
Di sebuah apartemen di kota New York…
Jeff dan Tyo adalah dua rekan Ryan yang tinggal satu apartemen dengan cowok itu. Keduanya adalah penggemar klub malam. Setiap hari mereka membicarakan serunya kehidupan di klub untuk mengusir rasa penat mereka setelah berkutat dengan setumpuk tugas sekolah dahulu. Awalnya Ryan hanya mendengarkan tanpa antusias, ia ingat bagaimana cara papa mendidiknya dan tak pernah ada keinginan untuk mencoba kehidupan malam.
“Jeff…Bagaimana kalau weekend ini kita pergi ke klub malam di dekat apartemen kita?”tanya Tyo seakan memanasi Ryan untuk ikut mencoba merasakan bagaimana nikmatnya kehidupan malam.
“Boleh aja. Tapi bagaimana dengan teman kita yang satu ini?”tanya Jeff sambil menunjukkan jempolnya ke arah Ryan yang terdiam menatap ponselnya.
“Kalau ia gak mau ikutan. Ya kita tinggalin aja,”seru Tyo sambil melengos.
Ryan meninggalkan mereka berdua yang tertawa sambil membicarakan perempuan-perempuan muda nan menggoda di klub. Ryan membuka laptopnya dan mengulang matrikulasi yang ia terima siang tadi. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, artinya di Indonesia sudah pukul sembilan pagi.
“Maya pasti sedang kuliah. Tak bisa ditelpon,”batin Ryan sambil berselancar di internet mencari hiburan pengusir jenuh.
Cowok merasakan hubungan mereka sedikit berbeda sejak kuliah berjauhan, waktu yang tidak sama menjadi kendala keduanya untuk berkomunikasi secara langsung. Hanya pesan melalui whatssup yang bisa menjadi obat rindu keduanya untuk saling berkirim kabar melalui foto, video ataupun pesan suara.
Malam Minggu ini akan menjadi seperti malam-malam sebelumnya yang sepi. Ryan menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Ia berjalan ke arah pintu dan mematikan saklar lampu serta menggantinya dengan lampu tidur kecil yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ryan teringat dua tahun masa SMA-nya dulu yang begitu indah bersama Maya. Terbayang di benaknya bagaimana sikap Maya yang baik dan penyabar mengajarinya untuk menjadi pelajar yang rajin dan terus bersemangat untuk belajar. Wajahnya yang cantik tanpa polesan,kulitnya yang putih bersih dan lesung pipitnya selalu mengingatkan Ryan akan gadis itu.
__ADS_1
“Duh…Kangennya….Kangen papa juga.Aku belum pernah mencoba lari menggunakan kekuatanku dari Amerika menuju Indonesia tanpa pesawat udara,”gumamnya berandai-andai.
Ryan menyadari dirinya semakin menjadi manusia tulen, kesukaannya pada susu warna merah nyaris pudar karena papa terlalu sibuk dengan bisnisnya dan sama sekali tidak mengirimkan susu itu sejak ia berkuliah di sini. Cowok itu menyadari kekuatannya tidak seperti dulu, ia semakin normal menjadi manusia seperti pada umumnya.
Jeff dan Tyo nampak gagah dalam pakaian trendy dengan label kenamaan kelas dunia. Malam Minggu ini mereka akan dugem di klub malam tak jauh dari apartemen dimana ketiganya tinggal.
“Ayolah Ryan…Sesekali kau ikut dengan kami. Gausah ikutan mabok! Minum air mineral saja boleh kok,”kata Tyo sambil mengerling ke arah Jeff.
Jeff yang berkulit sawo matang mengenakan pakaian yang serba hitam,ia merupakan putra seorang politisi terkenal di Indonesia. Kakaknya merupakan seorang artis kenamaan di Indonesia sehingga dunia malam bukan merupakan hal yang asing baginya. Sedangkan Tyo adalah putra tunggal seorang wanita karir yang bisnisnya melanglang buana cabangnya di seluruh antero dunia. Ayahnya seorang pengusaha kelas kakap juga yang telah menikah lagi dengan perempuan yang separo usianya dibandingkan beliau. Otomatis kehidupan orang tuanya yang serba sibuk dan dirinya yang broken home,menjadikan Tyo sangat dekat dengan kehidupan malam sebagai penenang. Dirinya pernah berkuliah di Indonesia namun kena kasus narkoba sehingga di-DO. Tyo pernah menjalani masa rehabilitas selama 1 tahun penuh sebelum dipindahkan kuliah ke Amerika. Ryan terkadang bergidik mendengarkan cerita masa lalu Tyo, dirinya sudah berjanji di depan papa untuk menjauhi miras dan rokok apalagi narkoba. Pesan papa adalah agar Ryan dapat menjada martabat keluarga dan bisnisnya, terutama pergaulan dan kesehatan pribadinya selama di negeri orang.
