Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 97: Sahabat Baru


__ADS_3

“Kreek…”


Terdengar pintu kamar kos sebelah dibuka, Maya baru saja selesai sholat subuh dan melepaskan mukenanya. Suasana pagi yang hening, membuat setiap suara akan terdengar dengan jelas di telinga. Gadis itu membuka pintu, dilihatnya Wulan sedang membersihkan kamar.


“Hai Wulan….”


“Hai juga….Abis ini kita jogging bareng yuk!”


Maya tersenyum dan menganggukkan kepala. Buru-buru diambilnya sapu dan tongkat pel, ia tak mau kalah agar kamar kosnya tampak rapi dan tidak memalukan untuk dikunjungi teman lainnya.


Maya tampak cantik dengan rambut yang diikat menjadi satu ke belakang membentuk ekor kuda, tubuhnya yang semampai dibalut setelan training warna kelabu bergaris hitam. Wulan pun tampak manis mengenakan setelan training warna hijau, rambutnya yang sebahu dijepit agar anak rambutnya tidak jatuh di atas mata.


“Kamu jarang keliatan di kos,”kata Maya memulai percakapan sambil berlari-lari kecil mengelilingi kompleks.


“Aku kan kuliah sambil kerja,”sahutnya datar.


“Oh ya? Bagaimana bisa?Kita kan padat kuliahnya.”


“Aku kerja di sebuah mall. Bagian customer service shift malam.”


“Oh…Orang tuamu tinggal dimana?”tanya Maya sambil memperlambat larinya.


“Bapakku petani di Bantul. Aku mahasiswa Bidikmisi lho.”


Maya terperanjat, di hadapannya adalah gadis yang berprestasi dan akan menjadi saingannya selama kuliah bertahun-tahun, bola matanya terbelalak dan alisnya menaik.


“Wah…Sungguh hebat kau. Orang tuaku bahkan sudah tiada. Aku ngadain kursus online bahasa Inggris buat tambahan uang jajan.”


“Bagus juga. Bidikmisi itu gratis biaya kuliahnya saja. Orang tuaku kirim uang bulanan tapi tapi terbatas. Kita sama-sama berjuang. Semoga kelak bisa lulus bareng,”kata Wulan sambil tersenyum.


Wulan, gadis manis dari Bantul itu tingginya sekitar 160 cm, berkulit sawo matang, berambut sebahu dan perawakannya sedang,merupakan gadis yang gesit dan bersemangat, tubuhnya seakan tahan banting. Berkebalikan dengan Maya yang saat terlalu letih bisa drop karena penyakit darah rendahnya kumat.


Di tengah jalan,mereka menemukan sebuah tempat duduk panjang di tengah taman. Wulan mengelap keringatnya dengan sebuah handuk kecil yang terlilit di lehernya. Maya membuat gerakan-gerakan senam kecil untuk melenturkan tubuh. Udara pagi masih segar, embun menetes di atas dedaunan, mentari mulai beranjak dari peraduannya. Terlihat beberapa warga yang berolahraga dengan naik sepeda maupun berjalan kaki di pinggir jalan raya yang masih sangat lengang.


“Ada warung gudeg enak banget deket sini,”kata Wulan sambil beranjak bangun dari duduknya.

__ADS_1


“Ayo…Kita lari ke sana,”sahut Maya sambil meneruskan larinya.


Sebuah warung makan kecil yang berdiri di bagian depan sebuah rumah tinggal tak jauh dari rumah kos yang dihuni Maya dan Wulan. Pemiliknya, seorang ibu berusia 70 tahunan yang masih tampak sehat dan segar, tubuhnya yang sedikit gemuk, dibalut oleh kebaya kutu baru bermotif kembang-kembang yang dipadukan dengan kain batik, rambutnya dikonde cepol. Pelanggannya banyak, mereka antri dengan menggunakan sebuah nomor urut yang terbuat dari kertas karton tebal warna kuning berbentuk persegi yang ditancapkan pada sebuah tusukan kertas yang terletak di ujung meja.


“Ramai banget. Banyak anak kuliahan juga,”celetuk Maya.


“Iya..,.Sekitaran sini memang banyak rumah kos,”sahut Wulan sambil memegang nomor antrian.


