
“Sudah lebih baik,May?”
Pertanyaan itu dilontarkan Ryan ketika Maya terbangun di pagi hari di suatu Minggu pagi yang cerah. Gadis itu pingsan seusai menyelesaikan masa OSPEK-nya seminggu penuh, penyakit darah rendahnya kumat dan ia kehabisan susu warna merah. Di lengan kanannya masih tertancap jarum infus berisi larutan dextrose, yang membuat kulit sekitarnya membiru. Ryan keluar untuk menemui dokter yang menanganinya, bau obat dan karbol yang sangat tajam menyeruak masuk ke hidung gadis itu. Di ruangan itu hanya ada dirinya sendiri, sebuah sofa berukuran besar dan sebuah televisi yang sedang menyiarkan siaran berita dalam negeri dengan volume kecil.
Tak lama kemudian, seorang dokter laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun datang bersama Ryan, diikuti oleh seorang perawat wanita yang masuk sambil membawa sebuah map berisi medical record milik pasien.
“Apa kabar? Udah baikan?”
“Lumayan,Dok. Terima kasih. Apakah hari ini saya udah boleh pulang?”
“Saya periksa dulu,”sahut sang dokter sambil meletakkan stetoskopnya ke dada gadis itu.
Kemudian perawat mengukur tekanan darah gadis itu dengan memompa sebuah alat dan kembali mengempiskannya.
“120 / 90, Dok.”
“Sudah normal. Banyakin makan daging, hati, telur, susu, dan jangan lupa olahraga biar tekanan darah tetap terjaga normal,”kata sang dokter sambil membalikkan badan ke arah pintu keluar.
Maya duduk dan meletakkan punggungnya bersandar pada sebuah bantal, perawat belum juga melepaskan jarum infus itu meskipun tekanan darahnya mulai normal.
“Beneran mau balik besok? Gak nunggu minggu depan? Kita belum pernah piknik ke tempat wisata deket sini lho,”kata Maya dengan nada manja.
“Lain kali aja. Kata papa kelamaan di sini.”
“Terus datang lagi kapan dong?”
“Tahun depan. Kita langsung nikah,”ledek Ryan sambil terkekeh.
“Oh ya..Kalau sudah nikah kita akan tinggal dimana?”
“Mmh…Pasti papa beliin kita rumah di sini. Lalu aku balik lagi ke Amerika. Kalau kamu udah lulus kita balik lagi ke Jakarta.”
“Aku sama siapa dong di rumah?”
“Ya…Bisa pakai art kan,May.”
Percakapan mereka terhenti ketika dua orang perawat lain masuk dan melepaskan jarum infus.
“Kata dokter, anda sudah diperbolehkan pulang ke rumah,”kata perawat yang berkacamata.
“Terima kasih,Zus.”
Ryan mengemasi tas ransel milik Maya yang masih tergeletak di sofa.
“Aku belum ganti baju dari kemarin?”
“Iya. Kan pihak kampus nelpon ke ponsel aku kalau kamu pingsan di halaman kampus.”
“Hah? Yang bener aja?”
__ADS_1
Ryan terkekeh, “Masa kampus bohong sih? Kau kan biasa suka drop. Kecapekan mungkin.”
Keduanya masuk ke dalam sebuah taksi yang terparkir di halaman depan rumah sakit.
“Selamat siang..Tujuan akhir kalian dimana?”
Ryan memandang ke arah Maya seakan minta pendapat gadis itu.
“Kita ke mall aja,Pak.”
“Hah? Gak salah? Bukannya balik ke kos dulu, naruh tas atau mandi dulu. Biar gak bau,”ledek Ryan.
Maya cemberut lalu mengubah rutenya,”Ke arah kos di belakang kampus aja,Pak.”
“Oh baiklah. Abis itu kalau mau pakai lagi. Telpon aja. Nomer telpon saya ada di belakang kursi.”
Maya menyimpan nomer sopir taksi itu di dalam ponselnya, lalu memberikan nomer itu pula untuk Ryan yang hanya memandangnya sekilas.
Sesampainya di kos, siang itu agak sepi karena beberapa mahasiswi pulang kampung di saat weekend dan akan kambali hari Minggu malam. Ibu Laksmi pemilik kos tampak duduk di atas kursi rodanya dan menghadap pintu keluar.
“Siang,Bu. Maaf numpang lewat,”kata Maya sambil memberi hormat.
