Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 110: Ryan Mulai Sadar


__ADS_3

Maya tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah seorang gadis balita kecil yang cantik jelita dengan rambut ikal yang dikuncir dua. Tubuhnya yang montok dibalut rok warna merah berenda putih, jalannya melenggok ke kanan dan ke kiri sangat menggemaskan.


“Chika…Jangan ganggu kakak itu!”seru seorang perempuan muda berlari meraih tangan si kecil.


“Maafkan anak saya ya Mbak,”timpalnya pada Maya.


Gadis kecil yang dipanggil Chika itu menarik-narik ujung kemeja lengan panjang yang dikenakan Maya. Wulan hanya menertawakan kelakuan bocah ingusan yang menggemaskan itu. Dibelainya kepala gadis kecil itu yang membalasnya dengan tawanya yang riang.


“Gak apa-apa kok,Bu. Kami senang bermain dengan anak kecil,”sahut Maya yang berjongkok di samping Wulan.


Kedua gadis itu sedang mengunjungi sebuah toko buku di sebuah mall pada hari Sabtu malam. Maya mengajak Wulan yang hari itu kebetulan sedang cuti untuk melepas lelah di mall sambil mencari suasana baru. Keduanya juga memiliki tujuan sama yaitu membaca secara gratis buku-buku kedokteran yang dipajang di rak khusus. Suasana mall tampak ramai oleh pengunjung yang ingin menghabiskan malam minggunya bersama keluarga, pasangan, atau orang terkasih lainnya.


Perempuan muda itu lalu menggendong putri kecilnya dan menciumi pipinya yang gembul menggemaskan. Chika menangis dan meronta-ronta ingin kembali ke tempat semula bersama Maya yang belum dikenalnya.


“Dia suka kemejamu kali May,”celetuk Wulan sambil bangkit berdiri dan berjalan ke arah rak buku.


Maya menebarkan pandangannya ke arah dada lalu lurus ke bawah meneliti setiap jengkal pakaiannya.


“Gak ada yang lucu di sini,Lan.”


Tiba-tiba Maya melihat gantungan kunci berbentuk beruang lucu di bagian resleting tasnya, buru-buru dilepasnya gantungan imut itu dan ia berlari mengejar bocah kecil dalam gendongan ibunya.


“Eh tunggu! Mau kemana kau,May?”tanya Wulan dengan suara meninggi.


“Tunggu aja di situ. Aku cuma sebentar kok,”sahut Maya sambil menengok ke arah sahabatnya.


Gadis kecil itu tetap menangis dalam gendongan, tubuh kecilnya berontak meronta-ronta, sementara sang ibu mendekapnya lebih erat agar bocah itu tidak terjatuh. Mereka berjalan ke sebuah restoran yang ada di dekat sana. Seorang laki-laki berkacamata sedang duduk menunggu sambil memainkan ponselnya. Maya terengah-engah di depan bocah kecil dalam gendongan, perempuan yang menggendongnya pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badan ke arah Maya.

__ADS_1


“Ini,Dek. Boleh saya berikan ini pada anak ibu?”


Perempuan mud aitu menatap boneka kecil yang digenggam di tangan kanan gadis itu, mungkin sekedar mengukur seberapa besar dan amannya mainan itu bagi sang anak. Tak berapa lama,perempuan itu menyungging senyuman, bola matanya bersinar, menandakan ia sangat bahagia.


“Oh boleh. Silakan.”


Gadis kecil menerima gantungan kunci boneka dengan bibir membentuk sebuah senyuman. Air mata masih membasahi kedua belah pipinya, namun ia tidak lagi menangis.


“Ayo..Bilang dong. Terima kasih kakak,”perintah sang ibu.


“Maacih,”ucap bocah kecil itu dengan suara pelan dan malu-malu.


“Udah dulu ya,Dek. Kakak kembali ke toko buku yang tadi. Bye…”


Maya melambaikan tangan ke arah mereka, juga ke arah laki-laki yang sedang duduk dan menatap kejadian itu.


Tiba-tiba batinnya terasa teriris mengenang keadaan Ryan yang masih tergolek di ruang ICU meskipun jarinya mulai bergerak ketika mereka melakukan “video call”.


Tujuh bulan bukan waktu yang lama, dan mereka sudah sepakat untuk menikah. Bisa jadi Om Robert akan memundurkan waktu pernikahan mereka jika kondisi Ryan belum memungkinkan.


