Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 31: Pertandingan Basket Antar Sekolah


__ADS_3

Affandra kembali ke loker depan kelas untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di sana.Suara gemerincing anak kunci memecah kesunyian lorong loker. Sang ketua OSIS yang tampan itu mengambil sebuah buku catatannya yang tertinggal di sana lalu menguncinya kembali. Sayup-sayup terdengar sebuah suara ujung sapu yang bersentuhan dengan permukaan tanah, Affandra memasang pendengarannya baik-baik. Bola matanya mengamati setiap sudut ruangan,tak ada sesuatu yang mencurigakan. Semua loker pun dalam keadaan terkunci. Di atas lantai pun tak ada benda yang tergeletak atau sesuatu yang mencurigakan. Suasana sepi makin mencekam di sore ini. Affandra berusaha memasang telingan baik-baik.


“Sreek…Sreek…”


Affandra dengan sigap membalikkan badan ke arah datangnya suara, detak jantungnya seakan berhenti, sosok perempuan sangat cantik menyerupai mantan kekasihnya sedang berjalan ke arahnya tanpa ekspresi.


“Alisha…”teriak cowok itu.


Tenggorokannya tercekat dan napasnya seakan berhenti sejenak, tubuhnya sedikit gemetar saking takutnya.


Gadis itu tak menengok sedikitpun, menyapa pun tidak. Affandra menyingkir agar ia tak menubruk gadis itu yang berjalan lurus hampir menabraknya.


“Bruuk..”


Affandra bangkit dan tangan-tangannya yang kekar bertumpu pada lantai keramik ukuran besar yang terasa dingin dan berdebu. Dilihatnya Alisha berjalan tanpa menyentuh lantai, dia menengok tanpa senyum ke arahnya, dan sorot matanya merah.


“Bangun,Nak….Bangun!” sebuah tangan kekar menggoyang-goyangkan tubuh Affandra yang tergolek bagaikan orang pingsan di ruangan loker.


Affandra membuka matanya yang terasa lengket dan berat untuk dibuka. Lamat-lamat ia dapat menatap sebuah sinar dan pantulan sosok seorang berkumis dan mengenakan seragam satpam.

__ADS_1


“Oh maaf,Pak. Ini jam berapa?”


“Hampir jam lima sore,Nak. Saya mau tutup gerbang depan. Waktunya pulang ke rumah.”


Affandra bangkit berdiri dan menggendong tas ranselnya,”Maaf,Pak. Apa yang terjadi dengan saya?”


“Bapak kurang tau,Nak. Semua siswa dan guru sudah pulang. Mungkin kelaparan dan pingsan,”sahut satpam itu dengan wajah datar.


Affandra tak paham apa yang terjadi padanya dan berharap ia benar-benar pingsan karena kelaparan bukan karena melihat hantu yang mirip sosok Alisha.


Keesokan harinya, diadakan pertandingan sepak bola antar sekolah, yaitu antara SMA Prima Cendana dengan SMA Nasional yang terkenal sangat piawai dalam hal perbasketan. Maklumlah mereka baru saja usai melaksanakan ujian semesteran. Sambil menunggu guru-guru memberikan penilaian, diadakan classmeeting dan kali ini berdasarkan hasil keputusan rapat OSIS, diadakan pertandingan basket antar sekolah,suatu hal yang tak biasa namun menurut panitia hal ini adalah resolusi baru yang harus dicoba. Tahun ini SMA Prima Cendana sangat optimis untuk menang setelah berhasil mendapatkan sosok baru yang sangat lihai melakukan slum dunk yakni sang cowok idola,Ryan. Ada tujuh personil basket berikut cadangannya yang hari ini bertanding, mereka adalah Ryan sebagai pemain dan power forward karena tubuhnya paling tinggi, Dito sebagai center, Romi sebagai point guard, Rangga sebagai shooting guard, Braga sebagai small forward dan dua cadangan lainnya Michael dan Ari. Pertandingan di mulai di halaman sekolah yang luas dan dibuka oleh tim pemandu sorak dengan Alisha sebagai cheerleader.


Ratusan pasang mata tertuju pada Alisha dan kelima temannya yang akan melakukan atraksi sebagai penyemangat tim basket. Keenam cewak cantik dengan tubuh proporsional, semuanya dibalut seragam biru muda yang dipadukan dengan warna merah muda. Kedua tangan mereka mengenggam pom-pom cheerleader yang berwarna-warni.


