
Maya duduk di dalam kamarnya sore itu, tubuhnya terasa segar sehabis membersihkan diri dan berganti pakaian. Di depannya tergeletak selembar kertas putih berukuran HVS yang berisikan catatan aneka kebutuhan yang harus ia bawa esok hari.
“Tok…Tok…Tok…..”
Sebuah ketukan di pintu terdengar nyaring di telinga, gadis itu membukakan pintu, sosok Mbak Atin yang masih mengenakan daster muncul dari balik pintu.
“Neng Maya, ada tamu, cowok yang kemarin nganterin dari Jakarta.”
“Oh…Ryan maksudnya?”
Mbak Atin mengangguk sambil berpamitan. Art itu membalikkan badannya menyusuri lorong dan menuruni anak tangga untuk melanjutkan pekerjaannya. Suasana kos saat itu cukup lengang, hampir semua penghuninya telah kembali ke kamar masing-masing. Wulan, penghuni kos kamar sebelah yang menurutnya juga mahasiswi baru, belum menampakkan batang hidungnya, kamarnya masih terkunci.
Maya menuruni anak tangga, di lantai satu nampak dua tiga mahasiswa sedang mengerjakan tugas bersama di sebuah meja besar. Gadis itu memasang telinganya tajam-tajam, ada sebuah suara yang menyerupai suara alarm jam dari sebuah kamar di kejauhan, pertanda token listrik telah habis. Kamar ibu pemilik kos, Ibu Laksmi tamppak tertutup rapat, perempuan tua itu sedang istirahat di kamarnya. Ryan tampak duduk di kursi tamu yang terletak di bagian paling depan dari rumah kos, di depannya terdapat teras rumah dengan dua kursi besi dan sebuah meja besi berwarna hijau. Taman di depan rumah yang cukup luas berupa taman dengan bebatuan dan kolam ikan dengan air terjun yang nampak asri. Suara jatuhnya air itu terasa menyejukkan hati. Hari itu Ryan tampak sangat tampak dalam balutan kaos oblong warna hitam yang dipadukan dengan celana jeans biru muda dan sneakers dengan warna senada.
“Hai,May..Yuk kita makan malam di luar,”ajak Ryan sambil menebarkan senyumnya yang termanis.
Gadis cantik itu duduk di sebelah Ryan sambil menunjukkan selembar kertas berisikan daftar barang-barang yang harus ia beli malam ini. Ryan mengambil kertas itu dari tangan Maya dan membacanya.
“Kita makan malam sambil hunting ini.”
“Mi goreng 29 centimeter, bayam tujuh lembar, telur rebus separuh, roti isi kacang ijo dan sebotol air mineral. Ini semua untuk bekal makan siang.”
“Artinya kita beli tengah malam. Biar gak basi siangnya.”
“Basi atau enggak tetap harus kau makan May,”kata cowok itu sambil terkekeh.
Maya memukul pelan bahu Ryan, dan cowok itu berkelit keluar rumah. Suara berisik dari ruang tamu membuat pemilik kos keluar dari kamarnya. Ia mendorong kursi roda dengan tangannya, tangannya bergerak membetulkan letak kacamatanya dan menatap serius memperhatikan dua remaja di depannya.
“Sore,Bu…Apa kabar?”tanya Maya sambil tersenyum.
“Sore..Baik.Kalian mau kemana?”
“Mau makan sambil beli kebutuhan OSPEK besok pagi.”
“Oh…Yang lengkap di sekitaran Malioboro.”
“Iya,Bu. Kami sedang menunggu taksi online juga,”sahut Ryan yang kembali masuk ke dalam rumah.
“Hati-hati di jalan ya!”pesan Ibu Laksmi sambil mendorong kursi rodanya kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
Taksi online datang, seorang laki-laki muda bertubuh kurus turun dari mobil dan berdiri di depan pagar.
“Sore…Saya mau jemput Mbak Maya.”
“Sore,Bang. Saya sendiri.”
“Oh..Silakan mbak..”katanya sambil membukakan pintu belakang, dua remaja itu duduk berdampingan di jok belakang.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kendaraan lumayan padat, beberapa pekerja masih dalam perjalanan pulang namun tidak semacet ibukota.
“Bang..Tempat kuliner selain Malioboro dimana saja?tanya cowok ganteng itu sambil memajukan posisi duduknya.
“Ada resto lumayan besar di Kotabaru.”
“Yaudah,Bang. Kita coba ke sana.”
