
Tepat pukul 12 malam, keempat buyut Ryan datang bersama sang papa. Mereka membawa sebuah kue ulang tahun sangat besar, lima tingkat dengan dominan warna biru kesukaan Ryan. Ada sebuah boneka anak laki-laki menyerupai dirinya. Para art telah menyulap ruangan paling bawah menjadi semacam ballroom sebuah pesta. Maya pun ternyata datang ke pest aitu dengan kue tart buatannya yang unik, satu tingkat namun diameternya cukup besar sekitar 40 centimeter. Eyang telah menyiapkan hadiah berupa money bouquet dalam gelembung sebuah balon.
“Ryan bangun! Happy birthday!”
Sebuah tangan dengan jari jemari lentik nan halus telah menggoyang-goyangkan bahunya saat pulas tertidur di pangkuan eyang uti. Ryan membuka pelan-pelan kelopak matanya yang terasa sangat berat untuk dibuka.
“Maya? Kok bisa datang malam-malam?”tanya Ryan keheranan.
Gadis itu hanya menengok ke belakang dan memberi kode.
“Papa yang jemput kamu?”
Maya hanya mengangguk sambil tertawa. Gadis itu mengenakan gaun warna merah muda dengan rambut diurai,nampak sangat cantik malam itu.
Ryan berteriak saking senangnya, ketika dilihatnya di depan pintu telah berdiri sang papa dan empat buyutnya yang lain.
“Ah…Kalian curang gak kasih tau aku!”seru Ryan pura-pura marah.
Semua tertawa terbahak-bahak, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan menggiring Ryan untuk turun ke lantai satu sambil meneruskan nyanyiannya.
“Ayo potong kuenya!”seru Maya sambil memberikan sebuah pisau ke tangan Ryan.
“Potongan pertama untuk papa,kedua buat eyang, buyut dan diri sendiri,”perintah Maya.
Namun Ryan memberikan potongan kedua untuk Maya dengan alasan kelak dialah yang akan menemani masa-masa tuanya nanti.
Para buyut maklum dan tertawa riang. Mereka bahagia bisa menyaksikan cucu buyutnya tumbuh besar dan semakin mendekati DNA seorang manusia.
Mereka menari dan bernyanyi tanpa dipandu seorang pembawa acara. Semua mengalir begitu saja, dan kue ulang tahun setinggi tujuh tingkat, semuanya asli kue, habis dalam sekejab ketika seluruh art dan supir papa pun ikut menikmatinya malam itu. Tak ada hidangan lain selain kue ulang tahun, namun Ryan sangat berbahagia dikelilingi orang-orang yang mengasihinya.
Maya terlihat sangat mengantuk ketika ia berpamitan,”Aku balik dulu,Ryan. Papa yang anterin.”
Ryan pun memeluknya, kemudian memeluk para buyutnya yang turut berpamitan. Art pun membereskan kembali ruangan sehingga menjadi bersih seperti sedia kala.
Kini di ruangan itu hanya tersisa dirinya dan eyang uti.
“Udah lewat dari jam 12 malam. Silakan eyang cerita.”
__ADS_1
“Kamu belum mengantuk?”
“Tadi sudah tidur di pangkuan eyang. Jangan-jangan eyang yang mengantuk.”
“Eyang udah tidur siang.”
Eyang uti mengambil posisi duduk tepat di hadapan Ryan, tangannya yang kurus nampak mengeluarkan ponsel dari saku piyamanya lalu memperlihatkan pada sang cucu.
“Kamu lihat ini. Ini adalah Anneth, saudara kembar Annisa,mamamu.”
Ryan terperanjat dan tubuhnya kaku terpatri pada kursi sofa yang ia duduki. Seraut wajah cantik yang sangat mirip mama dalam foto yang selalu disimpan papa selama ini. Dan wajah itu seperti pernah ia lihat di sekolah.
“Mirip mama teman sekolah Ryan,yang.”
“Mama Alisha maksudmu?”
“Itu cucu eyang juga? Ja..Jadi selama ini aku gak tau kalau si cewek badung itu sepupuku sendiri?”gumam Ryan sambil terbengong-bengong.
Dunia baginya terasa begitu aneh, banyak keajaiban dan peristiwa tak terduga.
“Kenapa selama ini eyang gak pernah cerita ke Ryan? Bukankah Alisha memang sering silaturahmi ke Malang?”
“Ada apa,Yang?”
