Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 129: Di Ruang BP


__ADS_3

Pagi itu, Aya terbangun lebih pagi karena kedua lututnya semakin nyeri. Hari masih sangat gelap dan dingin. Aya membuka matanya dan melirik ke jam dinding yang terpaku di atas pintu.


“Jam tiga pagi,”gumamnya sambil melepaskan selimut yang menutupi kedua kakinya.


Matanya yang bulat bersinar, mengamati luka di kedua lututnya yang kini mulai bernanah.


Ia berjalan ke arah kotak P3K dalam kamarnya, menyiramkan NaCl ke atas lukanya dan membubuhkan serbuk Nebacetin. Maya meringis menahan sakit, hari ini kakinya sama sekali tidak bisa ditekuk.


Pak Hasan, bagian BP memanggil Saskia ketika gadis itu sedang berjalan menuju kantin. Gadis berambut pendek itu mengenakan kaos warna hitam dipadukan rok panjang warna krem, di samping kiri dan kanannya berjalan para sahabatnya yang setia karena sering mendapatkan traktiran.


“Saskia…Tunggu!”seru Pak Hasan.


Gadis berambut pendek itu menoleh, alisnya dikrenyitkan, kemudian memandang wajah teman-temannya. Mereka saling berpandangan dan mengangkat bahu. Saskia maju tiga langkah mendekati Pak Hasan, seorang psikolog yang dipekerjakan untuk membantu menangani masalah yang terjadi di pada mahasiswa di fakultas.


“Ada apa memanggil saya,Pak?”


“Ini panggilan untuk kamu. Kalau masalah belum beres juga, kami akan memanggil orang tuamu.”


Saskia menerima amplop panjang berwarna putih dan membukanya, mulutnya cemberut ketika membaca isi surat panggilan itu.


“Apa-apaan,Pak? Fitnah kalau saya dituduh mendorong Maya. Gak ada bukti!”serunya marah.


“Temannya jadi saksi dan ada bukti atas luka-lukanya,”ucap Pak Hasan sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


“Alaah bapak… Ini kan kasus kecil, seperti anak kecil saja dipermasalahkan,”sahut Saskia nyolot.


“Kalau kamu tidak patuh ke ruangan saya, besok saya panggil orang tuamu dengan paksa!”seru Pak Hasan sambil membalikkan tubuh,kembali ke ruang BP.


Saskia berdiri dan menunjukkan wajah bengis penuh dendam, rahangnya gemeretak menahan amarah, kedua tangannya dikepalkan sehingga surat panggilan ikut teremas menjadi bentuk bola kusut.


Gadis itu memalingkan wajah dengan kasar dan berteriak ke arah para sahabatnya,”Kalian ke kantin aja. Aku ada panggilan ke ruang BP.”


“Memangnya ada apa,Sas?”tanya Ira sambil berpandangan dengan dua teman lainnya.


“Kalian tak perlu tau!”


“Mungkin masalah kemarin di kantin rektorat,”bisik Reni pada dua rekan lainnya.

__ADS_1


Ketiga gadis itu berjalan ke arah kantin fakultas yang ramai seperti biasanya, dan mereka berkeliling untuk mencari meja yang kosong.


Di ruang BP…


Maya duduk menghadap Pak Hasan, di sebelah kirinya nampak Wulan yang mengenakan rok terusan panjang warna krem dengan ikat pinggang hitam. Sementara itu Maya duduk dengan manis, tubuhnya dibalut kemeja lengan pendek warna jingga yang dipadukan dengan rok bawah warna hitam, sepatunya flat shoes warna jingga yang mempermanis penampilannya hari itu. Sudah merupakan aturan dari fakultas bahwa setiap mahasiswi diwajibkan mengikuti kuliah dengan mengenakan rok bukan celana panjang, sedangkan para mahasiswa dilarang berambut gondrong ataupun mengenakan celana jeans ketat selama mengikuti perkuliahan.


Saskia yang masuk paling belakang, muncul dengan wajah cemberut, penampilannya tampak songong. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi sehingga timbul suara berdecit karena kursi itu bergeser sedikit dari tempatnya.


“Selamat pagi Saskia,”ucap Pak Hasan yang mulai lebih dulu menyapa mahasiswinya yang songong dan pemarah.


“Pagi,”sahut Saskia dengan ketus.


Dosen BP itu berdehem dan menarik napas panjang sebelum memulai pembicaraan. Seakan tahu, petugas BP yang duduk dekat pintu, mulai meninggalkan ruangan .