Sekelompok anak laki-laki duduk di barisan belakang memberi semangat bagi para cheerleader untuk memberikan penampilan yang terbaik. Jari jemari lentik milik Maya sibuk mengetikkan laporan OSIS pada keyboard laptop milik Affandra yang ia bawa sambil menyaksikan pertandingan basket. Tubuh semampai milik Alisha tampak berdiri pada bagian atas pundak teman-teman yang menyangganya dari bawah. Gadis cantik itu melakukan gerakan salto dan jatuh tepat di tanah dengan posisi berdiri.


“Suiit….Suiit….”


Siulan nyaring diikuti sorak sorai memenuhi seisi lapangan. Affandra yang berdiri di ujung kanan menontonnya dengan takjub.

__ADS_1


“Sejak kapan Alisha berani melakukan gerakan salto?”batinnya.


Sang ketua OSIS tak ambil pusing dengan kemajuan aneh yang dialami mantan kekasihnya, baginya yang terpenting kali ini SMA Prima Cendana bisa mengalahkan SMA Nasional dalam pertandingan basket.


Tepuk tangan meriah mengakhiri atraksi cheerleader yang dilanjutkan pertandingan basket antar sekolah yang menegangkan. Para siswi duduk di barisan depan, ada juga beberapa siswi dari SMA Nasional yang hadir memberikan dukungan. Banyak siswi duduk sambil berbisik-bisik dan tertawa mendukung para pemain idolanya. Tubuh atletis milik Ryan dibalut pakaian olahraga dan peluh yang bercucuran menambah pesonanya sebagai cowok ganteng nan keren idola seluruh siswi SMA ini.


Wasit terdiri dari tiga orang dan salah satunya melempar bola ke tengah lapangan sebagai tanda dimulainya pertandingan. Para siswa menonton dengan jantung yang berdebar keras menanti-nanti SMA mana yang akan keluar sebagai juara tahun ini. Maya yang biasa berkepang du aini pun mengubah gaya rambutnya agar lebih nyaman dan tidak kegerahan. Wajahnya makin imut dengan rambut yang dikuncir satu. Pipinya memerah terkena terpaan sinar matahari yang bersinar sangat terik siang itu. Gadis itu sengaja mematikan laptopnya untuk lebih berkonsentrasi mengamati jalannya pertandingan. Ryan tampak paling mencolok di antara para pemain lainnya. Wajahnya yang tampan ditunjang oleh postur tubuhnya yang tinggi atletis dan kulit yang terang.


Alisha gadis paling popular di sekolah itu telah mengganti seragam cheerleadernya dengan kaos olahraga. Semua siswa diwajibkan mengenakan seragam olahraga selama classmeeting. Gadis itu mengambil posisi duduk tepat di ujung dimana dua sahabatnya telah menandai tempat duduk Alisha dengan buku. Affandra memperhatikan Alisha dari balik kerumunan manusia yang sangat berjubel. Alisha melirik ke suatu arah dimana ia tak menyadari keberadaan Affandra. Cowok itu kaget ketika melihat sorot mata Alisha yang menyala merah menatap Ryan yang sedang melakukan gerakan memasukkan bola. Digosoknya kedua belah mata Affandra dengan pelan untuk memastikan apa yang telah dilihatnya. Hari-hari belakangan ia makin dihantui pikirannya sendiri. Terlebih sejak Maya cerita saat mereka selesai rapat OSIS.


Affandra turut prihatin dan mengamati gerak gerik Alisha di sekolah. Gadis cantik paling popular di sekolah dan pernah menjadi mantan kekasihnya itu memang sangat egois, galak dan ketus, namun bukan cewek yang jahat apalagi berani melanggar hukum. Ia heran gadis cantik dan baik hati seperti Maya masih ada yang membencinya. Belasan tahun Affandra kenal gadis yang paling suka membaca di perpustakaan dan berkepang dua sejak SD. Tak ada kekurangan dalam diri gadis itu selain jalannya yang sedikit pincang akibat kecelakaan. Cowok itu tidak yakin kalau Maya memiliki musuh. Kecuali Alisha sakit hati karena cintanya ditolak Ryan, dan…


“Ah..gak mungkin juga kalau sampai Alisha bertindak kriminil,”gumamnya lagi sambil berusaha fokus menonton pertandingan basket.


“Hore…..Hore……”


Suara tepuk tangan meriah memenuhi lapangan, Affandra berusaha berjinjit untuk mengetahui apa yang terjadi.


Sang ketua OSIS mendekati halaman sekolah. Tubuh keren milik Ryan sedang ditandu teman-temannya. Affandra bernapas lega, bibirnya membentuk sebuah senyuman tulus. Kini penggantinya dapat mengalahkan SMA Nasional yang selama ini merupakan tim basket handal tak terkalahkan.

__ADS_1


“Selamat ya!”


Affandra menjabat tangan Ryan untuk mengucapkan selamat padanya.


__ADS_2