Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 29 : Di Peternakan Sapi Perah


__ADS_3

Di hari Minggu yang cerah, Ryan mengemudikan mobilnya dengan santai, sesekali dilihatnya cermin di hadapannya untuk melihat wajah gantengnya dengan bangga. Tangannya yang kekar meraih ponsel yang terletak di jok sebelah kiri ketika terdengar dering telpon masuk.


“Ryan…Papa ada di peternakan ya! Kalau mampir ke rumah jangan lupa ambilkan papa kacamata,”suara papa dari seberang sana.


“Iya,Pa. Nanti aku telpon lagi,”sahut si cogan sambil menutup telpon dan melanjutkan menyetir mobilnya.


Usia papa tahun ini menginjak 45 tahun, tapi beliau seringkali melupakan kacamatanya. Minus matanya tak terlalu banyak, dua setengah pada mata kanannya dan minus dua pada mata kirinya. Bukannya papa takut dikatakan terlalu tua atau jelek ketika mengenakan alat bantu itu, tapi papa selalu mengeluh telinganya sakit ketika frame kacamata bertengger di telinganya. Sesungguhnya papa memiliki kemampuan untuk melihat sesuai dengan dimensi kedalaman yang lebih terperinci dan detail tanpa bantuan kacamata. Memang tujuan sang papa agar Ryan mengunjungi rumahnya yang jarang ia sambangi. Sebuah rumah berlantai marmer ukuran besar dengan puluhan art dan papa seorang diri di sana. Hari-hari hanya dihabiskannya dengan berolahraga di halaman belakang rumah. Ada banyak olahraga kesukaan papa mulai dari bermain basket, berenang, hingga golf semua bisa dilakukan di dalam rumah. Sesekali teman-teman papa datang berkunjung dan mereka mengobrol hingga larut malam.


Ryan menginjakkan kakinya di halaman rumah milik sang papa yang berada dekat dengan peternakan sapi perahnya. Seorang art muda berambut panjang dengan dibalut seragam merah muda kotak-kotak membukakan pintu.


“Oh Den Ryan. Selamat datang,”sambutnya dengan wajah berseri-seri.


“Mbak. Tolong ambilkan kacamata milik papa!”


Art itu kembali masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudiaa muncul lagi dengan menggenggam sebuah kotak warna hitam berisi kacamata milik majikannya yang masih tergeletak di atas meja ruang tengah.


“Makasih,Mbak. Jaga rumah baik-baik ya!”


“Sama-sama,Den. Hati-hati di jalan ya!” pesan art tadi sambil menutup pintu.


Terdengar suara gemerincing anak kunci ketika art itu menguncinya dari dalam.


Mobil mewah itu kini telah memasuki area peternakan sapi perah yang sangat luas di daerah Bogor. Seorang satpam bertubuh tinggi besar berjaga di pintu masuk dan mencatat setiap plat nomor mobil yang masuk serta mengecek kartu identitasnya. Ryan membuka kaca mobilnya,


“Selamat pagi,Pak. Papa ada?”


“Pagi. Oh…Den Ryan. Bapak ada di belakang sedang mengecek sapi-sapi. Belum lama kan ada sapi yang sakit juga.”

__ADS_1


“Baiklah,Pak. Terima kasih.”


Ryan pun menepikan mobilnya dan berhenti sejenak untuk menelpon keberadaan papanya. Peternakan sangatlah luas, sangat sulit mencari papa bila tidak berkomunikasi sebelumnya.


“Papa. Ryan di depan. Kita ketemuan dimana?”


“Okay.Nanti papa yang ke sana.”


Tak lama kemudian,sosok papanya yang tampan rupawan pun sudah berada di sisi mobil Ryan. Tubuhnya nyaris sama tinggi dengan Ryan, dengan pahatan wajah yang sama sempurnanya, hanya helaian rambut yang sudah dua warna yang membedakan mereka berdua, ada warna perak yang menghiasi mahkotanya. Keduanya berjalan beriringan masuk ke areal peternakan yang terdiri dari puluhan ribu sapi perah.