Supir dengan antusias dan ramah mengikuti keinginan penumpangnya. Mobil berjalan menyusuri jalanan yang mulai gelap dan diterangi dengan lampu-lampu jalanan dan taburan bintang-bintang di langit.
Sebuah rumah makan yang menjual aneka masakan Indonesia itu cukup luas. Di halaman depan terparkir sebuah becak dan delman kuno dimana semua pengunjung dapat mengabadikan kenangan bersama dua kendaraan kuno itu. Menu masakan sangat bervariasi mulai dari bubur, soto, gudeg, aneka masakan dari mie, aneka jus dan masih banyak lagi. Seorang pelayan wanita memberikan buku menu dan mencatat semua pesanan, rambutnya diikat berbentuk konde yang melingkar, tubuhnya yang sintal dibalut kemben terbuat dari kain batik, begitupun dengan pelayan laki-laki. Mereka mengenakan celana panjang yang dilapis dengan kain bermotif batik. Rupanya rumah makan ini mengusung tema kedaerahan dan mengangkat nilai-nilai budaya lokal sesuai dengan cita rasa masakan yang disajikan sehingga terkesan unik dan menarik. Pengunjung nampak sangat ramai, banyak di antaranya yang membawa keluarga, sementara lainnya adalah karyawan kantor yang baru pulang kerja dan sengaja mampir ke tempat ini.
“Mbak atau mas ada tambahan lainnya?”tanya sang pelayan sambil menebar senyum ramah.
“Pesa napa ya.Mbak?”
“Tumis bayam.”
“Baiklah saya tanyakan nanti ke manajer saya,”sahutnya sambil membalikkan badan.
“Gak salah ya? Tumis bayam dimakan besok siang?”tanya Ryan keheranan.
“Harusnya masak pagi. Tapi bayam mentahnya belum beli. Masuk kampus besok jam 4 pagi,gak keburu masak.”
“Oh..yaudah. Mudah-mudahan belum basi. Tapi kalau mereka gak bisa bikin,kita cari aja bayam di pasar. Pedagang sayuran jam 3 udah sampai pasar kok,”kata cowok itu sambil membuka botol air mineral yang baru saja disuguhkan.
“Mana keburu,Ryan?”
“Biar aku aja yang beli,May. Biar aku yang bantu masakin.”
“Beneran? Sejak kapan kamu bisa masak?”tanya gadis itu sambil terkekeh.
__ADS_1
“Kan cuma menumis. Aku juga pernah liat art di rumah masak sayuran.”
“Yaudah. Asal minta ijin ibu kos dulu buat masak. Masa kos cewek dimasukin cowok yang mau masak di dapur?”
Kedua remaja itu tertawa terbahak-bahak, dan seorang pelayan menghentikan tawa mereka dengan meletakkan pesanan berupa nasi gudeg lengkap dengan jus buah segar yang terdiri dari jus wortel campur jeruk serta jus semangka.
“Silakan dinikmati…”
Pelayan itu membawa kembali nampannya ke belakang.
Ryan memanggilnya kembali, dan ia membalikkan tubuhnya untuk mencari arah panggilan.
“Mbak..Gimana dengan request pesanan sayur tadi?”
“Oh..Sebentar manajer saya sedang mengadakan briefing di belakang. Nanti kami info kembali.”
“Baiklah,Mbak.Kami tunggu.”
Ryan menatap sepiring gudeg komplet di depannya, sepasang tangannya memegang sendok dan garpu.
“Nampaknya lezat,May.”
“Iya baunya harum. Tapi rasanya pasti manis. Semua masakan dari Jawa begini.”
“Ini pengalaman pertama aku makan nasi gudeg. Sebelumnya aku gak suka pesan kalau di restoran.”
“Oh ya? Kenapa?”
“Bentuknya gelap bersantan pula. Papa kan kolesterol tinggi jadi beliau suka kasih nasehat biar aku juga kurangi masakan bersantan.”
“Oh…begitu. Semua masakan gudeg bisa diendapkan dan bumbunya makin meresap jadi warnanya gelap.”
Pelayan yang tadi datang lagi sambil mengambil piring dan gelas kotor.
“Maaf,Mbak. Request makanan di luar menu tidak diperkenankan, kata manajer saya.”
“Yaudah gak apa-apa. Saya minta nota pembayarannya ,Mbak.”
“Silakan ke kasir aja,Mas.”
__ADS_1
Akhirnya Maya pulang membawa sebungkus nasi putih, mie goreng dan roti yang dijual di sana. Sementara tumis bayamnya masih merupakan PR yang harus dikerjakan esok pagi-pagi buta.