
Boy merasa cemas dengan pingsannya gadis itu di pangkuannya. Cowok itu menyeka keringat yang mulai menetes satu persatu di keningnya dengan tisu. Sudut matanya ditebarkan ke seluruh ruangan, sebagian besar pengunjung sudah pulang. Di ujung ruangan seorang pelayan berseragam menatapnya dari kejauhan, Boy segera melambaikan tangannya sebagai kode memanggil.
“Ada yang bisa dibantu Kak?” tanya pelayan wanits itu dengan tergopoh-gopoh.
“Bantu carikan minyak angin untuk teman saya,”pinta Boy dengan wajah cemas.
Pelayan itu mengangguk dan permisi ke belakang menemui manajernya. Tak lama kemudian seorang laki-laki berusia sekitar 35 tahunan datang menghampiri. Kulitnya kecoklatan dengan sorot mata tajam, perawakannya sedang dibalut kemeja lengan panjang warna putih dan celana panjang kain warna hitam, sebuah dasi warna hitam bergaris merah nampak menghiasi bagian dadanya. Dengan sopan laki-laki itu memberikan minyak angin dan meminta pelayan wanita membantu mengusapkan di hidung gadis itu hingga kembali sadar.
Maya membuka matanya dan memandang orang-orang di sekeliling yang memperhatikannya.
“Aku pingsan?”tanya Maya pada Boy yang memangkunya.
Cowok itu mengangguk pelan, Maya berusaha bangkit dan duduk di samping Boy.
“Terima kasih buat kalian semuanya,”kata Maya sambil mengangguk memberi hormat.
Kini di meja itu hanya ada Maya dan Boy yang menatapnya dengan sorot mata yang teduh. Maya menghela napas panjang lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas, dialihkannya pandangannya menatap Boy dalam-dalam.
“Aku minta maaf udah nyusahin kamu. Tapi aku bener-bener gak bisa kontrol keadaan,”keluh gadis itu sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Iya..Aku paham kok. Sekarang udah kuat belum? Yuk pulang!”
“Ayo..Gak enak juga lama-lama di restoran,”sahut Maya sambil beranjak bangun dari tempat duduknya.
Boy tahu benar dirinya cuma dijadikan pelampiasan gadis itu. Namun ia sangat bahagia hari ini bisa duduk bersanding dengan Maya meskipun hanya beberapa jam.
Sepanjang perjalanan di mobil, Maya duduk terdiam dan beberapa kali menyeka air matanya. Boy memberikan kotak tisu yang tergantung di bagian atap mobil, dan menatapnya dengan perasaan prihatin. Mobil dijalankan dengan kecepatan sedang, melintasi jalan raya yang mulai dipadati orang-orang yang pulang kerja. Mobil dan sepeda motor mulai berjalan merayap, sebentar lagi pasti akan terjadi kemacetan. Langit di ufuk barat berwarna jingga kemerahan, menandakan mentari telah pulang ke peraduannya.
“Sudahlah,May. Jangan kau menangis terus nanti malah jatuh sakit,lho. Optimis aja kekasihmu pasti sembuh,”hibur Boy sambil mengerem mobil.
“Kamu bisa rasain gak sih sedihnya dimana?Aku tuh gak bisa ke sana karena, pertama soal praktikum yang gak bisa absen, kedua karena urus visa itu lama,”papar gadis itu panjang lebar.
Ditatapnya Maya yang kini tampak sembab, hidungnya pun memerah, tangisnya masih terisak-isak.
“Andai kekasihnya mati. Kelak aku yang akan menggantikannya,”batin Boy.
Bayangan jahat Boy mulai merasuki pikirannya, rasa cintanya mengalahkan rasa kemanusiaannya.
“Tapi ah..Aku gak boleh begitu. Itu dosa,Boy!”hati kecilnya berteriak dari dalam.
__ADS_1
“Dokter di sana canggih-canggih,May. Percayalah dia pasti sembuh,”hibur Boy sekali lagi sambil memutar kemudinya ke arah kiri.
Kini mobil membelok ke arah kampus, kos Maya berada di belakang kampus. Maya menyeka air matanya dan bersiap-siap meletakkan tali tasnya di bahu kanannya dan mengembalikan sisa tisu ke tempatnya.
“Terima kasih,Boy. Kamu udah menghibur aku seharian,”kata gadis itu sambil membuka pintu mobil.
“Sama-sama. Janji dulu,May. Jangan nangis lagi,”pesan Boy dengan wajah serius.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala dengan senyum yang dipaksakan.
Rumah kos tampak lengang, ibu kos masih istirahat di kamarnya. Belakangan kondisinya memburuk karena penyakit darah tingginya kumat. Sesekali sang art menjenguknya ke kamar sambil membawakan makanan. Maya buru-buru naik ke lantai dua dan membuka pintu kamarnya yang terletak di lorong paling ujung menghadap ke perkampungan penduduk.
”Kreek…”
Pintu kamar dibuka, Maya menyalakan ac kamarnya. Suasana selalu hening karena Wulan pasti berangkat kerja di sebuah mall sebagai customer service. Tampaknya gadis itu tak juga jera atas peristiwa kecelakaan yang pernah dialaminya beberapa waktu yang lalu. Tekanan ekonomi dan impiannya meraih cita-cita memaksakan dirinya harus bekerja sambilan sepulang kuliah.
