Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 57: Sweet 17th Alisha


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam,Maya telah siap dengan gaun hitamnya, rambutnya diurai dengan curly ala Korea yang dibantu sang mama, wajahnya dipoles tipis-tipis sehingga kecantikannya makin menonjol.


“May…Udah siap belum?”teriak mama dari lantai satu.


“Bentar,Ma….Tinggal milih sepatunya. Maya gak biasa pakai high heels.”


“Yaudah,May. Pakai flat shoes juga gak apa-apa kok. Ryan udah nungguin nih.”


“Deg…”


“Cowok itu udah siap di bawah? Oh my God!”seru Maya dalam hati sambil buru-buru keluar kamar dan menuruni anak tangga.


Kini ia telah siap untuk berangkat ke pesa ulang tahun Alisha yang ke-17 yang diadakan di sebuah hotel bintang lima.


Ryan memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan membuat gadis itu salah tingkah.


“Kok kamu mandangnya gitu sih?”tanya Maya sambil menggigit bibir bawahnya.


“Kamu cantik banget malam ini.”


“Ah masa sih? Gaun aku kali yang cantik.”


“Semuanya,May. Pokoknya kamu cantik banget.”


“Ini kadonya,Nak. Ketinggalan di kamar,”seru mama tiba-tiba.


“Oh…Terima kasih,Ma. Maya berangkat dulu. Daag mama!”


Mama pun melambaikan tangan ke arah mereka dan menunggu di depan pintu hingga mobil yang mereka tumpangi menghilang dari pandangan.


“Yakin nih kita ke pesta Alisha?”tanya Ryan sambil memegang kemudi dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


“Iyalah. Abis kan temen sekelas.”


“Barangkali masih sakit hati atas kelakuan dia tempo dulu. Kita bisa belok menuju mall.”


“Gaklah. Aku udah maafin itu meski kasusnya belum selesai.”


Mobil memasuki halaman hotel bintang 5 yang dituju, Ryan memutar mobilnya ke belakang ke dalam area parkir. Keluar dari mobil,Maya mengangkat sedikit gaun bawahnya agar tak terinjak sepatu. Ryan menggandeng tangannya memasuki lobi. Suasana hotel nampak megah dengan banyaknya lampu gantung dari kristal yang menyala dengan cahaya kekuningan, lantai marmernya mengkilat sangat mewah. Mereka menuju ballroom. Di pintu masuk ada empat wanita muda yangbertugas menerima tamu dan semua kado dari pengunjung.


“Tanda tangan di sini Kak,”pinta seorang wanita muda dengan seragam gaun warna pink sambil tersenyum ramah.


“Ini,Kak.”


Penerima tamu memberikan cinderamata berupa sebuah cd dengan ucapan terima kasih dari Alisha.


Di sana,sudah banyak teman yang hadir karena semua jurusan diundang Alisha yang memang terkenal popular. Ada kedua orang tua Alisha yang tampil dengan sangat elegant, sang papa dengan jas dan dasi kupu-kupu sementara sang mama dengan gaun malamnya yang berwarna merah marun. Ada kue ulang tahun bertingkat tujuh dengan konsep little mermaid,background-nya pun dibuat seperti layaknya kerajaan di bawah lautan lengkap dengan Dewa Zeus yang memegang tongkat trisula.


Ada dua orang pembawa acara, seorang laki-laki dan seorang lagi berperan sebagai waria. Berbagai atraksi ditampilkan dari lelucon jenaka, tebak-tebakan berhadiah hingga menyanyi. Kini tibalah acara potong kue. Alisha tampak cantik dengan warna biru yang menjuntai ekornya sepanjang dua meter. Ia menyuapkan kue pertama untuk mama dan papanya. Acara berlangsung secara meriah, semua tamu duduk di kursinya masing-masing sambil menikmati hidangan secara prasmanan.


Akhir acara adalah polonaise, Alisha telah mengganti pakaiannya dengan gaun pendek ala seorang ballerina yang berwarna hijau dengan manik berwarna-warni. Ia tampil sangat cantik dan siap berdansa di tengah teman-temannya. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada Ryan yang sedang berdiri dengan menggandeng tangan Maya. Alisha ijin ke toilet dan Affandra mengejarnya karena merasakan sesuatu yang ganjil akan terjadi pada mantan kekasihnya.


Affandra berdiri di depan toilet wanita, sudah hampir dua puluh menit gadis itu belum keluar juga.

__ADS_1


Alisha menumpahkan kekesalannya dengan berteriak sekuatnya di dalam toilet yang nampak sepi itu. Setelah puas, ia mencuci tangannya di kran air pada wastafel di depan toilet wanita.


“Alisha….Alisha…”


“Suara itu datang lagi,”pekik Alisha dalam hati sambil menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya.


Suara itu tak kunjung hilang, hampir gila Alisha dibuatnya.


“Please…Siapapun lu, jangan ganggu gue! Ini hari ulang tahun gue!”seru Alisha sambil menangis.


Gadis itu menatap cermin di depannya, dirinya nyaris pingsan ketika dilihatnya sosok dengan rambut mirip ratu Mesir dengan mahkota yang melingkar di kepalanya, tampak cantik dan pucat, dan dua gigi taringnya sangat panjang berlumuran darah.


“Siapa lo?”seru Alisha memberanikan diri.


Ia menengok ke kanan dan ke kiri takut kalau-kalau sosok itu tiba-tiba berdiri di hadapannya.


