
Hari itu merupakan hari pertama bagi Maya untuk pergi ke kampus. Rambutnya diikat tiga dengan pita warna hijau dan tali sepatu juga hijau, tubuhnya dibalut seragam warna putih-putih. Halaman kampus nampak sangat ramai dipenuhi oleh mahasiswa baru dari berbagai fakultas dan jurusan. Para mentor bertebaran di seluruh lapangan dengan mengenakan jaket almamater sesuai fakultas masing-masing dan dilengkapi dengan nametag yang tertera nama almamater. Dengan mengenakan topi putih yang dibentuk seperti caping petani dan tali yang diikat, gadis itu berbaur dengan teman-teman dari fakultas yang sama, jumlahnya seratus mahasiswa lebih. Maya belum sempat berkenalan dengan mereka satu persatu. Ada tiga mentor dalam grup mereka, seorang kakak tingkat perempuan dan dua orang kakak tingkat laki-laki. Ada seorang di antara mereka yang nampak sangat tegas dan galak dengan sorot mata yang tajam. Seorang cowok kakak tingkat yang berkacamata tebal dan berdada bidang, sorot matanya menatap tajam ke arah para adik kelasnya, dinaungi sepasang alis yang tebal, kulitnya yang coklat gelap nampak kontras dengan kaos oblong putih yang ia kenakan di balik jaket almamaternya.
Cowok galak itu berjalan di sekitar barisan dalam kelompok Maya, dan memperkenalkan diri sebagai Andika. Sorot matanya tajam meneliti gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Maya tampak salah tingkah, dilihatnya seluruh pakaian yang dikenakannya.
“Kayaknya gak ada yang salah deh dengan penampilanku. Tapi Kak Dika ngeliatin terus?”pikir Maya dengan raut wajah keheranan.
Gadis itu ingin menanyakan sesuatu tapi niat itu kembali diurungkannya, karena Kak Dika adalah type orang yang pemarah. Maya berjalan terburu-buru hingga menabrak seseorang dari arah berlawanan.
“Bruuk…”
Keduanya terjatuh di atas rumput, gadis itu mengaduh sambil memegangi lututnya,sedangkan cowok itu meringis memegangi sikunya yang terantuk batu.
“Maaf ya…Aku gak sengaja,”kata Maya sambil bangkit berdiri.
“Iya…Aku juga minta maaf. Kenalin namaku Boy. Aku mahasiswa baru di FKU.”
“Aku Maya. Kita di jurusan yang sama.”
“Hai….Jangan sok lebay! Cepat kalian masuk ke barisan!”teriak Kak Dika dari kejauhan sambil melotot.
Maya buru-buru membersihkan belakang roknya dari sisa-sisa rumput liar yang menempel.
“Kak Dika itu memang sangar. Hati-hati sama dia, kakakku seangkatan sama dia,”bisik Boy sambil pura-pura tak melihat Maya, tatapannya lurus ke depan.
“Jadi kakakmu semester berapa sekarang?”
“Kak Nita sekarang masuk semester V,”sahut Boy sambil berlari masuk ke dalam barisannya.
Kak Dita memperhatikan Maya dengan tatapan yang sadis, gadis itu berjalan dengan menunduk karena ketakutan, pipinya yang putih kini semburat kemerahan karena tersengat terik matahari berjam-jam lamanya.
Maya masuk ke dalam barisan, gadis itu duduk bersimpuh di atas rumpu mengikuti rekan-rekannya yang lain. Angkatannya dibagi menjadi tiga kelompok yang saat ini dipimpin oleh seorang mentor perempuan.
“Adik-adik…Perkenalakan nama kakak, Rara Rinduwati. Panggil saja Kak Rara. Sekarang kalian coba nyanyi satu persatu ya .. Sebelum kalian mendapatkan tanda tangan kakak.”
“Aduh…Mana suara aku jelek kayak kaleng digebuk,”gumam Maya sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Giliran pertama, seorang mahasiswi baru berkacamata yang menyanyikan sebuah lagu batak dengan suara cukup merdu. Giliran kedua seorang mahasiswa bertubuh tambun yang menyanyi dengan banyak cemoohan rekan-rekan lainnya karena syair lagunya tidak hapal. Gadis itu kebingungan harus menyanyikan lagu dengan judul apa, ia jarang mendengarkan lagu-lagu popular, hanya lagu wajib dan lagu daerah yang ia hapal.
“Nah…Sekarang, giliran cewek di tengah, yang rambutnya dikuncir tiga dan pipinya merah seperti tomat.”
Semua mahasiswa baru saling berpandangan, Maya melihat telunjuk Kak Rara dan mengikuti arah telunjuknya, yang sepertinya mengarah pada dirinya, jantungnya makin berdebar tak karuan,keringat dinginnya mulai menetes.