“Gimana,May?”tanya Wulan ketika Maya sampai di hadapannya.


“Dia senang. Tangisnya berhenti seketika.”


“Begitulah anak kecil. Yuk kita pulang aja, atau masih mau berkeliling mall?”


Wulan seakan pasrah pada keputusan Maya hari itu, dirinya nampak ingin menyenangkan hati sahabatnya yang sedang dirundung duka akibat kecelakaan yang dialami calon suaminya.

__ADS_1


“Terserah kamu,Wulan cantik.”


“Lho kok aku. Mengapa harus aku yang memutuskan?”


Maya tergelak, lesung pipit yang dalam tampak jelas di kedua belah pipinya yang putih bersih, sederetan gigi yang putih mengkilat nampak jelas hingga ke bagian dalamnya yang benar-benar bersih tanpa lubang. Gadis itu memang benar-benar sempurna, kemungkinan besar ia pun akan lolos dalam audisi para gadis yang hendak menjalani profesi sebagai pilot atau pramugari.


Wulan merasa kurang beruntung bila mengingat keadaan giginya yang sering sakit di waktu kecil, sedangkan kedua orang tuanya tak memiliki cukup uang. Kini dua gigi gerahamnya berlubang, dan sering kemasukan makanan keras yang menyelip. Gigi-gigi itu belum ditambal hingga saat ini dan Wulan baru teringat ia harus menambalnya dengan menyisihkan sebagian gajinya untuk ke dokter gigi.


“Iya deh. Kita makan dulu. Biarkan aku yang traktir kamu. Barusan aku terima upah mengajar dari murid-murid yang belajar bahasa Inggris secara daring,”papar Maya panjang lebar.


Wulan hanya mengangguk mengiyakan, bibirnya menyungging senyuman dan tangannya segera meraih tangan gadis itu untuk digandengnya. Keduanya sangat akrab dan saling mendukung dalam setiap kegiatan, bak bersaudara dan Maya sangat beruntung mendapatkan keluarga baru di tempat kos.


Sejak kecelakaan yang dialami Ryan, Maya sering melakukan sholat tahajud. Ia bersembahyang dengan khusyuk meminta pertolongan Allah demi kesembuhan calon suaminya. Dengan begitu perasaannya menjadi lebih tenang dan percaya diri bahwa semua kejadian buruk ini akan berangsur-angsur membaik.


Malam harinya Om Robert kembali menelponnya, Maya mengangkatnya dan mereka melakukan video call. Hal yang sama dilakukan seperti malam-malam sebelumnya.


“Kasian Om Robert harus meninggalkan kantor selama hampir dua minggu menunggui Ryan yang masih juga koma,”batin Maya sambil memperhatikan tubuh Ryan yang masih tergolek di atas ranjang ruang ICU.


Pada kesempatan itu Maya bercerita seolah mereka sedang mengenang masa-masa SMA. Ryan tampak meneteskan air mata, pertanda ia dapat mendengar semua cerita itu. Jari-jemarinya pun kembali bergerak, Om Robert dengan cepat meraihnya dan menggenggam tangan putra tunggalnya dengan tatapan penuh cinta.


Tiba-tiba Ryan seolah membuka kedua kelopak matanya, gadis itu memandang dengan perasaan penuh harap, jantungnya berdebar makin keras, dan benar…Ryan dapat menggerakkan bola matanya. Ia memandang sekelilingnya dengan memutar bola matanya ke atas, ke samping kanan dan kiri lalu menatap wajah sang papa. Maya merasa sangat terharu, ia meneteskan air mata bahagia.


“Terima kasih Ya Allah. Akhirnya doa hambaMu dikabulkan.”


Ryan menatap wajah Maya melalui layar pnsel, Om Robert ikut menatap dengan bahagia, bibirnya tampak tersenyum, sebuah senyuman yang seakan sangat perih, menahan sebuah tangisan kesedihan.


Hari itu juga,Maya mencatatnya di dalam hari, dan menjadikannya hari paling bersejarah dimana Ryan tersadar dari koma selama belasan hari. Namun juga merupakan detik-detik menegangkan untuk menyaksikan kesembuhan Ryan berikutnya. Apakah ia dapat berjalan normal ataukah pincang seperti dirinya beberapa tahun silam?

__ADS_1


__ADS_2