Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 9 : Alisha Dilaporkan ke Polisi Oleh Ryan


__ADS_3

Ryan tampak sedang terlentang tak berdaya di sebuah sofa yang sangat besar, tubuhnya yang tinggi atletis tampak rebah dengan kedua lengan berada di atas kepala. Otot-otot lengannya yang indah tampak menyembul, otot perutnya yang six pack nampak nyata karena kaosnya tertarik ke atas. Garis-garis wajahnya sangat mempesona meskipun kini dirinya sedang sekarat, kedua gigi taringnya nampak memanjang. Dari luar langit nampak mulai gelap, pintu besar lantai dua rumahnya masih terbuka lebar. Bulan purnama membiaskan cahaya indah mempesona, waktunya bagi seluruh keturunan vampire di muka bumi untuk menambah tenaga dengan darah agar memulihkan kekuatannya.


“Driing…driing…”


Ryan meraih ponsel di dekatnya dengan jari jemari gemetaran,


“Halo papa..Ryan lemas butuh darah.”


“Papa sudah kirim darah segar. Sekarang art sedang menuju tempatmu,Nak.”


“Terima kasih,Pa. Kapan papa ke sini? Ryan kesepian.”


“Ada waktunya nanti. Belajarlah dengan baik.”


Tak lama kemudian datang dua orang art berseragam biru dan apron warna putih berenda serta mengenakan topi putih seperti biasanya. Mereka meletakkan sebuah botol besar berukuran satu liter tepat di depan mulut Ryan, seorang art lainnya duduk dan menyangga tubuh cowok itu agar bisa duduk di bahunya.


“Glek…glek…” cowok keren itu meminum darah sapi hingga habis tak bersisa.


Sisa tetesan darahnya membasahi bibirnya yang merah muda. Perlahan-lahan kekuatannya pulih seperti sedia kala dan kedua gigi taringnya pun kembali berukuran normal.


Kedua art itu kembali ke ruang kerjanya pamit dan menganggukkan kepala dan pergi tanpa suara.


Ryan merasakan tubuhnya makin kuat dari sebelumnya. Ia kembali ingat akan gadis pujaannya yang belum ditemukan. Kulit Ryan tak terlalu putih pucat seperti layaknya vampire karena ia merupakan keturunan vampire yang leluhurnya telah berasimilasi dengan manusia. Cowok keren paripurna itu mengingat-ingat nomor plat mobil yang diberikan tukang sate di pinggir jalan sambil turun ke halaman rumahnya yang sangat luas terbang di angkasa menembus awan-awan. Saat bulan purnama seluruh keturunan vampire dari vlad III memiliki kekuatan sempurna sehingga bisa terbang layaknya kelelawar. Ryan mengelilingi angkasa dan melesat ke atas rumah Maya kemudian berputar ke lokasi ia bertemu dengan si tukang sate, namun belum menemukan tanda-tanda dimana Maya berada. Akhirnya sampailah Ryan ke sebuah tebing yang di bawahnya terdapat pepohonan yang letaknya sekitar tiga meter ke bawah.


“Tempat apakah ini?”gumam Ryan pada dirinya sendiri.


Suatu tempat yang sangat gelap, dan nyaris tidak ada penghuni, cowok itu mengurungkan keinginannya ke bawah karena keluarga vampire alergi dengan bau cengkeh yang banyak tumbuh di hutan itu.


Keesokan paginya, Ryan menanyakan plat nomor B 7889 NYZ pada Doni, si gendut sahabatnya.


“Kira-kira nomor plat mobil siapa,Don?”


Doni menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal karena kebingungan, sejenak dia berpikir.


“Kan yang pakai mobil di sekolah ini sekitar 15 orang. Tapi yang suka ganti-ganti mobil Cuma tiga orang, Alisha, Ahmad anak IPS dan kamu!”


Doni menunjuk Ryan yang berkelit,”Ah…Aku cuma pakai dua mobil.”


“Nah.. Paling banyak mobil kan Alisha. Kamu ingat plat mobil dia?”


Doni menggelengkan kepala,”Yang pasti semua mobil dia warna putih.”

__ADS_1


“Putih?”


“Iya.”


“Aku baru inget kata si tukang sate dia ngeliat mobil putih kecil dan mobil hitam besar.”


“Tapi jangan sembarangan menuduh lho. Kayaknya gak mungkin sih kalau Alisha pelakunya.”


“Kenapa kau berpikir gak mungkin?”


“Alisha memang jahat. Tapi dia cewek. Mana kuat? Olahraga aja dia kurang tenaga.”


Doni kemudian tertawa dan menggandeng Ryan ke arah pos satpam. Ada seorang satpam bertubuh gempal sedang berjaga di sana.


“Selamat siang,Pak. Kira-kira bapak kenal dengan pemilik nomor plat mobil ini?”


Satpam itu membuka topinya dan mengenakannya kembali.


