Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 119: Kejutan untuk Maya


__ADS_3

Di dalam kamar milik Ryan..


Angin malam berhembus masuk melalui daun jendela yang masih terbuka, menggoyangkan korden pada lapisan tipisnya. Sementara itu langit nampak gelap, dengan taburan bintang-bintang kecil nun jauh di sana. Ryan bergegas menekan tombol otomatis pada kursi rodanya, bergerak mendekati jendela dan menutupnya, menarik korden agar gelapnya malam tak membuatnya takut. Di sebelah lemari pakaiannya yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit kamar, tergeletak sebuah kardus kecil berisi setumpuk susu dalam kemasan yang diproduksi secara khusus oleh pabrik papa untuknya. Susu warna merah yang berupa susu cair dengan campuran darah sapi segar, penambah stamina bagi keturunan vampire seperti dirinya.


Jari jemari kukuh milik Ryan bergerak untuk membongkarnya, diambilnya sebuah gunting untuk melepaskan plakban penutupnya. Tangannya bergerak memiringkan kardus untuk melihat tanggal kedaluarsa.


“Baru diproduksi tiga hari lalu. Artinya masih sangat baru,”gumam Ryan sambil menelan salivanya.


Satu persatu dimasukkannya susu dalam kemasan itu ke dalam kulkas. Sebenarnya tanpa perlu menjalani fisioterapi, Ryan yakin kedua kakinya akan pulih seperti sedia kala dengan rutin meminum susu itu seperti sedia kala seperti yang dialami Maya tahun silam. Namun Maya tak ingin Mas Andi curiga dan mengetahuinya sebagai darah keturunan vampire.


Ryan memasukkan beberapa susu dalam kemasan itu ke dalam sebuah tas kecil untuk kekasihnya. Ia akan memberikan kejutan besok pagi. Gadis itu belum menyadari kalau Ryan sudah pindah ke kota ini. Cowok ganteng itu tersenyum sambil mengenang masa-masa indah mereka berdua. Diambilnya sebungkus susu dan diminumnya, rasanya sangat nikmat,membuat energinya bertambah. Satu bungkus terasa kurang, dan Ryan mengambil satu bungkus lagi. Tiba-tiba sebuah ketukan di pintu mengagetkannya.


“Tok…Tok…Tok…”


“Masuk…”seru Ryan setengah berteriak.


Pintu kamarnya belum dikunci, seseorang menekan gagang pintunya ke bawah sehingga daun pintu terbuka. Nampaklah sosok perawat itu berdiri di depan pintu sambil membawa sebotol obat di tangan kirinya, dan sebuah sendok obat di tangan kanannya, matanya mencuri pandang ke arah bungkusan bekas susu yang dibuang di dalam kardus kecil yang dikirim tuannya.


“Selamat malam,Tuan. Saya mau mengingatkan, jangan lupa untuk meminum obat penguat sendi ini,”katanya.


“Malam. Mas taruh aja di atas meja itu.Nanti saya minum sendiri,”sahut Ryan.


“Boleh saya buang sampahnya,Tuan?”


“Enggak..Biar saya buang sendiri besok pagi,”sahut Ryan sambil mendorong kardus itu menjauh ke arah dinding dengan ujung kakinya.


“Baiklah,Tuan. Jangan lupa besok pagi kita mulai fisioterapi di YPAC,”katanya lagi seraya mengingatkan.


Ryan mengangguk, lalu menggerakkan kursi rodanya ke arah pintu kamar untuk menguncinya.


“Huft…Untung saja Mas Andi gak melihat kalau tetesan susu yang jatuh ke atas lantai itu adalah tetesan darah, bukan sekedar susu,”gumam cowok ganteng itu sambil mengelapnya dengan sobekan tisu.


Diperhatikannya sisa darah yang menempel pada serpihan kecil tisu, baunya sedikit anyir, rasanya sedikit asin, persis susu yang dicampur rasa keju, namun sangat nikmat dan membuatnya kecanduan. Malam itu Ryan tidur dengan lelap karena susu mengandung asam amino triptofan yang merupakan bahan utama penghasil hormone serotonin, yaitu sebuah hormone yang berperan dalam mengatur suasana hati, membuat rasa tenang, tubuh lebih santai, dan memicu rasa kantuk.

__ADS_1


Pagi harinya, Ryan bangun dengan tubuh lebih bugar. Dinyalakannya saklar lampu sehingga ia dapat melihat dengan lebih jelas jarum jam dinding di kamarnya.


“Pukul enam lebih sepuluh menit. Artinya masih ada waktu tiga jam untuk bersiap-siap,”pikir Ryan sambil menggeser korden kamar.


Sinar mentari menerpa jendela kamarnya yang terletak tepat di arah timur. Sinarnya yang hangat membuat cowok ganteng itu menjemur tubuhnya sambil duduk di kursi rodanya,kemudian membalikkan kursi rodanya agar bagian punggungnya juga ikut terjemur. Butiran keringat menetes di dahi karena berjemur membuat dirinya kepanasan, Ryan menekan tombol di kursi rodanya untuk menjauhi jendela dan bergerak meraih sebuah botol air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya.


“Ah…segarnya.”


