Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 113: Kembali ke Tanah Air


__ADS_3

“Aaahhh….”


Ryan menjerit kaget ketika tiba-tiba papa menepuk bahunya dan mengajaknya makan siang.


“Aduh…Papa bikin kaget Ryan aja,”seru cowok itu sambil memegang dadanya, napasnya tersengal-sengal menahan emosi.


Papa tertawa, beliau duduk di tepi ranjang menghadap putra tercintanya,


“Tadi papa liat pintu kamar terbuka, dan kamu seakan meneliti sesuatu dari balik jendela. Jadi papa ikut masuk pengen tau,”papar sang papa panjang lebar.


Ryan menelan salivanya, dagunya diangkat untuk menatap wajah sang papa dalam-dalam.


“Seperti burung atau kelelawar yang jatuh kena kaca lalu terbang lagi. Mungkinkah jelmaan vampire,Pa?”


“Kita gak ada urusan lagi dengan mereka,Nak. Seluruh leluhur kita dari jaman dahulu kala sudah berasimilasi dengan manusia. Kita juga tak punya dendam apapun dengan para vampire,”kata sang papa sambil bangkit berdiri dan mendorong kursi roda Ryan ke arah ruang makan.


“Tapi..Bener,Pa. Ryan pernah ketemu mereka.”


“Maksud kamu?”


“Waktu SMA, Ryan pernah diserang Aro. Dia salah satu pemimpin kaum volturi.”


“Volturi?Kok seperti dalam film aja?”


“Tapi benar,Pa. Volturi itu ada. Merek aitu coven terbesar dalam kaum vampire. Banyak keturunan mereka yang punah dan mereka benci dengan seluruh leluhur Ryan yang kini malah sukses bergelimang harta bahkan hidup di kalangan manusia dengan bebas.”


“Jadi mereka iri? Karena pernikahan dengan sesame vampire artinya mereka melakukan pernikahan sedarah. Akibatnya banyak yang lahir cacat dan mati. Kalau leluhur kita menikah dengan manusia jadi seluruh keturunannya diberkati,”papar sang papa sambil membuka tudung saji di atas meja.


Ada sepotong ayam kalkun ukuran besar dan semangkok besar sup daging sapi. Ada pula potongan buah segar, nanas, apel, dan anggur.


“Wow…Ada ayam kalkun gede banget,”seru Ryan sambil membelalakkan matanya, lidahnya nampak bergerak-gerak di sekeliling bibirnya.


“Hari ini kan “Thankgiving Day”. Minggu terakhir di bulan November,”sahut papa sambil bersiap memotong daging kalkun dengan pisaunya.


“Oh iya. Hari besar di sini. Budaya tiap negara berbeda-beda. Papa masih inget aja kebiasaan orang Amerika.”


“Papa dulu nyaris menikah dengan perempuan bule. Tapi orang tua papa kurang setuju.”

__ADS_1


“Kenapa,Pa?”


“Faktor budaya aja,Ryan. Udahlah jangan banyak berpikir. Banyak makan bergizi aja dan banyak istirahat.”


Ryan manggut-manggut sambil menikmati makanannya, pipinya nampak menggembung, punggung tangannya berkali-kali mengusap keringat yang menetes di dahi.


“Ryan…Makan ayam kalkun tapi seperti makan ayam kampung,banyak bener sambelnya,”celetuk papa sambil tertawa.


Kebiasaan cowok itu makan dengan sambal pedas yang dibawanya dari tanah air tak bisa pupus, baginya dengan sambal semua makanan terasa lebih nikmat.


“Padahal saus kalkun panggang itu cranberry sauce, mushroom sauce dan giblet sauce. Ini ada semua di sini. Makannya juga pakai mashed potato bukan nasi,”kata papa sambil terkekeh.


“Kata papa, Ryan harus makan banyak, yang bikin lahap kan begini Pa,”sahut Ryan membenarkan diri.


“Yaudah,gapapa kok. Omong-omong kau sisakan untuk Ahmad. Kasian dia.”


“Ini masih utuh yang separo buat makan malam kita bertiga.”


“Kemungkinan besar Ahmad juga sedang merayakannya di tempat kerja. Dulu kebiasaan semua kantor di sini begitu.”


Ryan hanya menganggukkan kepala sambil meminum wine sebagai pelengkap hidangan.


“Ayo Ryan…Buruan,”seru papa di ruang tengah sedang menonton televisi.


Wajahnya tampak klimis seperti habis bercukur. Laki-laki paruh baya itu mengenakan kemeja lengan pendek warna krem berpadu dengan motif kehitaman dipadukan dengan celana jins warna hitam yang membuat penampilannya nampak lebih muda dan menarik. Ryan pun tak kalah ganteng, cowok itu tampak tampan rupawan dalam balutan t shirt warna biru langit dipadukan jeans warna putih.