“Siang juga. Maaf. Ibu mau tanya kenapa semalaman kamu tidak pulang ke kos ini?”
“Mmh semalam saya menginap di rumah sakit,Bu. Saya pingsan di kampus,”sahut gadis itu sambil membetulkan letak raambutnya yang tertiup angin.
“Bagaimana ibu bisa mempercayai ucapanmu?”
Bu Laksmi menerimanya lalu mengecek kuitansi itu, lalu mengembalikannya kembali pada Ryan.
“Maaf. Ibu berbuat ini demi kebaikan kalian semua,”katanya sambil mendorong kursi rodanya kembali masuk ke dalam kamar.
Sorenya, gadis itu duduk di teras rumah kosnya, pikirannya menerawang jauh, tahun depan ia akan menikah. Kemudian hamil dan punya anak sambil meneruskan kuliahnya, sementara sang suami berada di suatu tempat yang sangat jauh.
“Hai…Melamun melulu!”seru Ryan sambil menepuk bahu gadis itu dengan pelan.
Maya kaget, tahu-tahu cowok itu telah berdiri di sampingnya. Taksi online telah siap menunggu di luar pagar rumah kos itu.
“Lagi ngapain sih?”cowok itu mengulangi pertanyaannya.
“Lagi ngebayangin kuliah dengan perut buncit tahun depan.”
“Maksudnya hamil?”
“Iya.”
“Gak dong. Kita tunda dulu sampai kuliahmu lulus.”
“Alhamdullilah.”
__ADS_1
Maya menarik napas lega, diseretnya sepatu di depan pintu kos dan dipakainya sambil berlari menuju taksi online yang akan membawanya ke sebuah mall paling besar dan paling modern di kota ini.
“Pokoknya kita habiskan malam ini berdua. Kamu boleh apa aja di sini,May.”
“Boleh ngeborong juga?”
Ryan menganggukkan kepalanya,”Beli aja apa yang kamu butuhkan.”
“Asyik…..”seru Maya sambil berlari menggandeng tangan cowok itu ke sebuah outlet pakaian.
“Eits…Jangan dulu!”seru Ryan.
“Kenapa? Katanya boleh belanja apa aja?”rengek gadis itu dengan suara manja.
“Kan kita belum makan malam,May.”
“Oh iya…Hampir lupa.”
Setelah keduanya makan di sebuah restoran yang menyajikan aneka sushi, mereka kembali untuk berburu pakaian di beberapa outlet.
“Besok pagi aku udah ke bandara lho.”
“Aku juga kuliah pagi.”
“Sedihnya, nungguin kamu lama di sini. Giliran mau pulang gak diantar,”keluh Ryan sambil terus berjalan menyusuri mall.
“Apa aku mesti ijin?”
“Ya jangan dong. Anak FKU gak boleh bolos atau keseringan ijin.”
“Yaudah. Jangan ngeluh dong.”
“Iya..iya…”
Ryan membawa tas sebagai tempat pakaian yang akan dibeli, dan gadis itu hanya memasukkan tiga potong pakaian di sana. Di antara sekian banyak mannuquin yang mengenakan contoh pakaian sebagai pajangan, nampak sebuah yang matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Maya yang sedang memperhatikan deretan model pakaian itu nyaris berteriak, namun Ryan buru-buru menutup dengan tangannya. Cowok itu memiliki firasat bahwa gangguan itu akan datang lagi, dan ia telah mempersiapkan diri untuk melindungi gadis itu.
“Apa yang terjadi?”bisik Maya ke telinga Ryan agar orang-orang di sekitar toko tidak heboh.
Ryan tidak menjawab namun buru-buru menarik tangan Maya ke kasir dan membayarnya.
Dua remaja itu buru-buru keluar dari outlet dan Ryan membawanya ke tempat yang agak jauh, ke sebuah bangku panjang yang ada di tengah-tengah mall.
“Ada apa? Kenapa cuma diam?” tanya Maya mengulang pertanyaannya.
“Aku belum tau itu apa. Tapi kalau kamu nemuin itu lagi, cuekin aja. Perbanyak ibadah kalau aku pergi dari kota ini,”papar Ryan panjang lebar.
“Mereka ingin nyawaku?”tanya gadis itu dengan menaikkan alisnya.
Ryan menggeleng dengan pasti,”Aku mau nanya papa soal ini. Yang jelas mereka gak bakal membunuhmu.”
__ADS_1
“Tapi mereka itu siapa?”