiri dan berjalan mondar mandir untuk melepas penat. Sementara itu si ganteng masih bertahan duduk diam menanti hujan reda.


“Yuk May,”seru Ryan sambil buru-buru menarik tangan gadis itu berlari ke arah mobil.


“Aduh..Apa-apaan sih? Nanti kita kepleset.Pelan dikit dong!”


“Takut keburu hujan lagi.Mumpung reda.”


Gadis itu berjalan terseok-seok di sepanjang jalan yang basah oleh air hujan,kini giliran sepatunya yang kemasukan air.


Ryan kembali berlaga di belakang kemudi, tangan kekarnya sibuk memainkan kemudi sesuai arah dan kondisi jalan raya. Sementara itu gadis di sebelahnya sibuk mengeringkan sepatunya yang basah dengan tisu sambil membungkukkan badan.


“Pasang seat belt,May. Abis tanjakan kita udah sampai. Kalau ikutin google map tinggal 30 menit lagi.”


“Siap pacarku…”


Si ganteng membelalakkan matanya dan membusungkan dada sambil tertawa senang.


Mobil berhenti di lapangan desa karena jalan masuk ke kontrakan Mas Budi sangat sempit. Mereka berjalan setapak melintasi jalanan desa yang tak bisa dilalui kendaraan karena belum ada aspal, di kanan kiri banyak dijumpai tumbuh-tumbuhan hijau, pohon trembesi, pohon petai cina,pohon pisang dan waru dengan bunganya yang berwarna kuning. Akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah berwarna hijau dengan kusen putih yang mungil namun tampak rapi. Tak menunggu lama sang tuan rumah telah siap menunggu di depan rumah sambil menikmati segelas kopi dan pisang goreng.


“Halo..Selamat siang,Den.”


Sapa Mas Budi pada Ryan. Laki-laki berperawakan sedang dan memiliki rahang tajam itu dengan santainya mengenakan sarung dan kaos oblong warna putih. Kumis dan jambangnya seperti baru saja dicukur, matanya berbinar-binar dan bibirnya mengembangkan senyum ramah melihat kehadiran putra sang majikan.


“Selamat siang juga,Mas. Sendirian aja nih?”


“Iya nih..Anak lagi dibawa bapak mertua. Istri masih di rumah majikannya,”paparnya panjang lebar.


Laki-laki itu mempersilakan Ryan dan Maya duduk di dalam,ia pun membawa gelas kopi dan piring kecilnya ke arah dapur. Tak lama kemudian muncul lagi dengan membawa dua gelas air mineral.


“Silakan diminum dulu.”


“Gausah repot-repot Mas,”kata Maya sambil tersenyum.

__ADS_1


Gadis itu meneliti seluruh isi rumah kontrakan milik Mas Budi. Anak matanya bergerak ke sana kemari ketika Mas Budi kembali ke dapur untuk mengambil sesuatu. Sebuah rumah mungil yang sederhana namun rapi, lantai keramiknya berukuran 20x20 dengan sofa sederhana berwarna krem dilengkapi sebuah televisi 24 inch yang nampak sudah tua. Sebuah stand fan berdiri di sudut ruangan dalam keadaan diam tak dinyalakan. Laki-laki itu kembali lagi dengan membawa sebuah toples bulat berisi kue kering.


“Ayo mari dicobain,”ajaknya ramah dengan wajah penuh senyum.


Ryan duduk menatap Mas Budi, wajahnya tampak semakin ganteng dengan ekspresi penuh senyum.Pahatan wajahnya dari samping begitu sempurna, hidung yang mancung dan alis yang lebat.


“Belum lama sapi-sapi bapak sakit sampai sepuluh ekor lho,”kata Mas Budi membuka percakapan dengan Ryan.


“Oh…Yang waktu itu kita ketemu di restoran bakso?”tanya Ryan sambil mengacungkan telunjuk ke arah laki-laki itu dan tertawa.


“Nah itu bener. Ke rumah mantri hewan tepatnya,”sahut Mas Budi sambil terkekeh.


Sang papa jarang sekali membicarakan masalah pekerjaan dengan sang anak, jadi si cowok keren ini hanya terima beres dari sang papa. Mungkin itulah cara mendidik anaknya agar tidak dipenuhi dengan beban pekerjaan dan masalah orangtuanya.


“Terus gimana,Mas?Sembuh semuanya?”


“Yang mati cuma dua ekor, perutnya kembung mungkin makanannya tercemar jadi diare ditambah usianya mungkin sudah tua.”


“Syukurlah bukan wabah virus. Kasian papa kalau banyak yang mati.”


“Bapak kan sudah vaksin lengkap semua sapinya,Den. Yang paling bahaya itu wabah antraks. Sapinya bisa demam dan banyak mati.”


Maya hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa, matanya berbinar bahagia mendapatkan banyak wawasan dari kedua laki-laki yang berbincang-bincang di hadapannya.


“Omong-omong jalanan sini cukup luas tapi mobil gak bisa masuk dan belum ada aspal di sini.”


“Ya begitulah,Den. Pembangunan di desa kadang belum merata. Tapi ada kok satu mobil di sebelah.”


“Punya siapa,Mas?”


“Denger-denger kepunyaan majikan si Beno di kota. Bawanya ke sini udah ekstra susah, pakai jejerin papan besi buat lewat mobil.”


“Hah? Kok aneh. Buat apa ditaruh di rumah karyawannya?”tanya Ryan yang makin penasaran.


“Kurang tau,Den. Itu tiga rumah dari sini, yang tertutup itu garasinya. Katanya majikan Beno itu boss tambang dan kontraktor kalau gak salah.”

__ADS_1


Ryan mengangguk-angguk dan firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dengan mobil itu. Ia dan gadis itu saling berpandangan.


__ADS_2