Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 43 : Dihukum


__ADS_3

Hujan yang mengguyur tadi malam,membuat pagi ini demikian segar. Mentari bersnar cerah, awan putih menggantung di atas langit,burung nuri Pelangi di teras rumah pun berkicau riang. Maya duduk di teras rumah menanti kehadiran taksi online pesanannya. Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh satu menit. Gadis itu telah tampil cantik dalam balutan seragam putih-putih di hari Rabu yang cerah, rambutnya dikepang dua seperti biasa. Derum taksi online bergema di depan pagar rumah Maya, seorang pengemudi berpakaian biru muda membuka pintu dan menyapanya, “Selama pagi? Pesanan dari Nona Maya?”


Gadis itu bergegas keluar dari rumah dan mencium punggung tangan sang mama.


“Maya pergi sekolah dulu,Ma.”


“Hati-hati di jalan,Nak.”


Gadis itu melambaikan tangan dan menutup jendela taksi,”Agak cepetan,Pak.”


“Siap,Non.”


Laki-laki paruh baya dengan rambut yang telah dua warna dan berkumis lebat itu menyalip mobil-mobil di depannya dengan sangat profesional. Maya melemparkan pandangan keluar jendela, mengamati deretan mobil dan motor yang sedang terburu-buru agar sampai ke tujuannya tepat waktu. Pikirannya kembali melayang mengenang saat-saat berangkat sekolah bersama Ryan yang setia duduk di sampingnya.


“Sudah sampai,Non.”


Maya tersentak dari lamunannya, dan buru-buru membuka pintu taksi,”Terima kasih,Pak.”


“Sama-sama,Non. Jangan lupa bintang limanya.”


Gadis itu menganggukkan kepala sambil menutup pintu taksi.


Halaman sekolah sudah mulai ramai dengan kehadiran para siswa dan guru, di parkiran mobil hanya ada dua siswa yang mengendarai mobil mewah,Alisha dan Ryan. Keduanya belum datang. Maya berjalan menyusuri halaman samping sekolah yang sudah mulai ramai dengan para siswa. Ada yang langsung membuka buku, ada pula yang buru-buru menuju kantin untuk sarapan. Gadis itu membawa setumpuk map untuk rapat OSIS siang nanti, ia ingin menitipkannya pada staff Tata Usaha karena ruang rapat masih dikunci. Maya tak ingin mejanya dipenuhi oleh tugas lain di luar urusan sekolahnya, dan itu lebih memudahkannya untuk mencerna materi yang diberikan oleh guru.


Sesampainya di kelas, para siswa banyak yang berkerumun, beberapa siswa asyik menyalin PR dari teman.


“Udah bikin PR Fisika,May?”tanya Ika dengan tergesa-gesa yang meletakkan tasnya di kursi.


Ia berangkat agak kesiangan, dan untung saja tidak terlambat. Sementara itu si ganteng dengan santainya masih menggendong tas ranselnya masuk kelas. Wajahnya keheranan ketika dilihatnya kelas sangat ramai di pagi hari dan ia baru menyadari kalau kelupaan membuat PR.


“Aduh…Lupa deh kalau ada PR,”ditepuknya jidat Ryan sambil duduk di kursi dengan lemas.

__ADS_1


Maya membalikkan badan ke belakang dan melihat cowok itu duduk diam dengan wajah sedih.


Ryan mendekatinya sembari berbaris ketika bel tanda masuk berbunyi.


“Kenapa semalam gak baca pesan di whatssup?”


“Oh..Maaf. Aku semalaman gak pegang ponsel.”


“Maksudnya mau nanya PR? Harusnya kamu inget-inget atau kamu catat!”


Ryan tampak sedih,matanya berubah sendu, baru kali itu ia mendengar suara Maya dengan nada tinggi seakan membentaknya. Gadis cantik yang semula ia duga penurut dan lugu, demikian teganya memutuskan hubungan bahkan tak sudi membuka ponsel semalaman. Ryan terpekur menatap lantai, langkahnya lunglai menuju luar kelas.


Maya merasa kasihan terlebih guru fisika terkenal killer. Mr. Thomson, guru fisika yang baru lulusan sarjana fisika dari luar negeri, suka menyelipkan bahasa asing di tiap penjelasannya. Semua siswa berasa mendapat guru bak Albert Einstein, guru yang sangat cerdas dan piawai menjelaskan secara menarik namun banyak siswa merasa kewalahan karena tugas yang diberikan lebih banyak daripada guru fisika semester lalu yang sekarang mengajar di kelas 10.


