Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 13 : Alisha Mendapat Hukuman dari Papa


__ADS_3

Nampak kedua orang tua Niken telah menunggu di depan pintu ketika sang putri bungsu mereka membuka pintu gerbang.


“Kamu itu apa-apaan! Jam sepuluh malam baru pulang,mana baju seragam kotor begini!”seru sang mama sambil menjewer telinga Niken.


Sementara sang papa melotot dengan tangan berkacak pinggang.


“Ampun,Ma…Niken janji gak akan pulang malam lagi,”rengek gadis itu sambil duduk bersimpuh di lantai ruang tamu keluarganya.


“Ngapain aja seharian? Sudah makan belum?”tanya papa dengan wajah prihatin.


“Sudah,Pa. Maafin Niken. Tadi nemenin Alisha cari rumah Ryan, temen baru yang rumahnya jauh banget di luar kota.”


“Naik mobil tapi baju seragam bisa kotor begini?”tanya mama dengan nada tinggi.


Nampaknya sang mama kesal, telponnya sama sekali tidak diangkat karena ponsel Nikah sudah low bat dan tidak membawa power bank.


“Niken sama Alisha jatuh,Ma. Sebelah rumah Ryan itu penunggu kuburan dan di belakang rumah Ryan itu kuburan massal.”


“Udah sana mandi. Siapin pelajaran buat besok dan langsung tidur!”bentak papa tak kurang kesalnya.


“Mama minta kamu jauhin Alisha. Dia anak pejabat yang badung itu bukan? Kamu ketularan nakal gara-gara dia!”


Niken hanya menunduk dan mengangguk sambil naik tangga menuju kamarnya sambil menggendong tas ranselnya. Mukanya tampak berdebu karena seharian berada di luar rumah.


Sementara itu di rumah Alisha yang megah, beberapa art telah diperintah orang tuanya untuk menunggunya di depan rumah. Mereka berbondong-bondong menyambut anak majikannya ketika Alisha sampai di dalam rumah. Ada art yang membantu membukakan sepatu dan kaos kakinya, ada pula yang membantu membawakan tas ranselnya hingga ke kamar. Gadis itu bergegas naik lift untuk mandi.


“Non..Habis mandi nanti disuruh ke kamar tuan dan nyonya. Penting katanya,”pesan seorang art muda.


“Baik Mbak,”sahut gadis indo itu sambil masuk dan mengunci pintu kamarnya.


Alisha mandi di bawah shower yang airnya hangat, lutut kanannya terasa sangat perih karena terjatuh tadi.


Setelah mengeringkan badan, gadis itu baru tersadar kalau lututnya ternyata bernanah sehingga ia mengganti obat merah dengan Nebacetin, sebuah neomysin sulphate bacitracin yang berfungsi membunuh kuman pada perlukaan akibat nanah yang kering. Luka di lututnya berupa robekan agak besar tepat di tempurung lutut sehingga amat nyeri saat berjalan. Dan di dalam lubang itu perlukaan menimbulkan darah putih yang menggenang. Gadis itu menaburinya dengan obat dan membebatnya dengan kain perban. Lalu dengan langkah terseok-seok ia menuju kamar orang tuanya yang terletak di ujung dalam lantai yang sama.

__ADS_1


“Tok..tok…tok…”


“Masuk..”terdengar jawaban dari suara mama.


Nampak sang mama telah mengenakan lingeri panjang three pieces warna merah menyala dan sang papa duduk di atas sofa dengan piyama bergaris warna hitam dengan raut wajah tanpa senyum. Mama memperhatikan Alisha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Anak gadisnya yang mengenakan baby doll bermotif kartun warna merah muda itu tampak berdiri dengan pasrah seakan penumpang pesawat yang sedang menjalani deteksi saat check in.


“Sini duduk,”kata papa yang menyuruhnya duduk di sofa dekat dengannya.


Alisha menyelonjorkan kakinya agar lututnya tak terlalu nyeri.


“Kakimu kenapa,Nak?”tanya mama sambil mengelus kepala putri tunggalnya.


“Maafin Alisha,Ma..Pa…Alisha terjatuh di sebelah rumah Ryan,murid baru.”


“Memang kamu seharian ngapain aja?” tanya mama lagi.


Papa hanya mendengarkan dengan serius.


“Pulang sekolah Alisha ngajakin Niken ke rumah Ryan yang jauh di atas bukit.Nah di sebelah dia rumah penjaga kuburan yang mukanya serem. Kami lari lalu jatuh begini.”


“Mama barusan telpon mamanya Niken. Katanya kamu ngebut sampai 120 km/jam. Apa bener?”


