
Malam itu, Maya pulang kembali ke kos diantar Ryan dengan membawa setoples penuh irisan bawang putih untuk ibu kos.
“Oleh-olehnya irisan bawang putih ya May,”ledek Ryan sambil terkekeh.
Gadis itu ikut tertawa terpingkal-pingkal hingga meneteskan air mata.
“Ini juga udah dibagi dua sama di rumah lho,”ujar gadis itu memperhatikan Ryan yang sedang mengemudi.
“Masih penasaran ngusir vampire pakai bawang putih?”tanya Ryan sambil memegang kemudi.
Tubuhnya yang tinggi atletis dibalut kaos ketat warna putih dan jeans belel warna biru muda. Sementara Maya mengenakan rok warna kuning muda terbuat dari bahan kaos. Keduanya nampak santai malam ini. Di mobil mereka mendengarkan alunan musik romantis yang diperdengarkan dari cd player.
“Masih sih…Abisnya agak trauma sama biawak jadi-jadian,”sahut Maya dengan perasaan mendongkol.
Malam yang sepi dan gelap, membuat jalanan semakin lengang, orang-orang lebih memilih berdiam di rumah daripada berkeliaran di jalan. Maklumlah daerah yang ia lewati jauh dari pusat keramaian. Sepanjang perjalanan Maya enggan menatap keluar jendela karena semua tampak gelap dan menyeramkan. Gadis itu baru berani menatap jendela ketika masuk wilayah perkotaan dimana banyak pertokoan, pusat perbelanjaan dan jalan-jalan yang diterangi oleh lampu penerang jalan.
“Kita lewat tol,May. Jangan lupa pasang sabuk pengaman,”seru Ryan sambil mengambil jalan menuju tol.
Maya sama sekali tidak bisa memejamkan mata terutama ketika mereka memasuki area tol, dimana semua mobil berjalan dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Di sepanjang jalur tol masih ada beberapa mobil melaju, Ryan mengendarai mobilnya lebih kencang daripada biasanya. Perjalanan Jogja ke Solo ditempuh hanya dalam waktu 20 menit perjalanan. Setelah itu mereka melalui jalan perkampungan, yang banyak dipenuhi pepohonan hijau nan rimbun dengan batang besar.
Gadis itu mencengkeram ujung jok mobile rat-erat ketika Ryan tiba-tiba mengerem mendadak.
“Ampun…Jantungan aku. Mana malam-malam begini. Ada apa sih?”tanya Maya dengan nada agak tinggi.
“Masa kamu gak liat. Barusan ada perempuan baju putih gendong bayi lewat depan kita,”sahut Ryan sambil menebarkan pandangan ke sekeliling mobil.
“Mana?”tanya Maya sambil mengamati sekeliling dengan sudut matanya.
Ryan berkesiap membuka pintu, Maya hendak mencegahnya tapi cowok itu telah turun dari mobil dan mengamati jalanan di sekitarnya.
“Gak ada apa-apa di sini. Yuk kita balik,”ajak Maya kembali naik ke mobil.
Maya turun dengan membawa tupper ware berisi irisan bawang putih karena sosok ibu itu dari belakang tampak aneh, rambutnya panjang dan gimbal, pakaian putihnya dekil dan menjuntai hingga ke tanah, sementara bayi yang digendongnya mulai menangis.
Ryan menarik lengan Maya agar menjauh namun gadis itu penasaran dan mendekat.
“Bu…Mengapa malam-malam duduk sendirian di bawah pohon?”tanya gadis itu.
__ADS_1
Sang ibu terdiam, nampaknya ia sedang menyusui bayinya.
Maya mengulangi sekali lagi pertanyaannya, dan…
Ibu itu membalikkan wajahnya, lingkaran matanya hitam, bibirnya membiru tanpa senyuman.
Ryan berlari sambil berteriak ,”Kuntilanak!”
Maya tertawa keturunan vampire yang takut akan kuntilanak. Gadis itu memberanikan diri untuk menebarkan irisan bawanh putih ke muka ibu yang sekilas mirip kuntilanak.
“Lari May! Itu kuntilanak betulan!”
Maya bukannya lari malah mengamati kaki ibu itu apakah menginjak tanah atau bukan.
Tiba-tiba dari balik rimbunnya pepohonan muncul kru film sambil memegang tongkat lampu dan kamera.
“Yun…Istirahatnya sudah belum? Yuk kita mulai take untuk scene berikutnya,”ucap seorang kru film.
Sang kuntilanak jadi-jadian tertawa ke arah Maya dan Ryan yang sempat tertipu oleh penampilannya.
__ADS_1
“Tuh kan apa kataku? Ternyata cuma syuting horor tengah malam,”ujar gadis itu sambil menggelengkan kepala.
Keduanya pun tertawa di dalam mobil menyaksikan kekonyolan malam itu.