“Me? I’m Akasha. I don’t wanna vampire marrying human. You have to destroy the relationship between Ryan and her gf!”


Seketika itu juga roh Akasha kembali memasuki tubuh Alisha, matanya bersinar merah dan dia berjalan bagaikan robot kembali ke ballroom tempat diadakan pesta.


“Alisha…”seru Affandra yang diam-diam kuatir dengan gadis itu.


Cowok itu memegang pundak Alisha dengan kedua tangannya, ditatapnya mata gadis itu. Sontak Affandra kaget dan mundur tiga langkah.


“Apa yang terjadi sama lu?”teriak Affandra yang masih berdiri mematung dengan kaki gemetaran.


Alisha tak menjawab,menolehpun tidak, ia terus berjalan dengan tubuh kaku bagaikan mayat hidup. Affandra berlari mengejar Alisha tapi tak tahu ia harus bertindak bagaimana untuk menyadarkan gadis itu.


“Andaikan Alisha masih bersamaku. Aku pasti seperti mereka,”batin Affandra sambil berkhayal.


Cowok itu memberanikan diri mendekati keduanya.


“Maaf…Aku ganggu kalian sebentar.”


Affandra membisikkan sesuatu ke telinga Ryan, dan cowok itu langsung terpana mendengar ucapan Affandra.


“Ada apa?”tanya Maya setelah Affandra pergi meninggalkan mereka.


“Alisha sepertinya kerasukan. Matanya merah.”


“Hah? Lalu kita harus panggil kiai?”


“Entahlah kita liat aja nanti,May.”


Sandra dan Niken menghampiri Alisha dan mengajaknya melantai. Alisha hanya terdiam dengan bibir terkatup rapat,tatapan matanya kosong menatap lurus ke depan. Hingga musik mengalun merdu dan semua teman mulai menggoyangkan tubuh mereka gadis itu tetap terdiam.


“Yuk,May.”


“Gak ah. Aku gak biasa joget di depan umum,”sanggah Maya yang menolak halus.


“Ayolah,May. Temani aku sebentar aja,”rengek Ryan sambil menarik tangan Maya.


Keduanya kini berhadapan dengan Alisha yang menataap Ryan dengan sorot mata merah menyala.

__ADS_1


“Lis..Lu kenapa?”tanya Ryan setengah berteriak.


Teman-teman yang lain menghentikan gerakannya dan berkerumun di sekeliling Alisha.


“Ggrrrr….”


Alisha tiba-tiba mengeram layaknya suara raja hutan, Ryan mundur selangkah dan mengamatinya dalam-dalam.


“Alisha benar-benar kerasukan. Tapi giginya keluar taring panjang dan merah seperti darah,”gumam Ryan sambil mengucek-ucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya.


Ia baru teringat pesan sang papa adanya strigoi jaman dulu yaitu keturuna vampire yang mati dan bangkit mencari darah manusia.


“Tapi itu udah punah. Ada juga vampire legendaris Mesir si Akasha. Tapi entahlah apa benar ada?”batin Ryan dengan sejuta pikiran berkecamuk.


Alisha mendekatinya dan mengangkat kerah kemejanya hingga tubuhnya terangkat.


Seketika ballroom menjadi riuh rendah dan orang tua Alisha berlari-lari mendekati putri kesayangannya.


“Alisha! Apa-apaan kamu?Turunin! Mama bilang turunin!”perintah sang mama dengan wajah cemar


“Sadar,Lis. Ini pesta kamu. Jangan bikin malu!”seru sang papa dengan muka memerah menahan marah.


Ryan merasakan itu bukan Alisha lagi, tak mungkin gadis itu berubah menjadi sangat kuat.


Alisha lalu menurunkan Ryan dan dirinya jatuh terkapar kejang-kejang. Office boy diperintahkan untuk mencari alim ulama.


Tak lama kemudian,seorang berpakaian serba putih dengan sorban putih datang dan mendoakan gadis itu. Untunglah ada tamu hotel kaum ulama dari luar daerah yang akan mengadakan acara di ibukota.


“Ada apa ini,Pak?”tanya Ryan sambil berjongkok di sebelah kiai tadi.


Laki-laki dengan sorban putih memejamkan mata, lalu berkata dengan sangat lirih seperti orang berbisik.


“Dia kerasukan arwah penasaran. Sepertinya ada dendam pribadi dengan leluhur kamu. Bapak kurang tau pastinya,Nak.”


Alisha tersadar, ia menengok ke kanan dan ke kiri.


“Aku dimana,Ma?”


“Masih di ballroom,sayang…”sahut sang mama sambil memapah sang putri untuk berdiri.


Mama memeluk dan menciumi Alisha dengan penuh kasih sayang.


“Ayo lanjutkan pestanya,”seru papa memberi semangat.


Alisha masih tampak lemas dengan kejadian yang baru ia alami. Kepalanya sedikit pening dan pandangannya kabur. Lalu ia duduk ditemani sang mama yang memberinya segelas teh manis hangat.


“Terima kasih,Ma.”


Wanita cantik itu mengangguk dengan ramah dan membelai kepala putri kesayangannya.


Dalam diam, Alisha teringat sosok itu pula yang hadir ketika ia nekad memesan dua pembunuh bayaran untuk mencelakai Maya.


“Tapi aku harus merahasiakannya. Salah-salah malah aku yang celaka. Gak semudah itu orang lain akan percaya,”batin Alisha sambil berdiri dan melanjutkan acaranya.

__ADS_1


__ADS_2