“Sa..Saya kak?”
“Ya…betul! Kamu maju sini,”perintah Kak Rara dengan ramah.
Maya berdiri di samping sang mentor yang hitam manis dengan rambut dipotong cepak layaknya seorang polisi wanita.
“Maaf,Kak. Bolehkah saya menyanyikan lagu daerah?”
“Oh boleh aja. Asal yang agak panjang.”
Maya kebingungan dan terpaksa memilih sebuah lagu daerah yang ia hapal.
”Anging mammiri kupasang….Pitujui tontonganna ….”
Tiba-tiba dari arah lain muncul kakak tingkat yang seharusnya bukan wewenang dia masuk ke grup ini.
Cowok itu kembali ke grupnya di barisan sebelah.
Kak Rara yang mendapat kritikan terpaksa memerintahkan Maya untuk mengulang lagunya dengan lagu yang sedang trending dan berjoget.
Gadis itu hampir menangis karena sama sekali tak mengetahui lagu yang sedang di papan atas saat ini. Buru-buru diingatnya sebuah lagu dari penyanyi remaja yang sedang trend , lagu itu dinyanyikannya tanpa peduli apapun anggapan teman lain mengenai suaranya.
“Uh…Kenapa dah Kak Dika seakan benci banget sama aku. Kenal pun tidak,”gerutu Maya sambil berjoget sekedarnya.
Gadis itu menghela napas panjang ketika syair lagu itu habis didendangkannya.
“Prok..prok..prok..”
Terdengar tepuk tangan dari teman-teman yang duduk berkeliling, Maya melihat ke arah mereka, gadis itu keheranan suaranya yang jelek mendapat sambutan meriah. Kak Rara tersenyum ke arahnya dan tersenyum, lalu memberikan tanda tangannya.
__ADS_1
“Selamat ya! Kamu berhasil bukan karena suaranya yang bagus tapi kamu berhasil menghayati lagu itu.”
“Oh…”
Hanya sebuah kalimat pendek yang keluar dari mulut gadis itu. Tampak dari kejauhan Kak Dika tertawa sinis sambil memegang dagunya.
“Kayaknya tuh orang bakal jadiin aku musuh bebuyutan deh. Mungkin ada dendam masa lalu antara nenek moyang dia dengan leluhur aku,”batin Maya dengan mata sayu.
Gadis itu kembali duduk dalam lingkaran di grupnya, dan seseorang mencoleknya dari belakang, namun lagi-lagi Maya takut untuk menoleh,Kak Rara pasti marah dan memberikan hukuman.
“Iya..Ada apa?”tanya Maya lirih tanpa menengok ke belakang.
“Aku Wulan. Suara kamu bagus kok. Nanti kita kuliah sama-sama. Aku kos di sebelah kamar kamu kok.”
“Huft…Kirain ada masalah lagi. Syukurlah,”gumam gadis itu dalam hati.
“Iya..iya…”sahutnya tanpa menoleh.
“Nah.. Sesi terakhir untuk hari ini, sebelum kalian makan. Ada briefing singkat mengenai apa saja yang harus kalian bawa untuk esok pagi, bersama Kak Edo!”seru Kak Rara dengan lantang.
“Hai..Perkenalkan aku Kak Edo,mahasiswa semester 3 yang akan mengadakan uji nyali kalian sebagai calon dokter dengan mencium katak yang kakak bawa. Setelah itu kalian boleh makan bekal kalian masing-masing dan kakak beri tanda tangan,”kata Kak Edo, seorang cowok berkulit putih, berkacamata dan terkesan sedikit feminin.
Para mahasiswa baru mendapat giliran satu persatu dan mereka dipanggil sesuatu abjad. Maya sedikit tenang karena terbiasa berhadapan dengan katak yang sering masuk ke halaman rumahnya di kala musim hujan tiba.
“Kini giliran Maya..”
“Deg..”
Dengan jari jemari sedikit bergetar diambilnya seekor katak yang ukurannya lumayan besar dari dalam kaleng bekaas cat, kakinya tampak besar dengan kuku yang menyerupai cakar panjang.
“Aduh…gedenya minta ampun. Takut dia kencing..Kencing katak bisa membuat kebutaan,”batin Maya sambil memejamkan mata.
“Cup…” diciumnya katak itu sambil terpejam.
Maya hanya pasrah bagian tubuh mana dari katak itu yang ia cium sesuai instruksi.
__ADS_1
“Nah..Itu tepat di mulut sang pangeran kodok!”seru Kak Edo sambil tertawa riang.
“Hah? Mulut katak? Hoekss…rasanya pengen muntah,”gumam Maya sambil menahan diri untuk tidak muntah.