Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 126: Kembali ke Kos


__ADS_3

Dua hari di rumah sakit, kondisi Maya secara fisik nampak membaik, luka di keningnya mulai mengering, perban telah diganti dengan plester ukuran besar. Semua teman-teman di kos menyambutnya, termasuk sang ibu kos yang duduk di kursi roda. Wulan datang dan memeluk sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.


“Kamu baik-baik aja,May?”tanya Wulan sambil merengguh pinggang gadis itu dan mengajaknya duduk di ruang tamu.


Ryan mengambil posisi agak dekat dengan mereka, dan menegakkan punggungnya menatap sang kekasih.


“Jaga diri baik-baik,May. Kalau ada perlu, telpon aku,”pesan Ryan.


“Oh ya…Bantu Maya dalam tugas kuliahnya. Dia insomnia ringan,”ucap Ryan pada Wulan.


Gadis itu terbelalak tak percaya dengan ucapan Ryan, kedua tangannya bergerak mengamati sekujur tubuh Maya yang nampaknya tak terluka.


“Hanya luka di pelipis kanan. Bagaimana diagnose dokter bisa mengatakan itu amnesia?”tanyanya keheranan.


“Kamu tanyakan pada Maya. Tapi jangan menekan.”


Maya hanya menatap dengan wajah polosnya ,seolah tak ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya.


“Aku percaya kok. Maya pasti pulih. Dia anak cerdas pasti dapat mengikuti semua materi kuliahnya.”


Maya membuka mulutnya,”Aku tak ingat kejadian yang lampau. Aku lupa semua. Tapi aku masih bisa menghitung,membaca.”


“Itulah tugas kita semua. Kamu kan mahasiswa kedokteran. Mungkin bisa minta bantuan dosen kalian di kampus.”


“Aku pulang dulu,May. Mau antar papa ke showroom. Akhir pekan aku datang lagi,”kata Ryan sambil berjalan ke kamar ibu kos untuk berpamitan.


Sejak itu,Maya bagaikan seorang gadis yang lahir baru, hari-harinya diwarna dengan belajar lagi sesuatu yang sebenarnya pernah ia lakukan dan belajar mengingatnya satu-persatu. Wulan merelakan dirinya cuti dari pekerjaannya selama seminggu penuh agar dapat mendampingi sahabatnya, di kos maupun di kampus mereka selalu bersama. Saling bercanda dan tertawa mengenang kejadian yang telah mereka lalui bersama di saat OSPEK dan awal perkenalan mereka.


“Keuanganmu gimana kalau gak kerja,Lan?”


Wulan hanya menyungging senyuman, lalu mengelus punggung Maya dengan lembut.


“Aku masih punya sedikit tabungan. Aku lebih cemas kalau terjadi sesuatu sama kamu,May.”


Kedua bola mata Maya berkaca-kaca, dipeluknya sahabatnya sambil menahan tangis. Wulan benar-benar mengasihinya, ia seakan menemukan saudara kandung di kos ini. Direngkuhnya jari jemari milik Wulan dengan lembut, lalu Maya berkata,”Berjanjilah,Lan. Kita harus berjanji, harus bisa lulus dari kampus ini. Jangan katakana kesulitan keuangan atau kesulitan belajar.Kita harus kuat.”


Mereka pun berpelukan sambil menangis.


Hari pertama di kampus…

__ADS_1


Maya seakan melihat sesuatu yang serba baru, karena ingatan lamanya benar-benar terhapus.


Dosen killer berdiri di depan sambil menjelaskan materi kuliah yang baru, Maya mendengarkan baik-baik. Dan ia masih dapat menangkapnya dengan mudah. Lalu ia menanyakan materi kuliah yang lama,Maya benar-benar telah melupakannya, bahkan sama sekali tidak ingat. Wulan seakan dapat membaca jalan pikirannya. Ditepuknya bahu gadis itu sambil berbisik,”Buka saja website kampus, kamu log in pakai username dan password yang biasa kamu pakai. Download satu persatu dan baca kembali.”


Maya hanya mengangguk, ia bersyukur telah menuliskan username dan password miliknya di meja belajar dan di laptopnya.


“Huft…Syukurlah aku tidak mendapat giliran untuk ditanya-tanya,”kata Maya sambil menghela napas panjang.


Malam itu, Maya kembali mengunduh semua mata kuliah yang telah diperolehnya dan membacanya kembali berulang-ulang. Suasana malam yang sepi, dan kampung belakang yang nampaknya sedang hajatan dengan memutar lagu dangdut seharian penuh, membuat mata gadis itu sulit dipejamkan. Maya membuka pintu kamarnya dan mengetuk pintu kamar Wulan.