“Saya satpam baru di sini. Nanti coba saya tanyakan ke satpam kepala,”katanya sambil menelpon sebuah nomor telpon dan menelponnya.


Sambil meletakkan ponsel di telinga kirinya yang dijepit dengan pundak untuk menahan agar ponsel tidak jatuh, kedua tangannya membuka laci dan mencari sesuatu.


“Iya,Ndan. Sudah ketemu. Terima kasih.”


“Coba kalian cari di sini. Ada plat mobil para guru, karyawan sekolah, dan para siswa.”


Ryan menerima buku panjang dengan cover batik lalu membuka lembar demi lembar buku catatan itu.


“Gimana Ryan. Ketemu?”tanya Doni penuh harap.


Ryan menggelengkan kepala dengan wajah pasrah.


“Itu catatan lama. Nanti saya tanyakan ke rekan-rekan satpam yang lain. Barangkali ada update data terbaru.”


“Oh baiklah kalau begitu. Hubungi saya kalau ada perkembangan baru,”kata Ryan sambil menyodorkan kartu nama miliknya.


Hari demi hari berlalu hingga Ryan mulai merasa kewalahan belajar sendiri tanpa bantuan Maya. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke whatssup miliknya.


“Mas Ryan. Kata komandan itu plat nomor mobil baru milik siswi perempuan. Yang katanya rada bule. Komandan tidak hapal itu milik siapa.”


“Wah pasti Alisha. Dia satu-satunya siswi blasteran bule di sekolah,” pekik Ryan sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Ryan buru-buru mengeluarkan mobil dari garasi dan meluncur di jalan raya malam itu. Ada secercah harapan baginya dalam menemukan gadis pujaan hatinya.


Kantor polisi selalu membuka pintunya 24 jam. Cowok keren paripurna itu bergegas masuk ke ruang penyidikan dan melaporkan temuannya agar polisi mengecek kebenarannya mengenai mobil itu di rumah Alisha.


“Siap mas. Kami akan mengutus orang untuk penyelidikan ke sana.”


Ryan memberikan sebuah alamat yang dia peroleh dari Doni yang pernah menghadiri acara ulang tahun Alisha beberapa tahun yang lampau. Ryan kembali ke rumahnya karena penyidikan ke rumah Alisha adalah wewenang polisi.


Sementara itu di rumah Alisha, pintu rumah yang sudah tertutup rapat kembali dibuka karena satpam rumah mempersilakan dua orang polisi yang menunjukkan ID Card di pintu gerbang hendak menemui tuan rumah. Seorang art mempersilakan mereka masuk. Tak lama kemudian, tuan rumah yaitu papa dan mama Alisha menemui dua polisi itu dengan pakaian tidur. Mama bersembunyi di belakang tubuh papa karena kaget kedatangan tamu polisi.


“Selamat malam,Pak.”


“Selamat malam juga. Maaf ada apa malam-malam begini?”


“Saya hanya mau tanya apakah mobil putih dengan plat mobil B 7889 NYZ milik bapak?”


“Iya benar. Mercedes Benz E class saya yang baru.”


Seketika mama menjadi panik dan memanggil art.


“Mbak..Alisha sudah pulang?”


“Sudah,Nyah. Tidur di atas.”


Mama menghela napas panjang dan bersyukur, ia mengira putri kesayangannya kecelakaan lalu lintas keluar malam tanpa pamit.


“Bapak..Ibu.. Kedatangan kami kemari mau membawa putri ibu ke kantor polisi untuk diinterogasi.”


“Apa-apaan ini!” seketika papa berdiri dan marah hendak mengusir polisi namun mama menahannya.


“Dengarkan kami dulu Pak,”kata polisi yang lain.


“Dengan sangat terpaksa kami beritahukan bahwa putri kalian menjadi tertuduh atas penculikan salah seorang temannya yang bernama Maya. Anak ini hilang hampir seminggu. Masih hidup atau mati kami belum tau. Yang jelas ini perkara kriminal.”


“Pa…Papa bagaimana ini?”sang mama seketika menjadi shock dan lemas nyaris pingsan.


Dua art buru-buru datang dan memapah nyonya rumah untuk duduk di tengah ruangan dan memberinya minuman teh manis hangat.


Sementara itu Alisha terpaksa turun dengan pakaian piyamanya bergambar kartun warna merah muda dan putih. Rambutnya nampak acak-acakan karena belum bersisir. Raut mukanya menunjukkan kalau gadis itu sangat ketakutan.


“Bohong itu,Pa! Fitnah itu! Bukan Alisha yang melakukannya. Tolong Alisha,Pa.. Mama tolong Alisha!”teriak putri kesayangan keluarga itu.

__ADS_1


Papa tak berdaya melawan hukum. Alisha diborgol dan digiring kedua polisi yang membawanya dengan mobil mereka ke kantor polisi. Malam ini Alisha terpaksa tidur di kantor polisi untuk diinterogasi.


__ADS_2