Dalam satu kandang berderet sapi jenis Holstein Friesian ,yang merupakan sapi khusus untuk diperah susunya. Sapi ini berwarna hitam putih dengan ukuran tubuh dan besar hampir sama ketika sapi ini dewasa. Menurut papa, sapi ini sangat jinak dan tenang serta sangat cocok beradaptasi dengan lingkungan tropis. Mereka diletakkan berderet dalam kandang secara berhadapan. Jalanan di sekitar kandang tampak basah karena puluhan pekerja sedang memandikan sapi-sapi itu dengan selang air. Cipratan airnya tampak membasahi jalan setapak yang dilalui mereka. Membuat papa menggulung ujung celana kainnya yang panjang agar tidak basah.


“Mereka mau diperah susunya.”kata papa membuka percakapan.


Ryan memperhatikan sapi-sapi itu, dengan tenang mereka dimandikan, guyuran air mengenai tubuh sapi itu. Semua kotoran yang menempel pada bulu sapi berjatuhan, keran air pun diarahkan ke bagian bawah tubuh sapi agar bagian susunya juga bersih sebelum diperah. Kebiasaan sapi adalah duduk di tanah, itulah yang menyebabkan bagian susunya sering tercemar dengan debu dan tanah. Setelah bersih kemudian karyawan memasang sebuah alat dengan empat katub penyedot berwarna merah muda dan memasangkannya tepat pada keempat putting susu sapi setelah mereka membuang perahan pertamanya agar cairan yang ditampung lebih bersih. Ada sebuah tabung besar berukuran 20 liter terbuat dari aluminium yang menampung cairan susu yang keluar dari tubuh tiap sapi perah.


Di lahan peternakan yang sangat luas terdapat beberapa tempat pemberhentian berupa bangku panjang beratap yang merupakan tempat karyawan berteduh bila hari hujan.


“Duduk sini Ryan,”kata sang papa sambil membetulkan letak ujung celana panjangnya.


“Begini,Pa. Banyak keanehan di sekolah Ryan. Maya yang tiba-tiba sering jadi sasaran kejahatan dari Alisha, masukin ke jurang,lempar botol. Dan Maya pernah liat matanya menyala merah di pagi hari saat baru turun dari mobil.”


Papa memasang tampang serius, kedua alis matanya dinaikkan dan satu tangannya memegang dagu sambil berpikir.


“Sorot mata merah menyala? Yakin bukan karena warna contact lens?”tanya papa keheranan.


Ryan menggelengkan kepala,ujung matanya menyapu ke seluruh areal tanah berumput yang luas di hadapannya. Hanya tampak dua tukang kebun sedang merapikan rumput dan di tengah-tengah tampak alat penyiram otomatis sedang berputar-putar membasahi rumput dengan cipratan airnya yang kecil namun merata.

__ADS_1


“Papa tau apa penyebabnya?”tanya cogan sambil memiringkan wajahnya memperhatikan papa yang sedang berpikir keras.


“Setau papa, dari leluhur kita di Rumania. Hanya ada jenis vampire pemakan darah manusia yang masih memiliki sorot mata merah menyala.”


“Hah? Maksudnya apa?”


“Kalau kita, sudah beradaptasi melalui perkawinan campur dengan manusia. Vampire hanya bisa mati bila dibunuh dengan sesama vampire.”


“Lalu keempat leluhur kita yang tempo hari ada dimana,Pa?”


“Mereka masih hidup tapi menempati tempat yang jauh.”


“Apakah Ryan akan begitu nantinya,Pak?”


Papa hanya mengangguk lemah, matanya menatap sang putra dengan penuh kasih, dibelainya kepala Ryan.


“Temanmu mungkin kerasukan roh vampire pemakan darah. Dahulu ada seorang vampire wanita yang sangat cantik berasal dari Mesir,Akasha yang selalu memusuhi setiap anak keturunan vlad III vampire yang sudah vegetarian.”


“Jadi?”


Papa mengangkat bahunya,”Ada banyak misteri dalam kehidupan. Tapi papa berjanji akan selalu membantumu,Nak.”


“Terima kasih,Pa. Oh ya bagaimana dengan inovasi produk baru papa yang selama ini riset pasarnya cuma Ryan?”


“Itu susu khusus untuk kita,Nak. Isinya darah sapi untuk kekuatan dan kehidupan abadi.”


“Tapi papa kan bisa membuatnya sebagai inovasi baru susu dengan rasa buah-buahan yang warnanya merah.”

__ADS_1


“Bisa juga. Nanti bagian R&D yang akan mengembangkan soal itu.Kapan-kapan kau boleh main ke pabrik,”sahut papa sambil menepuk pundak Ryan sambil tersenyum.


__ADS_2