Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 128: Pembully Datang Lagi


__ADS_3

Boy masuk sangat tepat waktu, satu detik sebelum si dosen killer masuk. Di kampus terdapat beberapa dosen yang sangat tegas dan galak, tidak hanya satu tapi dua atau bahkan lebih. Akibatnya semua mahasiswa berusaha untuk selalu hadir tepat waktu, dan mengerjakan semua tugas tanpa terlambat, serta mendengarkan setiap ceramah mereka dengan mata terbuka dan indra pendengaran tajam-tajam.


Di tempat lain, Saskia tertawa kegirangan menyaksikan sang pujaan hati terkalahkan olehnya. Jalannya sedikit sempoyongan akibat tulang punggungnya kesakitan dan bibirnya merah seakan bengkak akibat kuah panas dan saus sambal. Ketiga sahabat Saskia tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan.


“Kalian semua diam ya! Yang berisik Ibu keluarkan dari kelas!”ancam Bu Stevani dengan sangar.


“Kenapa dah matkul Biomedik Dasar, dosennya macam harimau kelaparan begitu?”umpat Boy dalam hati.


Setiap hari-hari dimana Bu Stevani mengajar semua kelas pasti akan tertib mendengarkan, meskipun semuanya dilakukan di bawah tekanan. Dalam kondisi kebelet dan ingin ke belakang pun, tiada kompensasi, semua mahasiswa harus menunggu hingga pelajaran usai.


Saat hari menjelang sore, ada sebuah mata kuliah umum yang mengharuskan seluruh kelas berkumpul menjadi satu di aula. Aula kampus memuat lebih banyak kursi untuk para mahasiswa. Saskia dan semua sahabatnya dengan sengaja duduk di belakang Maya dan berbisik-bisik, niatnya tak lain dari mem-bully gadis itu. Terlebih dosen mata kuliah umum seringkali hadir terlambat dengan alasan kemacetan di jalan raya atau hari-harinya yang sibuk luar biasa.


“Ada mantan pincang rupanya di kampus kita,”seru Saskia yang diiringi gelak tawa 3 sahabatnya.


Maya hanya terdiam karena ia lupa akan ingatan masa lalunya, kini ia hanya terganggu oleh suara gaduh di belakangnya.


“Lagi-lagi mereka. Kurang waras atau pengen sohor sih?”bisik Wulan dengan raut muka kesal.


Dosen masuk, situasi kembali hening dan tertib.


Boy yang tubuhnya remuk redam akibat dibanting di atas tanah, merasakan kekuatannya melemah di siang bolong yang panas terik. Terlebih aula tanpa pendingin udara dan jumlah mahasiswa yang banyak, membuat dirinya semakin kegerahan. Cowok itu membuka kancing bagian atas kemejanya dan merobek sepotong kertas yang kemudian dilipatnya. Tangannya dengan sigap mengipas-ngipas bagian dada, agar udara segar masuk melalui celah kemejanya. Sementara tangan kanannya bertopang dagu sambil mendengarkan ceramah dosen.


Di deretan kursi bagian depan, mahasiswa mendengarkan kuliah lebih tertib, beberapa mahasiswa aktif bertanya. Maya yang belum pulih ingatan masa lalunya, lupa akan modul lamanya, namun dengan sabar Wulan mengingatkannya satu-satu dan memberikan catatannya sehingga gadis itu dapat mengikuti apa yang disampaikan oleh dosen.


Di pelataran parkir…


Maya dan Wulan jalan beriringan, seperti biasanya mereka pulang dengan berjalan kaki karena jarak kampus ke kos hanya hitungan sepuluh langkah. Sementara itu Saskia nampaknya masih menyimpan dendam. Ia yang selalu mendapat dukungan dari para sahabatnya ingin memperolok dan mencelakai Maya. Tujuannya tak lain agar gadis itu benar-benar dilupakan Boy. Makin terpuruk dan menderita, kalau bisa menjadi seorang gadis yang benar-benar buruk rupa di mata Boy.


“Bruuk…”


Maya terjatuh akibat ditubruk Saskia and the gang dari arah belakang. Gadis itu menyangga tubuhnya dengan kedua telapak tangannya, sementara kedua lututnya lecet terantuk batu kerikil di pelataran parkir.

__ADS_1


“Kamu lagi! Keterlaluan kalian! Memang salah Maya apaan?”seru Wulan sambil menolong sahabatnya.


Saskia dan para sahabatnya tertawa tergelak sambil bersorak-sorai.


“Awas kuadukan kasus ini pada bagian BP!”ancam Wulan sambil berkacak pinggang.


