Pacarku Vampire

Pacarku Vampire
Episode 112: Kursi Roda Untuk Ryan


__ADS_3

Jari jemari yang kokoh milik Ryan menggeser tali penarik korden di dalam kamarnya, sementara itu tubuhnya yang tinggi atletis yang dulu tegap berdiri di atas kakinya yang kekar, kini harus bertumpu menggunakan dua buah kruk. Pagi ini adalah hari pertama Ryan kembali ke apartemennya, semua masih tampak sama, lampu-lampu gedung dan jalanan di bawah telah dimatikan, digantikan dengan sinar mentari yang terbangun dari ufuk timur. Papa telah bangun dan menyapanya, kemudian mengajaknya sarapan pagi di ruang makan. Ahmad pun masuk dengan peralatan pembersih yang telah siap di kedua tangannya. Pemuda itu dengan cekatan merapikan tempat tidur, lantai, dan kamar mandi sehingga semuanya menjadi rapi dan mengkilat.


“Pagi…Anak kesayangan papa. Bagaimana keadaanmu hari ini Ryan? Hari ini toko akan mengantarkan sebuah kursi roda untukmu,”kata papa membuka percakapan.


“Eh papa…Selamat pagi,Pa. Terima kasih banget papa sungguh perhatian sama Ryan,”sahut cowok ganteng itu sambil memeluk sang papa dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya bertumpu di atas kruk.


“Sama-sama. Biar kamu gak terlalu letih kalau berjalan. Oh ya..Minggu ini kita balik ke Jakarta.”


“Papa sudah yakin Ryan harus mengulang kuliah tahun depan?”


“Iya. Papa sungguh tak tega kau kuliah dalam kondisi begini sendirian di negeri orang. Papa gak bisa meninggalkan kantor lama-lama juga.”


“Bagaimana baiknya papa saja deh. Lalu bagaimana dengan fisioterapi nanti di Indonesia,Pa?”


“Papa sudah mengecek. Ada yang terbaik di YPAC Solo.”


“Jadi Ryan harus tinggal di Solo sampai sembuh,Pa?”


Sang papa mengangguk dengan yakin, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman yang optimis. Laki-laki paruh baya itu masih tampak sangat rupawan dan gagah di usianya saat ini, namun ia tetap kukuh hidup membujang demi cintanya pada almarhumah mama Ryan.


“Lalu..Ryan tinggal bersama siapa di sana nantinya,Pa?”


“Papa sudah menghubungi sebuah yayasan. Mereka akan mengirimkan seorang perawat laki-laki untuk menjagamu dan mengantarkanmu setiap ada jadwal dari dokter untuk control ke rumah sakit.”


“Papa kontrak rumah di Solo?”


“Bukan. Asisten papa di kantor sudah mendapatkan sebuah rumah bagus di Jogja untukmu.”


“Maksud papa?”


“Papa sudah membeli sebuah rumah di sana. Papa pikir dengan dekat sama Maya akan mempercepat proses penyembuhanmu,Nak.”


Bola mata Ryan yang berwarna kecoklatan nampak berbinar ceria, bibirnya yang merah muda menyungging senyuman, wajahnya tampak semakin tampan.


“Terima kasih,Pa. Tapi bagaimana kalau suatu saat Maya sudah lulus dari sana?”


“Gampang. Kita kontrakkan saja,”sahut papa sambil mengelus punggung Ryan dan menuntun sang putra ke meja makan.


Di ataas meja makan telah terhidang dua piring nasi goreng special buatan Ahmad yang nampak lezat dan menggiurkan. Ada hiasan bunga yang terbuat dari irisan wortel dan daunnya berasal dari sayuran selada yang dibentuk sebagai daun kecil yang manis. Ryan tergelak melihat ulah Ahmad, baru kali ini sepiring nasi goreng di depannya nampak sedemikian istimewa dan menarik.


“Mungkin itu hadiah penyambutan Ahmad buat kamu yang sudah berhasil melalui masa-masa kritis,”kata papa sambil memegang sendok dan garpu di tangannya.


Ahmad keluar dari kamar Ryan, dan menutup pintu kembali, wajahnya nampak tersenyum dan sedikit mengangguk pada Om Robert untuk memberi hormat.

__ADS_1


“Terima kasih, Mad. Nasi goreng buatanmu sangat isimewa hari ini,”puji Ryan sambil menengok ke arah Ahmad.


“Terima kasih pujiannya. Itu menu sambutan dari Ahmad,Tuan. Apakah mau dibuatkan jus juga?”


“Boleh. Aku jus jeruk aja. Papa mau minum apa?”


“Papa jus wortel aja campur jeruk. Jangan pakai gula. Oh ya…Ahmad yuk gabung dengan kami!”


“Oh..Saya sudah sarapan tadi,Tuan. Karena sebentar lagi saya harus berangkat kerja. Buru-buru.”


“Baiklah kalau begitu. Buruan kamu bikin jusnya. Jangan sampai terlambat kerja,”pesan papa dengan ramah.


Ahmad tampak sangat cekatan menyajikan jus buah, dalam tempo tak lebih dari sepuluh menit pesanan mereka telah kembali tersaji di atas meja makan. Pemuda itu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian ia telah rapi mengenakan seragam kerjanya dan pamit pergi.


“Saya pamit keluar dulu,Tuan.”


“Hati-hati di jalan Mad,”pesan Ryan dan sang papa hampir berbarengan.