Selesai membersihkan diri di kamar mandi, duduk di meja belajar sambil mengenggam ponselnya. Niatnya sudah bulat untuk menghubungi Om Robert yang kini masih menemani Ryan di sebuah rumah sakit di New York.
“Di sini jam 8 malam. Di sana pasti jam 8 pagi,’”batinnya.
Ditekannya nomor kontak milik papa Ryan dengan hati berdebar-debar, lututnya terasa lemas membayangkan bagaimana nanti kondisi Ryan yang akan dilihatnya melalui monitor ponselnya.
“Tut…Tut..Tut…”
“Koma adalah suatu keadaan tidak sadar yang diakibatkan karena seseorang mengalami cedera di bagian kepala,”Maya membacanya dengan pelan-pelan.
Om Robert pernah mengatakan kalau para dokter di Amerika sangat piawai karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sana sangat maju. Alat-alat kedokterannya pun sangat canggih.
Maya menarik napas panjang dan cukup lega, ia yakin suatu saat Ryan pasti sembuh dengan pengobatan yang ditunjang fisioterapi, psikoterapi dan terapi okupasi.
fisioterapi, psikoterapi, dan terapi okupasi.
“Driing…Driing…”
Sebuah deringan telpon melalui ponselnya membuat gadis itu menghentikan jari jemarinya untuk menggerakkan mouse, diraihnya ponsel dan dilihatnya nomor milik Om Robert menghubunginya.
“Halo om. Selamat pagi,”sapa Maya pada calon mertuanya.
“Malam,May. Kamu barusan telpon?”
__ADS_1
“Iya…Maya pengen liat kondisi Ryan. Apakah boleh?”tanya gadis itu dengan dada yang naik turun lebih cepat.
Rasa takut dan cemasnya membuat detak jantungnya berdebar lebih cepat, Maya telah mempersiapkan diri untuk melihat dan menerima Ryan dalam kondisi terburuk sekalipun,
“Sebentar,May. Ini om lagi berjalan ke ruang ICU,”sahut Om Robert dengan suara pelan.
Maya mengamati setiap ruangan yang dilalui papa Ryan melalui layar ponselnya. Dinding-dinding bercat putih, kepala bertopi putih dan para tenaga medis laki-laki yang mengenakan jas praktikum panjang berwarna putih.
“Ini Ryan. Kondisinya masih sama. Tapi liat detak jantungnya masih bagus dan berfungsi normal. Dia makan melalui selang infus,”papar Om Robert panjang lebar sambil menunjukkan beberapa alat pelengkap yang ada di sekitar tempat tidur cowok itu.
Maya mengamati tubuh Ryan yang mengenakan pakaian rumah sakit berwarna biru dan dilapis dengan selimut putih rumah sakit. Kepalanya penuh perban, kedua kakinya pun diperban. Di hidung dan tangan kanannya tertancap jarum infus.
“Aduh…Ryan, malang benar nasibmu,”tangis Maya dalam hati.
Rasanya detik itu juga Maya ingin terbang ke NY menemui kekasihnya, dan itu hanya pengandaian. Kini dirinya hanya bisa mengamati sang kekasih yang tergolek dalam tidur panjangnya.
“Lalu apa kata dokter di sana,Om?”
“Kita berdoa saja,May. Dokter pasti melakukan yang terbaik.”
“Om..Coba taruh ponselnya di telinga Ryan. Aku pengen ngomong sama dia,”pinta Maya sambil menahan isak tangis.
Om Robert hanya memandang dengan wajah sendu dan menuruti keinginan calon menantunya. Ponsel milik Om Robert kini didekatkan di telinga kiri Ryan.
“Ryan…Please bangun! Ini aku, Maya. Ingat tujuh bulan lagi kita harus menikah.”
Ryan tetap mengatupkan kedua pelupuk matanya, tak ada tanggapan sama sekali, gadis itu merasakan dadanya makin sesak menahan tangis. Om Robert pun menarik ponselnya dari telinga Ryan, namun Maya mencegahnya.
“Please,Om. Taruh lagi ponselnya di dekat telinga Ryan,”pinta Maya dengan penuh harap.
Lagi-lagi Om Robert menuruti saja kehendak calon menantunya karena menganggap itulah yang terbaik untuk putra tunggalnya yang kini sekarat.
“Ryan…Ini aku,Maya. Kamu masih ingat janji kita. Aku sangat mencintai kamu,Ryan. Kamu harus bangun. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Kita harus selalu bersama,”kata gadis itu terbata-bata.
Bola mata milik Maya mulai memerah dan berair, gadis itu menangis diam-diam tanpa suara.
Om Robert menunggunya sekitar sepuluh menit sambil berdiri dan mendekatkan layar ponsel di depan wajah putra kesayangannya, dengan harapan Ryan akan membuka matanya dan dapat melihat wajah kekasihnya. Namun kedua mata Ryan tetap terkatup rapat, jari jemari Ryan kini dapat bergerak, Om Robert berteriak kegirangan dan membuat seorang perawat wanita masuk ke ruangan itu.
“It’s going better,”seru perawat itu yang disambut dengan senyum kegembiraan di wajah Om Robert.
__ADS_1
“Ryan mulai menggerakkan tangannya,May. Terima kasih. Besok kamu video call lagi,” pesan laki-laki paruh baya itu sambil tersenyum.
Maya menganggukkan kepala dengan pelan, matanya berair dan ia kembali menangis. Namun bukan lagi tangis kesedihan melainkan air mata bahagia.