“Jadi begini…Kalian ini sudah dewasa dan calon profesional. Kelak diharapkan sebagai dokter yang membantu untuk sesama. Jadi bukan saling mencelakai seperti kejadian kemarin. Kamu paham Saskia?”tanya Pak Hasan yang menatap gadis itu sambil membetulkan letak kacamatanya.


“Paham,Pak. Tapi ini masalah kecil yang seharusnya tidak perlu diperpanjang,”sahut Saskia tak mau kalah.”


“Enak aja kecil. Tuh liat lutut Maya bernanah semua!”seru Wulan ikutan marah.


‘Udah..Udah…”kata Pak Hasan berusaha menengahi.


“Memang bapak tidak tahu siapa bapak saya?”


“Bapak tidak peduli siapapun orang tua kalian! Semua tanpa terkecuali harus taat aturan kampus!” seru Pak Hasan dengan wajah memerah menahan marah.


“Aku minta maaf!”seru Saskia sambil mengulurkan tangan kanannya.


Wajah gadis itu tampak tidak tulus, seakan masih menyimpan dendam untuk mencelakakan Maya kembali. Sehingga Wulan tampak sewot dan menarik tangan Maya ketika gadis itu hendak menyambut uluran tangan Saskia.


“Ada syaratnya sebelum Maya maafin kamu. Janji dulu dan tobat jangan punya niat jahat lagi!”seru Wulan seakan memberi ultimatum.


Saskia tersenyum nyinyir, ia memalingkan mukanya ke arah halaman depan, lalu kembali menjabat tangan Maya.


“Iya aku minta maaf. Gak bikin perkara lagi.”


Keduanya saling berjabat tangan, Pak Hasan menyunggingkan senyum penuh kegembiraan.

__ADS_1


“Nah begitu dong…Sekarang kalian kembali ke kelas.Jangan cari keributan lagi ya!”


“Baik,Pak. Terima kasih,”ucap mereka berbarengan.


Keluar dari ruang BP, Wulan buru-buru menggamit tangan Maya menuju kelas sedangkan Saskia berjalan di belakang mereka dengan wajah cemberut. Karakternya yang keras,dan mau menang sendiri membuatnya masih menyimpan dendam. Ia turun menuju halaman berumput, dengan kesal disepaknya kerikil kecil yang banyak bertebaran di sana.


Boy lewat di depan gadis itu bersama seorang temannya.


“Kena kasus nih yee…”ledeknya sambil tertawa.


“Iiih…”seru Saskia sambil melotot.


“Masih untung lho. Aku gak ikut melapor. Bisa-bisa kau dikeluarkan dari kampus!”seru Boy sambil berlalu dari hadapan Saskia.


Saskia makin geram dan mengepalkan tinjunya kea rah Boy. Beberapa mahasiswa yang melihat kejadian itu saling berbisik dan tersenyum.


“Apa kalian liat-liat?”teriak Saskia dengan marah mengomel ke arah mereka yang menertawakan dirinya.


“Enggak….Kita kan menertawakan itu..”sahutnya hampir berbarengan sambil menunjuk ke suatu arah.


Saskia tak mempedulikan itu dan bergegas ke kantin menemui tiga sahabatnya.


Sesampai di kantin, tiga sahabatnya telah menghabiskan tiga mangkok bakso. Sementara itu Saskia hanya mampu menelan salivanya, waktu tinggal 5 menit dan tak mungkin ia bisa memesan makanan dan memakannya secepat itu.


“Mbak, aku beli teh botol yang dingin satu,”serunya pada kasir.


Gadis itu masih saja marah, namun minuman dingin itu sangat bermanfaat meredam rasa lapar dan marahnya, meski hanya berkurang 0,1 %.


“Sudahlah jangan dipikirin terus,Sas! Cowok ganteng itu banyak. Nanti kami bantu carikan di mall,”ucap Reni sambil terkekeh yang disambut gelak tawa dua teman lainnya.


“Gila juga kalian! Masa cari cowok di mall,”protes Saskia sambil tertawa.


“Nah gitu dong. Kan cantik kalau tertawa,”ledek Echa sambil cengengesan.


Saskia hanya terdiam, lalu berjalan dengan gagah layaknya seorang tentara menuju kelas untuk mengikuti perkuliahan berikutnya.


Di kelas…

__ADS_1


Alangkah malangnya nasib Saskia, Boy sang pujaan hati masih saja mendekati Maya tanpa sepengetahuan gadis itu. Saskia yang duduk di kursi deretan paling belakang di aula nampak memperhatikan gerak-gerik Boy. Hatinya makin panas, otaknya penuh dengan rencana baru untuk melampiaskan kekesalannya.


__ADS_2