“I..iya,Ma. Tapi kan Alisha selamat.”


“Ck ck ck. Alisha..Alisha…Gimana perasaan orang tuamu kalau kamu kecelakaan? Bisa jadi mama atau papa yang mati duluan kena serangan jantung.”


“Maafin Alisha Ma,”sahut gadis itu sambil menunduk menekuri luka di lutut kanannya yang makin perih kena sentuhan kain perban.


“Sekarang begini saja. Papa larang kamu nyetir selama 1 bulan. Biar Pak Ujang yang anterin kamu sekolah atau les atau kemana aja. Setuju?”


“Iya,Pa.Alisha gak bisa bebas dong? Pak Ujang kan jam 6 udah pulang,”protes Alisha.


“Bisa aja kamu pakai. Papa kasih dia uang lembur nantinya.”

__ADS_1


“Oh boleh,Pa.”


“Nah..Sekarang balik ke kamar, beresin buku buat besok. Nanti mama yang obtain luka kamu.”


Mama menggandeng tangan Alisha menuju kamar gadis itu.


Alisha melihat sang mama sedang mengeluarkan kotak P3K dari lemari kecil di kamarnya. Sementara itu sang anak membereskan buku dan mengerjakan PR untuk keesokan harinya.


“Sini,Nak.”


Mama menaikkan kaki kanan putri tunggalnya di atas tempat tidur dan membuka perban yang melingkar di lutut kanan gadis itu.


“Kalau luka bernanah gini.Jangan ditutup,biar luka cepat kering.”


Mama lalu memberi alas kain di bawah lutut Alisha dan menyiram lukanya dengan NaCl agar bebas dari kuman selama jatuh di tanah tadi.


Mama menaburkan bubuk obat dan membiarkannya terbuka.


“Jangan ditutup pakai selimut! Besok pagi juga lumayan mengering,”pesan mama sambil menutup pintu kamar Alisha.


Gadis itu merasakan ucapan sang mama benar,lukanya kini tak terlalu perih.


Namun kini pikirannya kembali mengenang kejadian sepulang sekolah. Ryan dengan segala keganjilannya, kepiawaiannya bermain bola basket sangat sempurna, keelokan wajahnya juga, namun gadis itu tetap bertanya-tanya. Sebuah rumah megah nan luas jauh di atas bukit, yang di belakangnya terdapat kuburan massal dan jauh dari para tetangga.


Alisha berusaha memejamkan mata, namun bayangan putih yang berkelebat di depan kaca mobil selalu membayangi, bergantian dengan sosok penjaga kuburan yang mata kirinya menonjol keluar dan kemerahan sehingga urat-urat matanya tampak dengan jelas.


Karena kelelahan,Alisha pun tertidur. Dalam mimpinya ia kembali ke tempat itu lagi, sebuah rumah gubuk di samping rumah Ryan. Gadis itu dikejar-kejar penjaga kuburan yang berjalan dengan terseok-seok karena tubuh tuanya sudah tak memiliki banyak tenaga untuk berlari kencang. Alisha terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang untuk mengetahui keberadaan si penjaga kuburan. Laki-laki tua itu nampak menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang kotor dan sebagian lainnya telah tanggal. Gadis itu mempercepat larinya hingga menabrak sebuah gundukan tanah merah.


“Apa ini?”tanya Alisha sambil menyalakan lampu dari ponselnya.


Tenggorokannya terasa tercekat, jantungnya terasa berhenti sekian detik ketika dilihatnya sebuah kuburan dengan tanah masih merah dengan taburan bunga di atasnya.


Di batu nisan terukir sebuah nama : Anisa binti Maskun.

__ADS_1


Gadis itu berusaha mengingat-ingat nama itu. Laki-laki tua itu berteriak menyuruhnya berhenti dan Alisha meneruskan larinya sehingga mereka berkejar-kejaran di dalam kompleks kuburan massal. Sebuah bayangan putih kembali terbang di hadapannya. Alisha sejenak menutup matanya dan berteriak meronta-ronta. Tubuhnya terasa berat untuk melawan, matanya pun terasa susah untuk dibuka. Dengan sekuat tenaga,Alisha berusaha membuka matanya dan berontak. Akhirnya dia berhasil dan menyadari semua itu hanya mimpi. Seluruh tubuhnya berkeringat padahal kamarnya sangat dingin dengan pendingin udara yang diset pada angka 18 derajat.


Sebuah mimpi tapi begitu nyata dan nama perempuan di atas batu nisan itu masih diingat benar.


__ADS_2