Ryan hanya melengos, tapi di dasar hatinya ia merasa kesepian dan ingin sekedar melihat kehidupan di klub malam.Akhirnya Ryan mengangguk setuju meskipun hati kecilnya menolak.
Memasuki klub malam yang hingar bingar dan remang-remang, pandangan Ryan kurang jelas mengamati sekelilingnya. Ia disambut oleh seorang laki-laki bule yang mabok sambil membawa botol, cowok itu menjauh takut laki-laki itu kalap dan mengamuk. Ryan memberinya jalan agar ia lewat dengan leluasa. Dua polisi mengawalnya hingga keluar dari klub untuk menghindari onar.
“Udah jangan diliatin! Nanti ia malah ngamuk lho,”tegur Tyo sambil menarik tangan Ryan untuk duduk dan menawarinya minum.
“Oh..Maaf.Aku gak suka minuman keras,”tolak Ryan sambil menegakkan punggungnya dan mengamati sekeliling.
__ADS_1
“Ayolah…Sedikit aja! Ini Amerika bukan Indonesia. Alkohol untuk mengusir hawa dingin,”ajak Jeff sambil menyororkan minuman Mc Callan dalam gelas sloki ukuran kecil.
Ryan menerimanya dan pura-pura meminumnya sedikit, agar kedua temannya bisa diam. Ia yakin kedua rekannya akan memaksakan kehendak kalau ia menolak mentah-mentah ajakan mereka, jadi Ryan punya alasan dengan berpura-pura sebagai solusi jalan tengahnya.
Ditebarkannya pandangan ke seluruh ruangan di klub malam itu. Banyak kaum om-om hidung belang yang menikmati minumannya dengan dikelilingi banyak wanita muda dengan dandanan seronok dan pakaian minim. House music mengalun dengan gegap gempita membuat beberapa pasangan turun melantai dan asyik bergoyang. Seorang perempuan muda berkulit putih dengan wajah bule dan rambut pirang mendekatinya. Rok mininya melekat erat memperlihatkan pinggulnya yang besar, sementara tank topnya memperlihatkan belahan dadanya yang membusung bagaikan sebuah gunung. Ryan memejamkan matanya untuk tidak tergoda dengan pemandangan yang ada di depannya. Gadis itu menawarinya minum, Ryan dengan lembut menepisnya dan menjauh, namun gadis itu semakin agresif mendekatinya. Tyo dan Jeff tertawa terbahak-bahak.
“Udah…Sikat aja. Di atas ada kamar tuh!”seru Tyo sambil menunjukkan telunjuknya ke beberapa kamar yang ada di loteng.
Ryan marah dan mendorong gadis itu yang nyaris jatuh ke atas meja. Jeff terbelalak kaget dan buru-buru menangkap tubuh gadis itu. Kini gadis itu dalam dekapannya, ia tertawa kegirangan melihat wajah Jeff yang lumayan ganteng. Gadis itu sepertinya dalam keadaan mabok, ia memeluk Jeff dan menciuminya bertubi-tubi. Ryan menjadi muak melihat pemandangan yang ada di depannya, terlebih suara hingar binger membuat telinganya pekak. Belum lagi asap rokok membuat dirinya terbatuk-batuk hingga beberapa kali, dadanya sedikit sesak. Ryan merasakan wajahnya mulai panas, ia mulai marah. Dengan tangan kiri terkepal, jari telunjuk tangan kanannya digerak-gerakkan untuk memperingatkan kedua rekannya.
“Stop ya! Mulai sekarang jangan ajak aku lagi kemari! Atau aku akan pindah apartemen!”seru Ryan sambil meninggalkan tempat.
Tyo mengejarnya dan membujuknya untuk kembali ke tempat duduk tapi Ryan mendorongnya. Cowok itu berlari keluar, membuat beberapa pengunjung lainnya keheranan. Ryan terus berlari menyusuri trotoar dan langkahnya terhenti ketika dilihatnya sebuah bintang sangat besar yang bercahaya menghiasi langit malam. Dagunya diangkat ke atas, pandangannya tertuju pada arah bintang tadi yang berhenti di sebuah lorong di belakang apartmennya. Ryan mengikuti arah jatuhnya bintang itu.
“Papa?”serunya kaget.
“Ya…Papa tau kamu pasti dalam masalah besar makanya papa kemari.”
__ADS_1