“Baik,Tuan.”


Pemuda berambut ikal itu kembali menutup pintu, sementara itu piring-piring bekas telah tergeletak di atas meja makan. Ryan bergegas menumpuk piring-piring kotor itu, namun tangan sang papa lebih dulu meraihnya.


“Sudahlah biar papa saja yang membersihkan semuanya ini. Kamu masih sakit. Jangan terlalu dipaksakan,”cegah papa.


Papa tergelak, matanya menyipit, tangan kanannya menepuk pelan pundak Ryan.


“Dulu papa tinggal di Amerika selama delapan taun. Kuliah dan kerja di sini. Semua kerjaan rumah tangga papa lakukan sendiri.”


“Oh…”


Ryan hanya mampu mengucapkan sepatah kata, dirinya baru paham papa dulu pernah hidup prihatin, bukan seperti dirinya saat ini yang serba dilayani.


“Kakekmu memang kaya raya. Tapi perusahaan papa itu hasil kerja keras papa sendiri,Nak. Kakekmu mendidik papa dengan keras. Tapi papa mendidikmu menjadi anak mandiri yang sedikit manja.”


“Tapi Ryan gak manja kok,”bela Ryan yang tidak terima dirinya disebut manja.


“Tapi dilayani banyak pembantu selama ini sama aja dengan manja.”


“Kan papa sendiri yang mempekerjakan mereka di rumah Ryan.”


“Itu karena rumah kamu sangat besar.”


“Benar. Tapi Ryan gak suka disebut anak manja,Pa.”

__ADS_1


Wajah Ryan sedikit manyun, sorot matanya menunjukkan kalau ia tidak suka disebut anak manja. Papa buru-buru menghiburnya, dengan wajah penuh senyum dielusnya punggung putra kesayangannya dengan lembut.


“Iya…Papa cabut kata-kata papa. Yang penting sekarang Ryan cepat sembuh dulu.”


“Jadi tahun depan Ryan matrikulasi lagi dong?”


“Gak apa-apa,Ryan. Pendidikan itu berlangsung seumur hidup. Kita bisa lakukan itu kapan saja.”


“Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan yang sudah papa buat tujuh bulan lagi?”


“Itu tetap dilaksanakan. Tapi dengan asumsi kamu sudah bisa berjalan lagi dengan kedua kaki secara normal.”


“Kalau tidak? Mundur lagi maksudnya?”


“Iyalah Ryan. Semua kan hanya soal waktu. Abis ini kamu istirahat dulu di kamar.Jangan banyak pikiran,”kata papa sambil membantu Ryan memapahnya menuju kamar.


Ryan terlelah sejenak di atas tempat tidur hingga terbangun saat hari sudah sangat terang, sinar mentari menerobos melalui jendela kaca dan membuat sebagian wajahnya silau. Matanya menyipit karena silau, dilayangkannya pandangan ke arah jarum jam yang terletak tepat di atas pintu kamar.


“Pukul dua belas lebih tiga menit,”batin Ryan.


Dipasangnya pendengarannya baik-baik, di luar kamar nampak suara-suara seperti orang sedang bercakap-cakap. Rupanya papa sedang kedatangan tamu, Ryan bangkit dari tempat tidurnya untuk ke kamar mandi. Dilipatnya selimut dan ia turun dari tempat tidur sambil meraih sepasang kruk yang tersandar di nakas samping tampat tidurnya.


Ryan kembali ke tempat tidurnya setelah mencuci muka di wastafel kamar mandi, ia duduk di tepi ranjang sambil bengong. Cowok ganteng itu tak terbiasa hidup tanpa kegiatan sehingga masa-masa penyembuhan membuatnya sedikit bosan dan kebingungan mencari aktivitas baru.


“Tok…Tok…Tok…”


Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunannya, dengan pelan ia berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya. Nampak seraut wajah ganteng milik sang papa muncul dari balik pintu.


“Nah…Inilah kursi roda buat kamu.”


Di hadapan Ryan kini nampak sebuah kursi roda berwarna hitam, ada dua buah roda besar di kanan kiri kursi, ada dua roda kecil di bagian depan di samping sandaran kaki, yang gunanya untuk memutar arah.


“Terima kasih papa,”kata Ryan sambil berusaha meletakkan tubuhnya di atas kursi roda. Awalnya ia sangat tak terbiasa dengan keadaan seperti itu, namun setidaknya kehadiran kursi roda ini sangat membantunya daripada menggunakan kruk yang membuat ketiaknya terasa sakit. Papa keluar kamar untuk mempersiapkan koper yang akan digunakan kembali ke tanah air, sementara itu Ryan menggeser kursi rodanya ke arah lemari pakaian untuk melihat barang apa saja yang akan dimasukkannya terlebih dahulu ke dalam koper.


“Pluk…”


Sebuah suara seperti benda jatuh menimpa jendela kaca di depan kamarnya, Ryan bergegas memutar kursi rodanya ke arah jendela. Sudut matanya digunakan untuk menyelidiki setiap sudut di balkon depan kamarnya.


“Seperti suara burung yang menabrak jendela. Tapi dimana dia sekarang?”tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba hati kecilnya berbicara lain, itu bukan burung melainkan Aro yang menyamar menjadi bentuk kelelawar dan mencuri dengar semua percakapannya dengan sang papa.


“Benarkah itu Aro?”

__ADS_1


__ADS_2