
Memasuki pelataran polsek dengan gerbang coklat tua yang terbuka lebar, bagian belakang merupakan area untuk parkir mobil sementara itu bagian depan adalah area parkir sepeda motor. Keempat orang ini berjalan kaki dari pertokoan. Maya tampak cantik dengan mata yang bulat sempurna dan bulu mata yang lentik. Kehadirannya mengundang banyak polisi muda tertarik untuk memandangnya, beberapa di antaranya berbisik-bisik dan tersenyum. Pak tua dan Wati duduk di ruang tunggu sementara itu Mas Budi mengantarkan Maya memasuki ruangan penyidik dimana dua polisi sedang bertugas, seorang berada di depan laptop sedangkan seorang lagi bertugas menginterogasi.
“Selamat sore Pak,”sapa gadis cantik berkepang dua sambil tersenyum.
Mas Budi ikut duduk di kursi sebelah Maya, tepat menghadap dua polisi yang bertugas sore itu.
“Sore juga. Ada kasus apa ini?”
“Begini pak polisi. Jadi dua hari lalu bapak mertua saya,Pak Suminta yang sekarang ada di luar sana menemukan gadis ini jatuh di jurang. Sepertinya sengaja dibuang karena kondisinya diikat dan diplakban,”ujar Mas Budi membuka percakapan.
“Bentar. Mas Priyo tolong ketik laporannya,”pinta polisi bertubuh besar yang mengintrogasi kepada temannya yang duduk di depan laptop.
“Silakan dek. Ceritakan kronologinya. Kami buatkan BAP. Ada luka gak?”
“Nama saya Maya. Siswi SMA Prima Cendana Jakarta Selatan yang diculik orang malam hari tiga hari yang lalu.”
“Lho..Dari selatan dibuang di Bogor?”polisi itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Waktu itu saya mau mengantarkan laundry ke tempat langganan tapi di jalan ada yang menghadang lalu saya disekap. Setengah sadar karena bius saya dengar ada suara laki-laki dan perempuan,”lanjut Maya sambil terus berusaha mengingat peristiwa yang dialaminya.
“Jadi kira-kira jam berapa?”
“Jam 8 malam,Pak. Saya pakai sepeda waktu itu. Terus samar-samar saya dengar, seperti suara perempuan yang saya kenal di sekolah.”
“Siapa kira-kira?”
“Saya belum berani menuduh, tapi sepertinya dia…Alisha .”
“Lalu apakah anda sadar saat dibuang ke jurang?”
“Saya merasa lemas dan sangat mengantuk jadi sama sekali gak sadar dibuang. Tau-tau badan saya sakit semua dan tidak bisa bergerak karena diikat.”
“Lalu bagaimana cara anda bertemu dengan Pak Suminta?”
“Saya liat sekeliling gak ada manusia. Lalu saya diam sambil duduk di tanah sampai ada orang lewat lalu saya teriak-teriak.”
“Dan orang itu Pak Suminta?”
“Benar,Pak. Bisa bantu hubungi mama saya biar beliau gak cemas,Pak? Nomor dia 081785388999.”
“Baik nanti saya bantu. Tapi nanti saya antar adek ini visum di rumah sakit sebelah.”
“Perlu visum,Pak?”tanya Mas Budi sedikit kaget, wajahnya yang lugu tampak bengong.
“Pasti. Karena ini tergolong perkara pidana.”
Keempat orang itu keluar halaman polsek dan berpindah ke rumah sakit yang lokasinya tepat di sebelahnya. Polisi tadi bernama Pak Rohandi mengantarnya ke bagian UGD (Unit Gawat Darurat). Di sana pak polisi mendaftarkan Maya pada petugas bagian registrasi dan memberikan surat pengantar. Tak lama kemudian seorang perawat mengantarkan gadis itu ke ruangan periksa yang berderet dengan pembatas kain penyekat yang bisa digeser. Si cantik kepang dua merebahkan tubuhnya di ruang periksa sambil menunggu dokter jaga melakukan pemeriksaan vital berupa tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh. Tekanan darah gadis itu normal 120/90 dan suhu tubuhnya 37 derajat celcius artinya tidak ada demam karena infeksi. Kemudian dokter mencuci tangan dan memotret luka-luka di tubuh Maya dan menyuruh seorang perawat mencatat bukti Visum et Repertum atau disebut juga SPV. Dokter mempersilakan Pak Rohandi menyaksikan proses pemeriksaan sesuai prosedur penyidikan.
