
Rumah Alisha tampak sepi, hanya ada sepuluh art di belakang rumahnya yang luas dan megah. Papa sedang ada perjalanan dinas keluar pulau sedangkan mama ada kunjungan ke daerah-daerah terpencil sebagai bagian dari tugasnya sebagai wakil rakyat. Gadis itu berniat merayakan kemenangannya dari kasus Maya dengan mengunjungi klub malam setelah menyiapkan semua buku untuk keesokan harinya.
“Driing…Driing…”
Niken mengangkat telpon dari Alisha saat dirinya sudah bersiap untuk tidur, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Ada apa,Lis?”
“Yuk kita dugem.”
“Mana bisa? Papa mama ada di rumah. Gue juga udah ngantuk.Maaf ya.”
Alisha tertunduk dengan wajah sedih, hari ini ia ingin euphoria merayakan suka citanya bisa menyetir mobil kembali. Gadis itu sudah tampak cantik dengan rambutnya yang di-blow kombinasi dan tubuhnya yang jangkung makin elok dalam balutan mini dress warna hitam yang sexy. Heels setinggi 20 cm dengan warna yang senada telah mempercantik penampilannya. Total semua property yang dipakainya dari ujung kepala hingga ujung kaki mencapai puluhan juta rupiah dengan merk kenamaan dunia. Harapan satu-satunya adalah Sandra, cewek tomboy yang orangtuanya jauh di luar kota. Akhirnya ditelponnya sohibnya,Sandra.
“Hai,San. Malam ini bisa gak lu temenin gue ke klub malam?”
“Hah? Tumben amat. Besok kan kita sekolah pagi.”
“Please. Gue suntuk banget.”
Sandra terdiam dan berpikir sejenak kemudian mengiyakan sahabatnya.
“Tapi ada syaratnya,Lis. Gue gak bisa ikutan minum alkohol karena sakit maag.”
“Okelah. Yang penting lu nemenin gue.”
“Tapi…Gue cuma bisa nemenin lu sampai pukul 12 malam. Gue takut telat bangun.”
“Yaudah. Bawel amat lu. Banyak banget syaratnya. 30 menit lagi gue jemput lu ya!”
“Oke.. Gue tunggu.”
Akhirnya dua cewek SMA itu menginjakkan kakinya di klub malam terbesar di kota ini. Sandra yang tomboy hanya mengenakan t shirt polos warna merah dan jeans belel warna biru.
Di pintu depan yang dijaga satpam tertulis “Ladies Night” yang artinya kaum hawa bebas masuk tanpa membayar tiket masuk.
__ADS_1
Alisha berjalan dengan sepatunya yang tinggi,penampilannya yang cantik paripurna membuat banyak kerumunan laki-laki yang sedang merokok dan minum-minuman keras berpaling menatapnya. Beberapa di antaranya berusaha mendekati gadis ini. Sanda merasa terganggu dengan hadirnya banyak laki-laki di sekeliling mereka, terlebih asap rokoknya membuat mata terasa pedih.
“Hai cewek… Kenalan dong,” sapa seorang laki-laki muda bersama dua rekannya yang nampak seperti **** boy.
Alisha mengusir mereka dan duduk di meja bar, memesan vodka dan jus jeruk untuk Sandra. Beberapa pengunjung tampak melantai bergoyang ria sambil mendengarkan alunan music techno. Sandra bergidik melihat seorang bule mabuk yang dipapah dua satpam. Alisha tampak sangat menikmati vodka dan terus menambah minumannya sehingga kepalanya terasa berat dan pusing, perutnya pun terasa mual.
“Aduh,Lis. Lu bakal kena omel lagi sama orang tua deh.”
“Ah…Gue minum cuma sedikit kok,gak mabuk.”
“Yuk..Kita pulang aja. Bahaya kalau nyetir sambil mabuk.”
Sandra memapah Alisha ke sofa besar di seberang meja bar. Di sana duduk beberapa laki-laki, tua dan muda yang duduk ditemani teman kencannya, para wanita malam yang berpakaian minim dan belahan dada rendah menunjukkan belahan dadanya yang ranum dan rok bawahnya yang tersingkap ketika duduk memamerkan kedua pahanya. Sandra merasa kurang nyaman duduk di sana, tubuhnya dimiringkan sehingga ia hanya menatap Alisha yang terduduk dengan kepala pening.
“Yuk,Lis. Kita pulang aja. Gak ada yang diliat di tempat maca mini. Gelap.”
