Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 61: Menunggu Hasil Lomba


__ADS_3

Suasana kelas sangat sepi ketika Maya melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Tak satupun siswa masih tertinggal di sana. Pak Thomas mengantarkan siswanya ke dalam kelas. Hanya ada sang wali kelas,Pak Tarno sedang mengisi laporan dalam sebuah buku besar dan panjang. Beliau langsung berdiri dan memberi hormat ketika sang kepala sekolah masuk kelas.


“Piye hasilnya,Pak?”sapa Pak Tarno dalam bahasa Jawa yang medok.


Dua guru itu sama-sama merupakan guru yayasan yang berasal dari sebuah kota pelajar di Pulau Jawa, tak ayal lagi keakraban dalam bahasa daerah sering kembali terjalin di sela-sela kesibukan kerja.


“Durung,Pak. Engko sore hasile.”


Pak Tarno pun mengangguk-angguk sambil tersenyum dengan ramah,”Njih.”


Pak Thomas pun berlalu meninggalkan kelas.


Gadis itu meletakkan tas dan laptopnya di atas meja, lalu berjalan mendekati sang wali kelas.


“Pak, sebaiknya saya ikut menyusul pelajaran olahraga atau absen saja ya?”


“Kurang berapa menit lagi ?”


Maya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, “Masih tiga puluh menit lagi,Pak.”


“Kamu udah dapat ijin seluruh mata pelajaran hari ini,May. Harusnya langsung pulang ke rumah setelah lomba,”sahutnya sambil terkekeh.


Maya pun ikut tertawa, ia merasa dirinya terlalu rajin, demikian pula Yusuf yang lebih memilih kembali ke sekolah daripada pulang ke rumah.


“Kalau begitu, saya ijin ke kantin boleh,Pak? Biar bisa langsung ikut rapat OSIS sepulang sekolah ,”imbuh gadis itu.


“Oh silakan…Mau traktir bapak juga boleh kok,”candanya sambil tertawa.


“Ah bapak ada-ada aja,”sahut gadis sambil tertawa dan meninggalkan sang wali kelas sendirian.


Maya melangkahkan kakinya di kantin yang masih tampak sepi karena semua siswa masih mengikuti pelajaran. Ia memesan semangkuk bakso dan es teh manis yang dinikmatinya di meja paling ujung menghadap lapangan basket. Gadis itu menyelonjorkan kakinya di bawah meja dan makan dengan santai menikmati tiap potongan bakso lezat yang sudah jadi langganannya. Tak terasa habis sudahlah satu mangkun bakso di hadapannya.


“Mbak..Tambah dong 1 mangkuk lagi. Tanpa mie!”


“Blek..”


Sebuah tepukan lirih mendarat di pundak kanannya, Maya menoleh dalam keadaan hidung memerah dan mata sedikit berair karena kepedesan.


Bola matanya yang bulat mengamati sosok Affandra yang kini berdiri di depannya. Maya membalasnya dengan senyuman, “Oh …Kirain siapa. Tumben makan di kantin.”

__ADS_1


“Aku biasa makan di sini kok. Cuma jarang ketemu kamu,”sahut Affandra sambil mengambil posisi duduk di depan Maya.


Maya langsung menekuk kedua kakinya agar cowok itu bisa duduk dengan santai.


“Boleh kan aku duduk di sini?”tanyanya sambil celingukan.


Maya mengangguk sambil menerima pesanan semangkuk bakso dari seorang pelayan.


“Kamu mau makan apa,Ndra?”


“Aku udah pesan. Bakso juga. Kita samaan,”sahutnya sambil tertawa.


Tak lama kemudian mereka asyik menikmati bakso kuah, makanan paling favorit di sekolah itu.


“Bener nih gak ada yang cemburu aku duduk di sini?”


Maya menggeleng lemah sambil meneruskan makannya. Gadis itu mengangkat sedikit dagunya sambil menebarkan pandangan ke arah lapangan basket.


“Gak takut kalau Ryan tau?”


Gadis itu menggelengkan kepalanya sekali lagi, bola matanya yang bulat berbinar cerah, bibirnya yang mungil mengembangkan senyum, memamerkan lesung pipitnya di kedua pipinya yang putih. Nun jauh di sana, di atas hamparan rumput nan hijau, Ryan masih asyik menggiring bola, melakukan slam dunk lalu memasukkan bola basket ke dalam keranjang dengan sempurna. Tubuhnya yang tinggi atletis, kaos olahraganya yang basah oleh keringat semakin menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna dihiasi otot-otot lengan yang indah,membuat hati gadis itu terpana.


“May…Kau dengar itu?”


Affandra melongokkan kepala mengikuti arah tatapan mata gadis itu barusan, dilihatnya dari kejauhan Ryan sedang bermain bola basket.


