Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 122: Berbagi


__ADS_3

Tiga orang art membersihkan halaman rumah, membuang sampah bekas makanan, dan merapikan kembali kursi-kursi dengan cara melipat dan menyandarkannya ke dinding. Maya mengajak bocah kecil berpakaian lusuh itu duduk di dalam gazebo milik Ryan yang berada di halaman samping. Bocah itu memiliki mata bulat dengan bola mata hitam pekat, hidungnya kecil dan giginya tampak menguning. Maya menyodorkan sebungkus kecil tisu basah yang diambilnya dari dalam tas.


“Bersihkan wajahmu Dek,”perintah Maya dengan lembut.


Jari jemarinya yang mungil menarik selembar tisu basah dan mengusapkannya ke wajahnya yang bulat.


“Ayo…Bersihkan sekali lagi.”


Bocah kecil itu menurutinya, diusapnya bagian pipi dan kening yang nampak kotor.


“Nah…Sekarang udah cakep. Namamu siapa?Orang tuamu dimana?”tanya gadis itu sambil duduk bersimpuh di dekat sang bocah.


“Namaku Jaka. Ibuku yang sedang menyapu halaman cluster sini,”sahutnya dengan lantang.


Ada cairan kehijauan yang keluar masuk melalui dua lubang hidungnya. Maya paham bocah itu sedang flu, lalu memberinya sebungkus kecil tisu kering.


“Ayo…Adek bersihkan dulu hidungnya. Nanti kita ngobrol lagi.”


Ryan masuk dan duduk di antara mereka, wajah tampannya tampak mengamati si bocah laki-laki itu dan bersidekap. Matanya yang indah menatap sang kekasih sambil tertawa.


“Lagi cari pasien untuk diobati?”


“Hemm…Aku cuma kasihan dan mengajaknya ngobrol.”


“Jangan cuma kasihan. Yuk kita makan bertiga di sini. Asyik kok!”


Lalu si ganteng berteriak memanggil art-nya. Tak lama kemudian mereka membawakan berbagai macam menu makanan dan menyajikannya di meja kayu berbentuk segi empat di bawah naungan gazebo. Menu yang sama dengan yang disajikan pada para tamu yang mengikuti acara syukuran.


Jaka makan dengan lahap semua masakan yang disajikan di atas meja. Nampaknya ia lebih nyaman makan menggunakan tangan daripada garpu dan sendok.


“Nanti emakmu kita kasih makan juga ya?”tanya Ryan meminta pendapat sang bocah.


Jaka hanya mengangguk-angguk dan kembali asyik dengan makanannya.


“Harusnya semua tukang kebun di luar juga para satpam kamu bagi makanan,”saran Maya.


“Tapi kita belum punya kardus lho. Dan sisa makanan di dapur hanya cukup buat makan orang belakang,”keluh Ryan sambil membuka botol air mineral.


“Kalau begitu kita order online aja sebanyak mereka yang bekerja di luar rumah.”


“Boleh..Boleh…Atur aja.”


Maya langsung memesan sekitar 50 kardus paket makanan. Bocah itu telah selesai dengan makannya dan turun menuju kamar mandi yang terletak di halaman depan bagian ujung, yang biasa dipergunakan oleh para supir dan kurir .


Jaka telah mencuci mukanya dengan air sehingga tampak lebih bersih, memyisakan giginya yang masih kekuningan. Gadis itu memberinya obat flu yang harus diminum selama 3 hari.


“Kamu masih sekolah?”


Bocah kecil itu mengangguk, sambil menelan obat flu yang diberikan.

__ADS_1


“Kelas berapa?”tanya gadis itu lagi.


“Kelas V SD.”


“Wow…Aku pikir baru kelas I SD. Tubuhmu mungil,”seloroh Ryan sambil terkekeh.


“Oh ya…Sebentar aku punya bingkisan buat kamu,”kata Ryan sambil beranjak turun dari gazebo dan menuju ke dalam rumah.


Agak lama si ganteng masuk ke dalam rumah, kemudian ia muncul lagi dan masuk ke dalam gazebo dengan membawa sekantung paper bag penuh dengan alat-alat mandi, ada sikat gigi, odol, sabun mandi, dan shampoo.


“Ini untukmu,”kata Ryan sambil tersenyum.


“Terima kasih banyak,Kak.”


“Jangan lupa rajin-rajin gosok gigi ya! Sehabis makan dan sebelum tidur,”pesan gadis itu.


“Terima kasih banyak,Kakak ganteng dan Kakak cantik.”


Ryan dan Maya tertawa terbahak-bahak mendengar gaya bicara Jaka yang lucu.


Bocah kecil itu berlari keluar halaman, Ryan memanggilnya.


“Jangan lupa. Nanti ambil kardus makanan buat emak dan keluarga di rumah!”


“Masih lama kan,Kak. Makanan belum juga datang.”