“Ayo,Tuan. Mari saya antar sampai bandara,”kata Ahmad yang telah tampak rapi dengan setelan kerja warna kecoklatan.


“Kamu gak kerja?”tanya papa dengan wajah penuh tanda tanya.


“Saya ijin setengah hari,Tuan. Kasian Ryan, kami akan berpisah lama juga,”sahut Ahmad sambil mendorong koper.


“Jangan dikeluarin dulu,Mad. Yuk kita sarapan bersama,”ajak papa.


Ahmad meletakkan kembali koper-koper itu di tempatnya, ia bergegas mencuci tangannya di wastafel lalu muncul kembali dengan wajah menyungging senyum duduk di depan Robert Sanders.


Di meja makan terhidang tiga potong roti sandwich berisi daging ham, keju, dan selada serta segelas susu segar warna putih. Ryan menikmati sarapannya di atas kursi roda yang tingginya sama dengan kursi makan di ruangan itu.

__ADS_1


“Kamu gak ada keinginan kuliah lagi,Mad?”


“Ingin sih,Tuan. Tapi keuangan terbatas jadi saya cuma ambil diploma perhotelan.”


“Maksud saya apakah bisa meneruskan sampai kamu mendapat gelar.”


“Kemungkinan besar bisa,Tuan.”


“Baiklah, saya akan membiayai kamu kelak kalau Ryan kembali lagi kemari,”kata Om Robert dengan mimik serius.


“Benarkah,Tuan?”tanya Ahmad dengan mata terbelalak gembira, mulutnya menganga seakan tak percaya.


“Benar. Anggap saja balas budi dari kami. Om harap kelak kamu juga sukses menjadi pemimpin hotel ternama. Ryan biar meneruskan perusahaan om di Indonesia.”


“Buka cabang di sini juga bisa nantinya,Tuan.”


“Doakan saja ya!”


Sinar mentari bersinar di ufuk timur menghadirkan semburat kemerahan di langit, burung-burung bernyanyi riang menyambut hari yang baru. Taksi mengantarkan ketiganya ke Bandara Internasional John F. Kennedy di New York. Ryan menikmati hari pertama pulang ke tanah air dengan kursi rodanya. Ahmad berpamitan setelah membantu menurunkan koper-koper itu di pintu bandara, pemuda berambut ikal itu melambaikan tangan dan kembali ke dalam taksi. Ryan dan sang papa melepas kepergian Ahmad hingga taksi yang ditumpanginya menghilang dari pandangan. Setelah check in, petugas membawa Ryan ke bagian kesehatan, bertemu ground staff untuk memastikan bahwa kondisi Ryan layak untuk terbang.


Di ruang tunggu, banyak penumpang yang secara diam-diam memperhatikan kondisinya. Seorang pemuda tampan rupawan yang kini terpaksa duduk di kursi roda. Tampak dua remaja putri yang berbisik-bisik dan tertawa sambil menebarkan pandangan ke arah Ryan. Cowok ini tak mempedulikan pandangan sinis di sekitarnya. Kini hidupnya terpuruk namun ia yakin akan dapat melaluinya dengan baik, semua akan berakhir beberapa bulan lagi. Ryan tak mempedulikan anggapan orang akan dirinya yang sekarang dianggap sebagai manusia difabel. Sesampainya di tangga pesawat, grounded staff melipat kursi rodanya dan memasukkannya ke bagasi. Ryan dibantu petugas menaiki pesawat, duduk di samping sang papa. Mereka akan menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 22 jam di pesawat.


‘Andaikan papa bisa bawa Ryan terbang tinggi. Kita gak perlu capek-capek duduk di pesawat,”bisik Ryan di telinga sang papa.


Papa meletakkan jari telunjuknya di depan bibir,”Hush..Kita sudah bukan vampire murni. Kita bakal kelelahan luar biasa.”


“Iya. Seperti kata papa. Kita lebih manusia daripada seorang vampire.”


Ryan merasa sangat jenuh di pesawat, kegiatannya hanya makan, tidur, dan menonton televisi. Satu hal yang paling tidak ia suka adalah di saat kandung kemihnya penuh dan ingin buang air di toilet. Ryan terpaksa meminta bantuan sang papa untuk memapahnya ke sana karena kondisi kedua kakinya belum pulih benar. Cowok itu memejamkan mata agar saat ia bangun, dirinya telah tiba di tanah air tercinta.


“Ryan….Ryan….Bangunlah kau,Nak. Ini mama,”sebuah panggilan lembut terasa bergema di telinganya.


Baru kali ini ia mendengar suara itu, Ryan membuka matanya yang masih terasa lengket dan silau, punggung tangannya diletakkan menutupi matanya. Seorang wanita sangat cantik berpakaian putih yang ujungnya menjuntai hingga ke tanah berada di hadapannya.


“Siapa kau?”


“Aku mamamu.”

__ADS_1


“Mama…”teriak Ryan.


__ADS_2