
Suatu malam di Desa Sukapura,Lampung Selatan…
“Jujurlah,Mas!”rengek Karti sambil menarik-narik lengan kemeja Don.
Laki-laki tambun itu baru saja pulang ke rumah setelah pergi tanpa pamit selama empat hari.
“Emak….Emak…”
Terdengar suara tangisan bocah kecil,si bungsu anak karti yang terbangun tengah malam. Dua anak Karti tidur terpisah di kamar sebelah dengan ditemani neneknya.
“Tuh…Urusin aja anak kamu!”bentak Don dengan mata melotot dan muka memerah menahan marah.
Laki-laki itu mengemasi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam sebuah tas ransel besar yang dibawanya dari kota dahulu.
“Kamu baru datang. Mau kemana lagi sih,Mas?”
“Gak perlu tanya-tanya terus! Jenuh aku tiap hari denger tangisan anakmu. Berisik!”
Karti mulai menangis terisak-isak,tubuhnya yang makin kurus karena beban pikiran, hidupnya menjadi tertekan sejak menikah dengan Don yang sepertinya tidak tulus mencintainya.
“Jawab pertanyaan saya dulu,Mas. Mau kemana? Terus ada lipstik di kantong celanamu itu punya siapa,Mas?”
“Gausah tanya-tanya! Saya udah bosen sama kamu!”
“Terus bayi ini gimana,Mas? Ini anak kita. Sebentar lagi mau lahiran,”isak Karti sambil menarik lengan suaminya.
Tangannya yang ringkih mengelus perutnya yang makin membuncit. Tinggal hitungan bulan bayi itu akan lahir, namun Don tak sekalipun perhatian malahan sering pergi dari rumah tanpa pamit.
“Sini! Kasih uang buat aku pergi dari sini!”
__ADS_1
“Uangmu di sini sudah habis,Mas. Kan selama kita nikah kamu hanya rebahan,”papar Karti mulai kesal.
“Ya uang saya habis gara-gara pesta nikahan kita!”
“Kan kamu yang minta kita nikah,Mas. Kau yang datang kemari. Bukan aku yang memintamu!”
“Pokoknya kasih aku uang satu juta. Setelah itu kita cerai!”seru Don dengan suara bergema hingga ke kamar sebelah.
Ibunya Karti datang sambil menggendong si bungsu. Si bungsu tampaknya kelaparan dan ingin menyusu. Nenek kadang membuatkan susu botol tapi si bungsu lebih suka menyusu pada ibunya. Wanita tua itu mengetuk pintu. Tubuhnya yang renta dibalut kebaya kutu baru berwarna biru muda kan kain jarik motif grompol.
“Ada apa,Ti? Sudah malam kok ribut-ribut. Malu sama tetangga!”seru sang ibu sambil menenangkan si kecil.
“Dia mau kabur lagi,Mak. Mau minta uang satu juta dan nuntut cerai,”lapor Karti sambil terisak.
“Lha kamu ini gimana Don! Karti itu kan hamil tua!”bentak sang ibu dengan penuh emosi.
“Udah jangan ikut-ikutan,Bu! Maafkan saya. Saya tidak nyaman tinggal di sini.”
Karti mengeluarkan uang lembaran warna merah sebanyak sepuluh lembar dan melemparkannya ke muka Don. Karti benar-benar marah karena Don sungguh tidak bertanggung-jawab.
Don berjalan dengan lunglai sambil membawa tas ranselnya. Laki-laki itu sudah pasrah akan nasibnya yang tergila-gila pada biduan desa dengan nama panggung Bella Danira. Entah siapa nama aslinya, Don sudah tak peduli lagi. Janda beranak dua itu telah membuatnya lupa daratan dan melupakan istri yang sedang hamil tua. Uang Don selama bekerja di kota habis sudah, Bella selalu memiliki banyak permintaan. Sebuah sepeda motor terbaru telah dipersembahkan untuk pelakor itu, dan sebentar lagi Karti akan kembali menjadi janda tanpa menunggu kelahiran anaknya. Don dan Karti hanya menikah siri, akibatnya laki-laki itu akan meninggalkannya begitu saja tanpa perlu siding perceraian dan tanpa perlu memberi nafkah pada calon bayinya kelak. Don memang sungguh keterlaluan.
Setelah uangnya habis,Don dan Bella berencana akan kembali ke kota besar dan bekerja kembali di dunia malam yang menurutnya menghasilkan banyak uang.
“Yey…Akhirnya kita berhasil juga melarikan diri dari Lampung,”seru Don sambil memeluk Bella dengan mesra.