Ada 50 kardus makanan yang siap dibagikan, Ryan menyuruh tiga art meletakkan dua buah meja kayu yang panjang secara berhimpitan dan menuliskan sebuah pesan di selembar kertas ukuran A3 : Silakan ambil makanan seperlunya. Gratis!


Berbondong-bondong para tukang kebun dan satpam antre mengambil makanan dalam kardus yang dibagikan secara gratis.


“Boleh ambil dua,Mbak?”tanya seorang satpam bertubuh sedang.


“Boleh gak?”tanya Nurmah pada Maemunah yang dianggapnya lebih senior.


“Kata boss,paling banyak ambil empat. Biar yang lain kebagian.”


“Tiga paling banyak,”kata Nurmah pada satpam itu.


Hampir semua yang datang ingin meminta tiga kardus makanan, hanya sedikit pekerja yang dengan jujur meminta satu atau dua kardus.


“Ayo cepetan! Yang mau ambil makanan buruan!”teriak Kustinah ketika dilihatnya langit tiba-tiba menjadi gelap.


Saat siang tadi sangatlah terik, sudah merupakan fenomena alam kalau panas terik yang berlebihan di siang hari akan menyebabkan air laut menjadi panas dan uapnya naik kea wan, sehingga awan lambat laun penuh dengan uap air. Itulah sebabnya awan menyebabkan langit menjadi gelap dan turun butir-butiran air jatuh ke bumi sebagai hujan.


“Tar…Tunggu satpam shift malam,Mbak!” teriak satpam yang berjaga di gerbang masuk.


“Halaah…Keburu hujan. Saya mau nurunin jemuran takut kehujanan. Kus sana ambil baju di jemuran,”perintah Maemunah sambil menata sisa makanan dalam kardus yang tinggal sedikit.


Dua orang satpam berlari-lari dari arah depan. Seorang di antaranya bertubuh tinggi besar layaknya seorang intel, sedangkan seorang lainnya berperawakan sedang dengan kumis tipisnya.

__ADS_1


“Masih kebagian,Mbak?”tanya satpam yang bertubuh lebih kecil dengan napas ngos-ngosan.


Nurmah tampak memandang satpam muda itu dengan pandangan penuh selidik. Satpam mud aitu tertawa sambil mengerling dengan mata genitnya.


“Naksir Nurmah ya?”ledek Maemunah sambil menutup mulutnya.


Satpam yang tinggi besar tertawa sambil mengambil kardus makanan sebanyak dua buah dan memberikannya satu pada satpam muda.


“Masih sama-sama muda. Ya gak salah kalau mereka berjodoh. Kalau kamu sama saya saja,”


“Enak aja! Punya orang. Sampeyan kan udah ada istrinya,Mas.”


Maemunah nampak sewot, yang ditanggapi dua satpam itu dengan tertawa. Sementara Nurmah, art muda itu hanya tersenyum malu.


“Kenalan dong,Mbak.”


Satpam mud aitu memberikan sebuah sinyal, Nurmah menjawab dengan malu-malu.


“Nama saya Nurmah,Mas. Ini Maemunah dan yang ke dalam tadi Kustinah.”


“Oh…Saya Iman. Rekan saya ini namanya Maskur.”


“Sudah lama jadi satpam,Mas?”


“Ya…Sekitar 3 tahun. Saya kontrak di belakang perumahan sini.”


“Oooh…”


“Boleh berbagi nomor telponnya,Mbak cantik?”rayu satpam yang bernama Iman itu.


“Boleh… 08***********”


“Ehem…”


Maemunah berdehem dengan keras , memberi isyarat agar Iman menyingkir karena mereka masih memiliki misi dari boss untuk membagikan makanan.


“Saya permisi dulu,Mbak.”


Iman dan rekannya berlalu, Nurmah tampak tertunduk sambil memilih ujung kaosnya. Sementara itu Maemunah berdiri dengan wajah serius menanti manusia berikutnya yang akan mengambil jatah makan.


Segerombol tukang kebun datang dari arah belakang, tubuh mereka penuh keringat sehingga tercetak jelas pada pakaian mereka yang kebasahan. Dengan menyeka keringat yang menetes di dahinya, mereka antre mengambil makanan. Dengan wajah sedikit ketus, Maemunah yang memang terkenal agak galak karena merupakan art paling senior, menutup lubang hidungnya dengan ujung kaosnya. Bau tidak sedap dari tubuh para tukang kebun itu menyeruak masuk ke indra penciuman dengan tajam.


“Buruan diambil! Hari mulai hujan!”teriak Maemunah dengan lantang ketika dilihatnya gerimis mulai turun.


Antrean dipercepat, mereka mengambil masing-masing dua kardus makanan dan…


“Habislah sudah kardus makanan!”


Pak Kardi dan Mas Andi buru-buru memasukkan dua meja berbentuk persegi itu ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2