“Aku bakal dihukum deh,”keluh Ryan dengan wajah pucat, tangannya yang kekar sibuk memainkan jari jemarinya seakan sedang menyusun kata untuk membela diri di hadapan Mr. Thomson.


“Okay…Kita mulai pelajaran fisika hari ini. Don’t forget to collect your homework!”


“You…”kata guru itu sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Ryan.


“Me?”tanya Ryan berlagak pilon.


“Yes. Kamu pasti tidak bikin homework,right? Sekarang kamu keluar dan berjemur di lapangan sampai saat istirahat tiba!”


“Tapi mister…Ada dispensasi gak untuk saya. Hari ini kan fisika ada 3 jam pelajaran. Setelah istirahat saya masih dihukum?”


“Gausah banyak ngeles! Keluar sekarang juga!”


Ryan keluar dengan bersungut-sungut, wajahnya berubah muram dan tubuhnya terasa lunglai. Ia benar-benar tidak sadar kalau hari ini ada PR.


Sinar mentari tampak hangat di pagi hari, namun Ryan bakal dijemur berjam-jam terlebih mata pelajaran fisika hari itu 3 sesi dengan total 135 menit, artinya ia harus berjemur lebih dari 2 jam. Makin lama mentari makin bersinar terik, peluh makin berjatuhan menetes dari dahi dan lehernya, seragam putih-putihnya kini nampak basah.

__ADS_1


Ryan menendang kerikil yang ada di pinggiran lapangan dengan kesal. Seandainya ia vampire murni pasti kulitnya akan melepuh dan terbakar.


“Huft…”


Diliriknya jam yang melingkar di tangan kanannya, “Masih satu jam lagi.”


Sebenarnya Ryan bisa melarikan diri,namun hal itu tak akan dilakukan demi menjaga rahasia mengenai jati dirinya. Ia tak ingin kehadirannya menimbulkan kecurigaan yang akan berbuntut dikeluarkan lagi dari sekolah, seperti kejadian di sekolah lamanya.


“Ten…Teng…Teng….”


Bel tanda istirahat pertama berbunyi, hampir seluruh siswa keluar kelas, sebagian menuju perpustakaan, sebagian menuju kantin, ada pula yang berjalan-jalan di luar kelas, hanya sebagian kecil yang masih duduk di dalam kelas. Seperti biasanya miss popular,siswi paling heboh dengan pengikut setianya, selalu punya tujuan utama ke kantin yang harus dilewati dari arah lapangan.Langkah ketiganya terhenti ketika dilihatnya Ryan,sang idola baru sekolah,berdiri dijemur di bawah teriknya mentari. Alisha tertawa mengejek ketika melintasi lapangan.


“Aiih…Ada yang lagi kena hukuman. Kapten basket kita lupa bikin PR. Kacian….”


“Gebetan lo kan pinter. Masa lo sampai lupa bikin PR?” tanya Niken sambil meledek.


Sandra melengos dan mulutnya sengaja dimonyongkan. Tak lama kemudian ketiganya datang lagi memamerkan botol plastik berisi jus buah dingin yang dibelinya dari kantin. Mereka sengaja pamer di depan Ryan seraya mengejek cowok itu yang kepanasan dan dehidrasi.


Maya melewati halaman sekolah untuk mengambil titipan mapnya untuk diletakkan di ruang rapat yang boleh dibuka saat istirahat pertama. Dilihatnya Ryan yang kepanasan dan diolok-olok oleh Alisha and the gang. Hati kecil Maya merasa kasihan, tapi ia harus memegang teguh ucapannya sendiri, Ryan bukan urusannya lagi.


“May..”teriak cowok itu dengan keras,namun gadis kepang dua tak mempedulikannya.


Alisha dan teman-temannya kembali mengolok-olok.


“Kacian deh…Pangeran udah dibuang si pincang.”


“Kalian ini udah gila! Ini sekolah tapi omongan kalian tak bisa diatur!”


Alisha marah dan menampar pipi Ryan,”Plaak…”


Ryan pun marah dan balik menamparnya,”Plaak….”

__ADS_1


Akhirnya para siswa berlarian dari segala arah menonton keributan yang terjadi di tengah lapangan. Keduanya digiring Pak Tarno,wali kelas mereka menuju ke ruang BP. Hukuman yang diterima si ganteng Ryan berlipat ganda hari ini.


__ADS_2