
Malam itu, Maya disibukkan dengan tugas menyusun laporan praktikum Patologi Anatomi yang membutuhkan banyak ketelitian .Gadis itu tetap bersemangat mengerjakan tugasnya meskipun mata telah mulai meredup bagaikan lampu bohlam 5 watt. Tugas yang seharusnya bisa ia selesaikan sepulang kuliah menjadi tertunda karena akhir-akhir ini peserta kursus bahasa Inggris yang belajar secara daring bertambah pesat, terlebih mereka yang sebentar lagi akan menghadapi UN dan para karyawan kantor. Seiring dengan era globalisasi, kebutuhan manusia untuk bersaing dengan warga lain di berbagai belahan dunia makin meningkat, karena inilah penguasaan akan bahasa asing terutama bahasa Inggris sangat dibutuhkan. Di saat kelopak matanya benar-benar tak bisa kompromi, tubuhnya pun terasa oleng yang membuatnya tertidur di atas meja belajar hingga waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam. Tiba-tiba sebuah dering telpon membangunkan tidurnya. Suasana malam yang hening, membuat dering telpon makin jelas terdengar di telinga. Maya terbangun dan menyadari dirinya tertidur di atas meja, sontak tangannya meraih ponsel yang terletak tak jauh darinya. Sebuah panggilan dari Ryan, yang sudah hampir seminggu tak menghubunginya, membuat gadis itu seakan berjarak dengan cowok itu.
“Halo…”
“Halo,May. Maaf baru sempat telpon lagi. Belum tidur?”
“Ini baru bangun. Makasih udah bangunin aku.”
“Harusnya aku yang minta maaf udah ganggu waktu tidurmu.”
“Bukan…Maksudnya aku lagi kerjain tugas dan ketiduran.”
“Oh begitu. Aku cuma mau kasih kabar kalau papa mau beliin aku rumah dan boleh pilih antara Solo atau Jogja.”
“Oh ya? Lalu bagaimana dengan kuliahmu?”
“Ditunda lagi satu tahun. Menurutmu aku pilih yang mana?”
“Terserah kamu.”
“Rencananya papa mau bikin rumah kos. Jadi aku ke sini sambil berobat dan bawa perawat.”
“Kakimu belum membaik juga,Ryan?”
“Nanti kamu bisa liat. Udah bisa jalan hanya sedikit pincang?”
“Semoga cepat sembuh. Terserah papa kamu mau pilih mana. Aku selalu mendukungmu.”
“Baiklah,May. Jaga diri baik-baik. Selamat mengerjakan tugas.”
“Jaga diri kamu juga,Ryan.”
__ADS_1
Maya kembali melanjutkan laporannya, yang tinggal separuh jalan. Wulan di kamar sebelah nampaknya telah tertidur. Seharian mereka tidak sempat bertemu meskipun satu fakultas karena Wulan juga harus kerja sepulang kuliah. Gadis itu bersyukur Ryan bisa tinggal di dekatnya lebih lama lagi meskipun kondisinya kini telah berubah. Sedangkan rekan kampusnya, Boy yang diam-diam menyukainya masih tetap melancarkan aksinya. Bahkan cowok itu siap menggantikan posisi Ryan andaikan terjadi sesuatu yang tak diinginkan dengannya.
“Bisa runyam tuh keduanya kalau Ryan memilih tinggal di kota ini setahun,”gumam Maya sambil mengetik.
Laporan untuk tugas praktikum tinggal sedikit lagi selesai, tiba-tiba lampu di kamar mati.
“Kebiasaan buruk kos tanpa genset yang begini.Menyusahkan,”gerutu Maya sambil menyalakan lampu darurat.
Buru-buru diselesaikan tugasnya dan disimpannya, lalu diunggah dengan menggunakan kuota karena internet ikutan mati.
“Huft…Selesailah sudah,”gadis itu bernapas lega dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Keesokan paginya lampu kembali menyala, Maya buru-buru meraih handuk dan berlari menuju kamar mandi karena waktu telah menunjukkan pukul enam pagi sedangkan mata kuliah pertama dimulai pukul tujuh pagi. Bergegas diraihnya tas dan secangkir sereal sekedar pengisi perut di pagi hari. Untunglah kampus hanya hitungan detik dapat dijangkaunya dengan berjalan kaki. Hari itu kuliah berlangsung hingga pukul empat sore hari, mahasiswa kedokteran memang memiliki jadwal yang lebih padat dibandingkan fakultas lainnya, terlebih tugas praktikum, semua mahasiswa tidak diberikan keringanan untuk membolos barang seharipun. Membolos ataupun absen berarti akan ketinggalan.
