
Siang itu mentari nampak bersembunyi di balik awan, cakrawala nampak gelap dan udara yang semula panas berubah dingin. Gumpalan awan berarak-arakan dengan warnanya yang kelabu,sementara dedaunan mulai menari tertiup angin. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Ryan mendekati mobil putih nan mewah milik cewek paling popular di sekolah ini,Alisha nampak bersama kedua sahabat setianya bersiap memasuki pintu mobil.
“Tunggu dulu!”seru si ganteng sambil mencekal pundak gadis itu dengan tangan kanannya yang kekar.
Alisha menengok ke belakang, rambutnya yang blonde tampak tersibak, matanya yang menyorotkan keangkuhan menatap wajah Ryan dengan tatapan sinis dan bibir menyeringai. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang indah seakan hilang pesonanya akibat karakternya yang kurang berkenan.
“Tumben…Mau apa lo cari gue?”serunya dengan nada bicara yang sama sekali tidak bersahabat.
“Gue mau bicara empat mata sama lo,”sahut Ryan dengan mimik serius,kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.
Alisha memberi kode agar kedua temannya keluar dari mobil.
“Kalau begitu gue balik duluan naik taksi,”pamit Niken.
“Gue juga ya…Soalnya ada les matematika,Lis.”
Alisha hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
Niken dan Sandra pun berlalu dan berjalan menuju gerbang sekolah, berdiri di sana hingga taksi online pesanan mereka datang menjemput.
Kini Alisha hanya berdua dengan Ryan,cowok paling ganteng dan paling keren di sekolahya.
“Apa yang lo inginkan dari gue? Dimana cewek pincang lo?”
“Dia lagi rapat OSIS. Bisa gak sih mulut lo sedikit dijaga dan gak sembarangan ngatain orang lain?”seru cowok itu dengan nada tinggi.
Ryan mengangkat dagunya,kedua alisnya dinaikkan dan wajahnya didekatkan ke depan wajah Alisha hingga harum kemeja putihnya menyeruak masuk ke hidung gadis itu.
“Jawab dengan jujur,apa yang udah lo lakuin terhadap Maya tempo hari?”tanya Ryan dengan nada tinggi,wajahnya nyaris tanpa senyuman dan sorot matanya sangat tajam seakan menembus hingga ke ulu hati.
“Lu nuduh gue!”Apa buktinya?”seru gadis itu dengan mata melotot dan jari telunjuknya diarahkan persis di muka Ryan.
“Maya sendiri dengar suara mirip lo! Dan ada pedagang keliling yang liat plat mobil lo. Lo sembunyiin dimana sekarang mobilnya?”tanya Ryan dengan nada keras.
Alisha geram, mukanya memerah dan tangan kanannya bersiap menampar Ryan.
Namun cowok itu dengan sigap menangkap tangan kanan milik gadis itu, dicekalnya tangan kanannya dengan sangat kuat hingga Alisha meringis kesakitan.
__ADS_1
“Lepasin! Apa mau lo?”seru Alisha sambil melepaskan tangan kanannya yang memerah.
“Gue mau ajak lo ke suatu tempat karena gue gamau satpam sampai denger keributan ini.”
Ryan lalu menarik tangan Alisha ke luar gerbang sekolah dan keduanya melesat dengan cepat bagaikan terbang ke sebuah tempat agak jauh dari sekolahan, sebuah tanah lapang yang sekelilingnya dipenuhi pepohonan hijau.
Keduanya saling bertatapan dengan sorot mata tajam, keduanya berdiri mematung sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ryan merasakan ada energi lain dalam tubuh Alisha, gadis itu dapat melesat mengiringi larinya tanpa perlu banyak dibantu seperti yang ia lakukan terhadap Maya. Artinya,Alisha punya kemampuan untuk berlari melebihi kecepatan cahaya juga, dan itu dipastikan hanya milik vampire sepertinya.
“Siapa lo sebenarnya?Ayo jawab! Kalau lo bener Alisha sejak kapan lo bisa lari secepat kilat?”desak cowok itu dengan muka memerah dan tangan terkepal menahan amarah.
Petir mulai menggelegar, hujan tampaknya akan turun sebentar lagi.Namun kedua remaja itu masih tertahan di sana karena urusannya belum beres.
“Gue ya Alisha seperti yang lo liat sebelumnya. Ada apa sih lo main tuduh begitu?Bucin banget sama cewek pincang!”
“Gue udah bilang,jangan sekali-kali menghina Maya dengan sebutan si pincang!”