“Pantas aja Maya salah tingkah. Si cowok keren paripurna!”batinnya.


Ada sedikit rasa jealous ketika para cewek memusatkan perhatiannya pada Ryan, si anak baru yang sekaligus berhasil menyingkirkannya sebagai kapten basket sekolah. Dulu, Affandra begitu digandrungi di sekolah ini, semua siswi berusaha menarik perhatian Affandra, termasuk si gadis paling popular di sekolah ini,Alisha. Hingga suatu ketika siswa baru yang super ganteng dan sempurna secara fisik hadir tanpa disangka, dan pesonanya laksana magnet yang menarik perhatian semua kaum hawa. Si cowok macho hitam manis pun harus rela menyingkir dan berkonsentrasi hanya sebagai ketua OSIS.


“Hanya ketua OSIS? Oh no….Itu adalah sebuah tanggung jawab besar! Aku harus bangga menjabatnya meski tergeser sebagai kapten basket sekolah,”gumam Affandra sambil meneguk minumannya.


“Yuk kita balik ke kelas dulu,Ndra!”


“Kamu duluan aja,May.”


“Oh baiklah. Sampai jumpa saat rapat OSIS,Ndra!”


Affandra melambaikan tangannya sambil menikmati menit-menit tersisa sebelum bel akhir pelajaran berbunyi nyaring.

__ADS_1


“Hal yang paling ia sesali adalah Alisha memutuskan cintanya demi Ryan. Konyol banget gadis itu padahal si ganteng paripurna lebih memilih Maya, gadis sederhana anak mantan guru yang telah lama meninggal,”batin Affandra berkecamuk.


Kedua gadis itu sama-sama cantik dalam versinya masing-masing. Alisha sangat cantik secara fisik dan tampak modern, pergaulannya luas, gadis itu sangat ceria dan hidup bergelimang kemewahan. Sedangkan Maya,gadis cantik yang polos, apa adanya, penuh semangat hidup,peduli terhadap sesama, sabar, senang membantu dan tabah meskipun sering dibully sebagai gadis pincang. Kakinya nampak sempurna, namun cara jalannya sedikit berbeda.Namun hal itu tak menyurutkan tekad Ryan, cowok baru yang super keren dan ganteng untuk mencintainya, bahkan sangat bucin dengan gadis itu.


“Ya..Maya memang memiliki kecantikan batiniah yang tiada dua tandingannya,”gumam Affandra sambil beranjak pergi dari kantin.


Ketika Affandra meninggalkan kantin dan mampir sebentar ke toilet anak laki-laki. Tak lama kemudian rombongan anak laki-laki masuk secara bergerombol untuk berganti pakaian. Suasana langsung penuh aroma keringat. Dilihatnya Ryan melepas kaos olahraganya dan mencuci mukanya di bawah air keras wastafel sehingga pahatan wajahnya yang sempurna nampak dipenuhi titik-titik air yang menambah sensual wajahnya.


“Okelah. Aku akui kalah jauh dari Ryan. Dia begitu ganteng dan ada sesuatu dalam dirinya yang tersembunyi bagaikan magnet atau susuk pemikat,”pikir Affandra sambil menggigit bibir bawahnya sambil terus berpikir.


Affandra melangkahkan kakinya menuju pintu keluar toilet laki-laki, tangan kekarnya mulai mendorong pintu itu.


“Sreek…”


Dan sebuah tangan kekar mencekal pundaknya, “Ndra…”


Affandra menoleh ke asal suara, dilihatnya si pemilik wajah terganteng menyapanya.


“Tumben,”pikir Affandra.


Cowok manis itu berusaha bersikap wajar dan tersenyum.


“Hai Ryan…Apa kabar?”


“Baik…Gimana hasil lombanya tadi?”tanyanya sambil menenteng sebuah tas serut berisi pakaian olahraga bekas pakai.


Ryan berusaha mengimbangi langkahnya dengan langkah Affandra yang telah lebih dulu berada di depannya. Kini mereka berjalan berdampingan dan mengobrol.


“Satu jam lagi mungkin,”sahut Affandra sambil menoleh ke kiri,menatap wajah Ryan sambil tersenyum


“Oh…”


Hanya sebuah jawaban untuk sebuah pertanyaan penting, tapi cukup menyiratkan bahwa Ryan sangat peduli dengan kegiatan Maya hari itu.


“Namanya bucin,”kata Affandra dalam hati.


Ia pun pernah mengalaminya dengan Alisha dulu.


“Aku doakan semoga Maya bisa menang ya!”kata Affandra ketika mereka telah sampai di pintu kelas.

__ADS_1


“Aku ada rapat OSIS sehabis sekolah. Maya juga sama,”timpal Affandra lagi.


Ryan hanya menganggukkan kepala, ia kehilangan waktu lagi untuk bertemu gadis itu.


__ADS_2