“Cekrek..”
Dokter jaga itu memotret luka pada kening Maya,”Regio di pelipis kiri terdapat luka lecet 5 centimeter,warna kemerahan.”
“Cekrek…”
__ADS_1
Dokter itu kembali mengamati bagian tangan kanan dan kiri yang terluka,”Ordinat,pada lengan kanan bawah di bawah lipatan siku terdapat luka lecet 7 centimeter warna ungu kebiruan.”
“Cekrek…”
“Luka di lengan kiri bagian depan, luka memar, 5 centimeter, warna ungu kebiruan.”
“Cekrek…”
“Luka di bagian lutut kanan, sepanjang 8 centimeter berupa luka lecet, warna kemerahan.”
“Cekrek…”
“Luka di bagian paha kiri, berupa luka memar, 10 centimeter,berupa luka memar,warna ungu kebiruan.”
Perawat menyerahkan hasil laporannya kepada polisi penyidik dan Maya ikut bertanda tangan di atasnya selain tanda tangan dokter dan polisi penyidik.
Kemudian polisi itu menelpon orang tua Maya,”Selamat sore,Bu. Saya dari kepolisian. Kami mengabarkan bahwa putri ibu ditemukan di Polsek Bogor Selatan.”
Mama Maya yang menerima telpon shock benar, namun rasa kagetnya berubah menjadi kegembiraan tiada tara. Perempuan paruh baya itu bersorak gembira di rumahnya yang sepi karena hanya ditempatinya sendirian sejak kepergian Maya,putri tunggalnya.
“Alhamdullilah.”
Perempuan itu berputar-putar saking bahagianya mendengar kabar bahwa putri kesayangannya ditemukan dalam kondisi masih hidup. Selama ini ia sudah pasrah seandainya Maya menjalani takdirnya yang mengenaskan diculik dan dibunuh. Tak sia-sia doa yang ia panjatkan tiap subuh tiba, Allah mendengar semua doanya.
Bergegas mama Maya membereskan tas kecilnya untuk menjemput sang putri ke Bogor. Sejenak ia terlupa karena belum memesan taksi online. Perempuan paruh baya itu menepuk jidatnya karena telah melupakan Ryan yang jauh-jauh hari berpesan untuk dikabari mengenai perkembangan kasus Maya,pujaan hatinya. Mamanya Maya mengambil ponsel dari dalam tasnya dan segera menelpon Ryan.
“Driing…driing…”
Tak kurang kagetnya ketika tiba-tiba pintu rumah diketuk dan dibukanya, sosok Ryan telah berdiri di hadapannya.
Anak laki-laki dengan postur tinggi atletis berkulit kuning langsat dalam balutan jeans biru dan t shirt warna kuning tampak cerah berpadu dengan pahatan wajah sempurna dari hidung bangir dan alis lebat. Pesona Ryan membuat perempuan paruh baya itu bersimpati dan sangat mengharapkannya menjadi anak menantu.
“Malam,Tan.”
Ryan memberikan senyuman termanis untuk mama Maya.
“Lho kok sudah sampai? Memang kamu tinggal dimana,Nak?”
Ryan yang tampan rupawan hanya memberikan senyuman mempesona yang paling misterius.
“Tante batalkan saja taksi online. Sekarang ikut saya ke Bogor Selatan.”
“Oh..Iya..iya,”sahut perempuan itu terbata-bata.
Wulan,mama Maya pemilik Mom’s Laundry duduk dengan keheranan sehingga terdiam sepanjang perjalanan di samping Ryan yang kini duduk di sampingnya.