“Tok…Tok…Tok…”


Lama tiada jawaban, gadis itu mengulangi ketukannya.


“Ceklek…”


Bunyi anak kunci dibuka, Wulan menyalakan saklar lampu dan membuka pintu.


Gadis manis berambut pendek itu menjulurkan lehernya dengan mata menyipit kesilauan.


“Ada apa,May?”tanyanya dengan suara pelan.


“Aku susah tidur. Ada hajatan di kampung belakang,”sahut Maya sambil mendekap bantalnya di depan dada.


“Terima kasih,Lan. Biar aku tidur di bawah pakai kasur gulung,”sahut Maya sambil mengambil kasur gulung warna merah milik Wulan yang terletak di sudut kamar.


“Eit…Jangan! Aku aja yang tidur di bawah. Kamuk an sedang recover,”cegah Wulan sambil merebut kasur gulung itu dari tangan Maya.


“Aku aja!”


“Aku aja!”


Akhirnya mereka berebut untuk tidur di bawah.


“Sama aja kalau semuanya tidur di bawah,tak akan muat,”celetuk Maya sambil terkekeh.


“Yaudah deh.Aku tidur di atas. Kamu di bawah tapi harus pakai selimut,”kata Wulan yang mengalah.


Pagi harinya , mereka bangun berbarengan saat alarm jam beker di kamar Wulan berbunyi nyaring.

__ADS_1


Maya sontak membuka matanya lebar-lebar dan melipat kembali selimut milik Wulan, menggulung kembali kasur gulung dan mengembalikannya ke sudut kamar.


“Makasih,Lan, udah menampung aku semalaman,”kata Maya sambil memeluk sahabatnya.


Di kamar Maya, suasana telah kembali tenang, ia menyibak korden jendelanya yang menghadap ke perumahan di belakang. Sisa-sisa kardus makanan masih berserakan, entah siapa yang jadi pengantin semalam. Gadis itu buru-buru menyiapkan tas kuliahnya dan menjerang havermut sebagai bekal sarapannya. Lalu membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Dalam hitungan lima belas menit, Maya telah tampil rapi dan siap pergi ke kampus, wajahnya yang cantik tampak polos tanpa polesan. Hanya bedak bayi yang melekat di wajahnya sebagai pelapis wajah agar tidak berkeringat.


“May….Halo…Udah siap belum?”seru Wulan dari balik pintu.


Rupanya Wulan tak kalah gesitnya dalam mempersiapkan diri pergi ke kampus.


Maya buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Wulan masuk ke kamarnya.


“Udah sarapan belum?”tanya Maya sambil menyodorkan sebungkus roti yang dibawakan Ryan dua hari lalu.


“Makasih,May. Kebetulan aku belum sarapan,”sahut Wulan sambil buru-buru membuka plastik pembungkus dan memakannya.


“Udah… pelan-pelan aja. Nanti kau tersedak. Ambil sendiri minumannya,”seru Maya sambil menunjuk ke sebuah meja yang di atasnya berjejer dengan rapi botol-botol air mineral ukuran kecil.


“Makasih,May.”


Lima menit saja bagi Wulan untuk menyantap sepotong roti hingga habis. Kini keduanya bersiap menuruni anak tangga kos. Suasana di bawah masih sepi, beberapa anak masuk kuliah siang hari. Hanya mahasiswa kedokteran yang rutin kuliah dari pukul 7 pagi hingga 4 sore.


Di teras depan tampak Ibu Laksmi, sang pemilik kos tengah berjemur dengan sang art yang menjaganya di belakang.


“Selamat pagi,Bu…Kami pamit kuliah dulu,”pamit keduanya hampir berbarengan.


“Hati-hati,”sahut ibu kos singkat.


Keduanya berjalan menyusuri jalan kecil yang menghubungkan kos dengan kampusnya yang berjarak tak lebih dari sepuluh meter. Hanya beberapa sepeda motor para ojek yang mulai berseliweran di pagi itu. Beberapa warung dekat rumah kos baru membuka pintunya, dan nampaknya dagangan mereka belum siap.


“Nanti kita makan di kantin Lan,”ajak Maya.


“Tapi…Uangku terbatas. Beberapa hari nggak kerja,”sahut Wulan dengan wajah sedih.


“Biar aku yang bayar. Harga makanan di kantin kan gak seberapa,”kata Maya sambil merangkul sahabatnya.


Menjelang pintu masuk kampus, Maya bertabrakan dengan Boy, cowok seangkatan yang memujanya.

__ADS_1


“Kalau jalan pakai mata dong!”teriak Wulan tak terima.


“Maaf. Aku buru-buru,”kata Boy sambil berjongkok,membantu mengambilkan map milik Maya yang terjatuh.


__ADS_2