Di dalam hanya terdapat dua buah meja, masing-masing meja hanya terdiri dari enam kursi. Pada kursi paling ujung nampak seorang pemuda sedang asyik menikmati sarapan pagi tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Tubuhnya yang tinggi atletis dibalut kaos oblong warna putih dan celana selutut warna coklat,kulitnya sawo matang. Pahatan wajahnya sangat sempurna, sepasang alisnya sangat lebat dengan bola mata hitam yang tajam dinaungi sepasang bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung memberikan kesan ada darah timur tengah yang mengalir dalam tubuhnya. Pemuda itu tampak sangat menarik, meskipun sangat cuek dan hanya mengenakan sandal jepit.


“Hai…Nomor kita dipanggil!”seru Maya pada Wulan yang sedang terpaku menatap pemuda itu.


“Oh…Iya ini,Bu. Kau pesan apa aja,May?”


“Dari tadi liatin cowok itu mulu ya?”bisik Maya sambil meledek.


“Ah..Biasa aja. Mau pesan apa aja?”tanya Wulan yang mengulangi sekali lagi pertanyaannya.


“Aku pesan nasi pakai telur,gudeg, krecek, tahu dan tempe aja. Gak pakai ayam.”


“Yaudah aku pesan samaan deh. Kita makan sini aja yuk!”ajak Wulan.


“Oke deh. Kita makan di sini. Biar kamu bisa deketin tuh cowok,”bisik Maya pada gadis itu.


Anak sang penjual gudeg mengelap meja dan memasukkan piring dan gelas kotor ke dalam rumah untuk dicuci. Wulan mengambil posisi duduk di dekat pemuda itu yang hanya asyik dengan makanan dan ponselnya tanpa mengacuhkan orang lain yang ada di dekatnya.


“Hai…..”sapa Wulan sambil tersenyum memberikan senyum termanisnya.


Pemuda itu meletakkan sendoknya di atas piring lalu mengelap mulut dengan sebuah tisu yang diambilnya dari wadah tisu berbentuk bulat, lalu mengangkat dagunya, menatap Wulan dengan perasaan heran.


“Hai juga,”sahutnya tampak tak bersemangat sambil kembali menatap layar ponselnya.


“Boleh kami kenalan?”


Pemuda itu kembali meletakkan ponselnya lalu menatap pada dua gadis di depannya. Arah matanya ditujukan untuk Maya yang duduk di sebelah Wulan. Pemuda itu memberikan senyumnya untuk Maya. Wulan nampak memperhatikan arah tatapan mata pemuda itu, wajahnya berubah kurang suka.

__ADS_1


“Namamu siapa?”tanya pemuda itu.


“Saya?”tanya Wulan.


“Kamu,”kata pemuda itu sambil menunjuk ke arah Maya.


Wulan terlihat cemburu ketika pemuda itu lebih memperhatikan Maya.


“Namaku Maya, dan ini teman kosku, Wulan. Kami anak FK yang baru,”sahut Maya sambil menyodorkan tangannya.


“Namaku Arga. Mahasiswa FK semester 7. Aku kos di seberang sana,”sahutnya dengan sorot mata yang terus menatap Maya.


Maya tersenyum sambil menerima piring berisi pesanannya dan meletakkan di atas meja. Wulan pun bersiap untuk makan.


“Boleh aku minta nomor telpon kalian?”


“Bisa-bisa,”sahut Wulan antusias.


“Dan kamu?”tanya pemuda itu pada Maya.


“Oh..Boleh saja. Tapi hanya untuk urusan kampus ya..Urusan pribadi jangan. Aku udah ada yang punya,”sahut Maya.


Raut wajah Wulan tampak berubah lebih ceria, gadis itu menghela napas lega karena semula ia mengira Maya adalah saingannya dalam mendapatkan pemuda itu.


“Maksud kamu?”


“Aku sudah menikah di KUA. Suamiku akan kuliah di Amerika. Tahun depan baru diadakan resepsinya.”


Pemuda itu terdiam dan nampak kecewa, namun buru-buru ditepisnya perasan itu.


“Oh begitu…Jangan lupa undang aku juga ya!”katanya sambil meletakkan sendok dan garpu secara terbalik.


Pemuda itu telah menyelesaikan sarapannya, lalu membayar semua pesanannya.


“Oh ya…Kita belum bertukar nomor telpon. Simpan ya…08xxxxxxxxxxx.”

__ADS_1


Wulan dengan cekatan menyimpan nomor telpon cowok itu di dalam ponselnya.


Maya mengakui pemuda tadi memang tampan dan maskulin, namun sayang di hatinya telah ada Ryan. Seseorang yang akan selalu jauh darinya selama sekian tahun. Mereka kini sama-sama berjuang untuk meraih sebuah masa depan yang merupakan impian masing-masing.


__ADS_2