Ryan menyandarkan tubuh di kursi rodanya sambil menunggu Mas Andi masuk ke kamar dan membantunya membersihkan diri.


Setelah menjalani serangkaian prosedur terapi secara manual dan elektrik yang dirasanya membuang-buang waktu karena terlalu lama, wajah Ryan tampak sedikit kesal karena ia hanya menjalani prosedur yang sama beberapa kali lagi.


“Mas..Lain kali bisa fisioterapi di rumah saja. Hubungi homecare di alamat ini,”kata seorang petugas di meja kasir.


“Puftt…Akhirnya yang kutunggu-tunggu pun tiba. Gak perlu bangun pagi hanya untuk sekedar menjalani fisioterapi,”gumamnya sambil mengembangkan senyuman.


Mobil berjalan dengan ukuran sedang, menembus jalanan kota Solo yang nyaris bebas kemacetan.


“Kita langsung ke Jogja,Pak.”


Ryan telah menyiapkan beberapa susu dalam kemasan di dalam sebuah tas kecil yang bagian reletingnya ia pasang kunci gembok dengan kode pass-id di bagian luar.


Di sepanjang perjalanan,Ryan berselancar mencari toko bunga terdekat. Matanya memperhatikan dengan serius setiap produk toko bunga hingga ia menjatuhkan pilihannya pada Toko Bunga Lalalapidun. Ryan memesan sebuah hand bouquet ukuran sedang dengan aneka rangkaian bunga berwarna-warni dengan unsur bunga mawar, melati dan bunga Edelweiss yang membuat rangkaian bunga itu sangat mahal.


“Yang bikin mahal Edelweiss-nya. Bunga yang cuma bisa dipetik di puncak gunung,”alasan penjualnya.


Karena Ryan sangat menginginkannya sebagai media mengungkapkan perasaannya pada sang kekasih, harganya dapat ia maklumi, yang penting Maya menyukai kirimannya, dan juga susu dalam kemasan yang ia sisihkan dari jatah bulanan susu dari sang papa.


“Pak..Kita jangan langsung ke kos Maya, tapi berhenti dulu di Mc. Ronald,”kata Ryan.


Mc Ronald adalah produk restoran Amerika yang buka 24 jam dalam sehari, dan merupakan tempat pengantaran hand bouquet pesanannya. Sambil menikmati hidangan menu makan siangnya bersama Mas Andi, Ryan menunggu kedatangan kurir untuk membawakan pesanannya.


Berkali-kali Ryan menengok ke layar ponselnya, menanti pesan masuk dari kurir. Lima puluh menit kemudian barulah seorang kurir menelponnya, dirinya berada di pintu masuk restoran, dan Ryan menyuruh perawat laki-laki itu menerimanya di depan pintu masuk.

__ADS_1


“Ini,Mas. Pesanan bunganya,”kata sang kurir sambil memberikan selembar surat penagihan.


Mas Andi menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian dia datang lagi sambil memberikan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah pemberian anak majikannya.


“Terima kasih,Bang. Bunganya snagat bagus kata majikan saya,”kata Mas Andi sambil tersenyum.


Ryan menatap bunga di tamgannya dengan bola mata berbinar-binar bahagia, bibirnya menyungging senyuman. Mereka kembali meneruskan perjalanan, dengan harapan sampai di kos Maya dan bertemu gadis itu telah pulang dari kuliahnya. Sesampainya di kos,Ryan menemui pemilik kos yang duduk di atas kursi roda, sama seperti dirinya. Ibu kos menerima mereka dengan ramah dan mempersilakan duduk.


“Nak Maya biasa pulang kuliah sore. Kira-kira jam empat. Duduk aja dulu,”pinta sang ibu kos.


Ryan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya,waktu masih menunjukkan pukul 3 lewat dua puluh enam menit. Artinya mereka harus menunggu selama lebih dari tiga puluh menit lagi. Cowok ganteng itu menghela napaas panjang dan menanti dnegan sabar kekasih hatinya pulang kuliah. Mas Andi nampak duduk dengan tenang, wajahnya menatap lukisan yang ada di ruang tamu dengan bibir membentuk garis mendatar. Sebuah lukisan pemandangan desa dengan petani yang sedang sibuk mengolah padi di sawah.


“Selamat sore,”sebuah sapaan lembut bergema di ruang tamu.


Nampak wajah Maya dengan rambutnya yang dipotong sebahu, kini gadis itu tak lagi mengepang rambutnya seperti masa SMA dulu. Kini wajahnya nampak lebih segar dan tampil lebih muda.


“Maya…”seru Ryan yang duduk di samping perawatnya.


“Ryan…”balas Maya dengan sorot mata berbinar-binar, bibirnya yang tipis menyungging senyuman bahagia.


Ryan memberikan sebuah hand bouquet kepada gadis itu.


Maya menerimanya dengan perasaan bahagia, hatinya berbunga-bunga.


“Terima kasih,Ryan. Ada bunga Edelweiss.”


“Aku bawain ini juga buatmu,”kata Ryan lirih.


“Susu?”tanya Maya setengah berbisik.


Ryan mengangguk dan tersenyum.


“Okay. Aku masukkan ke kamar dulu. Setelah ini aku temui kamu lagi di sini,”pamit Maya sambil masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2