Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 152: Mencari Pertolongan


__ADS_3

Mereka berhenti di depan sebuah klinik 24 jam yang terletak di sebuah kota kecil , memasuki ruang depan tampak sebuah loket kecil dengan seorang penjaga berseragam putih.


“Selamat malam,Pak. Saya mau daftar konsultasi dokter,”ucap Ryan sambil memapah gadis itu.


“Malam. Silakan diisi dulu formulirnya,”sahut perawat laki-laki itu.


Ryan mengisi data diri gadis itu dan menyerahkannya kembali kepadanya.


“Silakan tunggu. Masih ada satu pasien di dalam.”


Dengan Langkah terseok-seok Maya mencari tempat duduk, ada deretan kursi besi di depan ruang praktek. Ruangan serba putih itu tampak senyap, bau karbol dan obat-obatan menyeruak ke indera penciuman. Di luar langit tampak masih gelap,udara pun dingin menusuk tulang.


“Masih perih lututnya,May?”


Gadis itu menganggukkan kepalanya, lalu menatap Ryan dengan bola mata bulat yang sendu. Cowok tampan itu mengusap-usap puncak kepala Maya untuk menenangkan gadis itu.


“Kreek…”


Pintu ruang praktek terbuka, tampak seorang bapak tua bertubuh kurus keluar dengan dipapah seorang pemuda. Di belakangnya seorang laki-laki berusia sekitar 26 tahun mengenakan kacamata dan jaket putih menjulurkan lehernya dan memandang ke arah mereka.


“Silakan masuk…”


Keduanya menganggukkan kepala, dan masuk ke ruang praktek. Sebuah ruangan berukuran 4x6 meter dengan sebuah meja dan tiga kursi, satu untuk tempat duduk dokter dan dua kursi di depannya untuk pasien dan keluarganya. Ada sebuah tempat tidur ukuran kecil dengan seprei dan bantal warna putih. Di sebelahnya terdapat sebuah timbangan dengan alat pengukur tinggi badan, dan sebuah tabung oksigen serta sebuah lemari kaca dua pintu yang berisi peralatan kesehatan lainnya.


“Selamat malam. Ada keluhan apa?”tanya dokter membuka percakapan.


“Malam,Dok. Ini calon istri saya kakinya terluka dan badannya demam,”sahut Ryan.


Maya menyelonjorkan kakinya yang perih dan terluka, karena akan semakin nyeri bila lututnya ditekuk.


“Silakan naik di atas tempat tidur. Akan saya periksa terlebih dahulu,”ucap sang dokter sambil mengenakan sarung tangan plastik.


Ryan membantu gadis itu naik ke atas tempat tidur. Maya melepaskan sepatunya sebelum naik, mengangkat kaki kanannya yang terluka dengan hati-hati dan meletakkannya di atas tempat tidur warna putih, lalu membaringkan dirinya di atas sebuah bantal.


Dokter menghampirinya dan meletakkan sebuah stetoskop di atas dada gadis itu dan mendengarkan bunyinya, kemudian stetoskop digerakkan ke arah perut dan dada.


“Dia terkena tetanus karena lukanya kena bakteri. Saya beri suntikan Tetanus Toxoid untuk mempercepat proses penyembuhan. Selain itu ada obat-obatan yang harus diminum,”ujar sang dokter sambil berjalan kembali ke mejanya.


Ia membuang sarung tangan plastik ke dalam sebuah tong sampah di dekat meja kerjanya, lalu menuliskan sebuah resep dengan tangan kanannya.


“Ada pertanyaan?”tanyanya sambil membetulkan letak kacamatanya.


“Ada pantangan makanan tertentu gak,Dok?”tanya gadis itu.


“Sebenarnya tidak ada. Seperti ikan dan telur tetap dibutuhkan karena zat protein mempercepat penutupan luka, asal tidak berlebihan. Dan diperbanyak makan sayur dam buah-buahan,”papar sang dokter panjang lebar.

__ADS_1


“Terima kasih kalau begitu,Dok.”


“Silakan diambil obatnya di loket kasir.”


Ryan memapah gadis itu menuju ruang tunggu, lalu berjalan menuju loket.


Maya duduk sambil memainkan ponselnya, pakaiannya yang sedari tadi basah kini mengering, rambutnya acak-acakan karena sisir tertinggal di dalam koper.


“Silakan ditunggu obatnya.”


Ryan kembali menunggu di ruang tunggu, duduk di sebelah kiri gadis itu, lalu meletakkan punggung tangannya di atas kening gadis itu.


“Masih sedikit panas. Masih pusing?”tanya Ryan sambil mengenggam tangan gadis itu.