“Tante sehatkah?”tanya cowok ganteng itu tiba-tiba.
“Alhamdullilah sehat. Nak Ryan sendiri bagaimana?”
“Sehat,Tan. Jangan kaget kalau kita sampai di sana sudah agak malam ya? Tante apakah sudah makan?”
“Sudah,Nak.”
__ADS_1
“Kalau belum saya antar tante makan malam dulu.”
“Makasih,Nak.”
Bu Wulan masih terbengong-bengong bagaimana mungkin dalam hitungan detik bujang ganteng yang ia telpon tak diangkat tapi beberapa detik kemudian telah berdiri di depan pintu. Namun luapan kegembiraannya telah menemukan kembali sang putri tercinta, membuat perempuan ini melupakan betapa misteriusnya kehadiran Ryan, cowok super sempurna secara lahiriah yang kini menjatuhkan pilihannya pada sang putri.
Ryan adalah manusia setengah vampire,baginya tak sulit untuk berlari ataupun mengemudikan mobil melebihi kecepatan cahaya sehingga sekilas lebih mirip terbang. Sesuatu yang sulit dinalar oleh pikiran normal manusia.
“Ciiit….”
Mobil yang dikemudikan Ryan direm secara mendadak karena mobil di depannya mengerem mendadak. Cowok keren itu membuka jendela mobilnya untuk melihat keadaan di depannya.
“Ada apa,Nak?”
“Kurang tau,Tan. Mungkin lampu merah atau ada perbaikan jalan,”sahut Ryan datar.
Kemacetan berlangsung lebih dari tiga puluh menit sehingga membuat mobil-mobil di belakang nampak beradu klakson membuat telinga berdenging. Ryan seketika mencium bau darah dari kejauhan, artinya di depan ada kecelakaan.
“Kira-kira di depan ada apa ya,Nak?” tanya Tante Wulan dengan wajah cemas.
Perempuan paruh baya itu mulai menggeser letak duduknya karena punggungnya mulai lelah sekian lama berada di mobil, jari jemarinya dihentakkan di atas tas yang dibawanya menandakan ia sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan putri tunggalnya.
“Kurang tau Tan,”sahut Ryan berbohong.
Ia tak ingin perempuan itu semakin curiga bahwa dirinya serba tahu,bisa-bisa Tante Wulan menuduhnya bukan manusia biasa.
Akhirnya mobil bergerak maju dan perempuan paruh baya itu menyaksikan sendiri dua orang terlentang di pinggir jalan raya dalam kondisi berlumuran darah.
Ryan sejenak memejamkan mata, ada perasaan segar dan energinya meningkat ketika mencium bau darah segar yang masih sangat baru, tapi ia memendam keinginan aneh yang sering menggodanya. Berabad-abad lamanya para leluhur dari Vlad III telah bersumpah hanya boleh minum darah binatang. Cowok keren itu memendam keinginannya sedalam lautan es di antartika.
“Oh.. Ada kecelakaan motor,Nak.”
“Iya,Tan. Yang satu masih hidup sepertinya,”sahut Ryan setelah melihat seorang wanita dengan jari tangan yang masih bergerak-gerak.
Polisi sudah datang di TKP dan beberapa orang memindahkan dua orang itu ke dalam mobil ambulance. Rupanya sepeda motor yang ditabrak mobil pribadi yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi.
“Kalau takut. Merem aja Tan,”kata Ryan sambil tertawa.
“Ah gak. Tante hanya memikirkan Maya bagaimana lukanya anak itu.”
“Positive thinking aja,Tan. Maya pasti baik-baik saja kok.”
“Masih berapa lama lagi kira-kira,Nak?”
“Gak sampai satu jam,Tan. Sabar.”
Tante Wulan sangat ingin meluapkan rasa kangennya pada Maya,anak semata wayangnya.
Ryan membelokkan mobilnya di tikungan mengikuti arah dari googlemap.
“Ciit..”
Mobil direm lagi,”Maaf,Tan. Sepertinya ada sesuatu di kolong mobil.”
__ADS_1