“Udah ah bawel lu!”bentak Alisha yang enggan bergerak dari tempatnya duduk.
“Gue pasti balik duluan satu jam lagi. Tapi lu janji dulu ke gue. Jangan mabuk dan balik cepet jangan pulang pagi!”
Sandra berusaha mencegah Alisha yang berniat mencoba minuman keras lainnya,Mc Callan.
“Udah..Udah…Stop jangan minum lagi! Mending kita dengerin lagu aja. Lu mau jojing silakan.”
Tak terasa satu jam pun berlalu, rambut keduanya sudah berubah tidak lagi wangi tapi bau asap rokok, demikian pula pakaian yang dikenakan semuanya penuh dengan bau rokok yang memenuhi seluruh ruangan diskotik.
“Gue pamit pulang,Lis. Taksi udah nungguin gue di depan.Lu janji harus nyusul gue balik rumah!”
“Iya bawel! Gue balik pukul dua.”
Sandra pun menghilang dari pandangan, sementara itu Alisha turun melantai dan berjojing mengikuti irama lagu techno yang berganti menjadi heavy metal. Gadis itu meluapkan kegembiraannya dengan meloncat-loncat dan menari suka ria sehingga tanpa disadarinya dua pasang mata laki-laki mengamatinya dari jauh. Alisha lupa kalau dua orang ini adalah dua pembunuh bayaran yang ia bayar untuk menculik dan mencelakai Maya. Gadis itu memperolah nomor kontak mereka melalui sebuah situs online dan sama sekali tidak mengetahui siapa nama mereka. Kedua laki-laki ini pun komit untuk tidak membuka suara namun sepertinya mereka memiliki niat lain terhadap Alisha yang sekarang sedang sendirian di klub malam.
Salah seorang di antara mereka mendekati gadis itu dengan pura-pura menabraknya.
“Bruuk..”Alisha jatuh tersungkur,untung saja ia jatuh berlutut di atas karpet sehingga tak ada satupun bagian tubuhnya yang terluka.
__ADS_1
Alisha bangun dan menatap mereka dengan wajah galak dan sorot mata yang tajam.
“Apa-apaan kalian? Belum tau gue ini siapa hah!”serunya yang membuat beberapa pengunjung lain melihat dan menertawakannya.
“Lu lupa siapa kita-kita ini?”satu di antara mereka yang berkumis dan memiliki brewok lebat angkat bicara.
“Gue Don. Dan ade gue bernama Din,”bisiknya di telinga Alisha yang berdiri mematung karena kaget.
“Kita saling kenal? Kapan?”tanya Alisha yang merasakan lututnya mulai gemetaran.
Gadis itu mengira dua orang itu berniat jahat hendak memperkosanya.
“Gue Din. Yang tempo hari lo suruh bekap cewek pakai obat bius. Ingat?”kata laki-laki yang penampilannya lebih klimis dan muda sambil tertawa menyeringai.
Kedua laki-laki itu menggiring Alisha untuk duduk di ujung yang jauh dari keramaian.
“Mau apa kalian? Sekali kalian berani melukai gue,hidup kalian bakal ancur. Tamat!”ancam gadis itu sambil menutupi rasa takutnya.
“Gue gak berniat jahat sama lu.”
“Lalu niat kalian apa?”bentak Alisha sambil mengelap keringat dingin yang mulai membanjiri leher dan dahinya.
“Kita ini butuh duit,”kata Don sambil menirukan gerakan orang menghitung uang.
“Iya..Kita lagi sakau,”sahut Din yang tampak pucat dan tubuhnya bergetar layaknya orang sedang kedinginan.
“Tapi gue udah bayar semuanya.”
“Anggap aja lo bantu kita-kita ini,”timpal Don dengan raut muka kuyu dan mata sendu persis seperti orang putus obat.
“Mati aku! Mereka ternyata pecandu narkoba! Bisa abis duit lama-lama,”batin Alisha dengan jari jemari mulai bergetar karena takut, bibirnya mulai kelu dan tenggorokannya terasa tercekat.
Gadis itu ingin menelpon mama dan papa namun takut kedua orang itu nekad dan mencelakainya.
“Oke. Baiklah kali ini aja. Nih gue amal dua juta. Udah ya!”
__ADS_1
Mereka kegirangan menerima segepok uang dari gadis cantik itu dan menciumin uang kertas warna merah itu berkali-kali. Sementara itu Alisha mengendap-endap menjauh dari mereka dan berlari menuju pelataran parkir.