“Lakukan kalau berani! Ayahku seorang militer,”teriak Saskia dari kejauhan sambil membuka pintu mobil.


Maya berdiri sambil meringis menahan sakit, kedua lututnya berdarah, Wulan buru-buru menariknya ke ruang BP.


“Jangan! Gak perlu lakukan itu,”cegah Maya.


“Bodoh kamu! Kalau gak begini,kamu bakal jadi bahan bully-an terus menerus. Mau?”


Maya duduk di bangku besar yang terbuat dari semen, lalu mengamati luka di lututnya.


“Ayo kita ke BP. Sekalian minta alkohol dan obat merah.”


Maya hanya mengangguk sambil berjalan dengan menyeret kakinya.


Suasana tampak sepi, jarang sekali mahasiswa memiliki kasus karena di usia mereka yang sudah beranjak dewasa, biasanya memiliki emosi yang lebih stabil. Seorang petugas sedang asyik menulis, seorang wanita berusia 40 tahun dengan rambut pendek dan berkacamata, tubuhnya agak gemuk yang dibalut blazer warna hitam dan kemeja putih.


“Sore,Bu. Bisa bertemu dengan dosen BP?”


Wanita itu mendongak dan mengangkat dagunya, lalu melirik ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya.


“Beliau sudah pulang. Pak Hasan baru saja meninggalkan tempat. Silakan diisi dulu formular pengaduannya. Nanti saya sampaiakan ke beliau esok pagi.”


“Terima kasih,Bu.”


Wulan mengambil secarik kertas yang disebut formular pengaduan dan membawanya ke meja seberang dimana Maya duduk di atas kursi sambil meringis menahan sakit.

__ADS_1


Wulan melirik ke sebuah nametag yang tersemat di dada wanita itu, “Lia.”


Artinya petugas administrasi itu memiliki nama Lia.


Wulan berpaling dan bertanya,”Bu..Bolehkah saya minta kotak P3K?Teman saya terluka.”


“Ambil saja sendiri. Kotaknya di atas meja sebelah sana.”


Di ruangan BP terdiri dari empat buah meja, Bu Lia menempati meja yang paling depan dekat dengan pintu masuk. Dengan sigap Wulan meletakkan formular dan menindihnya dengan sebuah pulpen warna hitam,lalu beranjak mengambil kotak P3K dan memberikan pada Maya.


“Oh ya..Foto dulu lukamu,May. Sebagai bukti penganiayaan mereka,”saran Wulan.


Lalu gadis itu mengambil beberapa kali jepretan sebagai dokumentasi.


“Nah sekarang, pakai dulu alkoholnya,May.”


Maya membuka botol alkohol dan meneteskannya di atas sepotong kapas steril, lalu membersihkan lukanya. Kemudian membubuhkan obat merah dan menutupnya dengan plester.


Maya bernapas lega, lukanya tidak sampai infeksi dan mengeluarkan nanah, namun sangat menganggu aktivitasnya karena masih sangat sakit bila dipakai berjalan.


Maya mengisi formulir itu satu persatu.


“Kamu gak usah takut dengan ancaman Saskia,May.”


Maya mengangguk pelan, ingatannya belum pulih benar, namun masalah lain datang menghantam. Bu Lia datang mendekat setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, ternyata dia seorang wanita yang sangat bersahabat. Kepada beliau, mereka mengadukan masalahnya secara langsung, Bu Lia mendengarkan baik-baik dan paham. Kemudian Bu Lia memberikan nomot kontak pribadinya agar Maya dapat mengirimkan bukti luka-lukanya.


“Saya akan membantu kalian. Semua akan saya laporkan kepada Pak Hasan,”ucapnya dengan ramah.


“Kami permisi dulu kalau begitu. Terima kasih bantuannya Bu,”pamit Maya sambil menggandeng tangan sahabatnya.


Wulan pun mengangguk untuk memberi hormat.

__ADS_1


Malam harinya, Maya terbaring di tempat tidurnya yang berukuran 1,5 x 2 meter, sangat imut namun cukup untuk memulihkan semua otot tubuhnya yang lelah seharian beraktivitas. Jari jemarinya dengan lincah mengetikkan semua kisahnya hari itu pada sang kekasih. Dan Ryan yang masih membuka matanya di malam itu, langsung membalasnya dan memberikan serangkaian kalimat yang menghibur.


“Cobaan datang silih berganti. Kasian kau,May.Nampaknya aku harus turun tangan,”gumam Ryan sambil menarik selimut siap untuk tidur.


__ADS_2