“Eyang uti membuat perjanjian dengan dunia gaib. Eyang berkenan menikahkah dia dengan makhluk alam lain sekalipun agar diberi umur panjang,”sahutnya sambil menitikkan air mata.
“Lalu kenapa dia malah diadopsi orang lain di luar negeri?”
“Karena sakit-sakitan. Menurut leluhur kami,orang Jawa, harus dipisahkan jauh-jauh dari orang tuanya.”
“Nyatanya mama meninggal juga saat melahirkan Ryan,Yang.”
Eyang uti kembali meneteskan air mata, beliau menyeka dengan punggung tangannya dan melanjutkan ceritanya.
“Annisa meninggal karena kanker darah yang ia idap sejak lama.”
“Jadi bukan karena menikah dengan papa yang keturunan vampire?”
__ADS_1
Eyang uti menggelengkan kepalanya, tangannya meraih kepala Ryan dalam pelukannya.
“Papamu sudah manusia murni,Le. Vampire asli sudah lama punah, yang ada hanya keturunannya yang sudah bercampur dengan darah manusia.”
“Iya. Ryan udah dengar dari cerita papa.”
“Tapi kenapa eyang baru sekarang cerita?”
“Itu amanat dari guru kebatinan eyang. Harus menceritakan kepadamu setelah dewasa.Karena saat itu terawangan kau mulai jatuh cinta pada manusia dan ada roh bangsa vampire murni yang bakal gak terima.”
“Siapa,Yang?”
“Akasha. Dan roh itu menurut terawangan suka keluar masuk ke tubuh Alisha, sepupumu.”
“Hah? Lalu kita harus bagaimana,Yang?”
“Meruwat Alisha,agar roh jahatnya keluar dan tidak lagi mengganggu.”
“Tapi kenapa harus pakai tubuh Alisha,Yang?”
“Karena awalnya anak itu tak tau kalau kalian bersaudara. Dan ia mencintaimu pada awalnya.”
“Aduh…”
Ryan menggaruk-garuk kepalanya sehingga rambutnya menjadi berantakan. Ia tak habis pikir dengan jalan hidup yang harus ia alami.Tak pernah punya keinginan terlahir sebagai keturunan vampire yang susah diatur dan punya tenaga berlebihan. Karena itu pulalah, ia sering dikeluarkan dari sekolahnya dan terpaksa mencari sekolahan yang baru.
“Besok hari Minggu. Sehabis nyekar ke kuburan Annisa di belakang rumah,kita ke rumah Tante Anneth dan Alisha.”
Ryan mengangguk,namun seketika tubuhnya gemetar dan telapak tangannya dingin, dirinya baru sadar kalau pekuburan ada di belakang rumahnya yang sangat besar dan mewah.
“Pantas saja rumahku berdiri sendirian di atas bukit,”gumam Ryan yang merasakan kepalanya berdenyut.
Sang papa bukan tanpa alasan memberikan hunian pribadi untuk Ryan di depan kuburan, karena itu permintaah terakhir dari sang mama yang tak mau diistimewakan dan ingin jazadnya dikubur di pemakaman umum dan di dekat buah hatinya.
“Toh kuburan itu rumah orang mati yang gak akan bangun lagi Bang,”rengek Annisa di usia kehamilannya yang ketujuh kala itu.
Wanita cantik itu seakan menyadari hidupnya tak akan lama lagi. Robert sadar penyakit kanker darah yang diidap sang istri seharusnya tak memberanikan diri mengandung,namun Annisa sangat ingin memberikan keturunan untuk sang suami. Akhirnya Robert terlarut dalam kesedihan yang taka da ujungnya hingga tak kuat hidup berlama-lama tinggal di rumah Ryan yang selalu mengingatkannya pada almarhumah istri kesayangannya.
__ADS_1
“Melahirkan caesar ataupun normal sama saja,Bang. Aku akan mengalami banyak pendarahan. Dan jumlah sel darah merah dalam tubuhku selalu digerogoti sel darah putih. Akhirnya pasti akan mati,”bisik Annisa sesaat sebelum dia didorong dengan blangkar oleh seorang perawat sebelum dilakukan operasi caesar.
Robert hanya mampu menitikkan air mata di ruang tunggu. Matanya sembab dan hidungnya memerah, sapu tangannya penuh dengan air mata. Kesedihannya pun pupus setelah terdengar suara tangis bayi, seorang bayi montok dengan wajah sangat tampan,perpaduan Rumania dan Indonesia, dan diberi nama Ryan Sanders. Itulah kisah 17 tahun lalu.