“Bukan pusing, tapi sakit kepala. Cekot-cekot,”sahut gadis itu sambil meringis.


“Kasian…Tapi sebentar lagi pasti sembuh.”


“Omong-omong kita berada di kota apa ya?”


Ryan menatap jalanan di depannya,”Oh ya lupa nanya ke perawat tadi.”


Lalu cowok itu buru-buru kembali melangkah menuju loket, menundukkan kepalanya agar dapat berbicara melalui sebuah lubang dimana perawat itu duduk.


Laki-laki dengan seragam putih itu mengkrenyitkan keningnya,”Lho kok anda sendiri tidak tau?”


“Kami baru saja mengalami kecelakaan pesawat,”sahut Ryan datar.


“Apa?”tanyanya dengan ekspresi kaget, matanya terbelalak nyaris tak percaya.


“Benar,Pak. Setelah ini kami akan melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.”


“Oh begitu. Ini daerah Batang. Kantor polisi ada di seberang klinik ini, agak berbelok ke kanan sedikit yang di depannya ada zebra cross.”


“Oh baiklah. Obatnya sudah siap?”tanya Ryan lagi.


“Sebentar saya masukkan ke dalam plastik.”


Ryan berdiri di loket dan menunggu,”Pak..Apakah tidak ada perban dan plester penutup luka?”


“Kalau dokter tidak menyarankan seharusnya tidak perlu. Tapi kalau pasien ingin melindungi lukanya dari kotoran, boleh beli di sini.”


“Boleh. Biar saya yang pakaikan nanti,”ujar Ryan sambil membayar sejumlah uang atas kuitansi yang disodorkan perawat itu.


“Ini obat-obatannya. Kapsul warna biru adalah obat antibiotik, diminum 3 kali sehari setelah makan. Yang tablet putih diminum sekali sehari agar lukanya cepat mengering dan boleh dihentikan setelah luka membaik,”ujar perawat itu lagi sambil berusaha menjelaskan cara konsumsinya.

__ADS_1


“Ada warung makan yang buka 24 jam di sekitar sini,Pak?”


Sejenak perawat itu berpikir,”Ada sebuah warung makan buka di sebelah kanan kantor polisi. Tapi hanya menjual Indomie dan roti bakar.”


“Oh tidak mengapa,Pak. Yang penting bisa digunakan sebagai pengganjal perut sebelum minum obat.


Ryan kembali ke ruang tunggu, duduk di sebelah gadis itu dan membubuhkan serbuk tabur obat anti infeksi di atas luka , lalu membebatnya dengan perban dan menutupnya dengan sebuah gulungan plester.


“Ayo aku bantu jalan,”ucap Ryan dengan sabar.


“Aku bisa jalan sendiri,”sahut Maya sambil menggeser langkahnya.


Keduanya berjalan ke arah warung makan dan mengambil duduk di sebuah bangku panjang berwarna hijau muda.


“Pesan dua mangkok indomie kuah pakai telur,Mas.”


“Siap. Pakai sayuran tidak?”


“Boleh Mas,”sahut keduanya hampir serempak.


Makan indomie di malam hari dalam keadaan lapar sangatlah nikmat. Maya meminum dua jenis obat itu sebelum pergi ke kantor polisi.


Di kantor polisi, hanya dua orang petugas yang sedang berjaga malam, mereka duduk di ruangan paling depan, menghadap sebuah computer PC.


“Selamat malam,Pak.”


Ryan mengambil posisi duduk di hadapan kedua polisi, Maya duduk di sebelah kiri cowok itu.


“Malam. Ada yang bisa dibantu?”tanya polisi berbadan gemuk.


“Malam. Saya mau melaporkan peristiwa kecelakaan pesawat dekat sungai,”ujar Ryan.


Polisi membelalakkan matanya dan terkejut,”Hah?Kecelakaan? Di sini jauh dari sungai.”


Polisi bertubuh kurus pun nampak ketakutan, karena posisi sungai sangat jauh dari tempat itu. Mungkin mereka merasa dua orang di hadapannya adalah roh bukan manusia lagi. Polisi itu nampak ketakutan dan beringsut mundur dari tempat duduknya.


“Masih ada berapa penumpang di sana?”


“Semua tampaknya selamat . Tapi butuh tim SAR segera,”kata Maya dengan wajah serius.


“Baiklah kalau begitu. Kami bantu menghubungi pihak SAR.”


“Sepuluh menit lagi tim SaR akan menuju ke lokasi. Terima kasih banyak atas bantuan kalian.”


Keduanya menganggukkan kepala dengan wajah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2