Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 149: Hujan Deras Tiba-tiba


__ADS_3

Di meja makan, Om Robert duduk di hadapan Ryan. Cowok ganteng itu duduk di samping kiri Maya. Mereka mengenakan pakaian yang sama, kaos warna kelabu dan celana jeans warna hitam. Om Robert tampah gagah dengan kaos hitam dan logo bling-bling dari sebuah merk kenamaan dunia. Tampak art saling bergantian membawakan lauk-pauk yang baru saja selesai dimasak dari dapur basah. Seekor ayam goreng cabut tulang, sup daging dengan banyak brokoli, perkedel jagung, potongan buah papaya bercampur nanas dan apel, serta susu cair warna merah dalam botol bening .


“Untung mereka cuma hadir dalam mimpiku,”gumam Aya sambil terdiam tak bergerak.


Rasa takut yang ditimbulkan mimpinya semalam, masih terbayang jelas di ingatannya. Semua mimpi buruk itu begitu nyata dan membuat energi dan emosinya banyak terkuras.


“Maya jadi pulang hari ini?”tanya Om Robert sambil meletakkan serbet di atas pangkuannya.


“Jadi,Om. Agak siang ke bandara,”sahut Maya sambil tersenyum,memamerkan dua lesung pipitnya yang menggemaskan.


“Baguslah. Nanti biar diantar supir aja, sekalian bantu bawain koper kalian,”ujarnya lagi.


Ryan memotong ayam dengan pisau dan garpu, sementara itu tangan gadis itu meraih senduk sup. Mata cowok itu terpaku pada lengan Maya yang membiru.


“Ada apa dengan lenganmu,May?”


“Oh..Aku terjatuh semalam,”sahut Maya sambil menutupi lengannya dengan tangan.


“Jatuh dimana?”tanya Om Robert sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


“Jatuh saat tidur,Om.”


Om Robert tertawa terbahak-bahak dan nyaris tersedak.


“Kenapa malah tertawa,Pa?”


“Ya…Maya kan udah dewasa kok pakai jatuh segala. Itu persis Ryan jaman pertama masuk SD.”


Cowok tampan rupawan itu hanya tersenyum malu, pipinya kemerahan.


“Itu karena dulu tempat tidur Ryan kecil. Setelah sering jatuh baru papa ganti pakai tempat tidur ukuran king size.”


“Dia mimpinya jadi super woman,Pa. Maklum,”seloroh Ryan sambil meneguk air mineral dari sebuah gelas.


“Uhuk…”


Gantian gadis itu yang tersedak karena ikutan tertawa di saat mulut penuh dengan makanan.


“Makanya kalau makan jangan kebanyakan ngobrol,”nasehat papanya Ryan sambil menusukkan potongan buah dengan tiga garpu kecil dan meletakkannya di tengah meja.

__ADS_1


Pak Rakhmat sibuk mengelap mobil di garasi, ia ditugaskan menggantikan tugas Pak Ujang yang sedang sakit demam. Biasanya supir ini ditugaskan di pabrik untuk mengantarkan barang ke para distributor. Laki-laki berambut ikal, dengan perawakan sedang dan berkulit hitam ini telah lama mengabdi pada perusahaan, sekitar 20 tahun yang lalu, kini usianya mendekati kepala 5 dan telah berhasil mengentaskan dua buah hatinya di jenjang strata satu alias sarjana.


“Selamat pagi,Den.”


Sang supir menyapa Ryan yang mengambil sepatu rodanya yang tertinggal di dekat garasi. Hampir satu bulan sepatu roda itu tertinggal di sana dan ia lupa menitipkan pesan untuk para art-nya untuk membawa masuk ke dalam rumah.


“Pagi juga,Pak. Nanti boleh angkat kopernya. Minta aja sama art. Udah Ryan taruh di depan pintu kamar,”pesan Ryan sambil menenteng sepatu rodanya yang mulai berdebu.


Si ganteng berjalan ke belakang dan menemui seorang art-nya untuk mengelap dan memasukkannya ke dalam rak sepatu. Dua art lainnya berjalan ke arah pintu lift untuk mengambil koper dari dalam kamar , untuk dimasukkan ke dalam mobil. Sepuluh art di rumah itu bekerja dengan gesit dan rapi tanpa banyak bercakap-cakap. Maya memperhatikannya dari kejauhan dan berusaha beradaptasi dengan kehidupan keluarga ini.


Keduanya melambaikan tangan pada Om Robert yang berdiri di muka pintu, Maya dan Ryan sudah siap di dalam mobil yang akan membawanya ke bandara. Sayangnya di tengah jalan, turun hujan yang sangat lebat. Sang supir menyalakan wiper untuk menghilangkan air hujan di depan kaca.


“Waduh,Den. Hujan angin pandangan sampai kabur begini. Apa gak bisa ditunda penerbangannya?”tanya sang supir dengan wajah cemas.


“Hemm..Gimana,May? Paling kita beli tiket lain hari,”tanya Ryan meminta pendapat gadis itu.


“Takut ada awan cumulonimbus yang sering bikin kecelakaan kalau hari hujan atau minimal suka ada turbulence,”ujar Maya.


Ryan terdiam dan berpikir,”Kita liat nanti sore gimana cuaca selanjutnya.”

__ADS_1


Cuaca cerah dengan awan putih yang indah, seketika berubah menyeramkan, hujan disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar.


__ADS_2