Mereka bergandengan tangan mencari penginapan yang menerima pasangan .
“Mas..Nanti kita nikah dulu di KUA. Aku malu kalau kita begini terus,”pinta Bella dengan manja.
__ADS_1
“Tentu saja sayangku. Yang penting kita dapat kos dulu.”
“Aku kerja di tempatmu dulu,Mas?”
“Iya..Kamu jadi pemandu lagu. Aku kerja office boy lagi,”kata Don sambil membusungkan dada.
Laki-laki tambun itu seakan bangga berhasil menggaet Bella,sang biduan desa yang dinilainya sangat cantik dan menarik.
Keesokan harinya dua insan yang sedang kasmaran itu menikah siri di depan KUA. Dan malam harinya mulai bekerja di klub malam yang dulu. Don melupakan kasusnya yang lampau dan menganggap semua sudah aman.
“Hai,Don! Rupanya kau kerja di sini lagi?”
“Iya..Bawa istriku kerja di sini juga,”kata Don sambil tersenyum lebar.
Dalam waktu kurang dari satu minggu, nama Bella Danira langsung naik daun sebagai pemandu lagu yang bersuara merdu dan disukai banyak tamu. Langganan pun berdatangan dari berbagai penjuru kota, yang kebanyakan terdiri dari para lelaki hidung belang yang mencari hiburan malam atau selingkuhan sesaat.
Hingga suatu hari,Don memergoki sang istri sedang dipeluk-peluk lelaki lain yang memberinya uang ke dalam selipan dadanya, atau istilahnya “saweran.” Meskipun hatinya panas,Don masih dapat memendam perasaannya. Kejadian itu terulang lagi untuk keesokan harinya. Bella melakukan hal sama dengan para tamu lainnya sehingga setiap mereka pulang kerja selalu saja terjadi keributan di dalam kos.
“Mestinya kamu udah paham kerjaan pemandu lagu,Mas! Bukan malah cemburu buta!”
“Paham! Dan kamu sangat senang karena gajimu jauh lebih tinggi daripada aku kan?”sahut Don dengan nada meninggi.
Bulan berganti bulan, Karti melahirkan seorang bayi perempuan yang melengkapi kehidupannya. Namun Don selaku bapaknya tak sekalipun berkirim kabar apalagi menjenguknya. Sementara itu Bella semakin dibuai oleh harta benda yang diperolehnya dari pekerjaan malam. Perempuan itu diberi iming-iming oleh seorang duda untuk dibelikan rumah sederhana asal bersedia menjadi pacar gelapnya. Bella menyanggupi demi hidup lebih mapan. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan suaminya. Don bukan laki-laki bodoh. Lama-kelamaan perselingkuhan Bella dengan seorang duda berusia sekitar 52 tahun kepala DPU terendus juga. Sikap Bella yang makin dingin dan kurang menghargai Don menjadi sumber keributan mereka.
Hingga suatu pagi, sekitar pukul 2 dini hari, Bella pulang dengan diantar duda tua itu. Don berdiri di balik pintu kos dengan wajah merah menahan marah. Laki-laki tambun itu kehilangan akal sehatnya karena sakit hati. Ditariknya tangan duda tua itu ke dalam kamar kosnya, lalu ditinjunya berulang-ulang. Duda tua itu bernama Pak Dino, tak begitu saja mau menerima perlakukan tidak manusiawi dari Don. Dengan ilmu silat yang dimilikinya, Pak Dino membalasnya dengan pukulan bertubi-tubi yang membuat Don kewalahan dan nekad mengambil pisau dari dapur. Bella berlari hendak melerai pertikaian itu, namun malang perutnya tertusuk pisau milik Don. Hingga terdengarlah erangan nyaring dari mulut Bella,istrinya.
" Arrghh...Mas .Kenapa kau tega melakukan semua ini?" rintihnya sambil memegangi perutny yang berdarah.
"Maafin,Mas.Tidak sengaja,"sahut Don sambil terisak.
__ADS_1
Di saat Don sedang lengah, Pak Don menyerangnya. Namun Don menghunus pisau itu ke dada musuhnya.
Pak Doni hendak menangkis pisau yang dihujamkan Don ke arahnya,namun sayang laki-laki tua itu jatuh tersandung kaki meja dan matanya tertancap pisau milik Don. Seketika suasana kos campur itu riuh rendah. Para penghuni kos berhamburan keluar dan melaporkan ke polisi terdekat. Don ditangkap polisi malam itu juga dan akhirnya mendapat hukuman penjara selama sepuluh tahun.