
Maya melirik ke jam yang tertera dalam ponselnya, rasa penasaran untuk berlari keluar dari kompleks perumahan mendorongnya untuk melanjutkan lari paginya.
“Mumpung hari masih pagi. Gimana kalau kita lari lebih jauh keluar kompleks?”tanya gadis itu pada Ryan.
“Boleh. Sampai pertokoan yang ada minimarket maksudnya?”tanya Ryan sambil mengencangkan tali sepatunya.
Maya mengangguk sambil berlari ke dalam rumah untuk mengambil dua botol air mineral. Tak lama kemudian, gadis itu keluar sambil membawa dua botol minuman, disodorkannya sebuah untuk Ryan.
Masih mengenakan armband reflective yang menyala dalam gelap, keduanya berlari di pinggir jalan. Mereka bertemu beberapa warga yang olahraga pagi di tempat yang sama.
Cowok ganteng itu makin mempesona ketika wajah dan tubuhnya dipenuhi keringat. Mereka sampai di tikungan yang menghadap ke pertokoan di seberangnya. Maya berlari sehingga rambutnya yang diikat menjadi satu bergoyang ke kanan dan ke kiri.
“Hati-hati,May! Ngapain nyebrang ke ruko?”
“Mau liat proyek apartemen di tikungan sana,”sahut gadis itu terus berlari.
Ryan menyusulnya, ia celingukan dan menyebrang dengan berlari karena dilihatnya jalanan yang masih sepi.
Sesampainya di areal proyek yang hampir jadi sehingga tidak banyak alat berat yang tergantung, Maya mengamatinya dari bawah. Ryan hanya tertawa seolah ada keinginan yang aneh dalam diri gadis itu.
__ADS_1
“Memang harus liat proyek dari deket?”
“Iseng aja,”sahut gadis itu sambil terkekeh.
Tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi sementara di sisi kanannya adalah sebuah saluran air yang memanjang. Dengan cepat Ryan meraih tubuh Maya dan memindahkannya ke trotoar.
“Ih..Apa-apaan sih?”tanya Maya dengan nada meninggi.
Belum sempat Ryan menjawab, mobil tadi jatuh masuk ke dalam saluran air.
“Braak…Byur…”
Maya menoleh, matanya terbelakak, peristiwa itu berlangsung begitu cepat.
“Cepat panggil bantuan,Pak. Tolong ponsel saya mati!”teriak laki-laki yang terjebak dalam mobil itu dengan suara lantang.
“Bisa bantuan gak?”tanya Maya sambil menoleh ke arah Ryan.
“Bisa. Tapi aku gak mau dianggap superman sama orang-orang sekitar sini,”sahut Ryan sambil melingkarkan tangannya yang kekar ke pinggang gadis itu.
__ADS_1
“Yaudah kita bantu mereka dengan telpon polisi,”ucap Maya sambil menekan nomor bantuan polisi.
“Nah …Kita langsung saja ke kantor polisi sekarang,”ujar Ryan sambil membawa gadis itu berlari sangat cepat bagaikan terbang.
Maya belum sempat membuka suara, keduanya sudah sampai di depan polsek yang terletak 1 km dari TKP.
“Selamat pagi,Pak. Kami mau melaporkan ada mobil masuk ke dalam air yang ada di depan proyek apartemen,”ujar keduanya hampir berbarengan.
Polisi yang sedang mengetik sesuatu di keybord laptopnya , mengangkat wajah dan menatap keduanya.
“Silakan duduk. Saya buatkan BAP. Barusan juga ada hansip yang menelpon. Ini sedang saya koordinasikan. Ada petugas yang ke sana sekarang,”sahutnya dengan tegas.
Polisi yang berjaga pagi itu Bernama Pak Dirman, seorang laki-laki berkumis dengan kulit sawo matang, tubuhnya kekar namun tidak seberapa tinggi, usianya sekitar 45 tahun. Dengan sigap ia mengetikkan semua laporan yang disampaikan keduanya.
“Terima kasih. Kalian sudah tanggap lingkunga,”ujar pak polisi sambil mengacungkan jempol kanannya sambil tertawa.
“Kami permisi dulu. Terima kasih bantuannya,”ujar Ryan sambil menngandeng tangan kekasihnya keluar dari ruangan itu.
Ryan kembali berlari sambil menggamit pinggang Maya ke TKP yang sekarang dipenuhi penduduk yang ingin melihat dari jarak dekat bagaimana pengemudi dan penumpang wanita sebelahnya diangkat ke atas. Dua orang polisi sedang memberi bantuan, ada juga dua orang sipil lainnya yang turun ke bawah dengan sebuah tali panjang dan kuat yang dihubungkan ke mobil alat berat yang disebut excavator.. Mobil itu yang akan digunakan untuk mengangkat mobil yang terjerumus ke dalam air.
__ADS_1
“Jadi vampire ada gunanya juga membantu masyarakat,May.”
“Energi yang di luar nalar penyebabnya,”sahut gadis itu sambil terkekeh.