“Tapi memang kenyataannya kan? Dia gadis pincang!”seru Alisha dengan tampang sangat judes,sorot matanya sangat sinis.
“Lo kan pelajar. Dimana sopan santun lo?”bentak cowok itu sambil terus mengomel.
“Ya terserah guelah! Apa sih mau lo bawa gue ke tempat ginian?”
“Eh..Sembarangan ya lo! Maksa gue ngaku. Maya nuduh begitu harus ada saksi mata lho,”kelit Alisha dengan wajah penuh kemenangan.
“Liat aja nanti,Lis!”
“Dasar lo cowok bucin jadi tindakan lo udah di luar batas!”
“Lo yang keterlaluan,Lis. Ngaca gak sih lo?”bentak si ganteng yang mulai hilang kesabarannya.
“Lo yang keterlaluan Ryan!”
“Lo yang keterlaluan,Lis!”
“Lo!”
“Lo!”
__ADS_1
“Gue mau balik ke sekolah. Urusan kita sampai di sini.Okay?”
Alisha membalikkan tubuhnya dan hendak kembali ke sekolah tapi tangan Ryan buru-buru mencekalnya kembali. Tangannya terlali kokoh dan kuat sehingga bahu Alisha terasa sakit dan ia menghentikan langkahnya.
“Lo nahan gue mulu buat ngakuin kalau gue salah? Itu mau lo?”
“Kita harus masalah ini sekarang juga!”
“Serahin aja ke polisi kenapa sih? Bukan lo yang ikut-ikutan!”
“Gue mau denger dari mulut lo sendiri.Gue minta lo jujur!”
“Gue udah jujur Ryan! Lo nuntut apa lagi sih dari gue? Lo cuma bucin!”
Alisha pun berlari ke lapangan di depannya, dan cowok itu pun mengejarnya. Di tempat ini ada naungan dari atap asbes yang dapat melindungi mereka dari hujan dan petir. Di sini mereka lebih aman daripada harus berlindung di bawah pohon yang lebih resiko tersambar petir.
”Lo pasti bukan Alisha! Gue yakin lo bukan dia! Lo kemanakan roh Alisha?Jawab!”
“Alisha itu ya gue! Lo kebanyakan nonton film deh,Ryan. Parah lo!”
Alisha memalingkan wajahnya dan memandang hamparan rumput hijau di sekeliling lapangann. Ryan tahu gadis itu banyak berbohong, namun tak semudah itu membuatnya membuka mulut.
“Gue bakal nahan lo sampai pagi kalau lo gak mau jujur!’ancam si ganteng dengan mimik serius. Tangannya mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia mencari-cari ponselnya yang tampaknya tertinggal di dalam mobil. Namun Ryan mengurungkan niatnya mengambil ponsel dalam mobil karena ia yakin gadis di hadapannya pasti akan kabur.
“Kalau lo nahan gue,palingan satpam bakal telpon guru TU dan mereka bakal telpon orangtua kita.Dan…gue bisa pulang,”papar Alisha dengan senyum kemenangan.
“Duh…Kenapa sih kejahatan selalu menang di awal cerita?”pekik Ryan dengan kesal.
“Lo mau maksa gue pakai cara apalagi?” tantang Alisha sambil mengangka dagunya dan mata melotot.
“Gue minta kejujuran lo aja. Gak lebih.”
Alisha tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras,suaranya hampir menyamai suara petir yang saat ini sedang menggelegar.Hujan pun mulai turun rintik-rintik membasahi seragam putih abu-abu milik mereka.
“Kejujuran macam apa yang lo inginkan dari gue? Lo mau belah jantung hati gue buat mastiin hah?”seru gadis itu dengan nada tinggi.
“Plaak…”sebuah tamparan tangan kanan Ryan tepat mengenai pipi kanan milik Alisha.
__ADS_1
Gadis itu tersungkur dan berusaha untuk duduk di pinggiran lapangan yang lantainya berupa semen. Kepala gadis itu dibenamkan di antara kedua kakinya yang ditekuk. Ryan mendekati gadis itu dan hendak memapahnya berdiri.
Alisha mendongakkan wajahnya, rambutnya ia sibakkan sehingga wajahnya yang cantik nampak jelas . Dalam rintik hujan, Ryan dapat melihat sorot mata Alisha bersinar-sinar bagaikan sepasang lampu. Warnanya merah menyala. Betul firasatnya yang bersembunyi di dalam tubuh Alisha sekarang bukan dia lagi. Lalu siapakah roh yang berdiam di dalam gadis itu?