Berita baik yang ditunggu pun tiba, Ryan mengabarkan kepindahannya di Solo. Di kota itu ia datang bersama perawat pribadi dan tiga art-nya. Sebuah rumah berlantai dua seluas hampir 750 meter persegi yang memiliki dua puluh kamar di dalamnya. Rupanya sang papa diam-diam telah membelinya dan pilihan yang diberikan padanya hanya merupakan sebuah pertanyaan. Tiga kamar digunakan untuk mereka dan sisanya akan dipergunakan sebagai rumah kos agar Ryan mendapatkan pemasukan selama tinggal di kota itu. Sebuah rumah bangunan tahun 1990-an milik anggota dewan yang telah mengakhiri masa jabatannya dan migrasi keluar negeri mengikuti kepindahan anak tunggalnya di Negeri Kanguru. Rumah itu dijual dengan harga yang sangat bersahabat, bangunannya masih nampak kokoh dengan kusen dan pintu terbuat dari kayu jati kualitas pertama. Fasade rumah kecoklatan dilengkapi dengan perabotan yang sebagian besar terdiri dari kayu jati juga. Di setiap kamar dilengkapi dengan sebuah taman kecil di depannya, sebuah pemandangan yang indah bagi setiap penghuninya bila membuka jendela di pagi hari, karena itu Ryan memerintahkan para art untuk menata depan kamar para penghuni kos dengan dua buah kursi dan sebuah meja kecil agar mereka nantinya lebih betah dan tidak hanya terkurung di kamar.
Halaman rumah kos milik Ryan selebar 12 meter persegi muat untuk tempat parkir bagi enam hingga tujuh buah mobil, dan sebuah pos jaga untuk satpam di depan rumah. Dalam hitungan hari, sudah banyak mahasiswa yang berdatangan dan mendaftarkan diri. Rumah kos itu seketika menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa karena menyediakan fasilitas yang lengkap mulai dari minimarket, kantin, foto copy hingga kantin. Ryan yang duduk di atas kursi rod aitu dalam sekejab bisa membuka lapangan kerja baru untuk penduduk di sekitarnya. Rumah kos baru itu dinamakan “Asrama Milenial” yang hanya menerima mahasiswa laki-laki karena pemiliknya juga laki-laki.
“Iya. Jadi kita di sini setahun dan punya kesibukan,”sahut Ryan sambil mengangkat dagunya,memandang papan nama yang baru selesai dipasang.
“Lalu kalau kita ke rumah sakit naik taksi saja ,Tuan?”
“Kata papa, beliau akan mengirimkan sopir dan mobil beberapa hari lagi.”
“Sebenarnya gak apa-apa kita naik taksi di sini. Kan kita berangkatnya pakai pesawat udara. Pakai angkutan umum akan lebih praktis. Tapi maaf,Tuan. Mas bukan mendikte, hanya memberi saran,”papar Mas Pri panjang lebar.
“Kelak Ryan juga bisa nyetir lagi kok,Mas.”
“Iya,Tuan. Semoga cepat sembuh. Biar Mas Andi kerja yang lain aja di sini.”
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Mas Andi sudah bosen ngerawat orang sakit mulu. Siapa tau nanti Tuan kembali ke Amerika dan Mas diangkat jadi pengelola kos ini.”
“Oh..Boleh-boleh aja,Mas. Asal jujur dan rajin.”
“Yeeyy…Terima kasih,Tuan.”
“Oh ya,Mas. Itu sepeda motor milik siapa di ujung?”
“Itu kepunyaan anak kos juga,Tuan. Anaknya memang jarang keluar kamar. Sepertinya sedang nyusun skripsi atau apa.”
“Yang mana ya,Mas? Sepertinya Ryan belum pernah liat?”
“Yang rambutnya panjang, tubuhnya kurus. Anak seni rupa dan desain kalau tidak salah.”
“Oh begitu. Dia sudah menyelesaikan administrasi juga?”
“Sepertinya sudah. Nanti Mas periksa datanya. Kan semuanya ditransfer langsung ke rekening Om Robert.”
Mas Andi mendorong kursi roda ke sebuah ruangan yang terdiri dari sebuah meja dan dua buah kursi saling herhadapan, ada sebuah lemari kabinet dari besi di samping meja itu, yang merupakan tempat untuk meletakkan semua dokumen yang berisi data diri semua anak kos di asrama itu.
Mas Andi yang ditugaskan Om Robert menggantikan tugas Ryan sementara waktu untuk mendata semua mahasiswa yang masuk ke kos itu, mencari dokumen di dalam laci, jari jemarinya dengan terampil membuka map demi map yang tersusun rapi di dalamnya.
“Nah ini dia datanya Tuan,”kata sang perawat sambil menyodorkan sebuah map biru ke tangan Ryan.
Cowok ganteng itu menerima map itu dan membukanya, sebuah data tertulis atas nama Drio Devaryo, berasal dari Papua dengan status belum membayar.
“Belum bayar kok sudah menghuni tiga hari,Mas?”
“Belum? Coba nanti Mas suruh art tanyakan baik-baik.”
Drio merupakan mahasiswa dengan penampilan paling unik dan sangat jarang keluar kamar, kini menjadi bagian dari penghuni “Asrama Milenial.”
__ADS_1